Dia ada
Dia datang tanpa kupanggil
Dia menampakkan tanpa kuingin
Dia ada
Datang untuk memperlihatkan
Meninggalkan sakit yang kurasakan
***
“Kalian belum siap-siap?” Arabella masuk ke dalam kamar anak-anaknya. Calista dan Haris masih asik di tempat tidur masing-masing sambil menonton televisi yang menayangkan film horror barat pada saat itu.
“Mau ke mana, Ma?” Tanya Calista menatap mamanya yang sudah berpakaian rapi.
“Kalian nggak mau keluar? Jalan-jalan misalnya?” tawar Arabella yang sudah duduk di tepi tempat tidur Calista.
Haris menoleh ke Arabella. “Papa ikut?” tanyanya karena tidak melihat Elvan masuk ke dalam kamarnya atau mungkin Elvan masih di dalam kamar?
Arabella menggelengkan kepalanya. “Papamu ada janji dengan temannya. Bahkan, Papamu sudah berangkat dari tadi,” jawab Arabella dengan senyuman.
Haris mengangguk mengerti. “Mama mau kita jalan-jalan ke mana?” Tanya Haris karena awal keberangkatan mereka juga tidak tahu ingin mengunjungi tempat apa saja. Terpenting, mereka pergi jauh dari Ibu kota untuk melepas penat.
“Kak, setannya kan padahal ada di dalam boneka yang dia koleksi itu, ya. Tapi, dia malah pindah rumah. Mau sejauh apa pun mereka pindah rumah, tapi bonekanya masih disimpan ya percuma aja,” cerocos Calista mengkritik film yang ditontonnya.
“Ya kan mereka nggak tau kalau sumber masalahnya itu dari boneka,” koreksi Haris karena Calista sudah mulai geregetan dengan filmnya.
“Bagaimana kalau pantai?” Arabella kembali bersuara saat anak-anaknya sudah mulai tenang dan tidak berdebat.
Calista menoleh cepat dengan mata yang berbinar. “AKU MAUUUU!” pekiknya girang.
Calista benar-benar menyukai lautan yang bisa membuatnya tenang, pikirannya jernih. Deburan ombak membuatnya terhanyut dalam kedamaian yang sulit ia dapatkan di tempat lain, termasuk di rumah.
Arabella tertawa dan mengacak rambut Calista. “Yaudah, kamu mandi sana,” ucap Arabella.
Calista mengangguk dan langsung mengambil pakaian di lemari tanpa peduli film yang ditontonnya belum habis. Saat Calista di depan kamar mandi, langkahnya terhenti. Ia menoleh ke arah Arabella. “Ma, aku mandi di kamar mama, ya?”
Arabella mengangguk tanpa curiga. “Yaudah sana mandi.”
Haris berdecak karena mengetahui maksud dan tujuan Calista. “Ck, curang kamu, Cals!” protes Haris.
Calista menjulurkan lidahnya meledek Haris. “Biarin!” sahutnya dan pergi ke kamar Arabella.
“Curang kenapa kalian?” Tanya Arabella yang tidak mengerti.
Haris mengganti-ganti channel yang menayangkan film seru karena sejujurnya dia tidak terlalu suka film horror seperti adiknya, dia lebih menyukai film action. “Sengaja dia mandi di kamar mama karena semalam ada kejadian yang tidak enak dari kamar mandi di sini, makanya dia segaja biar aku yang mandi di kamar mandi ini,” jawab Haris dengan sebal.
“Yaudah, mandi sana biar nggak terlalu lama menunggu,” ujar Arabella.
“Nanti aja gantian sama Calista. Aku mau nonton dulu,” kilah Haris santai.
“Bilang aja kamu takut,” ledek Arabella.
Haris hanya terdiam dan menonton. Dia tidak menanggapi ledekan Arabella karena memang itu kenyataannya, dia takut. Takut kalau misalnya lagi mandi, ada sosok yang tak diinginkan muncul atau ketika lagi keramas dia digangguin. Hih, serem.
***
Arabella tersenyum melihat Calista yang tertawa bahagia, begitu pun dengan Haris yang terlihat bahagia. Dua anak tersayangnya sedang asik menikmati dan bermain di pantai yang terletak paling ujung, pantai paling sepi di antara yang lain. Arabella duduk di sebuah warung dengan angina yang terus menerpanya sambil menikmati pemandangan indah pantai dengan meminum es kelapa yang langsung dari kelapanya
Calista sedang asik berfoto-foto dengan Haris, berbagai gaya telah dilakukannya. Sebanyak apa pun foto pasti hanya beberapa yang bagus dan hanya satu atau dua foto yang diunggah ke social media. Calista tak henti-hentinya mengabadikan momentnya dalam bentuk sebuah gambar. Sedangkan, Arabella lebih suka duduk di sebuah warung. Mereka mempunyai cara tersendiri untuk menikmatinya.
"Kak, aku mau lihat hasilnya," ujar Calista sembari mengambil alih kamera Haris. Sedangkan, Haris hanya mendengus kesal.
Calista duduk di atas pasir putih, mata Calista menyipit saat ia melihat salah satu hasil fotonya, ada sesuatu yang aneh. Kemudian, ia kembali melihat tempatnya berfoto, lalu melihat lagi hasilnya. “Ada apa, Cals?" tanya Haris saat melihat Calista yang tiba-tiba terdiam. Haris pun mendekat dan ikut duduk di atas pasir.
"Ada sesuatu yang aneh," jawab Calista tanpa mengalihkan pandangannya. Haris mengernyit bingung.
"Bukanya tadi aku foto sendiri, Kak Hars? Kenapa di belakangku seperti ada orang? Da-dan itu perempuan." Napas Calista tercekat ketika berucap di akhir kalimat, Haris mengangguk paham dan melihat hasil foto itu.
"Dan … mukanya kurang jelas," gumam Haris saat melihat foto tersebut, Calista meg-iya-kan tanpa berbicara.
“Kamu baik-baik aja, Cals?” tanya Haris saat melihat Calista tiba-tiba tidak bersemangat.
"Lebih baik kita pergi dari sini, Kak Hars. Aku merasakan ada yang tidak beres dengan semua ini," jawab Calista yang bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendahului Haris.
“Sial!” Calista mengumpat ketika merasakan kepalanya mulai pusing.
Haris segera merengkuh Calista dan membantunya berjalan. “Ayo, Cals, kita balik ke hotel lagi aja.”
Arabella terkejut melihat Calista dan Haris yang sepertinya terjadi sesuatu di antara mereka berdua. Dia mendekat dengan panik, takut terjadi sesuatu dengan Calista.
***
Haris dan Calista berjalan menuju kamarnya tanpa Arabella karena Arabella menyusul Elvan yang sedang bersama temannya. Namun, Calista tiba-tiba mempercepat langkahnya dan berjalan melewati kamarnya. "Hei! Mau ke mana kamu, Cals!" seru Haris dari depan pintu kamar. Namun, tak dihiraukan oleh Calista.
Haris bingung dengan adiknya yang berhenti mematung di ujung lorong dengan pandangan ke arah kirinya, di sana ada sebuah lorong kecil yang entah berujung ke mana.
"Calista!" Haris kembali menyerukan nama adiknya tanpa beranjak, membuat Calista terlonjak kaget. Ia terburu-buru menghampiri Haris yang sudah berdiri di depan pintu kamar.
"Ada apa di sana?" tanya Haris ketika melihat Calista berdiri di hadapannya.
"Nggak ada apa-apa. Kita masuk sekarang, cepat buka pintunya," jawab Calista yang tiba-tiba kepalanya merasakan sangat pusing lagi dan lagi.
Persetan dengan kemampuan ini! Kenapa aku harus melihatnya, batin Calista.
Calista duduk di sofa kamarnya, dia menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Dirinya terdiam cukup lama, hingga merasakan semilir angin yang menerpa kulitnya. Calista melihat ke arah jendela dan menaikan sebelah alisnya.
"Kak, kamu nggak menutup jendelanya tadi pagi? Bukannya tadi aku minta tolong sama Kakak untuk menutup jendelanya karena kemungkinan kita akan pulang malam?" tanya Calista sambil melihat Haris yang duduk tak jauh darinya.
Haris pun tak kalah terkejutnya saat melihat jendela kamar yang terbuka beserta gordennya. "Demi tuhan! Tadi Kakak udah tutup, Cals. Kenapa bisa terbuka?" Haris beranjak menutup jendela.
Calista mengedikan bahunya tak acuh. Aneh, nggak mungkin 'kan ada maling di sini dan masa iya maling bisa melompat dari lantai 5? Mau mati dia? Astaga! Tadi aku 'kan melihat sosok itu, batin Calista berteriak.
"Kak! Tadi aku lihat sosok perempuan keluar dari kamar ini. Saat aku menguntitnya dia menghilang secara tiba-tiba. Dan Kakak tau? Dia bisa … menembus pintu masuk, Kak." Calista pun mengecilkan suaranya saat di akhir.
"Sosok perempuan?" Haris mengulang ucapan Calista sembari mengernyitkan dahinya.
"Iya, Kak, di-dia sangat menyeramkan. Aku nggak bisa lihat wajahnya, karena tertutup dengan rambutnya yang panjang," jawab Calista dengan mata yang lurus ke depan seperti menerawang sesuatu.
"Dia bukan manusia. aku melihatnya, dia tidak menapak dan bajunya pun berlumuran darah. Di-dia amis sekali," lanjut Calista dan bergidik ngeri.
Haris menggelengkan kepalanya sembari menghembuskan napas lega, untung bukan gue yang melihat.