“Aku akan merasa sangat bahagia jika orang-orang yang aku sayangi bahagia. Ya, hanya itu.” – Im Chang Kyun.
#BLIND#
Pemuda itu membuka matanya, mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar terbuka. Hari masih pagi saat Chang Kyun terbangun dari tidurnya. Sangat nyenyak semalam, mengingat betapa beratnya menjadi seorang pelajar di negeri gingseng itu. Melelahkan memang, tapi mau bagaimana lagi? Bukankah kesuksesan tidak akan bisa diraih begitu saja tanpa melalui betapa sakitnya perjuangan?
Dengan langkah sedikit terseret, Chang Kyun berjalan menuju kamar mandi. Hanya sekedar memenuhi panggilan alam dan mencuci muka kemudian turun menuju dapur untuk membuat sarapan.
Sesampainya di dapur, Chang Kyun mendengar bunyi alat dapur yang saling bersinggungan, siapa lagi jika bukan Nyonya Lee. Orang pertama yang bangun sebelum Chang Kyun. Maksudku jika ia sedang tidak ada urusan dengan bisnisnya di luar kota. Dan kali ini ia sedang tidak dalam kesibukannya.
“Selamat pagi, Eomma,” sapa Chang Kyun dengan senyum khasnya.
Hening sesaat sebelum akhirnya sebaris kalimat terlontar dari Nyonya Lee.
“Eoh, pagi. Bisakah kau bantu menata piring ini di meja makan?” tanya Nyonya Lee tanpa menoleh.
Datar, selalu saja begitu. Tidak ada balasan hangat yang terlontar dari mulut Nyonya Lee untuknya meskipun ia selalu menyapa di pagi hari saat kedua Hyung-nya masih terlelap. Ia sudah biasa dengan hal itu. Tapi tetap saja, seorang anak pasti menginginkan kasih sayang orang tua, kan?
Tunggu, memang siapa dia di keluarga ini?
“Kenapa? Kenapa kau diam?” Nyonya Lee mengernyitkan dahi melihat Chang Kyun yang diam tak merespon.
“Ah! Baik, Eomma. Akan aku lakukan,” sahut Chang Kyun sedikit tergagap.
Perlahan Chang Kyun melangkahkan kakinya menuju meja yang di maksud dengan tangan membawa setumpuk piring yang akan digunakan untuk sarapan nantinya. Tenang saja, ia sudah hafal seluk beluk rumah itu. Senyum manis masih setia terukir di bibirnya. Suasan pagi yang cerah tak boleh rusak hanya karena hal yang tak penting kan? Lagi pula bisa berada di antara orang orang yang disayanginya saja ia sudah bahagia, tak perlu berharap lebih.
“Awww ….”
Prannggg!
“Astaga, ada apa?!” pekik Nyonya Lee sambil tergopoh ke arah sumber suara.
Sementara Chang Kyun meringis sambil mengusap ujung kakinya yang terasa berdenyut.
“Argh! Bagaimana ini? Aku menghancurkannya ….” tangan Chang Kyun meraba ke lantai dan mendapati piring yang tadi dibawanya kini sudah menjadi serpihan.
Dengan hati-hati, ia mengumpulkan serpihan piring tersebut. Siapa tahu masih ada piring yang selamat. Namun nyatanya tidak, malah jarinya menjadi korban ketajaman dari serpihan tersebut.
“Shhh ….” desisnya pemuda itu ketika perih menjalar ke telapak tangan.
“Astaga! Im Chang Kyun! Apa yang kau lakukan?!” suara Nyonya Lee menggema ke seluruh ruangan mengingat hanya ada mereka berdua di sana.
“M-maafkan aku, Eomma. A-aku tidak sengaja, kakiku tersandung,” cicit Chang Kyun sembari menggigit bibir bawahnya menahan rasa perih juga takut secara bersamaan.
“Kau sungguh … apa yang kau lakukan?!” bentak Nyonya Lee yang membuat Chang Kyun semakin menundukan kepalanya.
“M-maaf ....” lirih Chang Kyun kembali, kali ini dengan air mata yang sudah siap tumpah kapan saja.
Melihat Chang Kyun seperti itu, entah mengapa timbul perasaan aneh dalam diri Nyonya Lee. Ayolah, ia bukan sosok ibu yang jahat seperti dalam film-film. Buktinya dia masih mau merawat Chang Kyun sampai sekarang dan ia juga tak pernah melukai fisiknya.
Chang Kyun hanya tidak bisa mengontrol emosinya sendiri setiap melihat Chang Kyun, mengingat suaminya lebih memilih anak itu dari pada dirinya. Bahkan ia juga rela mati untuk melindungi bocah yang bahkan sama sekali tidak ada hubungan darah dengannya.
Tapi akhir-akhir ini, wanita paruh baya itu mulai berfikir bahwa semua ini salah dan Chang Kyun tidak sepantasnya disalahkan.
Perlahan disentuhnya bahu mungil Chang Kyun kemudian mengusapnya pelan. Chang Kyun yang tak tahu apa maksud dari Nyonya Lee hanya mendongakan kepalanya bingung.
“Apa kau sadar, kau baru saja melukai dirimu sendiri karena kecerobohanmu?”
Perlahan Nyonya Lee memegang lengan Chang Kyun dan membantunya berdiri dan mendudukannya di salah satu kursi. Beranjak mengambil kotak perlengkapan obat yang memang sengaja disediakan untuk berjaga-jaga. Yah, Joo Heon sering mendapat luka ringan jika selesai berlatih.
Jika biasanya ia mengobati Joo Heon, maka hari ini adalah kali pertamanya mengobati Chang Kyun.
“Eomma ...” panggil Chang Kyun takut-takut.
“Hmm.”
Nyonya Lee masih sibuk membalut luka di telapak tangan Chang Kyun.
“Maaf.”
Nyonya Lee mengusap puncak rambut Chang Kyun.
“Seharusnya Eomma yang meminta maaf padamu, karena sudah menyalahkanmu atas semuanya,” tutur wanita itu dengan lembut.
Chang Kyun terdiam. Bukankah ini aneh? Nyonya Lee, Ibunya, tiba-tiba meminta maaf? Mengatakan bahwa ia menyesal? Bukan! Bukan! Ia bukannya tidak suka jika orang yang kini menyandang status sebagai ibunya selama hampir sepuluh tahun ini bersikap baik padanya. Hanya saja, ini terlalu tiba-tiba. Ahh… dia jadi bingung.
Apakah ini mimpi? Jika iya, sepertinya Chang Kyun harus bangun nanti saja. Bila perlu tidak usah bangun, itu lebih baik.
“Kau tidak sedang bermimpi,” ucap Nyonya Lee yang berhasil membuat Chang Kyun membuka mulutnya. Tebakan yang tepat!
“Eoh? Benarkah?” tanya Chang Kyun dengan mata yang mengerjap lucu.
“Jadi, bisakah kita mulai semuanya dari awal?”
Lagi-lagi Chang Kyun terdiam. Tak tahu harus menjawab apa, maka ia hanya mengangguk sebagai jawabannya.
Nyonya Lee tersenyum mendapat anggukan dari Chang Kyun. Dengan lembut dielusnya puncak kepala Chang Kyun. Yah, sudah seharusnya ia mengakhiri kebodohannya.
“Eomma ….”
“Ada apa?”
“Boleh aku memelukmu?”
Tepat setelah Chang Kyun berucap, Nyonya Lee sudah menarik tubuh pemuda itu ke dalam pelukannya. Mengecup puncak kepala Chang Kyun dan mengusap punggung tersebut dengan penuh kasih.
Setelah sekian lama menanti, apakah akhirnya ia mendapatkannya? Apakah seberkas sinar harapan mulai menyinari dunianya? Menuntunnya keluar dari dunianya yang gelap ini? Apakah itu benar? Ya, semoga saja. Walau sinar itu hanya sebesar lubang jarum pun, ia tetap akan bersyukur.
#BLIND#
Dua pemuda tengah berdiri tak jauh di lorong dekat loker. Nampaknya mereka sedang memperhatikan pemuda lainnya yang sedang berdiri di depan loker miliknya, sedang memasukan beberapa buku materi yang baru saja di pelajarinya.
Waktunya pulang. Kali ini Chang Kyun akan pulang sedikit lebih awal karena tidak ada jam tambahan hari ini.
Dan hari ini cukup menenangkan bagi Chang Kyun. Sangat tenang malah, karena hari ini Doyoung tidak masuk sekolah karena neneknya di Jeju meninggal. Alhasil, tidak ada yang mengusiknya saat sedang mendengarkan penjelasan dari para Sonsaengnim hari ini.
Jika dipikir-pikir sedikit aneh rasanya jika sendiri seperti ini, mengingat Doyoung yang selalu menempel padanya kemana pun ia pergi semenjak kejadian di toilet dulu. Tentu saja selama itu masih di area sekolah. Doyoung akan berkicau khawatir setiap kali Chang Kyun hilang dari pandangan matanya.
Ah, dia jadi merindukan sahabat satu-satunya itu, padahal baru satu hari tidak bertemu.
“Permisi,” sapa seseorang yang membuat Chang Kyun menoleh ke arah sumber suara.
“Ya?”
“Apa kau yang bernama Im Chang Kyun?” tanya seseorang lainnya.
"Benar, aku Im Chang Kyun. Ada apa?”
Chang Kyun agak bingung, pasalnya ia sama sekali tidak kenal dengan dua orang di hadapannya ini namun mereka mengenalinya.
Seringai licik muncul dari bibir kedua pemuda tersebut. Keduanya saling melempar tatapan tanpa suara.
“Maaf, jika boleh aku tahu ada urusan apa? Apa aku mengenal kalian?”
“Tidak, tidak ada apa-apa. Kami hanya ingin berkenalan denganmu,” salah satu dari mereka angkat bicara.
“Berkenalan?”
“Ya, aku dengar kau siswa jenius dari kelas satu. Bahkan kepala sekolah memberimu tawaran untuk lompat kelas,” terang pemuda lainnya yang berkulit agak gelap.
Wow, bahkan mereka juga tahu jika dia mendapatkan tawaran untuk lompat kelas. Padahal tidak banya orang yang tahu tentang hal itu. Bahkan di antara teman sekelasnya, hanya Doyoung saja yang tahu karena Chang Kyun memang hanya bercerita padanya. Selebihnya hanya sang kepala sekolah dan para guru.
“Dari mana kau tahu? Aku bahkan tidak menceritakannya pada siswa lain.” Chang Kyun semakin bingung.
“Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Bagaimana jika kita mulai sesi berkenalannya?” ujar pemuda berkulit tan tersebut kemudian menepuk bahu Chang Kyun pelan.
Chang Kyun mengangguk paham. Meski kini timbul sedikit rasa was-was di hatinya, tapi rasa itu coba ia tepis jauh-jauh. Ia tak mau menaruh rasa curiga pada orang lain tanpa adanya alasan.
“Kalian sudah tahu namaku, jadi sekarang giliran kalian yang memperkenalkan diri, bukan?”
Lagi-lagi keduanya saling tatap kemudian mengangguk.
“Jika kau ingin tahu siapa kami, mari kita bersenang-senang dulu.”
Si pemuda berkulit tan tersebut mencengkram lengan Chang Kyun dengan kuat dan menariknya dengan paksa. Chang Kyun sendiri terkejut ketika tiba-tiba pemuda itu menarik lengannya dengan kasar.
“Ugh … apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!”
Chang Kyun mencoba berontak, namun sepertinya gagal karena tenaga pemuda tersebut sangat kuat ditambah lagi kawannya yang juga tiba-tiba ikut bergabung dalam acara tarik-menarik itu.
“Hei! Apa yang kalian inginkan? Lepaskan aku!”
Nasib sial sepertinya memang senang menempel pada Chang Kyun. Bagaimana bisa di saat seperti ini, sama sekali tidak ada siswa maupun guru yang melintas di tempat tersebut. Kemana juga petugas keamanan sekolah yang biasanya berkeliling?
#BLIND#
Puk!
Puk!
Dua tepukan mendarat di bahu Joo Heon yang tengah melangkah melewati gerbang sekolah, membuatnya refleks menghentikan langkahnya dan menoleh.
“Ada apa?” tanya Joo Heon ketika tahu siapa pelakunya.
Soon Young menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
“Tidak … aku hanya ingin mengajakmu keluar sebentar, Hyung. Sekedar berkumpul. Kita, kan sudah jarang berkumpul sejak masuk SMA,” terang Soon Young dengan wajah sumringah. Ia memang sangat mengidolakan sosok Joo Heon.
Joo Heon tampak berpikir sesaat, ia memang berencana untuk pergi ke game center sebelum pulang ke rumah karena ini juga hari Sabtu jadi tak masalah pulang agak larut. Namun ia sudah berencana pergi dengan Hyung Won, pemuda itu masih di dalam kelas saat ini dan sebentar lagi akan menyusulnya.
“Maaf, aku sudah ada acara dengan temanku,” sahut Joo Heon malas.
Mendengar jawaban tersebut, Soon Young mengerucutkan bibirnya.
“Aku, kan juga temanmu, Hyung.”
“Memang,” sahut Joo Heon acuh.
Soon Young mendengus kesal. “Lalu kenapa aku tidak boleh ikut?!”
“Pokoknya tidak boleh, jika kau ingin keluar maka keluarlah sendiri. Ini, kan juga sudah di luar,” balas Joo Heon datar.
Sebenarnya bukan tanpa alasan ia menolak bermain dengan Soon Young, dia hanya tidak ingin mendapat pertanyaan-pertanyaan tentang Chang Kyun dari mulut Hoobae-nya itu.
“Lee Joo Heon!” panggil pemuda jangkung itu sambil melangkah mendekati teman sebangkunya sekaligus sahabat itu.
Joo Heon menatap ke balik tubuh Soon Young dan melambaikan tangannya.
“Eoh, Hyung Won! Ayo,” ucap Joo Heon kemudian merangkul bahu sahabatnya.
Hyung Won menatap ke arah Soon Young yang sedang menampakan wajah kesalnya. Memperhatikan sekilas kemudian menoleh pada Joo Heon.
“Siapa?” tanya Hyung Won pada Jooheon.
Sementara yang ditanya hanya mengendikkan bahunya acuh.
“Hanya penggemar,” balasnya yang langsung mendapat pelototan dari namja bermata sipit tersebut.
“Yak! Hyung!” Soon Young tampak tak terima.
Joo Heon langsung melenggang begitu saja diikuti oleh Hyung Won, meninggalkan Soon Young yang masih mengumpat tak jelas di belakangnya.
“Hhh … padahal aku ingin menyampaikan sesuatu,” gumam Soon Young ketika dua Sunbae-nya itu sudah hilang dari pandangan matanya.
#BLIND#
Bugh!
Bugh!
Bugh!
“Arghhh … he-hentikanhhh ...” pekik Chang Kyun ketika tiga tendangan secara berturut-turut mendarat di perutnya. Entah itu sudah yang keberapa kali, ia lupa.
Dua pemuda yang tidak dikenalnya tadi membawanya, lebih tepatnya menyeret Chang Kyun ke sebuah gudang di belakang gedung sekolah. Dan tanpa berkata apa pun mendaratkan pukulan ke ulu hati pemuda itu kemudian di susul dengan pukulan ke beberapa bagian tubuh lainnya.
“A-apa mau kalian … ke-kenapa kalian me-mukuliku?” tanya Chang Kyun terbata menahan rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh.
Kedua pemuda tersebut terseyum miring.
“Bukankah kami sudah bilang, jika kami ingin bersenang-senang sebelum berkenalan?” Si pemuda berkulit agak gelap menyahut.
Chang Kyun bisa merasakan jika dagunya ditarik paksa hingga mendongak, hal itu membuat ia sedikit meringis karena cengkraman yang sangat keras.
“Eiy … memang benar katanya, melihat wajahmu saja sudah membuatku muak.”
“Si-siapa yang mengatakannya?” Chang Kyun mencoba melepaskan cengkraman di dagunya yang entah sejak kapan berubah menjadi mencekik lehernya. Sekarang ia kesulitan benafas.
Pemuda tersebut menarik tubuh Chang Kyun hingga berdiri dan mempererat cengkraman di leher namja yang lebih kecil darinya itu.
“Akkhhh … lephhashh … aku mohon … akkhh ….” Chang Kyun memukul tangan yang mencengkram lehernya. Namun nyatanya sia-sia, bahkan cengkraman itu semakin kuat.
“Memohonlah terus, aku suka mendengarnya.”
“Le-leppashh … akkhh … aku mohon … hhhh ….”
Sungguh, Chang Kyun benar-benar tak bisa bernafas sekarang dan namja itu belum berniat untuk melepaskan tangannya.
Tenaga Chang Kyun sudah terkuras seiring dengan nafasnya yang terhambat. Tangannya yang semula bergerak liar memukul lengan namja itu pun sudah melemah. Peluh sudah sedari tadi membasahi tubuhnya.
Melihat hal tersebut, pemuda yang sedari tadi hanya diam dan menonton permainan kawannya itu kini angkat bicara.
“Yak! Kim Tae Hyung! Cukup, kau akan membunuhnya jika seperti itu terus!” sentak pemuda itu diikuti dengan menarik tangan kawannya hingga terlepas dari leher Chang Kyun.
Chang Kyun langsung jatuh dengan posisi duduk dan dengan nafas setengah-setengah. Lihatlah, cengkraman itu meninggalkan bekas merah melingkar yang sangat kentara di leher namja itu.
“Haha … maaf. Sekarang giliranmu, adikku,” ujar pemuda bernama lengkap Kim Tae Hyung tersebut pada pemuda yang sedang memasang wajah kecutnya.
Pemuda itu menggeleng. “Tidak,” jawabnya kemudian.
Tae Hyung menatap heran kawannya.
“Kenapa? Apa kau merasa kasihan?” tanya Tae Hyung sambil menunjuk Chang Kyun yang masih terduduk dengan tangan menyentuh bagian perutnya. Itu adalah bagian tubuh yang dirasanya paling sakit.
Pemuda itu tersenyum miring. “Heol! Apa katamu kasihan? Ya! Aku ini Kim Han Bin, mana mungkin aku merasa kasihan pada bocah lemah sepertinya?”
Tae Hyung terkekeh mendengar jawaban dari adiknya.
“Aku tahu, aku tahu. Aku yang salah.”
Tatapan Tae Hyung beralih pada Chang Kyun, kemudian tersenyum.
“Jadi, bagaimana? Kau sudah mengenal kami ‘kan?”
Chang Kyun mengangguk. Ia sangat tahu siapa dua pemuda yang baru saja menghajarnya itu. Mereka Kim bersaudara, putra dari donatur terbesar di sekolahnya. Dan yang membuat Chang Kyun bergidik ngeri adalah keduanya sangat suka melukai orang yang dianggapnya lemah, sama dengan Soon Young tapi ini lebih parah. Awalnya ia tidak terlalu percaya dengan apa yang dibicarkan teman-temannya, tapi dengan apa yang dialaminya saat ini, ia percaya.
“Ta-tapi apa salahku?”
“Ingin tahu?” Han Bin angkat bicara.
Chang Kyun mengangguk lemah. Di saat yang sama, tangan Han Bin menarik rambut Chang Kyun dengan kasar hingga membuat siempunya memekik tertahan.
“Hidup.”
“H-hidup? A-apa maksudmu?”
Han Bin berdecih.
“Kau hidup, itu adalah sebuah kesalahan.”
Han Bin menghempaskan kepala Chang Kyun begitu saja hingga membentur lantai, setelah itu melangkah pergi diikuti Tae Hyung.
Perih. Itu yang dirasakan oleh Chang Kyun. Tapi bukan di tubuh yang penuh lebam itu lagi yang perih, melainkan hatinya.
Hidup dia bilang? Kesalahannya adalah karena dia hidup? Apakah setidakpantas itu ia hidup hingga orang tak dikenal pun menyalahkannya? Apa ia tak berhak hidup? Siapa pun jawab pertanyaan itu!
#BLIND#