“Paman, cepatlah sedikit!” desak Joo Heon sembari mengguncang sopir taksi yang duduk di sebelahnya.
“Nak! Berhenti mengguncangku, kau membuatku tidak fokus,” gertak sang sopir yang mulai geram dengan sikap Joo Heon. Pasalnya sedari tadi bocah itu terus memaksanya untuk segera sampai ke tempat tujuan.
“Joo Heon, tenangkan dirimu. Paman ini sudah berusaha menyetir secepat mungkin, jangan membuatnya panik, kau bisa membuat kita semua dalam bahaya,” tutur sahabatnya, Hyung Won, ia juga agak kesal dengan sikap terburu milik Joo Heon.
“Benar, Joo Heon. Aku tahu kau khawatir, kami pun sama. Tapi setidaknya tetaplah tenang, jangan memicu masalah lain hanya karena kekhawatiranmu,” imbuh Kihyun yang duduk di samping Hyung Won.
Usai mendapat teguran tersebut, Joo Heon hanya bisa mendesah kesal dan mengacak rambutnya frustrasi.
“Sungguh, jika sampai terjadi apa-apa pada adikku. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri,” ungkapnya yang menggambarkan penyesalan.
Joo Heon menjadi orang yang paling merasa bersalah di sini. Kenapa? Karena semua yang terjadi berawal dari ajakannya pada Chang Kyun untuk membeli perlengkapan kemah padahal itu hanya alasan agar ia bisa berbelanja makanan sepuasnya sekaligus mengajak adiknya jalan-jalan. Siapa sangka bahwa kejahilannya itu membawa malapetaka untuk adiknya?
Ckitttt
Di tengah keasyikan melamunnya, taksi yang mereka tumpangi mendadak berhenti. Joo Heon maupun dua kawan di belakannya nyaris terjungkal ke depan andai saja mereka tak mengenakan sabuk pengamannya.
“Paman! Mengapa berhenti mendadak?!” pekik Kihyun terkejut.
Tak jauh berbeda dengan Kihyun, Hyung Won hanya bisa mengusap d**a atas apa yang terjadi barusan.
“Maaf, Nak. Tapi jalan di depan macet,” sahut sopir tersebut sembari menunjuk ke arah depan yang nyatanya benar.
Berbagai macam kendaraan berbagai ukuran dan jenis tengah mengular di jalan beraspal tersebut.
“Aku dengar ada kecelakaan di depan sana,” terang pria tersebut yang membuat ketiganya membuang napas gusar.
Joo Heon buru-buru membuka pintu mobil tersebut dan keluar dari dalamnya. Menoleh ke sekitar, benar saja jalanan mendadak macet.
“Argh! Sial!” umpat begitu apa yang di ucapkan si sopir memang nyata adanya.
Kihyun membayar taksi yang mereka tumpangi kemudian keluar diikuti oleh Hyung Won. Tak lama setelahnya, Soon Young, Jin Woo dan Doyoung pun menyusul. Kini mereka berkumpul di tepi jalan dengan bunyi klakson yang semakin memenuhi rungu.
Joo Heon berulang kali mengacak kasar rambutnya. Benar-benar kesialan, bagaimana bisa di saat genting seperti ini mereka malah terjebak macet.
Chang Kyun, Chang Kyun, dan Chang Kyun. Bagaimana keadaan anak itu sekarang?
“Sunbae, apa tempat itu masih jauh dari sini?” tanya Joo Heon yang berusaha tetap tenang.
“Tidak, tapi akan jauh jika kita berjalan kaki. Sepuluh menit mungkin,” Kihyun menyahut tak yakin.
“Katakan padaku di mana tempat itu, posisi detailnya,” pinta Joo Heon yang mengundang heran kelima remaja di situ.
Meski heran, Kihyun pun menjawab dan memberikan beberapa arah menggunakan tangannya.
“Kalian naiklah taksi, jalan sudah tidak macet lagi.”
“Yak! Lee Joo Heon!” teriak Hyung Won selepas Joo Heon menyelesaikan kalimatnya.
Bocah itu sudah melesat begitu ia selesai berucap. Meninggalkan lima orang yang berdiri dengan mulut menganga menyaksikan sang Kapten futsal mereka berlari seperti orang kesetanan. Tak tahukah mereka jika Joo Heon memiliki kemampuan berlari yang tak bisa di anggap remeh?
#BLIND#
Pemuda itu tertunduk dengan kedua tangan bertumpu pada sepasang lututnya, nafasnya memburu dengan d**a kembang-kempis, dirinya mencoba menstabilkan udara yang memasuki paru-parunya.
Ia berdiri tegak setelah bisa bernafas dengan normal. Di lihatnya sekeliling tempat yang dimaksud Kihyun. Sebuah bangunan konstruksi yang belum jadi sepenuhnya, atau bisa disebut tidak dilanjutkan pembangunannya dan ditelantarkan begitu saja.
Joo Heon meneguk salivanya sedikit kasar. Ia sebenarnya sangat takut dengan segala yang berbau horor. Meski tempat ini tak ada hubungannya dengan sesuatu yang mistis, namun tetap saja suasana yang diciptakan benar-benar membuatnya merinding. Gelap, kotor, dan mencekam ditambah hari yang sudah tak lagi terang.
Tidak. Tidak. Tidak.
Joo Heon menggelengkan kepalanya dengan tempo cepat. Ia tak boleh jadi pengencut halnya karena hal sepele tersebut. Demi sang adik, ia harus mengikis habis rasa takutnya itu.
Dirinya melihat ke sekitar. Dengan pencahayaan minim dari ponselnya, ia bergerak mendekati bangunan tersebut. Tak ada tanda-tanda keberadaan seseorang di tempat itu selain dirinya dan bebunyian jangkrik serta hewan malam lainnya.
“Haish … apa Sunbae memberi arah yang salah? Atau aku salah menafsirkan petunjuknya?” ujarnya tak yakin.
Namun, bukan Lee Joo Heon jika cepat menyerah. Ia memutuskan untuk memutari sisi bangunan tersebut, dimulai dari bagian depan ke arah samping kanan. Ia terus melangkah perlahan sembari mengarahkan sinar senter ponsel ke sekitarnya. Meski sudah berhati-hati, ia tetap saja tersandung oleh tanaman merambat yang tumbuh di area tersebut. Tidak sampai jatuh, namun beberapa kali ia terlonjak akibat suara burung aneh yang memekakan telinganya.
Ia terus berjalan mengelilingi bangunan kosong tersebut. Hingga sampai pada sisi kiri gedung tersebut, ia mendongak. Ada seberkas cahaya di salah satu ruangan yang berada di lantai ke empat. Tanpa berpikir dua kali, Joo Heon memicu langkahnya menuju tempat tersebut.
Tak ada lagi gerutuan yang meluncur dari bibirnya. Dirinya begitu fokus mencari jalan tercepat menuju ruangan tersebut.
Tap
Tap
Tap
Joo Heon memasuki ruangan tersebut dengan nafas memburu. Dan pemandangan yang sama sekali tak ia harapkan, kini terpampang jelas di depan matanya. Bukan sebuah ilusi semata.
Di sana, di sudut ruangan, sosok Chang Kyun terkapar dengan tubuh penuh lukanya. Dan di sisi bocah terdapat sosok Min Hyuk yang tengah duduk dengan punggung bersandar pada dinding di belakangnya, sorot mata pemuda itu nampak kosong begitu pula pikirannya. Terbukti dengan ia tak menyadari kehadiran Joo Heon saat itu. Ingin rasanya Joo Heon melayangkan setidaknya satu bogeman untuk namja itu, namun ia urungkan begitu mengingat permintaan Kihyun. Ia lebih memilih mendekati sang adik.
“Cha-Changkyun,” panggil Joo Heon dengan suara bergetar.
Perlahan ia langkahkan kedua kaki miliknya mendekati Chang Kyun. Joo Heon semakin terbelalak begitu melihat darah memenuhi area perut sang adik, itu luka tusuk. Kemudian direngkuhnya tubuh yang lebih kecil dan mengguncangkannya secara perlahan.
“Chang Kyun, sadarlah. Ini Hyung,” panggilnya lagi sembari mengusap wajah pucat sang adik.
Tak disangka, mata Chang Kyun yang semula sudah tertutup rapat kini perlahan kembali terbuka. Deru nafasnya terlihat sangat berat di setiap tarikan.
“Im Chang Kyun,” merasa mendapat respon Joo Heon kembali memanggil nama Chang Kyun. Tak lupa tangannya yang masih setia mengusap wajah pias tersebut.
“H-Hyung … Hyung …” lirih bocah itu nyaris tak terdengar jika saja Joo Heon tak menajamkan indranya.
“Iya, ini aku. Aku mohon bertahanlah sebentar, bantuan akan segera datang,” tutur Joo Heon yang sebenarnya untuk menenangkan dirinya sendiri.
Dirinya sudah menghubungi Hyun Woo tentang hal ini, namun sampai sekarang belum ada tanda-tanda kedatangan sang kakak maupun bantuan yang disebutkan.
“Joo Heon Hyung,” lagi, bocah itu berucap lirih.
“Ya, aku di sini,” Joo Heon menggenggam tangan yang lebih muda dengan lembut, mencoba mengalirkan kehangatan pada Chang Kyun.
Ingin rasanya ia menggendong tubuh sang adik dan membawanya menuju rumah sakit. Namun rasanya itu mustahil, letak tempat ini cukup jauh dari rumah sakit dan posisi mereka sangat tidak menguntungkan saat ini. Luka tusuk yang dialami Chang Kyun serta tempat mereka berdiri kini berada lantai empat, sangat sulit.
Joo Heon terus memandangi wajah pucat sang adik. Ia merasa jadi orang tak berguna sekarang. Tanpa sadar, air mata sudah mengalir di pipinya.
Chang Kyun kembali berucap samar, “S-sakit … hiks ….”
Bocah itu bukan tipe yang banyak mengeluh dan pengutarakan apa yang dirasakannya, dan kini dia berkata bahwa itu sakit. Tangan Joo Heon bergerak menyingkap kaus yang menempel di tubuh bocah itu, betapa terkejutnya ia saat bukan hanya satu namun dua luka tusuk menembus perut Chang Kyun.
“Aku mohon bertahanlah, tetap buka matamu,” hanya kata penyemangat yang bisa Joo Heon ungkapkan.
Di sampingnya, Min Hyuk yang semula membisu kini menoleh ke arah dua bocah yang lebih muda darinya.
“Maaf ....” Satu kata maaf meluncur dari bibir tipis pemuda tersebut.
Joo Heon yang hampir melupakan eksistensi dari Min Hyuk, kini sontak menatap lurus pemuda tersebut dalam diam tak tahu apa yang harus dilakukan pada pemuda itu. Hatinya benar-benar kalut dengan keadaan Chang Kyun yang terus-terusan mengerang kasakitan.
Baru saja ia mengeluarkan ponselnya dan hendak menelpon Hyun Woo, namun bunyi sirine mobil polisi menggema dari luar gedung tersebut. Rasa lega langsung menghinggapi dadanya begitu sekelompok polisi tiba di tempat tersebut.
Bantuan medis pun segera datang dan membawa tubuh lemah Chang Kyun untuk segera dilarikan ke rumah sakit. Joo Heon senantiasa mengekor di belakang petugas medis yang mengangkat sang adik, melupakan keberadaan kawan-kawannya yang hanya bisa menatap prihatin dengan keadaan Chang Kyun sekarang.
Di sisi lain, Min Hyuk yang menjadi tersangka dari penculikan dan penganiayaan kini digiring oleh dua orang polisi dengan kedua tangan dalam keadaan terborgol. Tak ada perlawanan dari pemuda itu begitu polisi meringkus dan memasangkan borgol pada kedua pergelangan tangannya, seakan pasrah dengan keadaannya saat ini.
“Min Hyuk! Tunggu sebentar!” Entah dari mana, Kihyun datang mencegah kegiatan di mana polisi hendak memasukan Min Hyuk ke dalam mobil.
Min Hyuk menghentikan langkahnya, dan menatap kosong pada Kihyun yang kini berdiri di hadapannya. Pemuda mungil itu terlihat kacau dengan penampilannya saat ini.
“Kau datang?” tanya Min Hyuk, tersenyum tipis.
“Kenapa? Ada apa denganmu, Min Hyuk? Mengapa kau bertindak sejauh ini?” Kihyun membalas pertanyaan Min Hyuk dengan pertanyaan pula, raut wajahnya tak kalah kacau dengan Joo Heon tadi.
“Maaf, aku memang tidak pantas berteman denganmu,” sahut Min Hyuk singkat sebelum akhirnya kembali melangkah tanpa menunggu balasan dari sahabatnya.
Kihyun diam terpaku. Tak tahu apa yang harus dilakukan setelah mendengar penuturan dari kawan kesanyangannya tersebut. Ia kecewa dengan apa yang telah Min Hyuk lakukan, namun ia juga tak rela sahabatnya itu masuk ke dalam jeruji besi.
#BLIND#