Joo Heon kembali memulai harinya sebagai seorang polisi. Menyusuri halaman kantor tempat ia bekerja, pandangan Joo Heon menemukan sebuah mobil yang sangat familiar memasuki area parkir. Berbaur dengan mobil dinas para detektif dari Divisi Kejahatan Serius. Tak seperti mobil lainnya, mobil itu terlihat paling bagus dan tentunya paling mahal.
Langkah Joo Heon terhenti, menatap sinis kepada pemuda yang baru saja keluar dari mobil itu. Tinggi dan ramping layaknya seorang model. Pakaian yang terlihat mahal dan ketika ia menyisir rambutnya ke belakang, para wanita akan langsung datang padanya untuk meminta keadilan. Joo Heon sudah merasa kesal hanya dengan kembali melihat wajah itu setelah mendengar ucapan Kim Han Bin kemarin.
Shin Hyung Won, menemukan Joo Heon dan melambaikan tangannya dengan seulas senyum lebar yang melukis wajahnya.
Joo Heon tampak acuh dan kembali melanjutkan langkahnya, namun Hyung Won segera menyusulnya.
"Selamat pagi, Opsir Lee?" tegur Hyung Won ketika keduanya berjalan menaiki anak tangga.
"Pagi," sahut Joo Heon, terdengar ketus.
Hyung Won menaikkan sebelah alisnya. "Apa-apaan ini, apa kemarin aku sudah membuatmu marah?"
Joo Heon menghentikan langkahnya tepat saat menjangkau teras kantor polisi dan langsung berhadapan dengan Hyung Won.
"Di sana." Joo Heon menunjuk ke arah mobil Hyung Won.
Hyung Won sekilas memandang mobilnya. Tampak bertanya-tanya. "Ada apa? Kenapa dengan mobilku?"
"Berhenti membawanya kemari dan mulailah menggunakan angkutan umum. Jika kau tidak mau naik bus, pesan saja taksi. Kenapa kau selalu membawa mobil mewahmu itu datang kemari di saat kau sendiri hanyalah petugas rendahan?" tukas Joo Heon masih dengan wajah kecutnya.
Hyung Won tertegun. Masih terlalu pagi untuk mendengar ocehan Opsir Lee yang lebih mirip dengan seorang ibu mertua.
"Dan juga ini." Joo Heon sekilas menyentuh pakaian mahal Hyung Won. "Bersikaplah dengan normal. Kenapa kau selalu datang dengan membawa barang-barang mewahmu. Pakaianmu, sepatumu, jam tanganmu dan bahkan wajahmu. Kau tidak sadar bahwa apa yang kau pakai bahkan lebih mahal dari gajimu?"
"Tunggu sebentar." Hyung Won sekilas memiringkan kepalanya, mencari alasan yang tepat baginya untuk mendapatkan komentar seperti ini di pagi hari yang sangat cerah.
"Kenapa kau tiba-tiba mengkritik penampilanku. Sudah hampir dua tahun aku seperti ini, kenapa kau baru mempermasalahkannya?" lanjut Hyung Won.
"Kau tidak tahu?"
Hyung Won menggeleng, tak paham dengan maksud perkataan sahabatnya ini.
"Kau seorang petugas rendahan dengan gaji rendah, apa yang akan dikatakan oleh masyarakat ketika mereka tahu bahwa kau selalu memakai barang mewah? Mereka akan menuduhmu sebagai polisi korup. Kau tidak paham juga?" jelas pria sipit itu seraya menerawang seperti apa ekspresi masyarakat ketika melihat gaya berpakaian Hyung Won.
"Aku memakai semua barang yang aku beli dengan uangku sendiri, bagaimana mungkin mereka menuduhku sebagai polisi korup?" Hyung Won membela diri, tak merasa telah berdosa hanya karena memakai barang-barang mewah yang disebutkan oleh Joo Heon barusan.
Joo Heon menghela napas. "Bisa-bisanya wajahmu juga terlihat mahal," gumam Joo Heon yang kemudian meninggalkan Hyung Won.
"Dia salah minum obat?" gumam Hyung Won, masih belum bisa mengerti dengan sikap Joo Heon. Ia kemudian menyusul Joo Heon.
"Ya! Opsir Lee, kita harus meluruskan masalah ini. Kau menuduhku sebagai polisi korup? Opsir Lee ...."
Petugas Shin Hyung Won, begitulah orang-orang memanggil pemuda tampan ini. Tidak seperti Joo Heon yang bertugas langsung ke lapangan, pekerjaan Hyung Won mungkin bisa dibilang lebih mudah dibandingkan dengan Joo Heon.
Hyung Won bekerja di bagian pelayanan panggilan darurat, dan sehari-hari yang ia lakukan adalah menerima panggilan dari masyarakat dan memeriksa informasi-informasi penting lainnya.
Berbeda dengan kisah Soon Young dan Jin Woo. Joo Heon dan Hyung Won tampaknya memang sahabat sehidup semati. Setelah Joo Heon meninggalkan klub sepak bola dan mengikuti ujian masuk kepolisian, Hyung Won mengikuti jejak rekannya itu dengan alasan yang konyol.
Hyung Won tak lagi tertarik dengan sepak bola meski ia telah menjadi bintang lapangan karena wajah tampannya. Namun ketika Joo Heon pergi, pemuda tampan ini mulai membuat skandal. Pelatih sering mengatakan bahwa wajahnya lebih bersinar dibandingkan dengan permainannya. Namun Hyung Won lebih memilih alasan yang konyol ketika meninggalkan klub. Dia mengatakan kepada pelatih bahwa kakinya terlalu panjang untuk berlari di lapangan, kulitnya terlalu bagus untuk terkena sinar matahari di lapangan. Dan wajahnya, dia tidak bisa membiarkan wajahnya tergores oleh rumput lapangan. Dengan begitu, Shin Hyung Won meninggalkan klub dan bergabung dengan Kepolisian Distrik Seoul. Menjadi petugas dari layanan panggilan darurat yang cukup populer karena ketampanan dan keramahannya.
#BLIND#
Chang Kyun dalam perjalanan menuju kampus. Berjalan seorang diri, perhatian pemuda itu teralihkan oleh sebuah mobil yang menepi di sampingnya. Langkah Chang Kyun terhenti. Kaca jendela mobil itu terbuka dan menampakkan sosok di dalamnya.
"Kau ingin pergi ke suatu tempat, Profesor Im?" tegur Soon Young.
"Butuh tumpangan?" sahut Jin Woo yang duduk di bangku kemudi.
"Aku tidak tertarik," balas Chang Kyun yang seketika membuat senyum di wajah Soon Young lenyap.
"Apa ini? Kau sudah bosan hidup?" sinis Soon Young.
Chang Kyun tiba-tiba tersenyum lebar dan bergegas masuk ke kursi penumpang bagian belakang. Bagaimana ia bisa menolak tumpangan dari para sahabatnya itu. Jika pun dia menolak, dia akan mencari alasan yang lebih masuk akal meski pada akhirnya ia akan pergi bersama Kim Han Bin.
Jin Woo kembali mengemudi. Keduanya sesekali melihat Chang Kyun dari spion.
"Di mana mobilmu?" tanya Chang Kyun, ditujukan pada Soon Young.
"Ah ... aku membawanya ke bengkel dan belum selesai."
"Itulah sebabnya dia merepotkan aku," ceketuk Jin Woo.
Soon Young menatap tak terima. "Kau baru saja menyebutku sebagai beban keluarga?"
"Kau yang mengatakannya, bukan aku." Soon Young mengangkat kakinya untuk menendang Jin Woo.
Jin Woo berusaha menyingkirkan kaki Soon Young, kemudian berujar ketus, "Ya! Ya! Jangan macam-macam, aku sedang mengemudi."
"Bicara sembarangan sekali lagi, awas kau." Setelah memberikan sebuah ancaman, Soon Young kembali menaruh perhatiannya pada Chang Kyun.
"Kemarin kau pergi ke mana?" tanya Soon Young ketika mobil yang mereka tumpangi mulai melaju.
Chang Kyun menjawab tak acuh. "Aku ada di kampus."
"Benarkah? Tapi kenapa aku tidak melihatmu?" Soon Young memulai sesi interogasinya.
"Fakultas kita berbeda."
"Dia mencarimu di seluruh fakultas," sahut Jin Woo.
"Kenapa kau mencariku?" Kali ini Chang Kyun yang balas menginterogasi kawannya.
Soon Young mengerjap. Sahabatnya yang satu itu memang terkadang bertingkah polos seperti itu. Tapi kenapa pemuda sepolos itu bisa berteman dengan Kim Han Bin, itulah yang ingin Soon Young ketahui.
Soon Young kemudian berkata, "Haruskah aku memiliki hal yang penting untuk dikatakan, baru aku boleh mencarimu?"
"Lakukan sesuka hatimu—"
"Aku tidak tertarik." Soon Young menyela, mendahului Chang Kyun yang sudah dipastikan akan mengatakan kalimat itu. Karena semenjak memasuki usia legal, Chang Kyun kerap mengatakan kalimat itu.
Jin Woo yang sedari menyimak hanya bisa tersenyum lebar. Setelah menemukan ruang untuk berbicara, ia pun menengahi pertikaian kecil kedua sahabatnya. "Chang Kyun, kau sibuk sore nanti?"
Chang Kyun menggeleng. "Tidak."
Soon Young kembali menghadap ke depan dan bergumam, "Sekarang mengatakan tidak, tapi nanti sore tiba-tiba menghilang. Aku sudah hafal dengan tingkah lakumu."
"Kalian ingin bersama?" Chang Kyun mengabaikan ucapan Soon Young.
Jin Woo mengangguk sembari bergumam. "Jika dipikir-pikir sudah lama kita tidak pergi bersama. Bagaimana jika sore nanti kita pergi bersama?"
Chang Kyun mengangguk. "Itu bukan ide buruk. Ke mana kita akan pergi?"
"Restoran Dua Ayam Hoshi," sahut Soon Young.
Chang Kyun tiba-tiba tertawa ringan. Seperti inilah Im Chang Kyun ketika bersama para sahabatnya, benar-benar berbeda dengan saat ia bersama Kim Han Bin.
Chang Kyun berkata, "Dari semua tempat, kenapa kita selalu berkumpul di sana? Joo Heon Hyung bahkan sering membeli ayam di sana menggunakan voucher."
Jin Woo tersenyum. Sekilas memandang Soon Young dan menyahut, "Tanyakan saja pada cucu dari pemilik restoran Dua Ayam Hoshi."
"Ya! Ya! Ya! Apa yang sebenarnya sedang kalian bicarakan?" Soon Young yang merasa terpanggil lantas menengahi. Karena dialah cucu dari restoran Dua Ayam Hoshi yang menjadi langganan Opsir Lee.
"Meski itu milik kakekku, aku tetap membayar tanpa diskon ketika makan di sana."
"Aku tahu, aku tahu ... kami tahu bahwa Ahn Soon Young adalah cucu yang berbakti," sahut Chang Kyun dengan tawa renyah yang keluar dari mulutnya.
Setelahnya pembicaraan mereka menjadi lebih santai. Namun setelah sempat terdiam, Soon Young justru membicarakan hal yang membuat Chang Kyun merasa tidak nyaman. Awalnya Soon Young terlihat ragu dan sempat memperhatikan Chang Kyun yang tengah sibuk dengan ponsel dari spion.
Jin Woo yang menyadari gerak-gerik Soon Young yang mencurigakan pun sempat memandang penuh tanya, namun Soon Young hanya memberikan gelengan.
Soon Young kemudian mengambil ponselnya dan menuliskan sebuah pesan.
[Haruskah aku menanyakannya?]
Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Jin Woo. Membagi konsentrasinya dengan kemudi, Jin Woo meraih ponselnya dan merasa heran ketika melihat nama dari si pengirim pesan. Jin Woo sekilas memandang Soon Young yang fokus ke layar ponselnya sendiri ketika pemuda itu justru mengirimkan pesan padanya. Tak mengerti maksud Soon Young, Jin Woo pun mengetikkan balasan.
[Apa yang sedang kau bicarakan?]
[Kim Han Bin ... haruskah aku menanyakannya pada Chang Kyun?] balas Soon Young.
Dahi Jin Woo sempat mengernyit sebelum menaruh kembali ponselnya dan berucap, "Lakukan sesuka hatimu?"
Soon Young dan Chang Kyun serempak memandang Jin Woo. Soon Young yang terkejut dan Chang Kyun yang tampak bertanya-tanya.
"Kau bicara dengan siapa, Jin Woo?" tegur Chang Kyun.
"Apa?" Jin Woo sempat tertegun dan menemukan tatapan peringatan dari Soon Young. Baru menyadari bahwa dia baru saja berbicara dengan Soon Young.
"Dasar bodoh!" Soon Young mengutuk tanpa suara.
Jin Woo kemudian menyahuti Chang Kyun dengan gugup. "Ah ... tidak, begini ... temanku mengirimkan pesan yang sedikit menyebalkan. Aku tidak sedang berbicara dengan kalian."
Chang Kyun tak begitu peduli dan kembali fokus pada layar ponselnya. Sedari tadi pemuda itu tengah berkirim pesan dengan Han Bin, namun Joo Heon justru datang sebagai orang ke tiga.
[Tidak bisa, aku sibuk sore ini. Jangan menggangguku hari ini.]
Netra Chang Kyun segera membulat begitu ia salah mengirim pesan. Yang harusnya dia kirimkan kepada Han Bin justru sampai ke Joo Heon.
Tak butuh waktu lama. Belum sempat Chang Kyun memberikan klarifikasi, sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Dan siapa lagi jika bukan Opsir Lee.
Menghela napas singkat, Chang Kyun lantas menerima panggilan yang membuat kedua rekannya memperhatikannya melalui spion.
"Hyung ... yang tadi itu—"
"Apa maksudnya ini?" suara Joo Heon menyela. "Kau sibuk dan tidak ingin diganggu? "
"Tidak ... bukan seperti itu. Aku hanya salah mengirimkan pesan. Aku tidak mengirimkan pesan itu untukmu, aku akan menghubungi Hyung saat jam makan siang. Selamat bertugas, aku harus segera pergi ke kelas."
"Im Chang Kyun, kau—"
Chang Kyun buru-buru memutuskan sambungan telepon sebelum Joo Heon menyelesaikan kalimatnya. Pemuda itu menghela napas lega.
"Kau berbohong pada Joo Heon Hyung?" tegur Soon Young.
"Jika aku tidak berbohong, urusannya akan menjadi panjang," balas Chang Kyun dengan mata tertuju ke luar jendela.
Jin Woo menimpali, "Memangnya pesan apa yang kau kirimkan pada Joo Heon Sunbae?"
"Bukan apa-apa?" Chang Kyun tersenyun di akhir kalimat, membuat kecurigaan Soon Young semakin bertambah. Jika dilanjutkan, mungkin dia akan mengikuti jalan Lee Joo Heon.
"Jawaban macam apa itu," gerutu Soon Young yang kembali duduk dengan posisi yang benar. Begitupun dengan Chang Kyun yang kembali sibuk dengan ponselnya.
Merasa tak tahan lagi, Soon Young kembali menghadap Chang Kyun dan menegur dengan cara yang tidak ramah.
"Ya! Im Chang Kyun."
Chang Kyun segera mengangkat wajahnya, memandang Soon Young dengan tatapan penuh tanya.
"Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu."
"Tentang apa?"
"Itu ..." Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Soon Young justru terlihat sulit untuk berkata-kata dan membuat Chang Kyun menunggu.
"Kau ingin bicara apa?" tegur Chang Kyun kemudian.
"Kau serius berteman dengan Kim Han Bin?"
Pertanyaan yang sulit untuk dikatakan oleh Soon Young justru dengan mudah dikatakan oleh Jin Woo. Dan seketika terlihat perbedaan dalam garis wajah Chang Kyun ketika kembali memandang Soon Young.
Soon Young menjadi gugup. "B-benar, itu yang ingin aku tanyakan? Apa kau benar-benar serius berteman dengan Kim Han Bin? Orang itu sangat berbahaya, kau sudah lupa apa yang pernah dia dan kakaknya lakukan padamu?"
"Kau mengadukannya pada Joo Heon Hyung?" Bukannya menjawab, Chang Kyun malah membalas ucapan Soon Young dengan pertanyaan.
"Tidak," jawab Soon Young tanpa berpikir. "Maksudku belum."
"Kau akan mengadukannya?" desak Chang Kyun.
"Tentu saja! Kim Han Bin adalah orang yang sangat berbahaya. Dia dan kakaknya sama saja, bagaimana kau bisa berteman dengan mereka?" Soon Young tiba-tiba mendapatkan kembali kepercayaan dirinya yang sempat menghilang.
Chang Kyun menggaruk wajahnya. Sungguh reaksi yang membuat Soon Young hampir kehilangan kepercayaan dirinya lagi. "Kapan kau akan mengadukannya pada Joo Heon Hyung?"
Terdengar tenang, namun Soon Young merasa bahwa pertanyaan itu membuatnya berada dalam bahaya. "K-kenapa kau bertanya?"
"Kapan kau akan mengadukannya pada Joo Heon Hyung?" ulang Chang Kyun.
Soon Young menjawab dengan gagap. "H-hari ini, aku akan bertemu dengannya hari ini dan mengatakan semuanya."
"Dia akan membunuhmu."
"Apa?" Soon Young tertegun.
"Dia akan membunuhmu," ulang Chang Kyun.
"K-kenapa? Apa salahku?"
"Aku mengatakan pada Joo Heon Hyung bahwa kau berhasil masuk ke tim nasional. Kau tahu apa yang terjadi setelahnya?"
"Apa?" Fokus Soon Young pada akhirnya terbagi.
"Joo Heon Hyung sangat marah dan bersumpah akan membunuhmu begitu kalian bertemu."
Soon Young menatap ngeri. "Kau sedang berbohong, kan?"
"Tidak, aku bersungguh-sungguh."
"Aku tidak peduli, ini tidak ada hubungannya dengan sepak bola." Soon Young mengembalikan kepercayaan dirinya. "Aku akan menemui Joo Heon Hyung dan mengatakan bahwa kau berteman dengan Kim Han Bin."
"Hentikan ... jangan lakukan itu."
"Kalau begitu jauhi dia mulai sekarang."
"Aku menolak."
"Kenapa?"
"Aku tertarik padanya," balas pemuda manis itu enteng.
"Ya! Kau! Aku akan benar-benar mengadukanmu pada—" Soon Young tiba-tiba bungkam.
Setelah bersikap tenang, Chang Kyun tiba-tiba menyergap Soon Young dari belakang. Menggunakan lengannya untuk mencekik leher pemuda itu.
"Ya! Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku?" Soon Young berontak.
"Kau masih akan mengadu pada Joo Heon Hyung?" Tampak tenang, namun hal itu tak bisa menutupi bahwa dia tengah mengancam rekannya itu.
"Ahn Soon Young, kau masih akan mengadu pada Joo Heon Hyung?" ulang Chang Kyun.
Meski tercekik, Soon Young tak menyerah. "Tentu saja! Jangan harap kau bisa selamat."
Soon Young berteriak ketika Chang Kyun benar-benar mencekiknya. Sementara Jin Woo hanya bisa tersenyum sembari menggelengkan kepala.
"Jangan membuat keributan di mobilku, aku sedang mengemudi?" lerainya yang sama sekali tidak digubris.
"Ya! Im Chang Kyun!" teriak Soon Young yang berakhir dengan lepasnya tangan Chang Kyun dari leher.
Chang Kyun tersenyum puas. "Kau tidak akan mengadu, Deal!"
#BLIND#