Aku menyukainya, dia lucu. Tetapi, aku merasakan ada yang tidak wajar dengan pemberian ini. Kemustahilan yang terjadi membuat pikiran dan batinku berperang.
***
Calista sekeluarga sudah check-out dari hotel yang di tempatinya. Liburan yang hanya benar-benar sebentar. Calista dan Haris tidak tahan kalau berlama-lama di hotel yang menurutnya menyeramkan. Lagi pula, Haris dan Elvan tidak punya waktu luang yang banyak untuk berlibur. Begitu pun dengan Calista yang harus menjalankan tugasnya sebagai murid di sekolah. Jadi, dia sekeluarga memutuskan untuk pulang. Bukan Calista namanya kalau tidak meminta mampir untuk berbelanja karena bagi dia setiap perjalanan jauh harus membawa minimal satu kenangan aja. Orang tua dan Kakaknya pun menyetujuinya.
Mereka masuk ke tempat yang banyak pedagang menggelar dagangannya, dari mulai makanan, aksesoris, baju, dan yang lainnya. Calista menatapnya dengan mata yang berbinar-binar. "Kamu mau beli apa sih emangnya?" tanya Haris memutar bola matanya malas. Ia sangat malas dengan kata belanja.
Sepertinya semua lelaki juga malas. Apalagi, kalau menemani wanita berbelanja.
Calista mengangkat bahunya bertanda ia tidak tahu, matanya menjelajah ke sana-kemari mencari sesuatu yang menarik. "Entahlah, Kak. Aku juga bingung. Kalo ada yang bagus dan lucu baru aku beli," jawabnya dan bersandar di kap mobil.
“Calista, Haris, kalian mau ikut kami atau mau berbelanja sendiri?” Tanya Arabella kepada kedua anaknya yang sedang mengobrol.
“Aku nggak mau ikut Mama. Aku sendiri aja,” jawab Calista menatap Arabella dengan senyuman.
“Aku ikut Calista,” jawab Haris karena ingin melindungi adiknya, kan tidak mungkin dia membiarkan adiknya sendirian berbelanja di tempat yang belum pernah ia kunjungi.
Arabella dan Elvan mengangguk. “Yaudah, kalian hati-hati,” kata Elvan. Lalu, menatap Haris dengan tatapan yang selalu membuat orang merasakan terintimidasi. “Haris, kamu jaga adikmu, jangan sampai dia melakukan hal-hal yang aneh,” pesannya pada anak sulungnya.
Calista menatap Elvan dengan kesal. “Aku nggak mungkin melakukan hal-hal aneh, Papa!” protes Calista yang sudah kesal karena perilaku Elvan yang selalu membuatnya merasa orang yang paling menyusahkan, pembuat onar, dan hal-hal negative lainnya.
Arabella tersenyum kepada anak-anaknya. “Kalian hati-hati.” Arabela menatap sang suami dan menarik tangannya untuk mengikuti langkah kaki, menjauh dari anak-anaknya dan mencegah perdebatan lebih tepatnya. “Ayo, kamu temenin aku beli daster!” perintah Arabella pada suami.
Haris menatap Calista sekilas sebelum akhirnya menatap yang lain. “Kalau nggak ada yang lucu gimana? Nggak jadi beli oleh-oleh?” Tanya Haris memastikan dugaannya benar atau salah.
Calista terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, “nggak mungkin nggak ada yang lucu. Pasti ada. Masa banyak pedagang yang berjualan di sini, nggak ada yang memikat hati dagangannya, kan nggak mungkin,” jawab Calista dan berjalan mendahului Haris.
Haris hanya mengedikkan bahunya acuh tak acuh dan berjalan mengikuti Calista.
Tiba-tiba pandangan Haris tertuju kepada pedagang yang menjual sebuah boneka. Seulas senyum tercetak jelas di wajahnya. "Kakak tau apa yang bagus dan lucu," celetuk Haris sambil menarik tangan Calista menuju tempat boneka tersebut.
Calista pun limbung dan bingung. “Apa sih, Kak Hars?” tanyanya dengan kesal
Langkah Calista dan Haris terhenti di depan toko yang bangunannya terlihat dari kayu, begitu masuk pun banyak boneka yang belum pernah Calista lihat sebelumnya.
"Kakak mau beliin aku boneka?" tanya Calista dengan alis yang menaik satu saat menyadari ia berada di toko boneka yang sepi dan berbeda dari toko yang lain.
"Iya, ada boneka yang lucu menurut Kakak. Aku yakin pasti kamu suka."
Calista menatap Kakaknya dengan tatapan heran, biasanya Haris selalu marah kalau Calista membeli boneka dan selalu mengatakan 'Kamu udah punya banyak boneka, Cals. Apa itu belum cukup? Kamu bisa 'kan beli yang lain selain boneka. Misalkan sepatu, baju, atau apalah yang biasanya dibeli perempuan.'
“Boneka apa?” Calista masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Haris.
"Kalian ternyata di sini." Arabella dan Elvan tiba-tiba datang menghampiri Calista dan Haris.
Calista menoleh dan menggandeng tangan Arabella. “Ma, masa tiba-tiba Kak Hars mau beliin aku boneka." Calista mengadu kepada Arabella, membuat Mamanya juga ikut menatap Haris dengan tidak percaya.
Haris dengan gemas menangkup wajah Calista dengan tangannya. "Memangnya salah kalau aku mau beliin sesuatu buat adikku ini? Hm?" tanya Haris kepada Calista dengan gemas.
"Ya … aneh aja. Ka Hars 'kan selalu marah kalau aku beli boneka, tapi ini malah Ka Hars sendiri yang kasih aku boneka," cibir Calista dengan nada kesal.
Arabella tersenyum, sebelum akhirnya bertanya, "Boneka apa memang yang mau kamu belikan buat Calista, Hars?"
"Aku mau beliin boneka yang itu. Lucu 'kan Ma bonekanya?" Haris mengedikan dagunya ke arah boneka tersebut.
Haris pun melangkah ke rak boneka yang dimaksud dan mengambil bonekanya.
Seketika empat pasang mata tertuju pada boneka tersebut. Boneka yang berambut pirang, baju berwarna hitam dengan ada sedikit pernak-perniknya di gaun membuat boneka itu terlihat manis dan lucu.
Elvan menatap boneka tersebut, ia mengernyitkan dahinya. "Kamu yakin mau beli boneka itu buat adik kamu, Hars?" Tanya Elvan dengan ragu.
Haris mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Papanya. Haris menatap Calista. "Kamu mau nggak, Cals?" tanya Haris dengan alis yang menaik satu.
Calista tidak menjawab, ia memerhatikan boneka itu lekat-lekat tanpa berkedip. Boneka yang lucu, dan berbeda dari yang lain, batin Calista dengan senyuman yang tercetak jelas di wajahnya yang putih.
Calista mendongak dan tersenyum senang menatap Haris. "Aku mau, Kak!" jawab Calista dengan penuh semangat.
***
Selama di perjalanan menuju Bandara Internasional Adisutjipto, Calista tak henti-hentinya tersenyum dan memeluk boneka tersebut, sepertinya Olive akan tersingkirkan dan diganti oleh boneka barunya. Namun ternyata, sesuatu yang tak diduganya terjadi ketika Calista benar-benar menatap boneka itu, tiba-tiba saja mata boneka itu berkedip membuat Calista terlonjak kaget.
"Astaga!" pekik Calista dan mengusap matanya dengan kepalan tangan, ia kembali memperhatikan boneka itu lagi. Namun, boneka itu tidak berkedip seperti apa yang dilihat sebelumnya.
"Hei, Cals! Ada apa, Sayang?" tanya Arabella heran.
Kini semua mata tertuju ke arah Calista yang tiba-tiba berteriak. Sopirnya melirik dari spion tengah mobil, Elvan menoleh ke belakang menatap Calista dengan tatapan kesal karena dia tahu pasti Calista berulah lagi.
Haris menatap adiknya khawatir sekaligus bingung. “Ada apa?” Tanya Hari dengan penasaran.
“Eh? Nggak, Ma, nggak ada apa-apa,“ jawab Calista dan berusaha tersenyum menenangkan. “Aku benar-benar nggak apa-apa.” Mencoba meyakinkan Haris.
“Calista, ingat pesan Papa,” celetuk Elvan dengan nada tegas memperingati Calista.
Calista mengangguk kaku. “I-iya, Pa. Maaf,” cicit Calista.
Arabella mengusap punggung Calista seakan memberi kekuatan dan Calista tidak boleh bersedih karena perkataan Elvan.
Nggak, Cals! Nggak mungkin! Itu cuma halusinasi kamu doang. Nggak mungkin ‘kan boneka bisa mengedipkan matanya. Itu mustahil, batin Calista mulai berperang.