Pindah Bilik

1068 Words
Karan masih berdiri berhadapan dengan makhluk berparas lancip yang tidak bersuara sejak awal. Ia sudah bisa menghalau rasa takutnya, tergantikan dengan rasa penasaran. Ada sesuatu pada sosok di depannya yang buat Karan ingin tahu lebih jauh tentang asal usulnya. Tiba-tiba terdengar bunyi di belakangnya. Rupanya pintu penghubung bilik hukuman dan barak pekerja yang terbuka. “Hei bocah, keluar kamu!” teriakan dari Zoe membuat Karan mundur beberapa langkah sebelum berbalik dan berlari kecil mendekati Zoe. “Iya, Tuan.” “Untunglah kamu masih ada. Aku pikir kamu sudah kabur.” “Saya tidak berani, Tuan.” “Ikut aku!” “Apa hukuman saya sudah selesai?” “Jangan banyak tanya.” Karan masih terpaku. Ia menoleh ke belakang dan kilat mata dari makhluk yang baru ia temui itu menatapnya. Jarak mereka cukup jauh tetapi tatapan Karan seperti terpatri pada netra bundar besar dari sosok yang ia pandang. “Saya ambil baju saya sebentar, Tuan.” “Cepatlah!” Karan berlari mengambil dua potong pakaian yang sangat penting untuknya. Sebelum meninggalkan bilik, Karan masih bicara pada sosok yang terus menatapnya itu. “Kalau kamu itu berhati baik, tunggu aku kembali di sini. Aku akan mencari cara untuk menjemputmu.” Lalu Karan bergegas mengikuti Zoe. Pintu itu menutup meninggalkan makhluk berparas lancip yang sedang berada di dalam bilik. Karan telah berjanji dan makhluk itu menaruh harapan pada Karan. Entah kenapa bisa Karan ucapkan janji tadi. Ada dorongan dari dalam dirinya yang tidak bisa ia jelaskan alasannya. Karan mengikuti Zoe tanpa banyak tanya. Ia semakin heran begitu ia sudah di depan kamarnya yang lama. “Ambil semua barangmu karena kamu akan dipindahkah!” kata Zoe tegas. Ada sedikit nada tidak terima saat Zoe bertutur. Tapi, tidak ditangkap oleh Karan. Ia terlalu kaget dengan perintah yang diberikan, tetapi ia patuh saja. Tidak ada banyak barang yang ia miliki selain baju ekstra yang ia dapatkan dari pelayan perempuan yang pernah mengantarkan makanan untuknya bernama Adzja. Hanya dua kali mereka berjumpa. Itu pun dengan alasan antar makanan. Ia lalu dilaporkan ke pengawal karena punya baju lebih dari satu pasang. Sekarang, ia tetap harus bawa pakaian yang ia butuhkan. Pindah bilik baru bukan berarti akan dapat pakaian yang baru. Sesederhana apa pun baju yang ia miliki, sudah ia syukuri sekali daripada tidak ada salinan sama sekali. “Sudah Tuan.” Zoe menatap Karan dari atas sampai bawah, lalu menggeleng sekali barulah berjalan terlebih dahulu. Zoe memang tidak habis pikir. Ia dengar dari para pengawal di rumah bos tertinggi, sedang dibicarakan rencana untuk pindahkan seorang pekerja tambang, tetapi ia masih belum tahu siapa orangnya. Yang ia bayangkan justru seorang pekerja senior yang sudah masuk terlebih dahulu, ternyata yang terpilih malah Karan. Mereka akhirnya tiba di depan deretan kamar yang hampir sama dengan yang ada di ruang bawah tanah. Namun, ada yang spesial. Tidak ada batasan cahaya dan buat Karan berdebar-debar sendiri. Ia masih tidak paham dengan apa yang akan terjadi. Ia tidak ingin terlalu berharap dahulu karena tidak ingin kecewa. “Kamu akan pindah di salah satu kamar ini. Sudah disiapkan, tidak bisa dipilih. Sekarang, langsung letakkan semua barangmu, karena ada satu tujuan lagi yang harus kita datangi.” Zoe menyampaikan dengan suara yang tidak segalak sebelumnya. Meski tidak setuju dengan keputusan majikan tertinggi, Zoe tetap saja harus bisa tunjukkan kalau ia bisa menjadi orang yang bisa dipercayai oleh para pekerja. Zoe termasuk orang yang mudah tersentuh. Ia cepat merasa tidak tega jika sudah berkaitan dengan nasib para pekerja diperlakukan tidak adil. “Apa ini serius, Tuan? Saya tidak mimpi bukan?” tagih Karan sebelum memilih salah satu kamar. Zoe menjewer pelan telinga Karan untuk tunjukkan kalau memang apa yang ia dengarkan itu nyata, bukan direkayasa. “Kamu pikir, aku kurang kerja sehingga menebar kebohongan?” bantah Zoe mulai timbul rasa marah. Baru saja Zoe berbicara dengan dirinya sendiri untuk terima apa yang ia ragukan, Karan sudah memicu rasa kesalnya yang terpendam. “Tidak Tuan. Saya ikut saja apa yang sudah diatur. Saya tidak berani untuk membantah. Maafkan kelancangan saya.” “Kamar itu masih kosong,” sahut Zoe sambil menunjuk salah satu pintu yang tertutup di depan mereka. Karan langsung melangkah ke arah yang ditunjuk Zoe. Ia buka dan tidak terkunci. Anak kunci pun sedang tergantung di sana sehingga ia bisa kunci kamarnya. Dalam kondisi sekarang, kunci kamar begitu berharga dibanding dengan barang mewah lainnya, karena itulah yang Karan butuhkan sekarang. Ada rasa terlindungi dan punya zona sendiri, dengan adanya kunci di tangannya. Sungguh kemerdekaan yang membanggakan. “Jangan jauh-jauh dariku!” Karan mengekori Zoe seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Mereka menuju sayap yang berbeda dari kamar baru Karan. Ia masih tidak tahu akan ke mana dan ia masih canggung untuk lancang bertanya. “Terima kasih Tuan Zoe, karena sudah berikan saya tumpangan sementara yang lebih baik.” Kata-kata tersebut, akhirnya bisa ia keluarkan juga. “Tidak usah basa basi. Aku bukan pengambil keputusan di sini. Kamu akan terus bertahan di bilik yang baru, jika ikuti aturan yang berlaku.” “Iya, Tuan. Saya tulus ingin berterima kasih. Tolong sampaikan pada orang yang telah berbaik hati tersebut.” “Sampaikan langsung pada orangnya. Ia yang akan kita temui sekarang.” “Ini baru kabar bagus. Saya akan lakukan. Ungkapan tadi memang keluar dari hati saya yang terdalam.” “Perhatikan situasi dan kondisinya nanti. Aturan tetap berlaku. Hanya yang dipersilakan pihak tuan besarlah yang bisa berbicara. Singkat, padat dan jelas.” “Apa saya juga bisa berjumpa dengan nyonya besar?” “Cukup! Hak bicaramu dicabut. Tutup mulutmu karena kita sudah sampai.” Karan hanya bisa anggukkan kepala. Ia tidak tahu siapa yang dimaksud oleh Zoe. Ia berharap bisa bersua dengan istri dari pemilik tambang. Ia tahu kalau kadang, keputusan seorang bapak, dipengaruhi oleh pertimbangan dari seorang ibu. Karan sering lihat itu dalam percakapan antara kedua orang tuanya. Ia ingat saat mereka berdiskusi soal membelikan seekor anjing bagi Karan, perdebatan berlangsung dan Karan diminta untuk buat pilihan dengan segala resiko yang perlu ia jalani. Termasuk di dalamnya, untuk mengurus dan memberikan makan pada binatang peliharaannya. Karan tersentak karena bunyi bel pintu, begitu mereka sudah sampai. Karan segera buang jauh-jauh apa yang selalu buat ia lemah. Ingat pada kedua orang yang paling ia sayangi. Juga anjing putihnya yang sangat ia sayangi. Karan jadi terharu sendiri. Ia tidak boleh menangis. Ia harus tetap kuat dan bertahan. Kalau ia sudah cukup dewasa nanti, ia akan mencari kedua orang tuanya. Bertahan hidup yang jadi tujuan utamanya sekarang ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD