Bab 1: Apakah Aku Termasuk Dalam Pengecualian?

3637 Words
“Aku tidak meminta kepada Tuhan untuk memberikanku kemampuan ini, tetapi Tuhan telah memberikannya tanpa kuminta. Jika boleh memilih, aku lebih baik hidup seperti manusia pada umumnya karena jujur aku tersiksa. Kalian harus tahu itu.”                     *** Seorang perempuan tidur telungkup dengan kedua tangan yang digunakan untuk   menyangga wajahnya, ia menatap layar laptop yang menayangkan film horror kesukaannya. Sadis dan menyeramkan, kata yang pas untuk film yang ditonton oleh perempuan itu. "Calista Aira!" Merasa namanya terpanggil, gadis itu pun menoleh ke arah sumber suara. Tepat di ambang pintu, seorang lelaki bertubuh tegap, tinggi, putih dan rambut yang berwarna coklat, sedang menatapnya sambil bersedekap. Haris Atha. Kakak satu-satunya yang dimiliki Calista. "Apa sih, Kak Hars? Ganggu aja, nih!" sungut Calista, kemudian kembali menatap layar laptop tanpa memedulikan Haris yang menatapnya tajam. Dirinya tidak suka diganggu saat lagi menonton film kesukaannya. "Ke ruang makan sekarang, Cals!" titah Haris dengan tegas dan berlalu. Calista mendengus kesal. Namun, tetap beranjak dari tempat tidurnya. "Huh, mengganggu saja!" Sumpah serapah tak luput dari bibir tipisnya ketika kakinya melangkah menuju ruang makan, dahinya mengernyit kesal karena ulah Haris yang mengganggu waktu menontonnya. Padahal, Calista sudah membuat rencana akan menghabiskan waktu seharian di dalam kamar dengan koleksi film-film horornya. Tapi sayang, semua itu hanya rencana yang tak terealisasikan untuk Calista.                 *** Kaki jenjang yang putih itu berjalan menuju ruang makan dengan wajah yang ditekuk karena kesal. Langkahnya terhenti saat Calista sudah memasuki ruang makan, ia terlonjak kaget melihat makhluk dengan muka yang hancur parah. Pasti matinya karena kecelakaan, pikir Calista sedetik kemudian ia merasakan kepalanya pusing. Kumat lagi, kan. Astaga! Persetan dengan makhluk itu!  Calista membatin sembari memijat pelipisnya yang terasa sangat sakit. Ia pun berjalan lambat menuju meja makan dengan berusaha mengontrol reaksi tubuhnya yang selalu tidak biasa saat melihat sosok itu. "Cals, kamu sakit?" tanya pria paruh baya yang duduk di ujung meja makan, Calista menggelengkan kepala dan duduk di samping Haris yang berhadapan langsung dengan makhluk tersebut. Haris menoleh ke arah Calista, ia sedikit berbungkuk dan mencondongkan tubuhnya pada Calista. "Kamu melihat sesuatu, Cals?” bisik Haris kepada Calista yang sedaritadi menunduk dan mengalihkan pandangannya. Calista mendongak, tepat saat itu mata si makhluk mencuat keluar. "Ya! Dia menjijikan. Sangat menjijikan," jawabnya dengan resah, ia mengusap wajahnya kasar. "Ma, abis pergi ke mana?" tanya Calista sembari menatap Arabella yang duduk tepat di hadapannya. Dirinya sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya. "Hmm … Mama tadi datang ke acara pemakaman teman. Ada apa, Cals?"                 *** Calista merasakan dirinya seperti tertarik ke belakang, ia benar dirinya tertarik ke belakang, tetapi ia masih bisa melihat kalau ia duduk di ruang makan bersama dengan keluarganya. Pemandangan itu semakin jauh dan menghilang tergantikan dengan rumah besar bergaya modern.  Tempat asing bagi Calista, ia sama sekali tidak mengenal siapa pemilik rumah ini dan kenapa banyak orang di sini dengan berpakaian hitam-hitam dan mereka menangis tersedu-sedu. Calista menatap sekitarnya, memperhatikan satu persatu orang yang berada di sana. Tetapi hasilnya, ia sama sekali tidak mengenal orang yang berada di sana. Sampai akhirnya, ia melihat seseorang yang dikenalnya masuk ke dalam rumah itu sambil menangis, persis dengan orang-orang di sana. "Mama?" Calista terkejut melihat Arabella, tetapi yang membingungkan bagi Calista adalah kenapa Mamanya sama sekali tidak melihatnya? Bahkan, ia melewati Calista begitu saja, seolah-olah Calista tidak berada di sana.  Calista tidak bisa lagi membendung rasa penasarannya dan tidak mau menduga-duga apa yang terjadi. Ia melangkahkan kakinya untuk ikut masuk ke dalam mengikuti Arabella. Namun, Calista kembali terkejut saat ia merasakan dirinya kembali seperti tertarik ke belakang dan orang-orang yang berada di sana semakin lama semakin menjauh. Lalu menghilang. Kini, Calista berada di trotoar yang ia tidak tahu berada di jalan mana. Jalanan itu sepi, di ujung sana ia melihat ada tikungan tajam. Calista melangkahkan kakinya menuju tikungan tersebut, ia menghirup dalam-dalam aroma khas hujan baru turun. Ia menyukai aroma ini, kemudian ia melihat jalanan sekitarnya yang basah dan ada juga air yang menggenang, sepertinya hujan lebat baru saja turun.  Langkah kaki Calista terhenti, ketika melihat sebuah mobil sedan hitam dan truk besar melaju dengan sangat kencang. Napas Calista tercekat saat menyadari arti dari semua ini. Pertemuan 2 kendaraan itu menciptakan decitan yang menyakitkan telinga. Truk yang menghajar habis mobil sedan itu terguling setelah menghancurkan mobil pribadi itu.  Beberapa orang berdatangan dengan tergopoh-gopoh, satu di antaranya menghubungi rumah sakit untuk mengirimkan ambulans ke lokasi kejadian. Calista penasaran, ia mendekat dan bergabung dengan kerumunan orang tersebut.  Dirinya terkejut bukan main saat melihat seorang wanita seumuran dengan Arabella, tergeletak di jalanan dengan wajah yang berlumuran darah dan rambut yang lengket karena bercampur dengan darah yang berwarna pekat itu. Aroma amis yang tercium sangat menusuk, hingga membuat Calista tanpa sadar menahan napas.  Calista ingin lebih mendekat lagi, tetapi raganya kembali tertarik ke belakang. Hingga membuat kerumunan orang yang berada di sana semakin menjauh dan menghilang. Lalu, Calista kembali melihat dirinya yang sedang duduk di ruang makan dengan kepala yang menunduk.                 *** Calista mendongak dan menatap Arabella. "Dia meninggal karena kecelakaan?” Arabella terdiam, menatap anak gadisnya itu dengan bingung. “Dia perempuan?" tanya Calista yang mendapatkan anggukan dari Arabella, bertanda apa yang dikatakan gadis itu benar. Calista mengembuskan napasnya pasrah, ia melemah karena pusing yang dideritanya tidak kunjung berkurang. Ternyata benar, sosok itu membawa dirinya untuk melihat apa yang terjadi sebelum kecelakaan itu merenggut nyawanya. "Kamu tau dari mana, Sayang?" tanya Arabella sembari menatap putrinya dengan penasaran. Semua mata tertuju pada Calista dan menunggu jawaban yang akan diberikan olehnya. Calista menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengembuskannya secara perlahan, kemudian menatap satu persatu orang yang berada di meja makan. "Dia mengikutimu, Ma. Sebaiknya Mama ke kamar mandi dan cuci muka sebelum mulai makan agar makhluk menyeramkan itu nggak mengikuti Mama terus-menerus.” Calista menatap sosok itu dengan ngeri. Arabella menatap anaknya ketakutan, bulu kuduknya pun mulai meremang. Dirinya enggan untuk melangkah pergi karena merasakan hawa di sekitarnya mulai terasa berbeda, Haris dan sang suami menatapnya seolah dia harus mengikuti apa yang Calista katakan. Dengan berat hati, Arabella akhirnya beranjak dari ruang makan dan mengikuti saran dari anak gadisnya. “Cals, apa kamu benar-benar bisa melihat mereka?” tanya Elvan menatap serius putrinya. Selama ini, Elvan masih belum percaya dengan kemampuan yang dimiliki  oleh Calista karena menurutnya itu adalah hal yang mustahil. Semenjak Elvan mengetahui tentang kemampuan Calista yang tidak dipercayanya, sikap Elvan terhadap Calista berbeda dari sebelumnya. Apapun yang dikatakan Calista tidak ia percaya sepenuhnya. Bahkan, Elvan selalu menyudutkan Calista dan selalu ada pertengekaran di antara mereka. Arabella dan Haris selalu membela Calista setiap kali Elvan menyudutkannya. Mereka bertentangan. Elvan yang tidak percaya dengan kemampuan Calista, Arabella dan Haris percaya dengan kemampuan Calista. Sungguh sebuha keluarga yang rumit. Calista hanya terdiam sembari memijat pelipisnya yang terasa nyeri. Elvan yang merasa dirinya terabaikan, kembali memanggil Calista, “Calista Aira, apa telingamu masih berfungsi dengan baik?” tanya Elvan, tersirat emosi yang ditahannya ketika bertanya. Haris menatap Calista dengan iba. Ia beralih menatap Papa-nya, ingin menjawab pertanyaan Elvan. Namun, Arabella datang tepat waktu, membuat Haris mengembuskan napas lega. “El, ada apa?” tanya Arabella, ketika melihat suasana ruang makan menjadi tegang. Kemudian, tatapannya beralih pada Calista. “Cals, apa teman Mama masih mengikuti sampai sekarang?” Calista menatap Mamanya dan menggelengkan kepala, bertanda bahwa makhluk itu sudah tidak mengikuti Arabella seperti tadi. Calista menunduk, mencoba mengatur emosinya. Lalu kemudian, ia mendongak. “Aku mau kembali ke kamar. Permisi," pamit Calista ketika nafsu makannya hilang setelah melihat makhluk yang tak diinginkan muncul di hadapannya. Bahkan, pusing yang menyerangnya tak berkurang sedikit pun dan semakin terasa sakit. Calista beranjak menuju kamarnya dengan berusaha kuat agar bisa sampai di sana tanpa harus dirinya terjatuh atau lebih memalukan mungkin tidak sadarkan diri. “Calista!” “Calista Aira!” “Jangan menjadi anak pembangkang kamu!” Berkali-kali Elvan memanggilnya dengan nada perintah, berkali-kali juga Calista mengabaikannya. Dia benci. Benci karena melihat sosok yang baginya sangat menjijikan, ditambah lagi Elvan yang masih belum percaya dengan kemampuannya. Itu semakin membuat Calista merasa pusing sekaligus kesal. Arabella mengusap bahu Elvan seolah memberikannya ketenangan. Elvan terdiam dan berusaha mengontrol emosinya yang sudah siap meledak kapan saja. “Pa, biar nanti Haris yang membawa makanan untuk Calista ke kamarnya. Papa nggak usah marah-marah lagi,” ujar Haris mencoba menenangkan Elvan yang terlihat emosi dengan kelakuan Calista. “Kamu membelanya? Adik kamu itu semakin hari, semakin aneh tingkahnya,” ucap Elvan yang sudah tidak bisa lagi menahan emosinya. Haris menghela napasnya. “Pa, nggak ada yang aneh dari Calista. Dia salah satu ciptaan Tuhan yang dipilih oleh-Nya untuk mempuyai kemampuan itu.” Arabella yang melihat ada yang tidak beres dan suasana di meja makan saat itu menjadi kacau hanya bisa menghela napasnya karena dia paham betul apa yang terjadi. “Apa salahnya kamu percaya dengan kemampuan Calista, El? Setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, mungkin itu adalah salah satu kelebihannya. Kamu tidak bisa menyangkalnya, cobalah untuk menerima kemampuan Calista yang tidak semua orang mempunyainya.”   Elvan mengabaikan Arabella dengan menyibukkan diri menyantap makanannya, Arabella lagi-lagi mengembuskan napasnya pasrah ketika melihat Elvan tidak menanggapi  ucapannya. “Baiklah, selamat makan!” “Calista pun sama sekali nggak berharap dia memiliki kemampuan yang menyiksa dirinya terus-menerus, Pa. Mungkin kalau Calista punya pilihan, aku yakin dia akan memilih untuk menjadi manusia normal pada umumnya tanpa harus bisa melihat makhluk halus yang mengerikan itu.” *** Calista berjalan seorang diri menuju kelasnya, jam sudah menunjukan pukul 06:15, tetapi koridor sekolah masih terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang yang lalu-lalang. Masih teringat jelas oleh Calista sosok perempuan bermuka hancur yang  membuat selera makannya akhir-akhir ini hilang. "Hei, Cals!" sapa Agam dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin dan berjalan di sisi Calista. Agam adalah satu-satunya teman yang dimiliki oleh Calista di sekolah, dirinya sama sekali enggan berteman dengan yang lain karena ia tahu teman-temannya akan menghindari dirinya yang aneh dan berbeda dari yang lain. Bahkan, berteman dengan Agam pun karena Agam yang terus-menerus mendekati Calista. Entah Calista harus merasakan beruntung atau tidak memiliki teman seperti Agam⸺tampan, tinggi, kaya, dan super duper menyebalkan. "Hmm …," sahut Calista dengan gumaman, tanpa menatap Agam. Moodnya sangat jelek hari ini dan membuatnya malas berbicara dengan siapa pun. "Nanti pulang sekolah ke rumah gue, ya?" ajak Agam dengan riangnya membuat Calista menatapnya bingung. Tumben banget diajak ke rumahnya, batin Calista. Masalahnya semenjak mereka berteman, Calista sama sekali tidak tahu di mana rumah Agam yang dia tahu hanya jarak rumah Agam dengan sekolah yang terbilang cukup jauh. "Ke rumah lo? Mau ngapain?" tanya Calista dengan dahi yang mengernyit. Dirinya pun juga menatap Agam dengan tidak percaya. “Enaknya ngapain kalo ke rumah gue?” Agam berbalik bertanya dengan cengiran yang menurut Calista membuat Agam semakin terlihat konyol. “Gam, mood gue lagi jelek hari ini. Jangan sampe lo yang gue kasih lihat penghuni tak kasatmata di sekolah ini,” ancam Calista karena kesal dengan Agam. “Ampun, Nyai! Hamba mohon maaf, tolong jangan kasih lihat hal-hal yang menakutkan untuk Hamba, Nyai!” Agam menatapnya memohon. “Agaaammm…,” geram tertahan Calista membuat Agam menyengir dan menggaruk bagian belakang kepalanya. “Gue serius ya kali ini,” imbuh Calista dengan tatapan mengancam. Agam mengarahkan kepala Calista untuk melihat ke depan agar tidak menatapnya dengan tatapan yang mengancam seperti tadi. “Iya, iya. Jangan serius gitu dong ancemannya,” kata Agam yang lebih serius dari sebelumnya. "Jadi begini, entah cuma perasaan gue doang atau emang beneran ada, tapi gue merasa ada sesuatu yang nggak beres di rumah gue. Lo 'kan bisa melihat, nah siapa tau aja gitu lo bisa bantuin gue, iya ‘kan?" "Agam, dengar ya, gue hanya bisa melihat bukan mengusir mereka. Jadi, lo salah pilih orang untuk membantu," peringat Calista menatap Agam dengan saksama. Agam memasang muka melasnya berharap Calista berubah pikiran dan mau membantunya kali ini saja. "Jadi, mana mungkin gue bisa bantu lo? Lagi pula lo juga tau 'kan akibat setelah gue abis melihat mereka? Kepala gue rasanya pusing banget," lanjut Calista. "Seenggaknya, lo bisa kasih tau gue makhluk apa aja yang berada di rumah gue.” Agam memejamkan matanya dan menghela napas, berharap lagi agar Calista mau membantunya. “Oke, gue tau lo nggak selalu bisa melihat mereka, lo hanya bisa melihatnya hanya di waktu tertentu saja. Tapi gue harap lo bisa demi gue, pleassss?" kata Agam seraya menunjukan muka memelasnya dengan mengatupkan kedua telapak tangan di depan wajah. Calista menghela napas berat. "Oke, kalo gue bisa lihat," ucap Calista dengan berat hati. Namun, membuat senyum Agam merekah. Tidak setiap saat Calista bisa melihat mereka. Entahlah, Calista sendiri pun masih bingung. Dia juga terkadang bisa berkomunikasi dengannya secara tiba-tiba. Memikirkan hal tersebut hanya membuat Calista pusing, karena tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya. *** Setelah mendengar bel pulang berbunyi, Agam langsung menuju kelas Calista dan menunggunya di depan kelas. Dia tidak mau Calista kabur pulang dan mengingkari janjinya. Jadi, dia rela menunggu di depan kelas Calista. “Calista mana?” tanya Agam pada salah satu siswi yang baru saja keluar kelas. “Eh? Agam?” Siswi tersebut mengerjapkan mata melihat Agam tepat berada di hadapannya dan bertanya kepada dirinya. “Di mana Calista?” Agam kembali bertanya untuk memfokuskan kembali siswi yang berada di hadapannya. Dia tahu, siswi itu terpesona dengannya, mungkin juga dia salah satu penggermarnya? Siswi itu mengerjapkan mata. “Calista, ya? Dia masih ada di dalam, ada jadwal piket hari ini kayaknya sih gitu,” jawabnya setengah ragu karena ia tidak dekat dengan Calista. “OK, thanks.” Agam langsung masuk ke dalam kelas Calista tanpa mendengar jawaban dari siswi tersebut. “Calsss! Masih lama?” tanya Agam dari ambang pintu kelas, ia melihat Calista berada di belakang dan di sudut kelas dengan memegang sapu berwarna biru. Calista menoleh sekilas ke arah Agam. “Nggak usah berisik! Kalo mau gue cepet selesai, ya lo bantuinlah,” sahut Calista sambil menyapu lantai kelasnya. Agam memasuki kelas Calista, ia duduk di meja depan dengan pandangan tak lepas dari Calista. “Temen lo ke mana? Masa piket sendirian doang?” Agam memilih bertanya daripada membantu Calista. Calista tidak menyahut, ia sibuk menyapu kelas. Bukan sibuk sih, tapi lebih tepatnya malas menanggapi ocehan Agam. Merasa tidak ditanggapi, Agam bersiul-siul sambil memainkan ponselnya membiarkan Calista menjalankan tugasnya sendiri. 5 menit Agam masih berkutat dengan ponselnya, sebelum akhirnya ia mulai jenuh menunggu Calista yang menurutnya lama. “Cals cabut ajalah, yuk? Nggak usah piket segala,” ucap Agam yang sudah memasukan ponselnya ke dalam saku celana. “Lagian lo kan bukan pembantu di sini, Cals.” Calista berdecak kesal. “Ck, sekali lagi lo ngoceh tanpa bantuin gue, gue batalin janji gue ke lo!” Agam berjalan menuju sudut kelas dan mengambil sapu warna merah. “Galak banget si Nyai, bulannya lagi datang, ya?” Sabar Calista, nggak usah dengerin apa kata Agam. Tenang, Cals. “Pasti dalem hati menggerutu tuh,” celetuk Agam sambil menyapu barisan ujung kanan⸺bersebelahan dengan Calista. Calista pun sudah tak tahan, ia mengalihkan tatapanya dari lantai ke arah Agam yang masih menyapu di belakang. Saat itu juga kekesalan Calista tergantikan dengan terkejut. Ya, Calista terkejut saat melihat seorang perempuan duduk di kursi belakang dengan seragam yang sama dengannya, tetapi ia lebih kusam dan rambut panjang berantakan menutupi wajah. “Kenapa? Pasti mau ngomel-ngomel lagi nih,” ucap Agam yang menoleh ke arah Calista, tetapi ia melihat ada keanehan di diri Calista. Agam pun menengok ke belakang dan ke sekitarnya. “Kenapa?” tanyanya dengan nada serius, pasalnya ia tidak melihat apapun yang mengejutkan di sekitarnya. Calista hanya menggelengkan kepala dan kembali menyapu. Kali ini menyapunya lebih cepat dari sebelumnya membuat Agam menghampiri Calista karena tingkah perempuan itu yang mencurigakan. Agam memegang pundak Calista membuat siempunya terkejut dan langsung menoleh. “Lo kenapa?” tatapan mata Agam yang meneduhkan membuat focus Calista teralihkan. Lagi dan lagi Calista merasakan kepalanya pusing, ia memejamkan mata berusaha mengurangi rasa sakit. Agam yang mengerti keadaan Calista, langsung mengambil alih sapu yang berada di tangan Calista dan meletakan sapu tersebut di sisi meja. Agam merangkul Calista membawanya keluar dari kelas. Calista menepis tangan Agam yang berada di pundaknya. “Apaan sih, gue belum selesai bersihin kelas,” ucap Calista dengan sinis. Lagi sakit masih aja galak si Nyai, batin Agam. Agam menghela napas berusaha sabar menghadapi Calista. “Udah nggak usah dipikirin, gue tau apa yang lo lihat. Urusan bersih-bersih kelas nanti gue yang urus.  Ayo, pergi dari sini.” Agam menarik tangan Calista keluar dari kelas. Saat Calista dan Agam keluar kelas dan berjalan menuju parkiran, Calista menoleh ke dalam kelas melalui jendela, ia melihat perempuan itu masih di sana dengan posisi sama seperti tadi ia lihat di dalam kelas. Kepala Calista bertambah sakit saat ia berusaha melihat wajah perempuan itu.  "Kenapa perempuan itu menunjukkan dirinya dan tidak menunjukkan padaku apa yang terjadi dengan dirinya?" Calista membatin penasaran. Agam yang menyadari rasa penasaran Calista langsung menutup mata perempuan itu  dengan tangannya. Sesampainya di parkiran, Agam langsung membawa masuk Calista tanpa banyak bicara. Saat mobil Agam berada di gerbang sekolah, ia menghentikannya dan turun dari mobil membuat Calista heran. Lelaki itu menghampiri satpam dan bapak-bapak yang biasa membersihkan sekolahnya, lalu Agam memberikan dua lembar uang berwarna biru kepada mereka. “Lho, Agam kenapa kasih mereka uang?” tanya Calista kepada entah siapa.  Agam kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanannya bersama Calista. Calista yang sudah tak tahan itu pun langsung bertanya kepada Agam. “Tadi kenapa kasih mereka uang?” Ia menatap Agam dengan penasaran.   Bukannya menjawab Agam kembali bertanya tanpa menoleh ke arah Calista. “Ada yang salah ya emang kalo gue kasih mereka rezeki?”  “Ya… enggak sih, cuma aneh aja.”  “Dari sisi mana anehnya?” Agam menatap Calista sekilas. Calista bungkam, ia bingung mencari kata yang tepat agar tidak menyinggung Agam karena yang dipikiran Calista sekarang ini, apa Agam melakukan sesuatu yang nggak orang lain tau selain mereka? Maka dari itu, Agam memberikan mereka uang sebagai tutup mulut?  “Gue cuma minta mereka buat bersihin kelas lo, biar temen-temen kelas lo anggepnya lo piket, padahal nggak.” Agam melirik Calista dari sudut matanya, Calista lagi menatapnya secara terang-terangan. “Eh, piket deh tapi nggak selesai. Jadi, gue minta mereka buat lanjutin tugas lo. Nggak usah berpikiran aneh tentang gue deh,” ralat Agam. Calista mengalihkan pandangannya ke jendela, ia merasa bersalah karena berburuk sangka dan menyusahkan Agam. “Sorry,” cicit Calista.  “Gue anterin lo pulang aja deh, ya. Nggak tega gue kalo tetap memaksa lo ke rumah gue,” kata Agam karena merasa kasihan dengan Calista. Calista tahu Agam merasa kasihan dan iba karena dirinya terlihat lemah sekarang, tetapi Agam tidak tahu bahwa Calista salah satu orang yang tidak suka dikasihani. “Ke rumah lo aja, gue udah membaik kok.”   “Yakin?” Agam menatapnya ragu.  Calista tahu dia harus bersikap bagaimana kepada Agam. “Sebelum gue berubah pikiran.”  Agam tersenyum senang. “Siap, Nyai!”          Calista tersenyum. Kali ini Calista rasanya mau bilang, gue beruntung masih punya teman yang peduli. Iya, gue seberuntung itu karena memiliki lo yang mau berteman sama gue, Agam. Tanpa melihat kekurangan dan kelemahan yang gue punya. Terima kasih karena sudah berusaha menjadi teman yang baik untuk gue.             *** Perjalanan menuju rumah Agam terasa lama bagi Calista karena rumahnya yang jauh dari sekolah dan kemacetan yang tidak bisa dihindarkan. Calista terjebak dengan Agam di mobil, berdua. Agam terus bertanya tanpa lelah seperti anak kecil yang berada di fase ingin banyak tahu mengenai hal-hal yang ada di dalam pikirannya.        “Lo percaya tentang mitos yang tentang hantu gitu nggak, Cals?”  “Mitos apa?”  “Katanya nih ya, ketika kita merasakan ada di sekitar kita, itu mereka emang beneran ada cuma kitanya aja yang nggak bisa lihat. Percaya nggak lo?” Agam melirik sekilas Calista yang sedang menatap jalanan yang mereka lewati. “Lo takut diculik sama gue, ya? Dari tadi gue lihat lo lihat lo kayak lagi hafalin jalanan yang kita lalui.” Calista tertawa mendengarnya. “Hahaha… gue orangnya susah hafal jalanan. Lagian gue mau lihatin apalagi selain jalanan? Lihatin lo aja gitu? Ogah, males!”  “Yeh, songong! Gini-gini gue jadi idola di sekolah, cewek-cewek pada antre buat jadi pacar gue,” ucap Agam. “Jadi gimana Bambanggg, lo percaya mitos begitu nggak?” “Gue Calista, bukan Bambang! Sebenarnya, mereka itu ada di mana-mana. Ada di atas, depan, belakang, kanan-kiri. Nih, ya, gue kasih tau, ketika kita merasakan mereka ada, itu mereka lagi mengawasi kita.” “Jadi, lo percaya nih?” “Dari kata-kata gue tadi, menurut lo gimana? Percaya atau nggak?” kata Calista dengan sinis. “Kenapa mereka bisa menampakkan wujudnya pada manusia?” “Ada dua kemungkinan. Pertama, mereka ingin memberi petunjuk atau bercerita. Kedua, energi mereka lebih kuat daripada kita. Ketika kita merasakan takut, energi kita tertarik dengannya itulah alasan kenapa kita nggak boleh takut karena manusia itu sebenernya lebih kuat daripada mereka, tapi manusianya aja yang membuat dirinya sendiri jadi lemah.” “Kalo lo pengecualian, ya?”  Calista menggelengkan kepala dan mengedikan bahunya acuh tak acuh. “Untuk masalah itu, gue nggak tahu masuk ke dalam pengecualian atau nggak. Tapi yang pasti kalau ada pilihan untuk menghilangkan atau bertahan dengan kemampuan ini, gue pilih menghilangkan. Gue mau hidup seperti manusia pada umumnya,” jawab Calista tersirat nada sedih saat menjawabnya. “Apapun yang sudah diberikan-Nya harus disyukuri, kita kan nggak tahu ke depannya akan bagaimana. Siapa tau dengan kemampuan lo ini, lo jadi bisa membantu yang lain, iya kan? Seperti Kakak kelas kita, dia juga mempunyai kemampuan hal-hal mistis gini, karena itu dia bisa membantu temannya. Ya... walaupun dengar-dengar dia gagal menyelamatkan temannya, tapi setidaknya dia membantu kan? Nah, siapa tahu lo bisa seperti dia 'kan?” Agam tersenyum menguatkan pada Calista. “Positive thinking itu perlu lho.” Calista tersenyum dan mengangguk. Dia seseorang yang bisa menenangkanku di saat seperti ini, dia yang ada untukku, dia yang mengingatkanku dan dia yang bertahan dengan keanehan yang kupunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD