BLIND-THIRTY THREE

2197 Words
“Min Hyuk Hyung?” tanya Chang Kyun dengan suara bergetar, tubuhnya pun mendadak terasa lemas. Sesaat usapan di kepala Chang Kyun berhenti, dan kemudian terdengar kekehan ringan dari bibir pemuda tersebut. “Oh, aku sangat terkesan dengan kehebatanmu dalam mengenali seseorang hanya dari suaranya. Hahaha ... terima kasih,” tuturnya diiringi dengan tawa yang terdengar begitu senang. “H-hyung, kenapa?” Kali ini Chang Kyun mendongakkan kepala seolah memberi tatapan penuh tanya pada Min Hyuk yang berdiri di hadapannya. “Eoh, kenapa? Apa maksudmu dengan kenapa?” kata tanya terlontar dari bibir Min Hyuk sebagai balasan untuk pertanyaan Chang Kyun. “Me-mengapa kau melakukan ini? Mengapa kau menculikku?” “Astaga, Paman! Mengapa kau mengikatnya? Kau membuatnya terluka tahu!” Pria tersebut hanya menggaruk bagian belakang kepalanya sembari tersenyum kikuk mendengar protes dari sang tuan. Seolah tak menggubris ucapan Chang Kyun, Min Hyuk berjalan mendekati tas punggung yang tadi dibawanya, kemudian mengeluarkan sesuatu yang tak lain adalah sebilah pisau berukuran kecil. Ia kembali mendekat pada Chang Kyun. Tangannya bergerak menyentuh ikatan di tangan bocah itu. “Diam sebentar, ya?” titah Min Hyuk kemudian secara perlahan menggesekkan sisi tajam pisau pada tali yang mengikat tangan Chang Kyun. “Aww ….” Chang Kyun memekik pelan kala sensasi perih menjalar pada area pergelangan tanganya. Manik hitam milik Min Hyuk sedikit membola. “Astaga! Maaf, aku tidak sengaja,” ujarnya lantas mengusap tetesan darah di pergelangan tangan Chang Kyun dengan sapu tangan di dalam saku celananya. Mengusap secara telaten dan sesekali meniup luka tersebut agar Chang Kyun tak merasa perih. Setelahnya, ia beralih pada tali di kaki Chang Kyun. Kali ini ia mengiris tali tersebut dengan sangat berhati-hati, berusaha agar tak melakukan kesalahan yang sama lagi. Min Hyuk lantas berdiri begitu ikatan tersebut lepas dan membuang tali tersebut ke sembarang arah kemudian mengembalikan pisau yang ia gunakan ke tempat semula. “Hiks ....” Pemuda itu sontak menoleh begitu mendengar isakan yang tak lain adalah Chang Kyun yang kini duduk dengan memeluk kedua lututnya. “Hei, hei. Ada apa? Mengapa kau menangis?” Min Hyuk kembali mendekati Chang Kyun dan berjongkok di depan bocah itu. Tangannya terangkat dan mendarat di bahu Chang Kyun namun belum genap hitungan lima detik bocah itu menepis tangannya kemudian menenggelamkan wajahnya di balik lutut. “Hiks …ja-jangan sentuh aku,” isaknya lagi dengan suara bergetar. “Kenapa?” Kernyitan muncul di dahi Min Hyuk saat ia mengucapkan tanya. Chang Kyun mengangkat wajahnya dan mendongak. “Min Hyuk Hyung, aku ingin pulang, biarkan aku pulang,” ungkapnya memohon dengan air mata yang telah membasahi kedua pipi putihnya. Mendengar permohonan dari mulut bocah itu, Min Hyuk menarik sudut bibir tipisnya. Tersenyum miring. “Hmm ... jika itu maumu, maaf ... tapi aku tidak bisa mengizinkanmu.” “Aku mohon Hyung, biarkan aku pulang. Mengapa kau melakukan ini padaku?” Tak bisa dipungkiri, Chang Kyun benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini. Diculik dan berada di tempat asing dengan pelaku adalah orang yang selama ini sudah ia anggap sebagai kakak sendiri adalah hal yang sangat membingungkan. Sejak tadi ia berfikir, kesalahan apa yang telah dia lakukan hingga membuat Lee Min Hyuk yang hiperaktif ini sampai melakukan hal ini padanya. Namun, tak ada satu hal pun yang ia lakukan dan membuat pemuda itu murka. Karena Chang Kyun bukan tipe yang suka membuat masalah dengan orang lain. Dia sangat menjaga sikap agar hubungan yang terjalin selalu baik. “Jika itu yang ingin kau tahu. Maka dengan senang hati aku memberi tahu bahwa aku membencimu,” ujar Min Hyuk yang membuyarkan lamunan singkat Chang Kyun. Bocah itu menampakkan wajah bingungnya. “Membenciku? Kenapa? Apa karena Kihyun Hyung?” Jujur, Chang Kyun sebenarnya mendengar apa yang diucapkan oleh Minhyuk setelah namja itu keluar dari ruang musik. Ucapan yang menyatakan ketidaksukaan Min Hyuk padanya ketika ia dekat dengan Kihyun. Lagi-lagi Chang Kyun dibuat terkejut dengan suara tawa terbahak dari Min Hyuk. “Hahaha … Aigoo, kau pikir aku pasti kekanakan sekali, ya? Karena melakukan penculikan hanya karena alasan sepele semacam itu?" Min Hyuk mengusap sudut matanya yang basah karena tertawa terlalu keras. “Tapi Chang Kyun, kau salah jika beropini bahwa hanya itu alasanku hingga berlaku sejauh ini.” Entah sejak kapan, di tangan Min Hyuk kembali tergenggam pisau yang semula digunakan untuk memotong tali yang mengikat Chang Kyun. Mungkin lebih tepatnya Min Hyuk masih mengenggam pisau itu karena belum mengembalikannya ke tempat semula karena mendengar isakan Chang Kyun. “Kau yang sudah membuatku jadi seperti ini. KAU!” Min Hyuk meninggikan suaranya di akhir kalimat yang membuat Chang Kyun tersentak, ia tak pernah mendapati Sunbae-nya ini berteriak marah. “A-aku? Apa maksudmu, Hyung?” bocah itu memberanikan diri untuk bertanya dengan suara terbata. “Kau tidak mengenalku? Kau tidak ingat siapa aku?” Chang Kyun terdiam sesaat, kemudian menjawab dengan sedikit ragu, “kau Min Hyuk Hyung. Kau Lee Min Hyuk, teman Kihyun Hyung.” “Benar, sudah aku duga. Kau melupakan aku dengan begitu mudahnya setelah apa yang aku lakukan untukmu,” senyum miring lagi-lagi tercetak di bibir tipis pemuda itu. “Apa maksudmu, Hyung? Aku sungguh tidak mengerti,” jujur Chang Kyun. “Ya, kau memang tidak mengerti. Maka lebih baik kau diam dan semua akan berakhir dengan mudah. Aku sangat benci orang yang banyak bertanya.” “Tidak! Aku ingin pulang, biarkan aku pulang, aku mohon,” lagi, Chang Kyun berucap memohon yang sejatinya sama sekali tak dihiraukan oleh Min Hyuk. Pemuda itu melangkah dengan cepat mendekati Chang Kyun dan tanpa aba-aba menarik kerah baju anak itu hingga membuatnya berdiri dengan terpaksa. “Aku pikir jika membuatmu menderita dulu sebelum kau benar-benar lenyap dari dunia ini sepertinya menyenangkan? Iya, kan?” bisik Min Hyuk tepat di samping telinga Chang Kyun. Chang Kyun meneguk ludahnya dengan sedikit kesulitan, “ a-apa maksudmu, Hyung?” Brakk! Dengan tanpa manusiawi, Min Hyuk mendorong tubuh bocah yang lebih kecil darinya itu hingga membuatnya terhempas ke lantai kasar di tempat itu. “Kkukkungie~ kkukkungie~ kkukkungie~ apa kau ingat?” Min Hyuk mengerakkan ujung pisaunya ke arah lengan Chang Kyun. “Kkukkungie mau bermain dengan Minmungie Hyung?” Sreett Satu sayatan kecil terukir di lengan bagian kiri bocah itu. “Kkukkungie~ Kkukkungie~ lihat Minmungie Hyung membawa Teddy Bear untukmu. Kau suka? Kau menginginkannya, kan?” Srett “Aghh ….” Satu lagi sayatan horizontal dari sisi kanan ke arah kiri dan terbentuk di lengan yang sama. “Kkukkungie sayang Minmungi Hyung?” “Benar, Kkukkungi sangat sayang Minmungi Hyung,” kali ini Min Hyuk mengucapkannya dengan aksen seorang bocah seraya tersenyum lebar. Di lain sisi Chang Kyun yang semula bergerak gelisah dan sesekali meringis akibat luka sayatan di lengannya kini terdiam. Bocah itu mematung dengan sorot mata kosong yang menunjukkan bahwa pikirannya sedang berkelana ke dimensi waktu berbeda. Panggilan itu, nama itu dan orang yang memilikinya. Semua sungguh terasa tidak asing bagi pendengarannya. Sekelebat bayangan masa kecil tiba-tiba melintas di kepalanya. Semua hanya berbentuk kepingan-kepingan tak utuh. Dua bocah berlari. Mereka tertawa. Salah seorang terjatuh dan seorangnya menolong. Mereka berada di atas ayunan. Yang satu duduk di atasnya dan yang satu mendorong. Keduanya saling bergandengan tangan ketika seorang dewasa memarahinya. Yang lebih besar memeluk yang lebih kecil ketika ia menangis. Chang Kyun meremas rambutnya kuat. Entah kenapa kepalanya mendadak sakit begitu kenangan yang merupakan masa lalunya itu mulai terlintas lebih jelas. Min Hyuk, dia adalah sosok yang selalu ia anggap sebagai malaikat dan seorang kakak idaman selama ia berada di panti asuhan. Putra tunggal dari salah seorang dermawan yang menjadi salah satu donatur tetap di tempat tersebut. Pemuda itu juga merupakan satu-satunya anak yang mau menjadi teman bermain dengan Chang Kyun jika anak itu datang berkunjung, karena nyaris seluruh anak yang tinggal di panti asuhan tersebut tak ada yang mau menjadi teman Chang Kyun oleh sebab iri dengan kecerdasan bocah itu. Hanya Min Hyuk yang selalu antusias mencari Chang Kyun tiap kali bocah itu datang berkunjung. Dan Chang Kyun juga akan begitu bersemangat menyambut kedatangan Minmungie Hyung-nya. “Arghh …” erang Chang Kyun lagi, sakit antara kepala dan lengan membuatnya tersiksa. “Mi-Min Hyuk Hyung … kau … k-kau adalah …” “Eoh, Benar sekali! Kau ingat siapa aku? Aku Minmungie Hyung-mu! Satu-satunya orang yang dengan tulus menyayangimu di saat semua orang mengacuhkanmu!” “Tapi mengapa kau meninggalkanku begitu saja tanpa ada ucapan perpisahan? Mengapa?! Apa pria yang kau sebut ayah itu lebih penting daripada aku yang sudah ada bersamamu sekian lama? Begitukah?!” Min Hyuk memegang kedua sisi bahu Chang Kyun dan mengguncangkannya pelan. “H-hyung, bukan itu maksudku,” tubuh Chang Kyun semakin gemetar dan lemas mendengan suara berintonasi tinggi milik Min Hyuk. “Lalu apa?!” Min Hyuk menghela napas. “Kau tahu? Sehari setelah kau pergi dengan orang tua barumu, kami datang. Ayahku memutuskan untuk mengadopsimu dan menjadikamu sebagai bagian dari kami. Aku sangat senang karena keinginanku untuk memiliki Dongsaeng akan segera terwujud, apa lagi orang itu adalah kau. Aku sudah berandai sangat tinggi tentang bagaimana nantinya kita akan menjadi teman satu kamar dan berangkat sekolah bersama.” Min Hyuk melepaskan cengkramannya di bahu Chang Kyun dan tangan kirinya beralih mengusap surai bocah tersebut. “Namun apa yang terjadi kemudian? Menyebalkan! Kami pulang dengan tangan kosong dan harus menelan kekecewaan jika kita tak tahu di mana sekarang kau tinggal, karena orang yang mengadopsimu melarang pihak panti asuhan untuk memberitahunya. Saat itu aku benar-benar merasa kehilangan yang amat dan aku hanya bisa diam serta menangis, hingga Appa nyaris menganggapku gila karena selalu menangis dan tertawa tanpa sebab. Beliau tak tahu jika aku sedang mengenang saat di mana kita dulu bersama,” ucap Min Hyuk dengan air muka sendu. “Dan sekarang kita bertemu, dengan kau yang sudah melupakan aku dan aku yang kembali teringat masa lalu. Aku pikir kau merindukan aku, namun sepertinya tidak. Ternyata kau sudah bahagia dengan sebuah tempat yang disebut keluarga. Okey, sampai di situ aku memilih diam. Namun tidak ketika kau menarik sudah menarik perhatian satu-satunya kawanku.” Chang Kyun terpaku mendengar paparan kenyataan yang baru saja Min Hyuk lontarkan. Ia menunduk dalam dan air mata kembali membasahi pipinya. Jujur saja, saat ini ia merasa bersalah pada namja itu karena memang ia tak mengucap kata pamit saat ia pergi bersama sang ayah. Padahal, Min Hyuk lah satu-satunya teman yang ia miliki kala itu. “Maafkan aku, Hyung,” lirih Chang Kyun. “Apa? Maaf?” Min Hyuk terkekeh, “untuk apa kau meminta maaf?” lanjutnya. “Maaf, karena dulu aku tidak memberitahumu soal hal itu, dan maaf tak mengucap pamit saat pergi,” jelas Chang Kyun dengan suara terputus, ia menahan isakannya. Tak ada jawaban keluar dari mulut Min Hyuk sebagai respon dari apa yang diutarakan Chang Kyun. Pemuda itu hanya mendengus kecil kemudian tertawa keras. Ia lantas berdiri dan bergerak menjauh, mengambil sesuatu dari dalam tas yang dibawanya dan kembali pada Chang Kyun. “Oh, ya. Paman.” Pria yang semula menikmati sebatang rokok di mulutnya itu menoleh begitu merasa dirinya di panggil. “Ya?” “Kau pergilah, biar aku yang menyelesaikan sisanya. Tentang upah, kau tidak perlu khawatir. Aku sudah mengirimnya ke rekeningmu,” titah Min Hyuk yang langsung dijawab anggukan oleh pria tersebut. Suasana kembali hening begitu pria tersebut hengkang. Min Hyuk yang diam dan memainkan pisau di tangannya sedangkan Chang Kyun yang terduduk dengan tangan kanan berusaha menutupi luka yang kini mengalirkan darah. “Kau tahu, aku sebenarnya bukan tipe orang yang dengan mudah menyimpan rasa benci pada orang lain,” Min Hyuk kembali mendekat. Mengusap pucuk kepala Chang Kyun dengan halus dan berujung cengkraman kasar di akhir. “Tapi jika sekali saja aku mengatakan benci, maka itu tak akan berubah bahkan hingga mati. Dan sekarang ini aku membencimu,” tegas Min Hyuk yang lantas tanpa segan menghempas kepala Chang Kyun hingga bocah itu mencium lantai. Tak ayal, dahi mulusnya mengeluarkan darah akibat benturan tersebut. “Hiks … maafkan aku, Hyung. Maaf, aku mohon lepaskan aku, biarkan aku pulang,” mohon Chang Kyun yang tak digubris oleh Min Hyuk. “Pfftt … berhentilah mengucap maaf, karena itu tidak lagi berguna untukku. Jadi, mari kita nikmati waktu yang tersisa ini sebaik mungkin, oke?” Min Hyuk menarik kaos yang melekat pada tubuh Chang Kyun dan memaksa bocah itu berdiri. Ditariknya lengan Chang Kyun kemudian memaksanya duduk di sebuah kursi. “Aku mohon, jangan seperti ini, Hyung,” Chang Kyun sedikit berontak kala Min Hyuk mengikatkan tali padanya. Pemuda itu terkekeh. “Tenanglah, ini tidak akan berlangsung lama, karena ini juga bukanlah kali pertamaku melakukannya,” terang Min Hyuk sedikit berbangga. “Ya, bukan pertama. Karena aku tidak akan membiarkan orang lain terlalu dekat dengan Kihyun selain aku sendiri,” bersamaan dengan kalimat tersebut, satu sayatan baru tercipta di pergelangan tangan Chang Kyun. Semua berlalu begitu saja, dari yang semula hanya sembuah sayatan kini berakhir dengan bermacam pukulan. Entah tangan kosong atau dengan menggunakan benda sejenis balok. Tak ada niatan untuk berhenti meski bocah di hadapannya terus merintih pilu dan memohon untuk menghentikan aksinya. Min Hyuk gelap mata serta hatinya sudah mati sejak ia merasakan kehilangan suatu yang sangat berharga dalam hidupnya. “Mi-Min Hyuk Hyung … maaf,” itulah kata-kata terakhir yang diucapkan bocah itu tepat sebelum kegelapan benar-benar merenggutnya. Gelap yang sesungguhnya. #BLIND#
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD