“Terkadang, kejadian di luar logika memang benar adanya. Tetapi, hanya kita yang berusaha menyangkalnya.”
***
Calista membuka jendela kamarnya, memandangi langit yang menggelap sambil tersenyum kecil. Semua terasa baik-baik saja, hingga tiba-tiba Calista bulu kuduknya meremang, matanya berkeliaran menatap sekitar hingga pandangannya terhenti pada sebuah pohon besar yang berada tepat di sebelah rumahnya.
"Itu apa, ya?" gumam Calista dengan mata yang menyipit, mencoba mempertajam penglihatannya.
Huuf … huuuf … huuuuf ….
Calista mengusap tengkuk lehernya, ia merasakan ada seseorang yang meniup-niup lehernya dari belakang. "Aduh, jangan ganggu dong! Aku 'kan nggak ganggu," ucap Calista tanpa menengok ke belakang dan siapa yang berdiri di belakangnya.
Ketika dia ingin berbalik badan, ia melihat sekelebat bayangan putih melintas melalui depan jendelanya, dengan gerakan cepat ia kembali menengok ke arah luar jendela. Memastikan bahwa yang tadi dilihatnya benar ada. "Tadi yang aku lihat itu bener 'kan, ya?" tanyanya pada diri sendiri.
Huuf … huuuf … huuuuf ….
Bulu kuduknya kembali meremang, ia memberanikan diri untuk menoleh ke arah belakang. Calista terlonjak kaget, jantungnya berdegup kencang saat melihat Haris berdiri tepat di belakangnya. "Astaga! Jadi, dari tadi Kak Haris yang tiup-tiup, huh!" gerutu Calista dengan mengerucutkan bibirnya. Haris tersenyum tanpa berkata apa-apa.
“Jangan bikin orang jantungan dong, Kak!” Calista memprotes tidak senang. Dirinya benar-benar merasakan deg-degan tadi saat ingin menoleh.
Ceklek ….
Calista menoleh ke arah kiri, ia terkejut bukan main saat pintu kamarnya terbuka dan memperlihatkan sosok Haris berdiri sambil bersedekap, menatapnya dengan tatapan yang biasa membuat para wanita bertekuk lutut di hadapannya.
Eh?
Lho?
Lho? Berarti tadi siapa?
Calista menggelengkan kepalanya tidak percaya. Kejadian beberapa waktu lalu, kembali terulang?
“Kok Kak Hars ...." Calista menggantungkan kalimatnya, ia kembali menatap ke arah depan dan Haris yang tadi sedang mengobrolnya tidak ada.
"Kenapa, Cals?" tanya Haris masih setia berdiri di tempatnya yaitu ambang pintu
Calista menoleh ke arah ambang pintu. "Eh? Engga Kak, nggak apa-apa kok," jawab Calista, ia menghampiri Haris dengan langkah pelan, kepalanya merasakan sakit yang biasa ia alami.
Kembali berulah, Calista membatin saat kepalanya terasa sakit.
"Kak Hars ngapain di sini? Ada sesuatu kah?" tanya Calista yang sedikit bisa menguasai dirinya untuk menahan rasa sakit.
"Papa mau ngomong sesuatu sama kamu, Kakak nggak tau apa yang mau dibicarakan," jawab Haris dengan tatapan khawatir.
Calista tersenyum masam. “Sesuatu yang menyakitkan lagi?” Tanya Calista yang menduga-duga.
Haris menghela napas berat dan tersenyum. “Semoga aja tidak,” jawab Haris dan mengelus puncak kepala Calista dengan lembut. Haris berusaha menenangkan kekhawatiran Calista karena dirinya tahu sang ayah selalu berbicara sinis pada adik tersayangnya itu.
Calista mengangguk dan menghela napas berat. Ya, semoga saja. Dia langsung bergegas menemui Elvan yang sudah menunggu kedatangannya di ruang tamu, sedangkan Haris langsung pergi ke kamarnya karena Papanya tidak mengizinkan dia untuk berada di antara Calista dan Elvan.
"Papa ... mau ngomong apa sama Cals?" tanya Calista langsung, saat ia duduk di sebelah Elvan. Dirinya berusaha mati-matian menyiapkan hati agar tidak tersinggung atau bersedih kalau Elvan melukai hatinya lagi.
“Tidak ada apa-apa,” jawab Elvan tegas dan membuat Calista semakin tidak mengerti. “Bagaimana dengan boneka itu?” tanya Elvan menatap Calista dengan tatapan intimidasi.
Calista mengernyitkan dahinya tidak mengerti dan menatap Elvan dengan penuh tanda tanya di kepalanya.
Boneka itu?
Boneka yang mana yang dimaksud oleh Papa?
Elvan berdeham saat menyadari ketidakpahaman Calista. "Ehm! Maksud Papa boneka yang dari Haris. Bagaimana? Suka?" tutur Elvan saat melihat raut wajah bingung anaknya.
Calista menyadari satu hal; Papanya diam-diam masih peduli tentang dirinya. Walaupun, suka melontarkan kata-kata sinis yang menyakiti hati.
Perempuan itu tersenyum senang dan mengangguk antusias. "Suka dong, Pa. Sangat suka malah aku. Bonekanya lucu lebih lucu dari Olive. Sekarang Klarybel aku letakan di tempat lemari yang biasa aku buat koleksi boneka, Pa," jawabnya dengan riang.
Kini giliran Elvan yang mengerutkan dahi dan menatap Calista dengan tidak mengerti. "Klarybel?" Elvan mengulang kata yang menarik perhatiannya.
Calista menangguk mantap dan tersenyum. "Iya, Pa. Aku beri nama dia Klarybel. Lucu 'kan, Pa? Persis dengan bonekanya yang lucu."
Elvan mengangguk mengerti. "Lucu kok Sa …."
"CALISTAAAAA!!!!" Teriak Haris dari lantai dua yang menggelegar. Teriakan yang menyiratkan amarah Haris.
"Kenapa Kakak kamu?" tanya Elvan denan tatapan tajam yang langsung mengubah Calista menjadi mengkerut ketakutan.
Demi Tuhan! Papanya baru bisa diajak mengobrol tenang yang membuat hatinya menghangat, sekarang Papanya kembali menjadi sosok yang ditakuti oleh Calista.
Calista menggeleng dengan takut. "Aku nggak tau, Pa,” jawabnya takut-takut. Ia mendongak ke atas dan berteriak menyahut, “APA KAK HARS NGGAK USAH TERIAK-TERIAK!"
“Calista, kamu harus lebih sopan dengan Haris yang lebih tua dari kamu,” ucap Elvan memperingatkan dengan tegas dan tatapan intimidasinya.
Calista mengangguk takut. "Maaf, Pa. Kelepasan tadi." Calista menatap Elvan dengan senyuman kakunya.
"Kamu kalau nggak suka sama boneka ini bilang dong sama Kakak. Jangan kamu letakan bonekanya sembarangan. Di tangga pula," omel Haris saat tiba di ruang tamu dan memegang si Klarybel.
Eh kok?
Calista mengambil alih Klarybel yang dipegang oleh Haris. Ditatapnya lamat-lamat boneka tersebut.
"Lho? Kok Bonekanya bisa ada di tangga? Kan tadi bonekanya aku simpan di lemari yang biasa. Kaka lihat 'kan tadi, ketika Kakak masuk ke kamar aku," ujar Calista sambil mengambil menatap Haris dan Elvan secara bergantian.
Elvan mengembuskan napasnya dengan kesal. “Calista, berubahlah, Nak. Jangan menjadi manusia yang penuh imajinasi dan halusinasi terus-menerus,” ujar Elvan yang sudah mulai kesal dengan tingkah laku Calista. Semua dihubungkan oleh hal-hal mistis yang tidak masuk akal, Elvan tidak percaya itu.
Haris pun teringat sesuatu, ia memang melihat boneka itu di lemari kaca tempat biasa Calista menyimpan boneka-bonekanya.
“Calista benar,” celetuk Haris yang membuatnya menjadi sorot perhatian. “Boneka itu ada di lemari koleksi boneka Calista saat tadi Haris ke kamarnya. Calista nggak halu atau pun berimajinasi, Pa,” imbuh Haris mencoba meyakinkan Elvan.
“Kalau memang faktanya seperti itu, kenapa bisa boneka itu ada di tangga? Ada alasan masuk akal yang bisa kalian jelaskan ke Papa?” Elvan menatap satu per satu anaknya. "Haris, Calista?" sebut Elvan dengan menuntut jawaban.
Hening
Haris, Calista dan Elvan pun terdiam. Mereka saling melirik satu sama lain, Calista melirik sekilas Klarybel yang ternyata ada kilatan cahaya merah di matanya. Calista mengerjapkan mata berkali-kali, dan saat melihat mata boneka itu lagi; Klarybel mengedipkan mata. Kontan Calista melempar boneka itu ke sembarang arah membuat Haris dan Elvan menatap aneh Calista. Sayang, hanya Calista yang melihat keanehan boneka itu, kemudian mata Haris dan Papanya terpaku kepada boneka itu. Berbagai pertanyaan muncul di kepala mereka; Haris, Elvan dan Calista.