Tuan Golzyver

1114 Words
Karan lega karena sudah tidak ada lagi di dalam bilik hukuman. Namun, ia sekarang cemas karena alasan yang berbeda. Bertemu langsung dengan Golzyver, si pemilik tambang untuk alasan yang ia tidak paham sama sekali. Ada banyak tanya di kepalanya tetapi ia juga tidak bisa banyak keluarkan isi kepalanya karena wanti-wanti dari Zoe. “Ingat, tidak boleh bicara semaumu saja. Tunggu perintah dari tuan besar.” Kalimat ini Zoe sampaikan berulang kali hingga Karan jadi ciut nyalinya. Mereka sudah mencapai tangga untuk menuju tempat tinggal Golzy. “Tuan Zoe, maaf. Saya ingin ke kamar kecil. Perut saja bergejolak,” ucap Karan pada Zoe saat mereka masih berjalan. Akhirnya Zoe harus berhenti sejenak lalu memutar haluan ke kanan untuk membawa remaja itu ke toilet. “Jangan mencoba mengulur waktu karena aku tidak ingin dihukum hanya karena kamu terlambat.” Kalimat ancaman kembali didengar oleh Karan sebelum ia menghilang di balik pintu kamar mandi. Karan tunaikan apa yang ia tahan dari tadi agar lebih lega. Setelah itu melihat wajahnya di depan kaca toilet. Ia sudah bersihkan diri tetapi tetap saja ia gugup sehingga ia masih basuh wajahnya beberapa kali dengan air dingin. Ia hanya ingin menenangkan diri dan mengendurkan ketegangan yang ia alami. Rasanya masih tidak percaya saat Zoe katakan hukumannya dicabut karena pemilik tambang ingin segera berjumpa dengan dirinya. “Kamu terlalu lama. Sekarang, lari di belakangku karena waktu kita tersisa satu menit saja.” Entah darimana Zoe dapatkan sebuah pengungkit beroda yang bisa ia dayung dengan satu kakinya dan memudahkannya untuk bergerak lebih cepat. Saat berada di daerah yang menurun maka ia hanya butuh berdiri dan kereta tersebut meluncur dengan sendirinya. Satu kilometer lagi jarak ke kamar yang mereka tuju. Juga masih ada sekitar dua puluh undakan lagi untuk bisa mencapai pintu gerbang menuju kediaman Golzyver. Sudah pasti Zoe tiba di depan tangga lebih dahulu dan ia berteriak memberi kabar. “Kami sudah tiba, ijin untuk masuk ke dalam!” Karan sedang berlari dengan sekuat tenaga di belakangnya, takut ada hukuman lainnya kalau ia terlambat. Tak lama kemudian setelah teriakan Zoe, pintu besar di ujung tangga terbuka lebar. “Masuklah sendiri. Tugasku hanya mengantarmu sampai di sini saja. Selebihnya, masih menunggu petunjuk dari tuan besar.” Karan membungkuk sembilan puluh derajat, sekaligus meredakan pacu jantungnya yang memburu akibat berlari tadi. Ia menaiki tangga dengan cepat karena sudah pasti ia sedikit terlambat dari waktu yang sudah ditentukan. Begitu ia melewati seperti pintu gerbang, segera ditutup lagi oleh dua orang pengawal yang tidak menatap Karan sedikit pun. Mereka dirancang khusus sebagai penjaga pintu saja dan tidak ada tugas lain yang melekat di sana. Jauh di depannya, ia melihat ada empat orang duduk di tahta di atas panggung bernuansa dekorasi emas. “Apakah kamu pekerja baru yang sempat pingsan saat pengawalku temukan?” “I-ya, Tuan,” sahut Karan terbata. “Mendekatlah!” Karan tidak tahu harus bersikap seperti apa. Karena itu, ia dengan spontan berjalan mendekati panggung dan begitu ia bisa lebih jelas wajah dari majikannya, ia lalu tersungkur di atas kedua lututnya. “Angkat wajahmu!” pinta suara lain yang sepertinya dari seorang wanita. Karan mendongak dan memang ada dua orang yang duduk berdampingan. Empat orang dayang-dayang, semuanya wanita sedang mengipas dengan berdiri di belakang dari pasangan yang duduk tersebut. Karan tahu wajah dari tuan besar yang berbicara padanya yang bernama Golzyver. Ia belum pernah berjumpa dengan wanita cantik yang duduk di samping Golzy. “Ini istri saya. Tiba-tiba saja, dia ingin berjumpa denganmu setelah aku ceritakan kalau temukan kamu dalam keadaan pingsan di pinggir hutan.” “Berapa usiamu?” tanya istri dari Golzy. “Saya tidak yakin, tapi terakhir saya diberitahu kalau sudah berusia dua belas tahun.” “Siapa yang memberitahumu?” “Seorang pemburu yang kebetulan tersesat di hutan dan saya bantu temukan jalan keluar.” “Apa benar kamu sudah yatim piatu?” imbuh wanita itu lagi setelah sejenak terpikat dengan paras Karan. Baginya, remaja tersebut bukanlah keturunan rakyat jelata karena kulitnya nampak terawat dan bersih. “Iya, Nyonya. Saya tinggal di hutan selama ini. Saya tidak bisa pastikan, sudah berapa lama ada di sana. Saya tidak ingat lagi seperti apa wajah orang tua saya. Mungkin, saya memang dari bayi sudah tidak punya papa dan mama.” “Kamu terlihat begitu terawat. Apa mungkin kamu memang sedang dalam keadaan sakit saat ditinggalkan di hutan sehingga tidak ingat pada mereka?” balas istrinya Golzy dengan nada prihatin. “Saya tidak tahu Nyonya. Saya tidak berani menebak-nebak.” Tak lama kemudian hening. Karan melihat wanita itu memandang suaminya dan mereka berbicara sesuatu, tetapi tidak dapat didengar oleh Karan. Sebagai gantinya, ia memilih untuk menunduk saja dan menunggu apa keputusan mereka terkait dirinya. “Berdirilah, tak perlu bersujud seperti itu. Kami bukanlah raja dan ratu yang harus kamu sembah.” Suara wanita itu sangat menyejukkan. Jadinya buat Karan berani untuk berdiri. Dia yakin kalau sendirian saja bersama tuan Golzyver, maka ia tetap akan diminta berlutut di sana. “Terima kasih, Nyonya,” balas Karan dengan tulus. “Kamu tidak perlu lagi tinggal di bilik pekerja tanpa matahari itu. Tinggallah di barak pegawai yang dekat dengan rumah kami ini, sehingga kalau saya ingin berjumpa, maka tidak perlu terlalu jauh menjemputmu.” “Terima kasih banyak, Nyonya dan Tuan. Saya tidak bisa balas semua kebaikan Tuan dan Nyonya,” sahut Karan kembali berlutut. Ia tadi sudah janji dalam hati, untuk berikan penghormatan tertinggi pada siapa pun yang ambil andil untuk pindahkan dia dari bilik gelap di ruang bawah tanah. “Kamu tidak dengar apa kata istri saya? Berhentilah bersujud. Kami sudah ikhlas dan dengar semua rasa hormat darimu.” “Maaf, Tuan. Saya merasa sangat diistimewakan jadi saya benar-benar berterima kasih. Saya akan lakukan apa pun yang Tuan dan Nyonya minta.” “Bekerjalah dengan rajin dan jujur, Karan. Saya akan sangat bangga nantinya kalau kamu balas kebaikan kami dengan perilaku yang penuh kepatuhan.” “Baik, Nyonya. Saya akan ingat pesan ini baik-baik. Saya butuh bimbingan dan cambuk kalau saya lakukan pelanggaran.” “Saya percaya padamu. Kamu masih sangat muda. Jika sampai suami saya atau pekerjanya perlakukan kamu dengan tidak adil, padahal kamu sudah ikuti perintah mereka, maka temui saya. Jangan takut, saya akan tegakkan keadilan untuk kamu.” Golzyver mengusap dahinya. Ia tidak sangka kalau istrinya bisa terbawa emosi sampai keluarkan janji sedemikian. Remaja yatim piatu yang telah ia pungut itu, ternyata memiliki tempat yang istimewa untuk istrinya. Golzy berharap istrinya segera meninggalkan ruang pertemuan itu agar ia bisa bicara empat mata saja dengan Karan. Ia harus luruskan perkataan dari istrinya. Golzy sangat sayang pada wanitanya itu sehingga ia tidak akan patahkan apa yang sudah dijanjikan. Golzy ingin ingatkan Karan untuk tidak memanfaatkan kebaikan istrinya untuk melawannya atau berkhianat padanya suatu saat nanti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD