“Kenapa kamu selalu ada di mana-mana?
Meninggalkan jejak yang aku pun tidak mengerti apa maksud dari semua ini?”
***
Braaak ….
Calista terperanjat saat mendengar suara pintu kamarnya yang dibanting dengan kencang, ia mendengus kesal dan kembali berjalan menuju ruang tamu tanpa berniat kembali ke kamarnya untuk sekadar melihat apa yang terjadi di sana.
Teruntuk kamu,
Siapa pun yang di sana, aku mau minta satu hal; aku mohon, jangan ganggu aku atau pun keluargaku. Kami sudah berusaha untuk tidak mengganggu kalian. Kamu dan aku hidup di alam berbeda. Jadi, tolong, untuk tidak saling menggangu
Calista menatap sekelilingnya dengan tatapan waspada. Benar-benar membuat kesal hari ini, karena dirinya sendirian di rumah. Hingga sebuah suara membuat Calista menoleh ke arah pintu utama. Ia menghembuskan napas lega saat melihat Haris lah yang muncul dari balik pintu.
Setidaknya aku udah ada teman di rumah ini, Calista membatin senang.
Haris berdiri tak jauh dari tempat Calista duduk, saat itu lah adik tersayangnya melihat di belakang Haris, ada seorang wanita dengan wajah yang tertunduk membuat Calista terdiam menatapnya. Serangan sakit di bagian kepala membuat dia sadar, bahwa perempuan itu bukanlah manusia melainkan makhluk yang berbeda alam dengannya.
"Kak, habis ketemuan sama mayat buat tugas, ya?" tanya Calista berusaha memfokuskan dirinya untuk menonton dan menghiraukan perempuan yang menempel di belakang Haris.
Haris menatapnya bingung, ia sangat lelah hari ini, tapi kenapa adiknya malah berpikir seperti itu? Apa ada sesuatu yang dilihatnya?
Haris menoleh ke belakang dan tidak melihat siapa pun berdiri di belakangnya.
Haris mengelengkan kepalanya dan duduk di sofa dekat Calista dengan wajah yang benar-benar lelah. “Kenapa kamu berpikir gitu?” Tanya Haris.
Calista meliriknya sekilas yang mana masih ada sosok itu. “Nggak apa-apa, tanya aja emang nngak boleh?” pertanyaan yang dilontarkan oleh Calista sama sekali tidak membuat Haris puas.
“Yaudah, terserah,” ucap Haris. Menyandarkan tubuhnya di sofa dan memejamkan mata.
Sontak Calista mata Calista membelalak terkejut. “Kak Harisss! Kok malah tidur!” pekiknya membuat Haris terlonjak kaget dan menatap sebal Calista.
“Kamu kenapa, sih? Kakak lagi lelah banget hari ini,” ucap Haris dengan kesal.
"Kak Haris cuci muka dulu sana, ada yang ngikutin Kak Haris tuh dari tadi. Sosok perempuan, kayaknya suka sama Kak Haris," ujar Calista yang merendah di akhir kalimat.
Haris bergidik ngeri setelah mendengar ucapan Calista. "Nggak usah dibilangin juga kali! Yaudah ah, Kakak mau ke kamar dulu. Cuci muka di kamar aja," balas Haris, bangkit dari sofa dan meningglkan Calista seorang diri di kampus.
Calista mengangkat bahunya tak acuh dan ya seperti biasa, kepalanya pun kembali berdenyut-denyut. "Dan harusnya lo nggak lihat, Cals!" gumam Calista seraya memijat pelipisnya.
Namun, saat ia melirik sofa yang beberapa detik lalu di tempati Haris, dirinya terkejut bukan main saat melihat Klarybel duduk persis di tempat Haris dengan bersandar.
“Kok Klarybel bisa ada di sini?” Tanya Calista pada diri sendiri dan bergerak mengambil Klarybel.
***
Hari ini jadwal Haris praktik di rumah sakit. Praktik yang sebenarnya agak malas Haris jalani karena dirinya harus berhubungan langsung dengan mayat yang berada di sana, belum lagi teman-temannya yang juga penakut. Walaupun, Haris masih bisa menahan rasa takutnya. Berbeda dari teman-temannya.
Setelah selesai, semua langsung keluar, kecuali Haris yang masih harus meneliti tulisannya. Selang lima belas menit, ia keluar dari ruang kamar mayat sendiri tanpa ditemani siapa pun, ia sudah merasa lelah karna harus bolak-balik rumah sakit. Dia melihat koridor rumah sakit yang sepi, mungkin karna ini mengarah ke kamar mayat dan terpisah dari koridor kamar inap atau ruangan lainnya.
Haris menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. "Ini kenapa gue jadi merinding gini, sih," gerutu Haris sambil mengelus tengkuk lehernya berkali-kali. Ia mengedarkan pandangannya untuk memastikan apa yang dirasakannya atau yang dipikirkannya tak benar-benar terjadi.
Tiba-tiba terdengar suara blangkar rumah sakit yang di dorong dari arah belakang Haris, membuatnya semakin ketakutan. Dia menarik napas dalam-dalam dan memberanikan diri untuk menengok ke belakang. Namun, tak ada apa-apa, hanya terlihat pintu kamar mayat yang tertutup rapat-rapat.
Suara tadi berasal dari mana kalau begitu? Haris membatin kebingungan.
Lelaki itu mempercepat langkahnya, ia tidak ingin menoleh ke belakang. Hingga Haris terpaku tidak bisa berbuat apa-apa selain terdiam mematung, ketika melihat sosok perempuan yang tak jauh darinya, menatap Haris dengan tatapan kosongnya, dan ada luka di wajahnya seperti bekas kecelakaan, dia pun … mengambang. Saat itu, Haris lupa cara bernapas.
Ponsel yang terus bordering dan bergetar membuat Haris tersentak dan merogoh saku celana dengan tangan bergetar. Hari ini, dia benar-benar ketakutan karena akhirnya sosok yang sering dilihat adiknya muncul di hadapannya.
“Ha-hallo,” sapa Haris dengan terbata-bata pada seseorang yang menghubunginya.
“Kakak lihat Klarybel di mana?” suara kesal di sebrang sana membuat Hasil mengernyitkan dahi dan mengalihkan tatapannya dari sosok itu.
“A-apa?” Tanya Haris yang masih belum sepenuhnya bisa mengendalikan diri dari rasa takut.
Seseorang di sana mengembuskan napasnya dengan kasar, Haris tahu pasti adiknya lagi kesal banget. “Kak Haris mah gitu, aku serius! Klarybel di mana? Aku cari-cari di rumah nggak ketemu,” rengek Calista.
“Calista …,” panggil Haris dengan pelan membuat Calista terdiam. “Kakak nggak tahu Klarybel di mana. Lagi pula, itu kan boneka kamu, kamu yang punya, kamu yang mainin, kenapa pas hilang carinya ke Kakak?” Tanya Haris yang sudah menguasai dirinya.
“Ya … kan siapa tahu ada di Kakak. Waktu itu aja ada di kamar Kakak,” sahut Calista dengan nada merajuk.
Haris menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan secara perlahan. “Tapi itu kan kondisinya Kakak juga nggak tahu kenapa ada di kamar Kakak, Cal—“ Haris terdiam saat melihat Klarybel berada di tangannya. Sejak kapan boneka ini ada di gue?
“Kakak hubungi lagi nanti,” ucap Haris dan langsung menutup sambungan telepon.
Haris menatap lamat-lamat Klarybel yang berada di tangan kirinya, dirinya benar-benar tidak habis piker dengan apa yang terjadi. Bagaimana bisa, dia yang habis melaksanakan praktik, lalu keluar dengan tangan kosong, dan tiba-tiba memegang boneka?
Haris menggelengkan kepala mencoba mengenyahkan semua pemikiran buruk, ia pun berjalan meninggalkan koridor rumah sakit yang sepi malam itu dengan membawa Klarybel.
“Bro, sejak kapan lo suka boneka?” temannya menatap Haris dengan tatapan tidak percaya. Sosok yang terkenal cool di kampus kini membawa boneka di rumah sakit.
Haris menatap Klarybel yang berada di tangannya, kemudian dia menggelengkan kepalanya. “Ceritanya nggak masuk akal, lo juga nggak akan percaya kalo gue ceritakan,” jawab Haris dengan senyuman tipis yang membuatnya temannya bingung. Ia menepuk bahu temannya. “Gue pamit pulang duluan, ya, bye,” pamit Haris yang meninggalkan temannya dengan pertanyaan yang masih belum terjawab.
Saat tiba di parkiran, Haris melirik sekitarnya yang sepi. Ia pun langsung masuk ke dalam mobil dan mendudukan Klarybel di kursi penumpang tepat di sisinya. “Lo yang aneh, apa gue yang gila,” ucap Haris pada boneka tersebut. Kemudian memalingkan wajahnya ke depan dan melajukan mobilnya menuju rumah.