BLIND-THIRTY FOUR

1582 Words
Kini kelima pemuda itu tengah menatap satu orang dengan gusar. Ya, lima karena kini Hyung Won pun telah ikut bersama mereka. Dan pemuda yang menjadi pusat perhatian mereka adalah Kihyun yang tengah sibuk dengan ponselnya. “Sunbae, bagaimana?” tanya Joo Heon mulai tak sabar. Kihyun menggeleng lemas. “Tidak bisa aku hubungi, dia mematikan ponselnya,” sahut Kihyun. Sedari tadi Kihyun menncoba menghubungi Min Hyuk, entah melalui panggilan maupun pesan tak ada satu pun yang mendapat balasan. Joo Heon meraup wajahnya kesal, genap enam jam sejak adiknya menghilang dan aksi pencariannya pun sia-sia. Perasaan gelisah sudah sedari tadi menghinggapi dirinya. Ia benar-benar takut terjadi sesuatu yang buruk pada Chang Kyun sekarang. Kabar dari Hyun Woo pun tak terlalu membuahkan hasil. Hanya ada sedikit rekaman CCTV di mana ada pria tak dikenal menarik paksa Chang Kyun pergi dari kedai dan membawanya ke sebuah gang. Selebihnya tak ada informasi yang lebih membantu, karena CCTV di perumahan dekat gang tersebut tak berfungsi atau lebih tepatnya tak lagi difungsikan karena banyak dari penghuni tempat tersebut sudah berpindah tempat tinggal. “Aku benar-benar tidak menyangka, Min Hyuk Sunbae adalah dalang di balik semua ini. Ia bahkan orang yang memberi perintah pada Kim bersaudara untuk melukai Chang Kyun. Aish … bagaimana bisa begini?” Joo Heon mengacak rambutnya asal, rasa kesal dan cemas mendominasi dirinya sekarang ini. “Kihyun Sunbae, apa kau tidak tahu tempat apa saja yang memungkinkan untuk dikunjungi oleh Min Hyuk Sunbae? Kalian teman dekat, bukan?” Hyung Won yang sejauh ini masih dapat berfikir jernih kini angkat bicara. Lagi-lagi Kihyun menggeleng. “Sejujurnya akhir-akhir ini aku jarang bertemu anak itu. Aku sibuk mempersiapkan kompetisi pianoku untuk bulan depan.” Mereka hanya bisa mengela napas pasah mendengar penuturan Kihyun. Soon Young yang selalu terlihat kesal tiap mendengar nama Chang Kyun pun kini ikut merasakan khawatir. Mungkin rasa bersalah akibat selalu mengganggu bocah itu di kelas kini menghantui dirinya. Ting Denting notifikasi dari ponsel Kihyun mengusik keheningan mereka. Sang empunya dengan terburu membuka pesan dalam ponsel tersebut. Tak lama kemudian matanya melebar. “Ada apa, Sunbae?” desak Joo Heon tak sabar. “Pesan dari Min Hyuk,” jawab Kihyun yang mengundang perhatian seluruhnya. Kata demi kata mereka baca dengan seksama. Dan sesaat setelahnya mereka pun melakukan hal yang sama seperti apa yang Kihyun lakukan. #BLIND# Sang mentari telah bersembunyi dan langit sudah menggelap setengah jam lalu. Mereka lelah, tentu saja. Tiga jam mencari tanpa henti dan sama sekali tak mendapat hasil yang berarti. Lelah dan dongkol mendominasi. Tapi kali ini semangat muda mereka kembali terpompa begitu Kihyun mengatakan bahwa. “Aku tahu di mana tempatnya,” ulasnya yang membuat kelima pemuda itu menatapnya antusias. Harapan yang semula pupus kini kembali menampakkan sedikit tunasnya. Setidaknya sekarang mereka punya tempat yang harus di tuju dari pada berlarian tak tentu arah. “Aku akan mengantar kalian ke tempat itu, tapi aku mohon satu hal pada kalian,” ujar Kihyun tertuju pada kelimanya. “Apa itu?” tanya Joo Heon sedikit kesal. Apa-apaan? Membantu yang tidak ikhlas sekali. Hanya memberitahu sebuah tempat saja meminta imbalan. “Jangan melukai Min Hyuk,” lanjut Kihyun yang menghasilkan kernyitan di dahi mereka. “B-baiklah,” balas Joo Heon ragu. Yah, siapa tahu dia khilaf. Permintaan yang sedikit menjengkelkan memang. Namun demi keselamatan Chang Kyun, semua akan dia lakukan. Dan akhirnya mereka menuju tempat yang dimaksud Kihyun menggunakan taksi yang sudah Soon Young pesan. Joo Heon sendiri sibuk menghubungi Hyun Woo serta sang ibu untuk meminta bantuan lebih lanjut. Mungkin masalah ini terlalu serius untuk diselesaikan oleh anak-anak seperti mereka. Message From Minhyukie? Hei, tumben sekali menghubungiku? Kau tidak sibuk? Oh, aku tahu. Kau pasti merindukan aku, kan? Iya, kan? Atau tidak? Ah, kau bukan merindukan aku tapi khawatir dengan dia, kan? Huh, aku kecewa Aku pikir selama ini, hanya kau lah yang benar-benar peduli padaku. Tapi sepertinya tidak, kau lebih peduli pada orang yang baru saja kau kenal dari pada aku yang sudah lama berada di sisimu. Dan aku tidak suka itu. Aku benci Yoongi dan kini aku juga benci Chang Kyun. Maka biarkan aku menghapus rasa benci ini. Boleh kan? #BLIND# Di lantai kasar dan udara yang dingin, Min Hyuk menatap acuh pada tubuh penuh luka Chang Kyun dan melepas tali yang mengikatnya usai puas melakukan hal tak manusiawi pada bocah itu. Membiarkan bocah itu tergolek lemah dengan nafas berat yang terputus. Manik hitam yang biasanya menyinarkan kehangatan bak mentari, kini berubah menjadi dingin dan tajam. Tampak kontras dengan dirinya yang biasa. Chang Kyun pingsan beberapa saat lalu setelah dirinya mendaratkan pukulan pada bocah itu. Entah berapa pukulan yang ia berikan padanya hingga kini baju serta celana Chang Kyun yang pada dasarnya berwarna putih sudah ternoda oleh beberapa bercak darah. Bahkan luka di pelipisnya terlihat meneteskan cairan kental berwarna merah tersebut. Mengenaskan sekali keadaan anak itu. Tapi itulah yang membuat Minhyuk menarik kedua sudut bibirnya ke atas seolah bangga dengan hasil karya yang dibuatnya. Ia mendudukkan diri di kursi yang semula menjadi tempat Chang Kyun kemudian meraih ponsel yang ia letakan di atas meja usang di dalam tempat itu, melihat isi pesan dari benda tersebut kemudian kembali tersenyum. “Kau sangat khawatir pada bocah ini ternyata. Huh, aku iri,” gumam Min Hyuk usai menatap layar ponsel. Pesannya berisi permohonan-permohonan Kihyun untuk tidak melakukan hal buruk pada anak itu. Min Hyuk lantas bangkit dari duduk setelah melempar asal ponsel di tangannya ke atas meja. Kembali mendekat ka arah Chang Kyun dan mengguncang bahu anak itu pelan. “Hei, bangunlah,” ucap Min Hyuk diikuti guncangan pelan pada tubuh lemah itu. Chang Kyun masih setia menutup matanya, tak ada respon atas apa yang sudah Min Hyuk lakukan barusan. Bisa dilihat wajah pucat bocah itu mengekpresikan sakit yang melanda. Tak mau menyerah, Min Hyuk melakukan cara lain untuk menyadarkan Chang Kyun. Ia menepuk pipi bocah itu beberapa kali hingga perlahan kelopak mata bocah itu membuka. “Hei, bangunlah. Mau berapa lama lagi kau tidur, huh?” tegur Min Hyuk begitu mata Chang Kyun terbuka sempurna. Anak itu nampak begitu kesulitan saat mencoba untuk duduk, beruntung ternyata sebuah tembok berada tepat di belakang tubuhnya sehingga punggung Chang Kyun langsung bertumpu pada tembok begitu dirinya terhuyung ke belakang. Ringisan keluar dari bibir pucat Chang Kyun begitu luka yang belum kering kembali terbuka kala dirinya menggerakan sedikit dari bagian tubuhnya. Sakit, sungguh seluruh tubuhnya sakit. Bau anyir juga memenuhi indra penciumannya yang terbilang cukup peka dan dia yakin jika itu adalah darahnya sendiri. “Min Hyuk Hyung,” panggil Chang Kyun dengan suara yang serak pada sosok Minhyuk yang tidak ia ketahui posisinya kini. Chang Kyun agaknya memang naif dan polos, masih saja memanggil Min Hyuk dengan embel-embel ‘Hyung’ padahal hampir dua jam pemuda itu menyiksanya tanpa peri kemanusiaan. Tak sadarkah ia jika ia nyaris mati seperti ini karena Lee Min Hyuk? “Hmm … akhirnya kau bangun. Aku pikir aku harus menyiramkan seember air seperti di film-film yang aku tonton,” Min Hyuk berujar dengan senyum tipis di bibir. Air mata kembali menggenang di pelupuk mata Chang Kyun. “Minhyuk Hyung,” panggilnya lagi sembari menahan isakan. “Hmm.” “Sa-kit Hyung … hiks,” rintih Chang Kyun, mengadu atas apa yang ia rasakan pada tubuhnya. Min Hyuk berjongkok di depan Chang Kyun dan mengelus pelan bahu bocah itu. Tersenyum miring sebelum akhirnya berujar. “Sakit, ya?” tanya Min Hyuk yang disambut anggukan lemah oleh Chang Kyun. Tangan Min Hyuk yang semula mengusap lembut kini beralih mencengkram dagu Chang Kyun, “kau itu lemah tapi mengapa selalu bertingkah sok kuat di hadapan semua orang? Ingin mendapat perhatian?” Chang Kyun menggeleng keras. “Tidak! Aku tidak berlaku kuat hanya untuk mendapat perhatian. Aku melakukannya agar orang yang berada di sekitarku tidak ikut terbebani dengan masalah yang itu adalah urusanku.” “Cih! Sok bijak sekali. Inikah caramu untuk mengambil hati semua orang?” Min Hyuk melepas cengkramannya dan menghempaskan dengan keras hingga kepala Changkyun terantuk dinding. “Akh ….” Pusing yang belum reda kini semakin bertambah seiring dengan benturan yang terjadi. Lagi, Chang Kyun nyaris kehilangan kesadarannya namun ucapan Min Hyuk membuatnya kembali terjaga. “Kau tidak mau menyusun pesan terakhir? Kakakmu mungkin dalam perjalanan ke sini untuk menyaksikan betapa menyedihkannya dirimu,” tutur Min Hyuk santai ia melirik arloji di pergelangan tangannya. Sekitar sepuluh menit lagi mungkin, mengingat tempatnya berada sekarang berjarak cukup jauh dari kota. “Dan aku tidak yakin kau masih mampu membuka mata dan bernafas saat ia tiba, jadi aku akan berbaik hati menyampaikannya,” lanjutnya diikuti kekehan pelan. “Hyung, apa maksudmu?” Chang Kyun bergidik ngeri mendengar hal tersebut. Min Hyuk tidak benar-benar berniat untuk membunuhnya, ‘kan? “Kenapa tidak? Aku bisa saja melakukannya,” seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Chang Kyun, pemuda itu menjawabnya. Tak ada lagi kata yang keluar dari mulut Chang Kyun usai mendengar penuturan Min Hyuk. Tubuhnya bergetar hebat dan isakan tanpa suara mengiringi ketakutan yang menyelimutinya. “Hei, jangan takut. Aku tahu ini akan sedikit menyakitkan mungkin, namun itu tidak akan berlangsung lama. Karena setelahnya kau akan terbebas dari dunia yang kejam ini,” terang Min Hyuk kemudian berbalik menuju ke arah meja dan mengabil pisau yang sempat ia letakan lantas menggengamnya erat. Langkahnya begitu mantap ke arah Chang Kyun. Dengan lihai ia megusapkan sisi tajam dari pisau ke pipi mulus Chang Kyun namun tak meninggalkan bekas. “Ssttt … jangan menangis, Kkukkungie, “ kata Min Hyuk kemudian mengusap air mata yang menganak sungai di pipi bocah itu. Jlebb “Ugh ….” #BLIND#
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD