BLIND-SEVENTEEN

1284 Words
“Yak! Im Chang Kyun, apa yang sedang kau lakukan?!" #BLIND# Chang Kyun berdiri di bawah shower yang menyala. Seragam yang tadi dikenakannya masih melekat ditubuhnya dan dalam posisi basah. Pemuda itu bahkan sama sekali tak bergerak. Hanya diam di bawah guyuran air shower yang terus mengalir. Joo Heon sontak menarik tubuh Chang Kyun mendekatinya kemudian mematikan shower. “Ya! Apa yang kau lakukan bodoh?! Aku menyuruhmu membersihkan diri, bukan melamun!” bentak Joo Heon yang bahkan tak direspon oleh pemuda itu. Joo Heon menepuk pipi gembul Chang Kyun beberapa kali, berusaha menyadarkan bocah itu dari lamunannya. “Yak! Sadarlah! Apa yang kau pikirkan hah?!” Chang Kyun tak menyahut, namun cairan bening kembali membasahi pipi mulusnya. Dan itu sukses Joo Heon mendesah frustasi. “Hei ... apa yang terjadi? Katakanlah, jangan hanya diam dan menangis seperti ini,” bujuk Joo Heon dengan suara yang berubah halus. Seingatnya, ini adalah kali pertama ia berucap sehalus ini pada Chang Kyun. Bocah itu mengusap air matanya dengan kasar. “Hyung … Paman itu ... dia … hiks ….” 'Oh ... apa dia masih terkejut?' pikir Joo Heon. “A-apa? Paman? Apa maksudmu? Katakanlah dengan jelas.” Kedua tangan Joo Heon kini memegang bahu Chang Kyun yang bergetar. Pemuda itu membuka dua kancing teratas seragam sekolahnya dan hal itu membuat Jooheon membelalakan mata sipitnya. “Di sini sakit, Hyung. Paman itu … dia menggigitnya,” ujar Chang Kyun dengan suara bergetar sambil menunjukkan bekas, eww ... kiss mark yang tercetak jelas di lehernya. Ada dua yang terlihat jelas di situ. Sial! Apa yang telah dilakukan para berandal itu pada bocah polos ini? Lagi-lagi Joo Heon hanya bisa bermonolog dalam pikirannya. “Hiks ... aku dapat merasakan ada sesuatu yang membekas di sini. Aku harus bagaimana?” lanjut Chang Kyun frustasi sembari terus menggosok lehernya dengan kasar, agar bekas itu hilang mungkin. Tentu saja itu tidak akan hilang dalam sekejab. Perbuatan Chang Kyun justru membuat kulit lehernya memerah. Joo Heon yang menyaksikan hal itu tentu tak tinggal diam. Ia segera menahan gerakan pemuda tersebut dan mencoba menenangkannya. “Hei! Hei! Hei! Apa yang kau lakukan? Hentikan, kau bisa melukai dirimu sendiri.” “Tapi Hyung. Ini menjijikan! Aku malu ... hiks .…” sahut Chang Kyun masih bersikeras menghilangkan kiss mark di lehernya. “Ya! Hentikan! Kenapa kau tidak mendengarkan aku?!” Joo Heon segera menarik tubuh mungil Chang Kyun ke dalam pelukannya, bermaksud menghentikan aksi melukai diri sendiri itu. Hal itu memang berhasil, mengingat tubuh Joo Heon yang lebih besar darinya. Chang Kyun berakhir terisak di dalam pelukan Joo Heon. Hah ... sebenarnya Joo Heon kesal karena bajunya jadi ikutan basah. “Hiks ... bagaimana ini ... aku harus bagaimana?” gumam Chang Kyun di sela isak tangisnya. Ragu-ragu Joo Heon menggerakan tangannya untuk mengusap puncak surai legam milik Chang Kyun. “Tidak apa-apa, tidak apa-apa … itu akan hilang dalam beberapa hari. Semua akan baik-baik saja,” ucap Joo Heon menenangkan pemuda itu. Pada akhirnya mereka terdiam dengan posisi tersebut hingga lima belas menit ke depan. Ini kali pertama bagi Joo Heon melihat Chang Kyun dengan keadaan sekacau ini. Tentu saja ia sering membuat bocah itu menangis. Tapi baru kali ini ia merasa sesak melihat tangis namja yang dibencinya. Hah ... apa dia mendadak peduli padanya? Atau ia kesal karena penyebab tangis Chang Kyun bukan dirinya? “Baiklah. Sekarang bersihkan dirimu dengan benar dan cepat ganti bajumu dengan baju hangat,” titah Joo Heon ketika Chang Kyun sudah mulai tenang. Chang Kyun mengangguk, mengiyakan perintah Joo Heon. Sementara pemuda itu sudah berlalu meninggalkan kamar mandi. “Terima kasih, Hyung,” lirih Chang Kyun yang kini diikuti dengan senyum yang kembali menghiasi bibir tipisnya. Bahagia? Tentu saja. #BLIND# Joo Heon menggeliat kala sinar sang surya menerobos masuk ke kamar dengan cat berwarna biru langit miliknya. Ahh … sudah siang rupanya. Dan ini hari minggu, hah melanjutkan tidur mungkin ide bagus. Lagi pula ia sedang tidak ada acara hari ini, latihan futsal masih nanti sore dan Eomma serta kakaknya belum diketahui kapan pulang. Entahlah, Joo Heon sedang malas beraktivitas dihari libur kali ini. Belum genap sepuluh menit matanya terpejam, ia kembali terusik dengan suara yang berasal dari perutnya sendiri. Lapar, huh! Ia tak bisa tidur lagi jika cacing-cacing di perutnya sedang mengadakan demo besar-besaran seperti ini. Dengan malas ia beranjak dari kasur empuknya dengan destinasi utama yaitu dapur. Sesampainya di dapur pun ia harus mengalami cobaan yang menyebalkan lagi. Bagaimana tidak? Tidak ada bahan makanan satupun yang bisa ia temui di dapur besar itu, bahkan sebungkus ramyeon pun tak ia jumpai. Uh ... menyebalkan! Dia benar-benar lapar sekarang dan Nyonya Lee pasti lupa membeli persediaan makanan. Baiklah daripada hanya diam dan uring-uringan tak jelas, bukankah lebih baik jika pergi keluar dan membeli makanan sendiri? Eomma ‘kan tak pernah lupa memberinya uang. Dengan semangat yang dipaksakan, Joo Heon kembali menaiki tangga menuju kamarnya dan bersiap untuk keluar. Lima menit kemudian, Joo Heon sudah keluar dari kamarnya dengan penampilan yang lebih baik dari sebelumnya. Sekarang ia sudah menggunakan hoodie merah dengan T-shirt putih di dalamnya serta celana jeans hitam dengan beberapa sobekan di bagian lututnya. Ia siap berangkat. Kakinya melangkah menuruni tangga, namun terhenti ketika sudah menginjak anak tangga ketiga. Seketika pikirannya mengarah pada Chang Kyun. Dilirikya pintu yang masih tertutup rapat padahal hari sudah siang. Dan Chang Kyun bukan tipe bocah yang suka bermalas-malasan di hari libur sepertinya. Ahh … lagi-lagi perasaan khawatir menghinggapi diri Joo Heon. Semalam Chang Kyun mengguyur dirinya sendiri di bawah aliran shower selama hampir satu jam. Apa dia baik-baik saja? Jangan-jangan dia sakit?! Secepat kilat Joo Heon berbalik menghampiri pintu yang masih tertutup rapat kemudian dengan terburu dibukanya pintu yang memang tidak pernah dikunci oleh pemiliknya tersebut. Hal itu membuat Chang Kyun tersentak. Pasalnya ia sedang berdiam menikmati semilir angin dari balik jendela. Bocah itu membalik badannya 180 derajat dan mencoba mencari tahu siapa yang menerobos masuk ke kamarnya. “Huuhh ...” Joo Heon menghembuskan nafas lega ketika melihat sosok dalam pikirannya terlihat baik-baik saja dan kini tengah membuka mulutnya dan terlihat bingung. Matanya mengerjap beberapa kali. Oh ... menggemaskan. Hei! Apa yang kau pikirkan Lee Joo Heon?! Sadarlah! “Oh ... Joo Heon Hyung? A-ada apa?” Setelah mendegar helaan nafas tadi, Chang Kyun langsung tahu siapa yang memasuki kamarnya. Tapi ia tetap terkejut mengingat Joo Heon yang tak pernah menjamah kamarnya. Joo Heon menggaruk tengkuknya, salah satu tanda jika ia sedang salah tingkah. “Eum … tidak, bukan apa-apa.” Masih dengan ekspresi herannya. “Lalu mengapa kau seperti tidak tenang? Dan ... dan ada perlu apa Hyung ke sini?” Chang Kyun merasa agak cangung dengan percakapan antara mereka. “Aku akan pergi keluar untuk membeli makan karena Eomma lupa membeli bahan makanan, apa kau kau mau ikut? Karena aku tak bisa masak jadi aku hanya akan beli makanan di kedai.” Astaga apa yang kau katakan Tuan Muda Lee? “Y-ya?” apa Chang Kyun tak salah dengar? Wajah Joo Heon sudah memerah hingga menjalar ke telinganya. Hahaha ... beruntunglah kau Lee, Chang Kyun tak dapat melihatnya. “Ayo makan di kedai saja. Aku tidak bisa memasak dan aku sedang bosan di rumah.” Joo Heon kemudian menjadi kesal sendiri karena sikapnya yang tiba-tiba tidak bisa tegas di hadapan Chang Kyum. “Aish … sudahlah, kau tinggal jawab mau atau tidak?!” Chang Kyun merekahkan senyumnya. “Ya, aku mau,” sahut Chang Kyun sambil mengangguk antusias. Joo Heon sebenarnya merasa lega karena kondisi Chang Kyun sudah tak kacau lagi seperti semalam. Meskipun rasanya aneh tiba-tiba ia jadi peduli pada Dongsaeng-nya itu. Tapi sepertinya Joo Heon sedang tak mau ambil pusing dengan masalah. Karena yang ada di pikirannya sekarang adalah makan, makan dan makan. #BLIND#
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD