BLIND-ELEVEN

1361 Words
Doyoung memainkan pensilnya gelisah. Sudah hampir setengah jam Chang Kyun keluar kelas tapi tak kunjung kembali. Apa yang terjadi? Dan bodohnya Doyoung tak menanyakan ke mana Chang Kyun akan pergi. Pemuda itu terlalu sibuk berbincang tentang tim futsal dengan Woo Jin tadi. Dan sekarang ada ulangan. Sial! “Ssaem,” panggil Doyoung pada sang guru. “Ya, Jang Doyoung. Ada apa?” Kim Ssaem sedang sibuk membagikan kertas ulangan pun lantas membagi konsentrasi pada salah satu muridnya. “Boleh aku keluar sebentar?” “Mengapa kau ingin keluar? Apakah kau tidak tahu aku mengadakan ulangan?” “Maaf Ssaem. Tapi Chang Kyun belum kembali ke kelas dan aku bermaksud mencarinya.” Kim Ssaem memperlihatkan ekspresi tak sukanya. “Maaf, tidak boleh ada yang keluar pada saat jam ulanganku, Tuan.” “Tapi Ssaem, bagaimana dengan Chang Kyun?” “Im Chang Kyun bisa ikut ulangan susulan. Silakan kerjakan soalmu dan selesaikanlah. Waktunya satu jam,” perintah Kim Ssaem tegas dan tak ada yang membantah lagi. Semua mulai berkutat dengan soal-soal di hadapannya. Termasuk dengan Doyoung yang tidak bisa tenang barang sedetik pun. Dua orang yang bertempat di belakang Doyoung menyunggingkan senyum puas mereka. Menyenangkan memang jika mengganggu Chang Kyun. #BLIND# Hyung Won mengikuti langkah Joo Heon dengan agak terhuyung. Matanya benar-benar terasa berat untuk dibuka. Sial! Kenapa ia tak menolak saja ajakan kawannya ini dan tidur di balik bukunya. “Hoamm ....” Hyung Won mengusap air yang keluar dari sudut matanya. “Ya! Shin Hyung Won! Cepat! Kenapa kau lama sekali?” seru Joo Heon yang berada beberapa langkah di depan Hyung Won. Hyung Won menatap Joo Heon dengan wajah kesalnya. Temannya itu tidak tahu bahwa saat ini tubuhnya tengah memaksakan diri untuk bergerak. “Jika kau tidak mau sabar, maka pergilah sendiri. Lagi pula tidak ikut pelajaran, kan idemu dan aku hanya menemanimu,” sahut Hyung Won dengan kesal. “Aku tahu, aku tahu ... tapi tidak bisakah kau percepat sedikit langkahmu yang seperti kura-kura itu?” sahut Joo Heon pada akhirnya. Keduanya melangkahkan kaki mereka menyusuri koridor sekolah dan mencoba menghindari pertemuan dengan guru maupun petugas keamanan sekolah. Sampailah mereka ke sebuah taman kecil di belakang gedung sekolah dengan sebuah bangku panjang di dalamnya. Hyung Won yang sudah tak sanggup menahan matanya untuk terbuka lebih lama lagi segera menjatuhkan tubuhnya di bangku dan terlelap. Joo Heon terkekeh pelan melihat tingkah kawannya yang memang hobi tidur itu. Sedikit tak percaya juga. Mau bagaimana lagi, ia memang membenci pelajaran Sastra Korea yang menurutnya membosankan karena hanya bermain dengan kata-kata. Dan tidur di sini mungkin lebih bermanfaat. Joo Heon mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, memasang headset kemudian menyumpal kedua telinganya. Tidur mungkin pilihan paling tepat. Toh petugas keamanan jarang memeriksa area taman ini, pikirnya. Akhirnya Joo Heon terpaksa tidur di bawah pohon dekat bangku tersebut karena bangku sudah dipenuhi dengan kaki panjang Hyung Won. Tapi kesialan sedang menimpa mereka kali ini. Belum sampai Joo Heon masuk ke dalam mimpi indahnya, suara peluit terdengar memekakan telinganya. Priiittt priiitttt priiittt “Hei kalian! Sedang apa di sana?! Kembali ke kelas kalian!” teriak si penjaga keamanan sambil mengacungkan tongkat kayunya. “Baik, Ssaem.” Joo Heon langsung berdiri tegak dan mengguncangkan tubuh Hyung Won yang sepertinya tak terpengaruh oleh suara peluit itu. “Hyung Won. Cepat bangun! Kita ketahuan,” ucap Joo Heon sembari mengguncangkan tubuh sahabatnya Joo Heon kemudian berlari lebih dulu. Mendengar ucapan Joo Heon, Hyung Won sontak membuka matanya dengan paksa dan berlari sempoyongan menyusul Joo Heon yang melesat lebih dulu. Sementara petugas keamanan tersebut lebih memilih diam di tempat dan memandang kepergian dua siswa tersebut dengan santai. Lagi pula tidak ada gunanya ia mengejar bocah membolos jika pada akhirnya hanya akan membuatnya lelah. Joo Heon menghentikan langkahnya ketika tahu tidak ada yang mengejarnya kecuali Hyung Won yang tertinggal di belakang. Tak lama kemudian Hyung Won pun sampai di sampingnya dengan nafas terengah. Kali ini ia benar-benar sudah terbangun sepenuhnya. “Aishh … benar-benar. Hhh … seharusnya aku tidak ikut denganmu,” ucap Hyung Won dengan kesal. “Sudahlah. Lagi pula kau juga menurut begitu saat aku mengajakmu,” Joo Heon sedikit tertawa ketika melihat wajah Hyung Won yang terlihat kusut. Hyung Won hanya mendengus kesal kemudian memasuki toilet. Ia hendak mencuci wajahnya. Sendangkan Joo Heon balik mengekor di belakangnya, ia juga ingin memenuhi panggilan alam. Ssssssshh …. Hyung Won menyalakan keran kemudian membasuh wajahnya. Sementara Joo Heon memasuki salah satu bilik toilet dan menyelesaikan tugasnya. “Ayo. Sepertinya kita tidak ditakdirkan untuk meninggalkan jam pelajaran,” ajak Hyung Won seusai melihat Joo Heon keluar. “Eoh … padahal aku ingin merasakan menjadi siswa berandal itu seperti apa.” Joo Heon mengikuti langkah Hyung Won. Tapi tak jauh kakinya melangkah, ia dibuat heran dengan salah satu bilik toilet yang tertutup dan ditopang dengan tongkat pel. “Kenapa? Ada apa?” Hyung Won megalihkan pandangannya dan tahu apa yang membuat sahabatnya ini terdiam. “Sudahlah. Mungkin itu sedang rusak,” ucap Hyung Won mencoba berfikir positif. “Tidak, menurutku ini aneh. Jika rusak pasti diberi tulisan, bukannya seperti ini yang menganggu lalu lintas,” sanggah Joo Heon beropini. Tanpa pikir panjang, Joo Heon menyingkirkan tongkat pel tersebut dan mengembalikannya ke tempat semula dan tanpa ragu membuka pintu toilet tersebut. Dan betapa terkejutnya ia dengan pemandangan yang terlihat di baliknya. Ia mundur beberapa langkah. “Ada apa? Kenapa kau terkejut?” Hyung Won menilik isi toilet tersebut, matanya membelalak. Keduanya membeku di tempat, tak tahu harus berbuat apa. Entah kenapa Joo Heon melangkahkan kakinya mendekati Chang Kyun yang tak sadarkan diri di lantai. Perlahan diguncangkannya tubuh Chang Kyun, tapi tak ada respon dari pemuda itu. “Hei, I-Im Chang Kyun. Bu-buka matamu,” ucap Joo Heon dengan suara bergetar. Namun pemuda itu tetap tak bergeming. Sial! Kenapa harus dirinya yang melihat hal ini?! “Hei! Bodoh! Kenapa diam saja? Cepat bawa dia ke ruang kesehatan,” perintah Hyung Won yang sudah menetralisir keterkejutannya. Joo Heon mengangguk dan dengan patuh melakukan seperti yang diperintahkan sahabatnya. Mengapa di antara 1.000 sekian siswa yang bersekolah di SMA Monggi, harus dirinya yang melihat hal ini? ‘Sial!’ batin Joo Heon #BLIND# “Baiklah Chang Kyun. Bagaimana perasaanmu sekarang? Apakah kau menyukainya?” tanya Tuan Lee tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya. Ia fokus menyetir. “Aku sangat menyukainya. Terima kasih, Appa.” Chang Kyun kecil sibuk membolak-balik halaman buku yang baru dibelinya. Jangan salah sangka, itu bukan buku cerita anak-anak pada umumnya. Ya, itu buku yang berisi tentang berbagai macam rumus kimia yang mungkin jika kau membacanya saja rasanya ingin muntah. Anak itu memang sangat menyukai dunia sains. Tuan Lee tersenyum mendengar jawaban dari putranya tersebut, “kalau begitu nanti akan Appa belikan lagi jika kau sudah selesai membacanya,” ujarnya kemudian mengelus puncak kepala Chang Kyun. “Baik, Appa. Sekali lagi terima kasih,” sahut Chang Kyun kecil sembari memamerkan senyum manisnya. Hening menyelimuti beberapa saat. Sampai akhirnya Tuan Lee menoleh ke arah Chang Kyun dan berkata dengan nada serius. “Chang Kyun,” panggilnya pada Chang Kyun yang juga menatap padanya. “Ya?” “Appa punya satu permintaan padamu.” Chang Kyun mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari mulut Tuan Lee dengan seksama. “Apa itu?” “Appa mohon tetaplah menjadi bagian dari keluarga Lee, apa pun yang terjadi. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan keluargamu. Mungkin Joo Heon Hyung dan Hyun Woo Hyung belum bisa menerimamu, istri Appa pun juga begitu. Tapi percayalah bahwa mereka orang baik, mereka hanya butuh waktu saja untuk menerima keputusan Appa,” ucap Tuan Lee panjang lebar. Chang Kyun mendengarkan dengan mulut sedikit terbuka. Baiklah mungkin ucapan Tuan Lee tadi belum bisa dicerna sepenuhnya oleh anak seumurannya. Alhasil ia hanya mengangguk tanpa tahu harus menjawab apa. “Hmm ... ucapan Appa memang membingungkan. Tapi Appa tahu kau tidak bodoh. Jadi ingat saja apa yang Appa katakan tadi dan kau pahami ketika kau besar nanti. Kau mengerti?” “Ya, Appa,” sahut Chang Kyun kecil paham. Tuan Lee tersenyum kemudian mengacak surai legam milik Chang Kyun dengan lembut. Tiiinnnnnn!!! “Appa, awas!!” Tuan Lee tersentak begitu melihat sebuah truk melintas tak beraturan berjalan menuju mobil yang dikendarainya. Dicobanya untuk menghindar namun .... Braakkkk!! #BLIND#
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD