Tap
Tap
Tap
Bunyi langkahnya menggema saat kaki pemuda yang tidak terlalu tinggi itu menapak di koridor sekolah. Wajahnya berseri, sangat kentara jika ia sedang bahagia sekarang. Di tangannya tergenggam selembar kertas yang akan ia berikan pada seseorang.
“Boom!”
“Astaga Ya Tuhan! Lee Min Hyuk, kau mau aku mati sebelum masuk universitas, huh?!”
Kihyun benar-benar terkejut karena sahabatnya yang tiba-tiba muncul di hadapannya, padahal tempat itu masih sepi karena hari memang masih pagi.
“Hahaha … maaf, maaf,” ucap Min Hyuk di sela tawanya sambil menepuk bahu Kihyun.
Sementara itu, Kihyun lebih memilih untuk melanjutkan langkahnya yang tertunda daripada harus membuang tenaganya untuk memarahi teman hipernya itu. Hidupnya lebih penting dari pada Lee hiper Min Hyuk.
“Mau ke mana kau sepagi ini?” tanya Min Hyuk yang ternyata mengekor di belakang Kihyun.
Tanpa menoleh, Kihyun menyahut, “Ruang musik.”
Min Hyuk mengangguk. “Lalu apa yang kau pegang itu?” tunjuknya pada selembar kertas yang sedari tadi digenggam Kihyun.
Kihyun diam sesaat kemudian mengalihkan pandangannya pada kertas di tangannya. Tak lama setelah itu ia tersenyum. Hal itu membuat Min Hyuk mengernyitkan dahinya dan matanya melirik ke arah kertas.
“Wow! Kau akan memberikannya pada siapa?” tanya Min Hyuk setelah mengetahui apa yang tertulis di kertas.
“Chang Kyun,” sahut Kihyun singkat kemudian membuka ruangan tempat di mana ia biasa memainkan alat musik kesukaannya.
Mendegar ucapan kawannya itu, Min Hyuk langsung mengerucut.
“Lalu aku?”
“Kau?” Kihyun tak mengerti maksud ucapan Min Hyuk.
Min Hyuk menghempaskan tubuhnya ke sofa di pojok ruang tersebut yang memang sengaja diletakan untuk beristirahat para anggota klub. Bisa dilihat bibirnya yang semakin mengerucut.
“Kenapa kau hanya memberi tiket pertunjukanmu pada Chang Kyun, sedangkan aku tidak?” ujar Min Hyuk yang tampak kesal.
Oh ... itu ternyata. Kihyun terkekeh pelan melihat tingkah sahabatnya. Ia melangkah mendekati Min Hyuk dan mendudukan diri di sampingnya.
“Memangnya kenapa? Aku pikir kau tidak menyukai permainan pianoku?” goda Kihyun yang membuat Min Hyuk semakin gusar.
Min Hyuk membuang muka. “Kau menyebalkan!”
Tanpa berucap, Kihyun mengeluarkan sesuatu dari saku almamaternya dan menyodorkan kertas serupa pada Min Hyuk.
Sekilas Min Hyuk melirik tiket yang disodorkan padanya namun itu tak berlangsung lama karena ia kembali membuang muka.
Kihyun mengernyitkan dahinya. Cih! Apa dia sedang merajuk?
“Kenapa? Kau tidak mau? Ya, sudah,” ucap Kihyun, kemudian menarik kembali tangannya.
Namun belum sampai tiket itu masuk kembali ke kantong, tiket itu sudah berpindah tangan karena Min Hyuk langsung merebutnya.
Kihyun menarik sudut bibirnya, kemudian berdiri.
“Pastikan kau datang dan melihat bagaimana Tuan Yoo Kihyun ini bermain dan menyihir para penonton,” ucap Kihyun angkuh. Dia sedang dalam mode percaya diri tingkat tinggi, jika kau ingin tahu.
Baiklah biar aku jelaskan. Yoo Kihyun, ia adalah seorang pianis muda dengan segudang prestasi yang sudah ia torehkan di usianya yang belum genap sembilan belas tahun. Tentu saja ia menjadi salah satu kebanggaan bagi Monggi Senior High School.
Dia anak yang ramah dan mudah bergaul, jadi jangan heran jika ia dikenal oleh hampir seluruh siswa di sekolah itu.
Tapi dari sekian banyak siswa, hanya dua orang yang mampu mendapat tempat spesial di hati seorang Yoo Kihyun. Siapa lagi kalau bukan Lee Min Hyuk, pemuda hiperaktif yang memang merupakan teman Kihyun sejak kecil. Dan yang kedua, kalian pasti tahu tanpa harus aku perjelas.
“Eoh. Changkyun! Kau di sini?” sapa Kihyun pada pemuda yang baru saja memasuki ruang tersebut.
“Ah. Kihyun Hyung. Hyung sudah ada di sini?” sahut Chang Kyun sedikit terlonjak, ia tak tahu jika sudah ada Kihyun sepagi ini.
“Ekhem …”
Tentu saja bunyi berdeham tersebut juga ditangkap oleh telinga Chang Kyun.
“Min Hyuk Hyung juga di sini?”
Kihyun memutar bola matanya malas.
“Lupakan saja dia. Eoh ... omong-omong, Chang Kyun. Ada perlu apa kau sepagi ini datang ke sini?”
Chang Kyun mengulum senyum khasnya.
“tidak ada apa-apa, aku hanya ingin mengunjungi tempat ini saja. Aku suka tempat ini, masih sepi dan tenang saat pagi.”
Kihyun mengangguk paham.
“Yah, kau benar. Sangat sepi dan damai. Tapi sebelum kau datang.” Min Hyuk yang sedari tadi diam sekarang angkat bicara.
Kihyun membelalakkan matanya. Tentu saja terkejut dengan ucapan kawannya itu. Sementara Chang Kyun hanya terdiam sambil mencoba mencerna kalimat yang baru saja memasuki gendang telinganya.
“Min Hyuk, apa maksudmu berkata seperti itu?” tanya Kihyun bingung.
Min Hyuk bangkit dari duduknya, kemudian beranjak menuju pintu keluar.
“Tidak, lupakan. Aku hanya merasa gerah saja. Apa pendingin ruangannya rusak?” ucap Min Hyuk tepat sebelum berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
‘Ada apa dengan anak itu?’ batin Kihyun.
Kihyun tak mau ambil pusing dengan sahabatnya yang memang sering bersikap aneh. Atensinya beralih pada pemuda yang masih mematung di hadapannya dengan ekspresi bingung.
“Kau tidak apa-apa. Dia memang seperti itu, tidak usah dipirkirkan,” ucap Kihyun mencoba positif.
Diraihnya tangan Chang Kyun, kemudian meletakkan tiket yang sedari tadi digenggamnya ke telapak tangan Chang Kyun.
“Apa ini, Hyung?”
Chang Kyun meraba permukaan tiket tersebut, hanya memastikan bentuk dari kertas tersebut. Hanya kertas, pikirnya.
“Itu tiket untuk melihat penampilan pianoku, masih bulan depan. Dan aku harap kau mau datang.”
Mendengar penjelasan Kihyun, kedua netra elang Chang Kyun langsung berbinar.
“Sungguh? Hyung, kau mengundangku?” tanya Chang Kyun antusias.
“Ya, tentu saja.”
“Terima kasih banyak, Sunbaenim!” ucap Chang Kyun kemudian membungkuk sembilan puluh derajat di hadapan Kihyun, dan jangan lupakan senyumnya yang setia terukir di bibir tipisnya.
Kihyun hanya terkekeh melihat tingkah Chang Kyun. Ia selalu senang setiap melihat anak itu tersenyum.
“Cih! Kau bahkan tidak sebahagia itu jika aku bersamamu,” ucap pemuda yang berdiri di depan ruang musik. Tak lama setelah itu, ia beranjak meninggalkan tempat tersebut dengan hati dongkol.
Aku beri tahu sekarang saja, pemuda itu adalah Lee Min Hyuk.
#BLIND#
Chang Kyun baru saja hendak memasuki kelasnya saat seseorang mendorong tubuhnya dengan kasar, tapi tak sampai terjatuh tentu saja.
“Yak! Buta, menyingkirlah. Mengapa berdiri di depan pintu? Kau pikir pintu ini bisa melebar begitu saja jika dua orang lewat sekaligus, eoh?!” bentak Soon Young, kemudian melenggang memasuki kelas begitu saja.
Di menit berikutnya, tongkat yang digenggam terlepas dari tangan Chang Kyun.
“Ah.. tongkatku,” gumam Chang Kyun sedikit terkejut.
“Ups ... maaf. Kakiku sepertinya tersandung oleh tongkat sialmu itu,” ejek pemuda yang tak lain adalah Jin Woo. Sama seperti Soon Young, ia langsung menerobos masuk kelas setelah melancarkan aksinya.
Chang Kyun baru saja kembali dari ruang musik, suasana hatinya yang sedang baik harus rusak dengan aksi dua iblis di pagi hari.
Jika kalian berpikir bahwa Soon Young akan merubah sikapnya setelah kejadian itu, maka kalian salah besar, kawan. Ahn Soon Young masih tetap Ahn Soon Young. Ia tetap benci orang lemah dan akan selalu benci orang lemah. Kejadian tiga minggu lalu hanya dianggap angin lalu olehnya. Memang, satu minggu setelah kejadian itu, ia berhenti menganggu Chang Kyun. Namun hanya satu minggu karena di minggu berikutnya ia sudah sukses membuat Chang Kyun jatuh sebanyak tiga kali dalam sehari. Waw, sudah seperti minum obat kan?
“Ini.”
Seseorang menyerahkan benda yang sedari tadi dicari oleh empunya.
“Terima kasih, Doyoung.” Chang Kyun mengulum senyum ketika tahu sahabatnyalah yang membantunya.
Bukannya menyahut, Doyoung justru menarik lengan Chang Kyun dan menuntunnya duduk di bangku mereka.
Mata kelinci Doyoung sempat bertemu dengan mata sipit Soon Young. Keduanya saling memberikan tatapan sengit.
“Kenapa?”
Doyoung tak menjawab, namun kakinya dengan sengaja menendang kaki meja tempat Soon Young menumpukan kedua tangannya yang sedang asik bermain ponsel.
“Yak! Sialan! Apa yang kau lakukan, Bodoh!”
Ponsel yang ada di genggaman Soon Young terlempar dan mendarat mulus menghantam lantai.
“Ups ... maaf. Kakiku sepertinya sedang ingin melakukan pemanasan,” jawab Doyoung diikuti tampang tidak bersalahnya, kemudian mendudukan dirinya di sebelah Chang Kyun.
“Kau!”
“Ada apa Ahn Soon Young?”
Sebuah suara menginterupsi saat Soon Young sudah mengangkat tangannya hendak memukul Doyoung. Kim Seonsaengnim sudah memasuki kelas.
Soon Young tersenyum canggung. Tangan yang semula hendak memukul kini beralih menggaruk tengkuknya sendiri.
“Tidak, Ssaem. Bukan apa-apa. Hanya gatal saja.”
“Baiklah kalau begitu, silakan duduk dan kita mulai pembelajaran pagi ini." Guru Kim berjalan mendekati papan tulis kemudian mulai menuliskan materi.
“Doyoung. Apa yang barusan kau lakukan?” tanya Chang Kyun setengah berbisik. Ia tidak tahu apa yang baru saja sahabatnya itu lakukan. Ia hanya mendengar bunyi benda jatuh kemudian u*****n dari mulut Soon Young.
“Bukan apa-apa, tadi kakiku sedikit kaku.”
Chang Kyun mengernyitkan dahinya. Dia aneh, pikirnya.
#BLIND#