Bab 10: Klarybel

1125 Words
“Dalam kegelapan, seseorang melemah. Mencari-cari apa yang sekiranya akan menjadi kekuatannya. Walaupun, dengan mencoba merenggut nyawa seseorang dan memilikinya.” *** Calista meletakan boneka kesayangannya―yang diberikan Haris―di lemari kaca yang khusus untuk koleksi boneka-bonekanya. "Yeay! Beres! Tambah lagi satu boneka, assikkk!" Calista memekik kegirangan sembari memandangi bonekanya yang berada di dalam lemari kaca. Calista duduk di tempat tidur dengan mata yang terus tertuju pada lemari kaca bonekanya. "Kasih nama apa, ya, biar lebih lucu," gumam Calista sambil mengusap-ngusap dagunya layaknya orang sedang berpikir. Tiba-tiba ia menjetikan jarinya. "Aha! Klarybel. Cocok dengan bonekanya karena dia terlihat cantik dengan gaun hitam dan rambut pirangnya," lanjut Calista sambil tertawa geli dengan sendirinya. Calista membuka kopernya, ia melihat bonekanya yang diberi nama Olive di dalam koper. Kemudian, diambil dan di letakkan kembali boneka Olive di dalam lemari, tepat di samping bonekanya yang bernama Klarybel. “Selamat berteman kalian …,” ucap Calista kepada boneka-bonekanya. Calista pun kembali menyelesaikan merapikan pakaiannya. Tok … tok … Calita menoleh ke arah lemari kaca saat mendengar seperti ada yang mengetuk pintu lemari kaca tersebut. Namun, ia tidak melihat apa pun, kecuali posisi duduk Klarybel yang berubah, kepala Klarybel yang menempel pada pintu lemari kaca tersebut. Dia mengernyit dan bergegas menuju lemari koleksinya, membenarkan posisi duduk Klarybel. Setelah ia sudah meyakinkan posisinya seperti semula, Calista kembali menutup lemarinya dan melanjutkan aktivitasnya. Tok … tok … Baru saja Calista duduk di depan kopernya, terdengar kembali ketukan yang berasal dari lemari kaca, Calista menoleh dan terkejut saat melihat kepala Klarybel kembali menempel pada pintu lemari. Dia menggelengkan kepalanya dan menarik koper untuk di letakkan di sudut kamar. Lalu, Calista kembali menuju lemari dan membenarkan Klarybel. “Kamu diam-diam aja sama seperti boneka yang lainnya, ya. Jangan macem-macem!” ancam Calista pada Klarybel. Calista dari dulu suka sekali berbicara dengan koleksi boneka-bonekanya seakan mereka bisa mendengar apa yang dikatakan oleh dirinya. Padahal, kenyatannya boneka itu adalah benda mati yang tidak bisa menanggapinya. Dia menghela napas lelah dan memijat lehernya yang terasa pegal. “Rasanya lelah sekali,” keluh Calista dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan mukanya sebelum tidur. “Cuci muka, gosok gigi baru tidur,” ucap Calista saat melihat pantulan dirinya di depan  cermin wastafel. Saat Calista menggosok gigi dan melihat ke cermin, ada sosok siluet di belakangnya. Dia pun menoleh ke belakang untuk memastikan, tetapi tidak ada siluet yang dia lihat di cermin. Calista menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan. “Oke, ini Cuma imajinasi karena efek kelelahan,” ucap Calista dan terburu-buru menggosok gigi juga cuci muka. Dirinya mengernyit heran saat keluar dari kamar mandi dan melihat pintu lemari bonekanya terbuka. Calista benar-benar bingung. "Eh? Kan tadi udah gue tutup pintunya, kenapa sekarang terbuka? Aneh," gumam Calista sambil menutup kembali pintu lemarinya. Hingga kantuk pun menyerang Calista, ia mematikan lampu kamarnya. Kemudian, membaringkan tubuh di kasur dan menyalakan lampu tidur yang berada di nakas. Salah satu kebiasaan Calista adalah tidak bisa tidur jika lampu kamarnya menyala. Calista tertidur tanpa ada rasa curiga terhadap boneka yang diberikan oleh Haris, ia pun tidak menyadari tepat pada pukul 01.00 malam lemari kaca itu terbuka dan keluarlah boneka yang diberikan nama Klarybel dari lemarinya. *** Di sebuah kamar yang gelap gulita dan hanya mengandalkan penerangan dari sinar luar kamar itu didominasi oleh warna abu-abu dan putih. Salah satu tipikal kamar seorang lelaki. Haris sedang tidur di kamarnya dengan damai, tanpa merasakan gangguan apapun. Semua itu tidak berlangsung lama saat akhirnya ia terbangun dari alam tidur ketika merasakan ada seseorang yang mencekik lehernya dan membuat dia sulit untuk bernafas. Dan lebih anehnya lagi, Haris mencoba untuk membuka mata, tetapi tidak bisa ia lakukan ditambah lagi dengan seluruh tubuhnya pun kaku untuk di gerakan. Shit! Siapa yang berani berbuat seperti ini. Ya Tuhan, tolong hambamu ini, Hamba belum siap untuk bertemu dengan-Mu, batin Haris menjerit kesakitan. Haris berdoa semoga ada keajaiban seperti seseorang untuk membantunya agar bisa kembali bernapas. Napasnya semakin sulit, tubuh Haris pun semakin melemah. Hingga tiba-tiba ia merasakan jari-jarinya bisa kembali digerakan dan anggota tubuhnya bisa berfungsi kembali.  Dengan cepat Haris merubah posisinya menjadi duduk dan napasnya tersengal-sengal, ia melirik pintu kamarnya yang masih tertutup rapat. Begitu pun dengan jendela kamarnya yang tidak terbuka. "Siapa yang tadi mencekik gue? Dan berusaha melakukan pembunuhan?" tanyanya pada diri sendiri sembari memegangi lehernya yang merasakan sakit. Haris beranjak menuju kamar mandi, ia bercermin ketika melihat kaca yang tertempel di dekat wastafelnya. Haris bergidik ngeri ketika melihat di lehernya ada bekas tangan dan itu membuat lehernya memerah. Nggak biasanya seperti ini,  Haris membatin. “Siapa yang melakukan ini semua?” ia mengelus lehernya yang terasa perih akibat bekas cekikan. Ini tidak bisa dibiarkan. Haris bergegas menyalakan lampu kamarnya. Lalu, dengan waspada dia membuka lemari dan yang lainnya untuk memastikan tidak ada penyusup yang masuk ke dalam kamar. Namun, semua aman, dia tidak menemukan seseorang di kamarnya. Rasa penasaran Haris tidak hanya sampai pengecekkan di kamarnya, ia pun keluar dari kamar dan memeriksa keadaan rumahnya. Namun, saat ia ingin turun dari tangga, Haris merasakan seseorang mengikutinya dari belakang. Langkahnya terhenti, ia menoleh ke belakang dan tidak ada siapa pun. Haris mengatur napasnya. “Tenang, nggak boleh panik,” ucap Haris untuk menenangkan dirinya yang khawatir dan takut menjadi satu. Prang … Haris terlonjak saat mendengar benda terjatuh dari arah dapur. Ia pun mempercepat langkahnya. Lelaki itu sangat yakin bahwa ada penyusup yang masuk ke dalam rumahnya. Ketika sudah hampir sampai dapur, ia memelankan langkahnya. Berjalan dengan mengendap-endap dan bersembuyi di balik dinding, mengintip keadaan dapur yang mana ia tidak melihat seorang pun di sana. “Kamu ngapain di sini?” Bisikan wanita di sampingnya membuat Haris terkejut hingga ia mundur beberapa langkah. “Mama!” Haris benar-benar terkejut saat melihat Arabella dengan wajahnya yang tertutupi oleh masker berwarna putih. “Untung aku nggak punya riwayat penyakit jantung,” ucap Haris dengan nada sebal yang kentara jelas. “Kamu aja lagian ngapain tengah malam begini di dapur, mengendap-endap macam maling,” ucap Arabella seperti bisikan di telinga Haris. Mungkin karena efek masker yang digunakannya maka dari itu Arabella tidak ingin maskernya retak yang berimbas pada wajahnya kelak. Haris pun menggelengkan kepalanya tanpa menyahut. Ia bergegas menuju kamarnya dan meninggalkan Arabella seorang diri di dapur. Berbagai spekulasi yang muncul dalam dirinya tadi, apa mungkin di sini ada penjahat? Atau ada orang yang psikopat? Haris menggelengkan kepalanya, mencoba mengenyahkan semua pikiran negatifnya karena pada kenyataannya rumahnya aman. Tiba-tiba pemikiran iseng Haris muncul saat menatap pintu kamar orang tuanya. Ia pun membuka pintunya sedikit dan mengintip dari celah pintu. Saat itu juga napas Haris seakan terhenti, jantungnya berdebar lebih cepat dan seluruh tubuhnya seakan kaku. Haris melihat di dalam kamar ada Arabella dan Elvan di atas tempat tidur sedang tertidur nyenyak dan berpelukan. Jadi, siapa yang tadi ditemui?    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD