BLIND-TWELVE

1416 Words
“Hahh ….” Chang Kyun membuka matanya dengan nafas tersengal. Mimpi itu lagi. Sangat mengerikan baginya untuk selalu kembali ke masa itu lagi. “Sudah bangun?” tanya seorang pemuda di samping Chang Kyun. Chang Kyun sedikit tersentak saat mendengar suara pemuda yang terdengar sangat familiar tersebut. Chang Kyun lantas segera mendudukkan dirinya. “Joo-Joo Heon Hyung? Mengapa kau ada di sini? Tidak, maksudku ini di mana?” tanya Chang Kyun, terlihat masih bingung dengan apa yang terjadi. Seingatnya, dia terkunci di dalam toilet dan pingsan. Ohh.. mungkin ini di ... “Di ruang kesehatan sekolah,” sahut Joo Heon dengan nada dinginnya. “Kenapa aku bisa di sini?” tanya bocah itu bingung. Joo Heon berdecih kesal. “Bodoh. Apa aku perlu menjelaskannya padamu kenapa bisa sampai di sini?” ucap Joo Heo dingin. “Heisshh … mengapa kau kasar sekali pada adikmu?” ujar pemuda satunya yang tak lain adalah Hyung Won yang baru bangun dari tidurnya. Ya, pemuda itu memutuskan untuk tidur di ruang kesehatan. Ya, ini jauh lebih baik daripada di bawah pohon bukan? Chang Kyun menundukkan kepalanya. Selalu saja dingin, pikirnya. “Bagaimana keadaanmu Chang Kyun? Sudah merasa lebih baik?” tanya Hyung Won dengan lembut. Chang Kyun merekahkan senyum manisnya. “Ya. Aku sudah merasa lebih baik, Sunbae,” sahutnya ramah. “Aishhh … kau ini terlalu sopan. Panggil saja aku Hyung, oke?” “Baik, Hyung.” Joo Heon menatap sinis melihat interaksi keduanya. “Bagus,” ujar Hyung Won kemudian mengacak puncak kepala Chang Kyun. “Oh ... bajumu kotor. Ini pakailah.” Hyung Won menyerahkan sebuah jaket kepada Chang Kyun. “Terima kasih, Hyung Won Hyung.” Chang Kyun menerima jaket tersebut dan segera memasangkan ke tubuhnya. Agak kebesaran ternyata, itu berarti Hyung Won lebih tinggi darinya. Joo Heon merasa ingin muntah melihat tingkah dua orang di hadapannya. Sedangkan Hyung Won yang melihat ekpresi pemuda itu hanya terkikik pelan. “Okey. Kurasa kalian butuh waktu berdua. Aku akan pergi, ini urusan keluarga,” kata Hyung Won yang kemudian melenggang begitu saja. Joo Heon hanya memandang kepergian Hyung Won dengan raut muka tak pedulinya. “Kenapa kau bisa terkunci di dalam?” tanya Joo Heon tiba-tiba setelah Hyung Won menghilang dari peredaran. Terdengar acuh, namun hal itu cukup menjadi sebuah kejutan. Chang Kyun agak terkejut dengan pertanyaan yang keluar dari mulut Joo Heon. Apa ia tidak salah dengar? “Maksud Hyung?” Joo Heon memutar bola matanya malas. “Aku yakin kau tidak tuli, kan?” “Ituu ...” Changkyun tergagap sendiri, terlihat sangat gugup. “Siapa yang melakukannya?!” ucap Joo Heon tanpa basa-basi, dan kali ini dengan nada sedikit membentak. Chang Kyun bungkam. Mana mungkin ia mengatakan bahwa itu perbuatan dua teman sekelasnya. “Emmm … maafkan aku, Hyung. Aku tidak bisa mengatakannya,” sahut Chang Kyun dengan pelan, tapi masih terdengar di telinga Joo Heon. “Kenapa? Apa kau tidak mau mengatakannya karena aku yang bertanya?" "Tidak, bukan seperti itu." Chang Kyun terlihat sedikit panik. "Kalau bukan itu alasannya, cepat katakan padaku. Ini sudah termasuk kasus bullying.” “Karena mereka temanku,” jawab Chang Kyun pada akhirnya. Jooheon berdecih lagi. Kali ini terdengar sedang merendahkan. Pemuda di hadapannya ini memang terlalu naif. "Hei! Kau dengarkan ini baik-baik dan simpan di otak pintarmu itu ... tumbuh di lingkungan yang sama, bukan berarti kalian bisa hidup sebagai teman. Tinggal di rumah yang sama, bukan berarti kalian bisa hidup sebagai keluarga. Kenapa kau naif sekali?" Batin Chang Kyun tersentak. Kalimat yang baru saja diucapkan oleh Joo Heon tanpa sengaja telah melukai hati pemuda itu. Tak bisa menjadi keluarga meski telah tinggal di satu rumah, Chang Kyun menyadari bahwa ia berada dalam posisi itu saat ini. Namun Joo Heon yang memang tidak tahu diri terus saja berceloteh. “Kau itu memang bodoh dan lemah. Aku rasa kau memang pantas mendapatkannya ... seharusnya aku tidak perlu menolongmu dan sekarang aku menyesal.” Joo Heon menjatuhkan tatapan sinisnya pada Chang Kyun. Sedikit harapan bahwa Chang Kyun akan memberikan respon sehingga ia tidak terlihat terlalu kejam. Namun pemuda itu tak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan menyahut. Joo Heon yang sudah terlanjur banyak bicara lantas harus menemukan kalimat yang tepat untuk menutup pembelajarannya tentang kehidupan. “Jika seperti ini akhirnya lebih baik dulu kau masuk ke sekolah yang cocok untuk orang buta sepertimu, sialan!” Bukan perkataan yang terucap dengan lantang. Suara lebah tiba-tiba terdengar di ruangan itu. Dan suara itu tidak lain berasal dari mulut Joo Heon yang menggerutu dengan kesal sehingga tanpa sadar suaranya lebih mirip seperti suara lebah dibandingkan dengan suara manusia. Lagi-lagi Chang Kyun hanya bisa terdiam mendengar serentetan kata menyakitkan dari mulut Joo Heon. Jangankan menyahut, mengangkat kepalanya pun ia tak berani. Dan sialnya lagi-lagi cairan bening itu mengalir di pipinya tanpa bisa ia cegah. Dan itu juga kesialan tersendiri bagi Joo Heon. Melihat Chang Kyun menagis, uhh menyebalkan. Hanya kata itu yang selalu muncul di dalam pikirannya. Joo Heon tersenyum miring. “Benar, seperti itu ... menagislah. Itu 'kan yang bisa kau lakukan? Menangis saja terus dan ingat bahwa aku tidak akan peduli!” ucap Joo Heon dengan nada keras, yang tentu saja membuat Chang Kyun semakin terisak dalam diamnya. Bruukk “Ambil itu dan pulanglah!” lanjut Joo Heon sembari melemparkan tas sekolah milik Chang Kyun. Entah bagaimana ia bisa mendapatkan tas tersebut. Joo Heon segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut. Petugas kesehatan sudah pergi dari tadi dan suasana sekolah juga cukup sepi. Ia malas jika harus berlama-lama bersama dengan Chang Kyun di dalam. Meski sebenarnya selama ia berbicara hal tak masuk akal itu pada Chang Kyun, dia sudah membuang-buang waktu di sana. Sedangkan tanpa mereka sadari. Di sana ada seorang pemuda yang sedari tadi memperhatikan mereka dari awal hingga akhir percakapan tersebut. Pemuda itu melirik sekilas ke dalam ruangan yang hanya menyisakan Chang Kyun dengan mata sembabnya. "Itukah penyebabnya?" gumam sosok itu. #BLIND# Chang Kyun duduk di bangku halte dengan wajah tertunduk. Sesekali ia mengusap matanya yang terkadang masih merembeskan air meski hanya sedikit. Hatinya kembali terluka. Ya, luka yang bahkan semakin bertambah kian harinya. Ia selalu terluka tapi tak pernah ada yang sudi mengobatinya. “Kau menangis?” tanya seseorang yang tiba-tiba duduk di samping Chang Kyun. Chang Kyun sedikit terkejut sebenarnya, tapi ia segera mengenali si pemilik suara tersebut. Pemuda itu kemudian tersenyum. “Eoh ... Kihyun Hyung? Kau membuatku terkejut,” ujar Chang Kyun ramah. “Kau belum menjawab pertanyaanku Im Chang Kyun.” Chang Kyun menggeleng kuat. “Bukan apa-apa.” Kihyun membulatkan bibirnya. “Aku mengerti, tenang saja. Aku tidak akan bertanya lebih jauh lagi,” sahut Kihyun yang disambut dengan helaan nafas lega dari Chang Kyun. Ia bukan tipe orang yang suka memaksa. “Omong-omong, hari ini aku sedang bahagia, loh.” Kihyun mulai memancing pembicaraan yang menyenangkan di antara mereka. “Bahagia kenapa?” Chang Kyun menaikkan sebelah alisnya. Dari suaranya, Kihyun memang terdengar bersemangat. “Bukan apa-apa, aku hanya sedang bahagia saja,” sahut Kihyun. Sedikit tidak jelas memang, dan sepertinya hal ini pernah terjadi pada seseorang yang cukup dekat dengan Kihyun. ‘Oke, sekarang aku sudah tertular virus Lee Minhyuk,’ pikir Kihyun. “Kau aneh Hyung,” Chang Kyun terkekeh pelan mendengar ucapan Kihyun yang menurutnya unik. 'Seperti bukan Kihyun Hyung,' pikirnya pemuda itu. “Terserah apa katamu. Tapi bagamana jika kau menemaniku makan tteokpokki?” “Tteokpokki?” Chang Kyun terlihat berfikir. Entah menerima atau menolak, ia masih tidak tahu. “Iya. Tenanglah, it’s on me.” “Tapi sepertinya aku tidak bisa menemanimu, Hyung. Maaf,” sahut Chang Kyun diikuti wajah menyesalnya. Kihyun mengerutkan keningnya. “Kenapa? Ini masih belum terlalu larut untuk pulang. Dan jika kemalaman aku berjanji akan mengantarmu sampai rumah.” Chang Kyun terdiam, sebenarnya ia merasa tak enak untuk menolak ajakan kakak kelasnya yang selalu baik padanya. “Ayolah Chang Kyun! Aku sangat ingin makan tteokpokki sekarang, sedangkan Min Hyuk tidak bisa menemaniku,” lanjut Kihyun sedikit memohon. Ia memang sedang menginginkan tteokbokki sekarang. “Baiklah, mungkin tidak ada salahnya menemanimu, Hyung,” jawab Chang Kyun kemudian, pemuda itu kembali tersenyum. Itu palsu. Sebenarnya ia gelisah. Nyonya Lee pasti akan memarahinya jika terlambat pulang. Tapi di sisi lain ia juga tak mau jika Kihyun kecewa. Terdengar tawa senang dari seseorang di sampingnya. Chang Kyun mau tak mau ikut tertawa mendengar tawa Kihyun yang indah. “Oke. Ayo, aku tahu kedai tteokpokki yang enak dekat sini,” ajak Kihyun kemudian beranjak lebih dulu dan diikuti oleh Chang Kyun yang mengekor di belakangnya. #BLIND#
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD