Chang Kyun memasuki kediaman keluarga Lee ketika semua orang telah terlelap. Namun, ada hal yang mengusik hati Chang Kyun kala itu. Lampu ruang di lantai bawah masih menyala, dan itu menandakan bahwa masih ada orang di sana. Tanpa memikirkan alasan apa yang akan ia berikan nanti ketika bertemu dengan salah satu anggota keluarganya yang masih terjaga, Chang Kyun memasuki ruang tamu tanpa kekhawatiran.
Chang Kyun memandang sekitar dan sempat berkeliling untuk menemukan seseorang yang masih terjaga di pagi buta seperti itu. Namun, tak ada siapa pun yang ia lihat hingga langkahnya terhenti ketika pandangannya baru melihat sesosok manusia yang meringkuk di atas sofa.
Chang Kyun kemudian menghampiri Joo Heon yang tampak kedinginan karena tak mengenakan selimut. Hanya dari hal sederhana itu Chang Kyun bisa tahu bahwa Joo Heon tertidur di sana ketika menunggu kepulangannya.
Chang Kyun kemudian duduk di atas meja dan menghadap ke arah Joo Heon. Sejenak memperhatikan wajah kakak lebahnya yang tidur dengan wajah yang tampak serius.
"Apakah Hyung masih menangkap penjahat di dalam mimpi." Sebuah kalimat terucap oleh mulut pemuda itu.
Binar mata itu, terlihat penuh ketulusan. Sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh Han Bin ketika pemuda itu bersamanya. Chang Kyun yang polos kesayangan Hyung serta Eomma-nya.
Seulas senyum tipis kemudian terukir di kedua sudut bibir Chang Kyun. Pemuda itu kembali berbicara dengan suara yang sengaja dipelankan seperti sebelumnya. "Hyung harus bekerja, tidak seharusnya Hyung menungguku seperti ini."
Chang Kyun beranjak dari duduknya dan meninggalkan Joo Heon. Menuju lantai atas, hanya dalam waktu beberapa detik saja Chang Kyun kembali dengan membawa selimut. Kembali ke sisi Joo Heon, Chang Kyun memakaikan selimut itu kepada kakak lebah kesayangannya.
Tak semudah itu Chang Kyun mengakhiri aktivitasnya meski hari telah berganti. Pemuda itu menemukan kekacauan yang dibuat oleh Opsir Lee ketika tengah menunggu kepulangannya. Chang Kyun merapikan meja dan lantai hingga perhatiannya teralihkan oleh buku catatan milik Joo Heon.
Mengambil buku catatan tersebut, Chang Kyun kemudian duduk di lantai. Bersandar pada sofa yang juga digunakan oleh Joo Heon. Chang Kyun tahu bahwa buku itu adalah buku terlarang milik Opsir Lee yang agung. Namun bukan Chang Kyun namanya jika tidak menyentuh hal terlarang milik Lee Joo Heon secara diam-diam.
Chang Kyun membuka halaman baru yang sebelumnya masih kosong dan kini terlihat beberapa tulisan di sana. Tak ada yang istimewa, hanya ada beberapa keluhan dan catatan aktivitas Opsir Lee pada hari itu.
"Kunyuk sialan Kim Han Bin, jika aku bukan polisi aku pasti sudah mematahkan lehernya."
Chang Kyun tersenyum ketika membaca kalimat tersebut. Beralih ke halaman selanjutnya, perhatian Chang Kyun tertuju pada beberapa kalimat.
Kenapa dia tidak menghubungi aku?
Kapan dia akan menghubungi aku?
Kenapa aku menunggu anak itu?
Aku sudah menebus dosaku dengan berbuat baik padanya, tapi kenapa dia mengabaikan aku?
Chang Kyun menoleh ke samping, memandang wajah Joo Heon. Melihat Joo Heon menunggunya seperti ini membuat Chang Kyun berpikir bahwa mungkin saja sikapnya sudah berlebihan. Dan Chang Kyun tidak sebodoh itu untuk tidak menyadari bahwa tulisan singkat yang barusan ia baca tertuju padanya.
Menaruh buku catatan Joo Heon ke atas meja, Chang Kyun beralih posisi menghadap Joo Heon. Membiarkan kedua lututnya sedikit terangkat dengan kedua tangan yang berada di atas lutut.
Chang Kyun berkata, "Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan merepotkanmu, Hyung. Kau sudah melalukan pekerjaanmu dengan baik, oleh sebab itu jangan cemaskan aku lagi. Sekarang ... aku bisa mengatasinya sendiri. Aku akan menyelesaikannya dengan caraku sendiri sehingga kita bisa hidup dengan perasaan yang lebih layak."
Diakhiri oleh seulas senyum, Chang Kyun berusaha meyakinkan bahwa dia tidak akan menyakiti keluarganya. Dan yang terpenting, dia tidak ingin kehilangan kepercayaan yang telah diberikan oleh Joo Heon padanya. Untuk itu Chang Kyun akan lebih berhati-hati lagi ketika ia berteman dengan Han Bin. Selama Joo Heon tidak tahu seberapa luas lingkup pergaulannya, bagi Chang Kyun tidak masalah jika ia pergi bersama Han Bin.
#BLIND#
"Opsir Lee ... kucingmu sudah menunggu, kapan kau akan bangung?"
Suara Hyun Woo terdengar mengiringi suara langkah kakinya yang menuruni anak tangga. Dengan pakaian yang telah rapi, Hyun Woo berjalan menuju dapur untuk menyapa dua orang yang sibuk di dapur.
"Selamat pagi ...."
"Selamat pagi. Ini masih pagi, kenapa sudah rapi sekali?" Yoona menyahuti Hyun Woo sekaligus memberikan pertanyaan.
Hyun Woo tersenyum. "Aku ada janji dengan seseorang." Hyun Woo mengalihkan pandangannya pada Chang Kyun yang tengah mencuci sayuran. "Im Chang Kyun."
Chang Kyun langsung menoleh.
"Selamat pagi."
Chang Kyun tiba-tiba tersenyum lebar, baru sadar jika dia belum membalas sapaan Hyun Woo. "Selamat pagi, Hyung."
"Lanjutkan saja. Jangan terburu-buru, aku tidak akan meninggalkan rumah sebelum sarapan."
"Kalau begitu bangunkan adikmu. Sudah jam berapa sekarang? Lagi pula kenapa dia tidur di situ." Yoona kemudian kembali sibuk menyiapkan sarapan dengan Chang Kyun.
Entah itu Chang Kyun berusia belasan atau puluhan tahun. Pemuda itu masih saja membantu Yoona melakukan pekerjaan rumah. Chang Kyun mereka yang menggemaskan sama sekali tak berubah, dan karena hal itu pula mereka tidak tahu jika Chang Kyun telah menipu mereka. Mereka pikir pergaulan Chang Kyun hanya sebatas bersama teman-teman semasa SMA.
Meninggalkan kedua orang yang sibuk di dapur, Hyun Woo menghampiri Joo Heon yang masih belum ingin menerima kenyataan bahwa matahari telah kembali ke langit.
"Opsir Lee ... kucingmu menangis ingin dijemput olehmu. Kau harus bangun sekarang."
Hyun Woo langsung berbaring di sofa dan memeluk Joo Heon dengan sedikit menindih pemuda itu.
"Opsir Lee, kau mendengarku? Kau harus bangun sekarang."
Dengan mata yang masih terpejam tangan Joo Heon sekilas menggosok telinganya. Dahinya sedikit mengernyit ketika ia berbicara.
"Tolong hubungi Chang Kyun, di mana anak itu sekarang?"
Hyun Woo tertawa tanpa suara. "Aku memiliki berita bagus untukmu. Chang Kyun kita ... dia sedang berkencan."
Kedua mata Joo Heon segera terbuka, merasa mendengar suara Hyun Woo di dalam mimpinya. Pandangan Joo Heon segera menemukan Hyun Woo yang berada di atasnya. Netra pemuda itu mengerjap, terlihat bingung setelah bangun tidur.
"Di mana Chang Kyun?" tanya Joo Heon kemudian.
"Tidak ada," balas Hyun Woo diiringi dengan cengiran.
"Apa?"
Joo Heon bangkit sembari mendorong Hyun Woo. Tampak terburu-buru, pemuda itu beranjak berdiri dan langsung meninggalkan ruang keluarga. Sementara Hyun Woo justru tertawa dengan suara yang pelan.
Memasuki dapur, langkah Joo Heon sempat terhenti ketika ia menemukan punggung Chang Kyun. Dan pagi itu penampakan Opsir Lee terlihat berbeda. Tak ada senyum cerah di wajahnya. Senyum cerah di wajahnya itu kini telah digantikan oleh tatapan menyelidik yang terlihat kesal. Joo Heon kemudian berjalan menuju meja makan dan mendapatkan teguran dari Yoona.
"Kau sudah bangun? Cepat mandi, jam berapa sekarang? Kau bisa terlambat nanti."
"Eomma, ambilkan aku air." Terdengar ketus, Joo Heon bersandar pada meja dengan tatapan mengintimidasi yang tertuju pada Chang Kyun.
Yoona dan Chang Kyun yang mendengar hal itu sempat menghentikan pergerakan mereka. Keduanya serempak memandang Joo Heon sebelum saling bertukar pandang. Tak mengerti apa yang terjadi pada Opsir Lee kesayangan mereka itu.
"Eomma ...." Joo Heon kembali menegur dengan nada bicara yang sama.
"Ah ... sebentar." Yoona bergegas mengambilkan air minum untuk Joo Heon.
Sementara Chang Kyun belum bisa melepaskan pandangannya dari Joo Heon meski tangan kirinya bergerak mengaduk makanan yang tengah ia masak dengan gerakan yang pelan. Pemuda itu sepenuhnya sadar bahwa kekesalan Joo Heon saat ini tertuju padanya. Dan hal itu tiba-tiba membuat Chang Kyun khawatir. Mungkinkah Joo Heon telah mengetahui kebohongannya?
"Ini." Yoona memberikan segelas air yang kemudian diambil oleh Joo Heon.
"Pagi-pagi begini, kenapa kau terlihat kesal?"
Joo Heon menaruh gelas itu di atas meja, namun terlalu kasar hingga seakan-akan ia ingin membanting gelas itu.
"Joo Heon ... ada apa?"
"Eomma lanjutkan saja, aku memiliki urusan dengan anak itu."
Pergerakan Chang Kyun kembali terhenti. Yoona terlihat bingung sementara Hyun Woo justru tidak peduli dan fokus pada layar televisi yang menyala.
"Naik!" ucap Joo Heon sebelum meninggalkan dapur dan berjalan menuju lantai atas.
Yoona kemudian menghampiri Chang Kyun. "Ada apa dengan kakakmu? Kau membuatnya marah?"
Chang Kyun menggeleng ragu, dia juga tidak memiliki petunjuk tentang tingkah Joo Heon yang galak padahal baru bangun.
"Ya sudah, biar ibu yang selesaikan. Kau pergilah temui kakakmu."
Chang Kyun mengangguk, namun langkahnya terasa berat untuk menuju ke tempat Joo Heon kini berada.
Sampai di lantai atas, langkah Chang Kyun terhenti di ambang pintu kamar Joo Heon yang terbuka. Menampakkan sang pemilik kamar yang tengah duduk di tepi ranjang. Tangan kiri Chang Kyun terangkat, mengetuk pintu dengan pelan.
Pandangan Joo Heon mengarah pada pintu, dan tatapan tajam itu benar-benar telah berhasil mengintimidasi Chang Kyun.
"Masuk," ujar Joo Heon.
Chang Kyun masuk, berjalan menghampiri Joo Heon.
"Duduk," ucap Joo Heon lagi.
Chang Kyun lantas duduk berhadapan dengan Joo Heon dengan pandangan yang mengarah ke bahwa. Keduanya sempat terdiam sebelum Chang Kyun yang memutuskan untuk memulai pembicaraan.
"Aku tidak melalukan hal yang buruk, Hyung." Terdengar ragu dan berani-beraninya bocah ini masih berbohong di hadapan Opsir Lee.
Opsir Lee kemudian memulai sesi interogasinya. Tak lagi menjadi petugas patroli, Lee Joo Heon menaikkan jabatannya sendiri sebagai petugas dari Divisi Kejahatan Serius hanya untuk mendapatkan jawaban jujur dari Im Chang Kyun.
"Angkat wajahmu, aku ingin berbicara denganmu."
Chang Kyun membuang napas pelan sebelum mengangkat wajahnya. Salah satu kebiasaan Lee Joo Heon adalah menyuruh lawan bicaranya menatapnya ketika ia berbicara.
"Jam berapa kau pulang?" tanyanya dengan nada penuh intimidasi.
"Hyung sudah tidur saat aku pulang." Chang Kyun menyahut.
"Bukan itu yang aku tanyakan. Jam berapa kau pulang?" tanya pria sipit itu lagi.
"Aku tidak yakin."
"Jam berapa kau pulang?"
"Aku tidak tahu."
Tanya jawab yang terdengar seperti sebuah perdebatan. Hal itu karena jika Chang Kyun berpikir terlebih dulu sebelum menjawab, maka Joo Heon akan menuduhnya telah berbohong. Meski memang jawabannya tak sepenuhnya merupakan kejujuran.
Joo Heon menghela napas, terlihat ingin meninggikan suaranya namun juga berusaha untuk menahan diri.
"Jangan mengujiku, Im Chang Kyun. Aku sudah lulus ujian masuk kepolisian dalam sekali percobaan ... ada jam dinding di ruang tamu, di dekat tangga, di dalam kamarmu ... kenapa kau tidak melihat satu pun jam dinding itu ketika kau memasuki rumah ini?"
"Aku tidak tertarik."
"Ya!" Kesabaran Joo Heon habis, sebuah bentakan mengirim Chang Kyun ke tempat yang sangat suram.
"Hyung ...."
Joo Heon kemudian berbicara dengan nada yang kesal dan terdengar terburu-buru. Sesuatu yang selalu terjadi jika Opsir Lee itu tengah marah.
"Haruskah aku memasang jam dinding yang lebih besar lagi agar ketika kau masuk rumah, kau langsung bisa melihatnya? Atau aku harus memasang jam dinding di setiap sudut bangunan agar kau mau melihatnya? Kenapa kau tidak tertarik dengan jam dinding? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Jawab pertanyaanku, Im Chang Kyun," ketusnya.
Chang Kyun berpaling, sedikit lega karena apa yang ia khawatirkan tidak terjadi. Tidak ada orang rumah yang tahu tentang kebohongannya.
"Kau sedang melihat ke arah mana? Aku ada di sini."
Chang Kyun kembali memandang Joo Heon dan saat itu Joo Heon tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke arah Chang Kyun.
Dengan tatapan menyelidik, Opsir Lee bertanya, "Kau ... sudah memiliki pacar?"
Tertegun, sebelah alis Chang Kyun terangkat. "Pacar?"
Joo Heon mengangguk. "Katakan dengan jujur, Siapa gadis yang sedang kau kencani?"
Chang Kyun menggeleng, menyangkal tuduhan Joo Heon. Bagaimana ia bisa memiliki pacar jika dia terlalu sibuk, entah itu saat siang hari atau pun malam hari.
"Katakan."
Chang Kyun kembali menggeleng. "Tidak ada, aku tidak sedang berkencan dengan siapapun."
"Kau bersungguh-sungguh?"
Chang Kyun mengangguk.
"Jika kau berbohong padaku, apa yang akan kau dapatkan?"
"Karma."
"Kau yakin tidak berbohong?"
Chang Kyun mengangguk, tak memikirkan karma yang baru saja ia sebutkan ketika tengah mengatakan sebuah kejujuran untuk menutupi kebohongannya yang lebih besar.
Joo Heon kembali menegakkan tubuhnya dan berbicara dengan suara yang lebih keras. "Lalu kenapa kau tidak memberi kabar seharian kemarin? Dengan siapa kau menghabiskan waktu kemarin sehingga kau tidak melihat namaku di daftar kontakmu?"
Chang Kyun pikir kekesalan Joo Heon sudah selesai, namun Opsir Lee yang lebih protektif dari ibu mereka itu sangatlah sulit untuk menghadapi kekesalannya. Bagaimana jika suatu hari nanti kebohongan Chang Kyun terbongkar?
Bisakah pemuda itu mengatasinya?
#BLIND#