Seperti yang diucapkannya barusan, kini Joo Heon tengah menikmati seporsi jajjangmyeon bersama Chang Kyun di sampingnya.
Hening. Tidak ada percakapan apa pun di antara mereka sejak keluar dari rumah. Joo Heon memang tak mau membuka percakapan lebih dulu dan Chang Kyun sepertinya paham dengan maksud sang kakak, jadi ia memilih diam dan mengikuti apa yang sudah dikatakan Joo Heon barusan.
Drrrtt Drrrtttt ...
Ponsel Joo Heon bergetar tepat setelah pemuda itu menghabiskan makanannya.
“Halo, siapa ini?”
Joo Heon terdiam guna mendengarkan respon dari seberang terlepon.
“Apa?! Dibatalkan? Kenapa?”
Entah sadar atau tidak Joo Heon sedikit berteriak dan membuat beberapa pelanggan menoleh ke arahnya. Sementara Chang Kyun hanya memasang wajah bingungnya mendengar ucapan kakaknya dengan sosok di sebrang telpon.
Orang di seberang kembali berbicara dan membuat garis wajah Joo Heon mengeras.
“Aishhh … benar-benar keterlaluan. Kenapa dibatalkan latihannya? Padahal pertandingan tinggal menghitung hari,” terdengar nada bicara Joo Heon berubah kesal.
“….”
“Aku tahu, aku mengerti. Kali ini aku maklum, tapi tidak lain hari.”
“….”
“Sudah, tutup teleponnya.”
Joo Heon memutuskan sambungan telponnya sambil mendengus kesal.
“Ada apa, Hyung?” Chang Kyun memberanikan diri untuk bertanya. Pemuda itu baru saja menyelesaikan makannya.
Joo Heon menatap Chang Kyun dengan tatapan tidak senangnya.
“Bukan urusanmu,” sahut Joo Heon dingin.
Sepertinya Lee Joo Heon sudah kembali.
“Tunggu di sini, aku akan membayarnya,” ujar Joo Heon kemudian berdiri meninggalkan Chang Kyun yang hanya mengangguk patuh.
Chang Kyun menunduk sambil meremas ujung jaket yang dikenakannya. Senyum manis yang tadi menghiasi bibir tipisnya kini memudar. Yah, Joo Heon kembali bersikap dingin padanya. Padahal ia berharap jika sikap ramah itu bisa berlaku sedikit lebih lama. Huhh ... sulit memang untuk mendapat perhatian dari Hyung yang satu ini.
“Ayo,” suara Joo Heon membuat Chang Kyun mengangkat kepalanya dan menyunggingkan senyum.
Huuhh … setidaknya Joo Heon sudah mau bicara dengannya. Bukan kah itu suatu perkembangan yang patut disyukuri? Semua butuh waktu. Kau hanya perlu bertahan sedikit lebih lama Chang Kyun!
#BLIND#
Chang Kyun berjalan mengekor di belakang Joo Heon. Pemuda itu masih segan untuk mensejajarkan diri dengan Hyung-nya. Ia hanya mengikuti Joo Heon dari aroma parfum yang menempel di tubuh Joo Heon.
Sadar saat langkah mereka tidak menuju rumahnya, Chang Kyun bertanya.
“H-hyung,” panggil Chang Kyun.
“Hm.”
Joo Heon masih melanjutkan langkahnya.
“Kita mau ke mana? Ini bukan arah menuju rumah kita kan?”
“Jalan,” jawab Joo Heon dengan sikap yang acuh.
Chang Kyun mengernyitkan dahinya.
“Jalan? Maksud Hyung?”
Joo Heon mendengus kesal kemudian memutar badannya menghadap Chang Kyun hingga membuat pemuda di belakangnya itu mau tak mau menubruk d**a bidangnya.
“Diamlah dan ikut saja atau kau pulang!” ucap Joo Heon ketus, moodnya sedang buruk sekarang. Matanya kini menatap tajam ke arah Chang Kyun yang sedang menunduk.
“Ma-maaf,” lirih Chang Kyun yang masih menunduk dalam.
Yang terjadi selanjutnya adalah mereka yang berjalan-jalan menyusuri area yang tak lain adalah taman daerah sekitar Namsan Tower. Suasana memang cukup ramai mengingat ini adalah hari libur dan panas matahari yang tak terlalu menyengat membuat beberapa orang bersemangat untuk berolahraga atau sekedar menghirup udara segar.
Chang Kyun berusaha untuk tetap dekat dengan Joo Heon. Walaupun sebenarnya kakinya sudah lelah karena sedari tadi Joo Heon hanya berjalan tanpa ada niat untuk berhenti walau sekedar mengistirahatkan diri. Fisik Joo Heon memang tak bisa di anggap remeh.
Brukkk ....
“Argh.”
Dan benar saja, Chang Kyun terjatuh karena tersandung kakinya sendiri. Ia sudah kelelahan mengikuti langkah besar milik Joo Beon.
Joo Heon segera menoleh ke belakang saat mendengar suara berdebum di belakangnya. Dan pemandangan yang tak disangka terpampang di belakangnya.
“Astaga! Kau tidak apa-apa, Nak?”
Seorang wanita paruh baya yang kebetulan lewat di samping Chang Kyun segera membantunya berdiri. Chang Kyun meringis ketika menepuk celana pendek yang dikenakannya, sepertinya lututnya terluka.
Joo Heon menghampiri mereka kemudian tersenyum pada wanita tersebut.
“Terima kasih, Bibi. Anak ini adalah adikku,” ucap Joo Heon sambil membungkukan badan.
Wanita itu balas tersenyum.
“Jika kau kakaknya, seharusnya berada di sampingnya. Bukan membuat dia harus mengejarmu seperti tadi, dia membutuhkanmu,” ujar wanita tersebut kemudian berlalu.
Joo Heon menatap kepergian wanita tersebut dengan tatapan penuh arti.
Jujur, ucapannya tadi cukup membuat hatinya tergelitik. Benarkah Chang Kyun membutuhkannya?
Kini tatapannya teralih pada pemuda yang sibuk mengusap lutunya yang terluka dan sesekali meringis saat tanpa sengaja tangannya menyentuh bagian luka yang terbuka.
Chang Kyun tersentak saat sebuah tangan mencengkram lengannya.
“Ada apa, Hyung?” Chang Kyun mendongakkan kepala.
“Ikut aku.”
Tanpa menunggu persetujuan dari Chang Kyun, Joo Heon segera menarik tubuh yang lebih kecil darinya itu dan membuat siempunya sedikit terseret.
“Diam dan tunggu di sini, sebentar.”
Joo Heon mendudukkan Chang Kyun di salah satu bangku taman kemudian beranjak.
Chang Kyun menggenggam hoodie Joo Heon tepat sebelum pemuda itu melangkahkan kakinya.
“Ke mana?”
“Sudah aku bilang diam dan tunggu di sini!” sahut Joo Heon dengan nada meninggi.
Chang Kyun mengatupkan bibirnya rapat. Baiklah, sebaiknya turuti saja perintah itu dan semua akan baik-baik saja.
“Baik,” lirih Chang Kyun tepat setelah Joo Heon berlalu.
Selepas kepergian Joo Heon, yang dilakukan Chang Kyun hanya duduk diam menanti kembalinya sang kakak.
Hari ini cuaca benar-benar cerah. Udaranya juga segar, membuat Chang Kyun segera ikut terbawa suasana dan melupakan rasa khawatirnya sejenak.
Jika diperhatikan, yang berkunjung ke tempat tersebut tidak hanya segerombolan remaja saja. Tidak sedikit juga para orang tua yang datang dengan membawa serta keluarganya untuk sekedar berjalan-jalan melepas penat dan menghilangkan stress akibat kesibukannya seminggu belakang.
Mendengar tawa bahagia orang di sekitarnya membuat Chang Kyun menarik kedua sudut bibirnya. Hanya memperhatikan saja sudah membuatnya tersenyum, apa lagi merasakannya?
Ah ... sepertinya tak usah terlalu berharap.
“Aww …” ringis Chang Kyun saat lututnya yang luka di sentuh secara tiba-tiba.
Pemuda itu sontak berdiri, namun seseorang menarik lengannya kuat hingga ia kembali terduduk seperti semula.
“Kembalilah duduk, Bodoh! Bagaimana aku mengobatinya jika kau berdiri!”
“Hyung?”
Tangan kanan Chang Kyun menggapai ke arah depan dan menyentuh bahu pemuda di depannya. Sungguh Chang Kyun tak percaya jika kini Joo Heon tengah mengobati luka yang sebenarnya ia sendiri sudah tak merasakannya. Ah ... hari yang cerah memang.
Sementara itu tangan Joo Heon sibuk membersihkan luka di lutut Chang Kyun. Bukan luka berat memang, tapi jika dibiarkan dalam keadaan kotor seperti ini bukankah bisa memicu infeksi nantinya? Dan Joo Heon tak mau ambil resiko diomeli Hyun Woo karena sudah membuat adiknya terluka nantinya.
Cih! Asal kalian tahu saja. Hyun Woo itu sebenarnya jika ditanya untuk memilih dirinya atau Chang Kyun, ia akan menjawab Chang Kyun. Dasar kakak menyebalkan. Dia bahkan lebih memilih anak pungut yang tak jelas asal usulnya ini dari pada adiknya sendiri yang jelas-jelas memiliki hubungan darah dengannya.
“Hyung …”
“Joo Heon hyung!”
Jooheon terkesiap saat sebuah tepukan kecil mendarat di pipinya.
“Eoh … ada apa?”
“Kenapa berhenti?” tanya Chang Kyun diikuti ekspresi bingungnya.
“Ah! tidak, tidak ada apa-apa. ” Joo Heon menggeleng kemudian melanjutkan kegiatannya.
“Sudah, sudah selesai.”
“Terima kasih, Hyung,” ujar Chang Kyun dengan senyun yang lagi-lagi terkembang di bibirnya.
#BLIND#
“Hyung, terima kasih.”
Joo Heon mengorek telinganya dengan jari kelingking dengan gusar seakan ada sesuatu yang mengganjal di dalam sana.
Oh, sekarang mereka sedang berada di dalam bus dan sedang dalam perjalanan pulang. Mereka duduk berdampingan di bangku paling belakang bus.
Mentari sudah hampir kembali ke tempat persembunyiannya. Dan waktu menunjukkan pukul 05.53 KST. Itu berarti mereka sudah menghabiskan waktu di luar rumah hampir seharian.
“Yak! Berhentilah mengatakan itu, Bodoh! Kau pikir aku tuli hingga kau terus mengulang kalimat itu?!”
Joo Heon berucap dengan suara tertahan, takut mengusik kenyamanan penumpang lainnya. Ia melirik Chang Kyun dengan tatapan kesalnya. Bahkan bocah itu tetap tersenyum saat ia berujar ketus.
“Terima kasih banyak.”
Lihat?
Ini sudah ke tujuh belas kalinya bocah itu mengucapkan kalimat yang sama selama hampir tiga puluh menit mereka di dalam bus.
“Aku bilang diam! Kenapa kau suka sekali membuatku kesal.”
Joo Heon bangkit dari duduknya, halte selanjutnya adalah tujuannya. Hanya berjalan kaki sebentar maka sampailah mereka di rumah.
Sebuah tangan menarik hoodie yang Joo Heon tepat setelah ia, maksudku mereka turun dari bus.
“Ada apa? Apa lagi? Berhentilah bicara. Kau membuat telingaku seperti penuh dengan kotoran!”
Chang Kyun menundukkan kepalanya.
“Terima kasih. Hari ini aku mengalami salah satu dari sekian banyak hal indah yang pernah aku alami selama hidupku. Terima kasih sudah membersihkan lukaku dan terima kasih untuk es krim tadi. Aku harap kau bisa selalu seperti ini setiap hari, Hyung. Sekali lagi terima kasih.”
#BLIND#