“Ahn Soon Young?”
Chang Kyun mengusap air matanya dengan punggung tangan, berusaha menghentikan tangisnya sendiri yang nyatanya gagal karena kejadian tadi masih berputar di kepalanya. Ia kembali menangkupkan kedua lengan dan memeluk lututnya erat.
“Benar. Ini aku, Ahn Soon Young,” sahut pemuda itu selembut mungkin. Oh ... aku berani bersumpah bahwa ini kali pertama seorang Ahn Soon Young berucap halus pada korban bully-nya.
Chang Kyun hanya membisu tanpa berniat menjawab ucapan lembut dari pemuda yang notabene-nya adalah teman kelasnya sendiri sekaligus orang yang tadi siang baru saja mempermalukannya di hadapan para penghuni kantin.
“Hiks ...” Chang Kyun kembali menangis dan enggan menampakkan wajahnya yang tersembunyi di antara kedua lengannya.
“Hei, tenanglah. Mereka sudah tidak ada di sini. Polisi sudah menangkap mereka.”
Jujur, Soon Young bingung dengan apa yang akan dilakukannya sekarang. Sebelumnya ia belum pernah berhadapan dengan bocah yang sedang menangis. Hahaha … yah walau pun ia sendiri bocah, tapi ia tak pernah menangis.
Baiklah, sekarang ia harus apa?
Soon Young mengacak rambutnya frustasi.
“Haishh ... ayolah, jangan menangis terus. Di mana rumahmu? Ayo, aku akan mengantarmu pulang.”
Chang Kyun masih enggan mengangkat kepalanya. Bukan karena apa, ia hanya merasa sangat ketakutan dengan kejadian barusan. Mengerikan. Hanya itu yang ada di pikiran Chang Kyun saat ini.
“Yaaa … aku mohon jangan menangis. Aku berjanji akan mengantarmu sampai rumah dengan selamat,” ujar Soon Young, masih mencoba membujuk dan kali ini dengan nada memohon.
Sungguh pemuda itu tak tahu harus berbuat apa.
Chang Kyun segera mengangkat wajahnya begitu mendengar nada memohon dari seorang Ahn Soon Young. Ia bahkan hampir lupa jika pemuda itu masih di sana.
Chang Kyun hanya diam dengan posisi mendongakkan kepala tanpa tahu di mana posisi Soon Young saat ini.
“Hei, bicaralah, jangan diam saja. Apa kau mendegarku?” Soon Young menepuk bahu Chang Kyun pelan dan berhasil membuat pemuda itu mendongak ke arahnya.
Chang Kyun menganggukkan kepala.
“Ya,” sahut Chang Kyun lemah dan kemudian berdiri.
Soon Young menghela nafas lega. Setidaknya bocah ini sudah berhenti menangis, pikirnya. Ia segera menyerahkan tongkat milik Chang Kyun yang disambut ucapan terima kasih dari pemiliknya.
“Ayo, tunjukkan arahnya. Kita jalan kaki, aku akan menjagamu.”
Chang Kyun tak memberi respon banyak selain mengangguk dan melangkah mendahului Soon Young.
Sementara Chang Kyun berjalan dengan gontai di depan, Soon Young yang mengekor di belakangnya asik bergelut dengan pikirannya sendiri.
[Soonyoung POV]
Kalian pasti terkejut, kan?
Kenapa aku bisa ada di sini?
Kenapa aku bisa berada di gang itu?
Kenapa aku yang menyelamatkan bocah buta ini?
Dan kenapa aku bisa sebaik itu mau menolong orang yang paling aku benci di sekolah?
Hei … ayolah, jangan berlebihan kawan. Kau pikir aku tidak?
Aku sama terkejutnya dengan kalian. Ingin tahu jawabannya?
Begini ceritanya ....
Aku baru saja pulang dari mini market setelah menghabiskan dua cup ramen dan dua kaleng soda.
Hari ini cukup melelahkan. Otakku sudah penuh dijejali dengan tumpukkan materi pelajaran yang bahkan aku sudah lupa setelah kakiku melangkah keluar kelas.
Awalnya aku ingin langsung pulang dan bergelung dengan kasur kesayanganku. Tapi aku sangat lapar, dan aku terlalu tidak sabar jika harus makan di rumah. Jadi mampir ke mini market dan makan beberapa cup ramen tak ada salahnya, kan?
Hh … tapi rasanya tak seru jika Jin Woo tak ikut. Anak itu sudah dijemput oleh Appa-nya begitu kami sampai di depan gerbang. Padahal kita membolos satu jam loh.
Aku cukup lama mampir di sana. Entahlah, malam ini suhu udara agak lebih dingin dari biasanya. Aku jadi malas bergerak.
Tapi mengingat Eomma akan memarahiku jika aku pulang lewat tengah malam, dengan terpaksa aku beranjak dari dudukku kemudian menuju meja kasir dan membayar apa yang baru saja aku makan.
Aku keluar dari mini market dengan hoodie hitam yang sudah melekat di tubuhku, cukup untuk membuatku merasa hangat.
Tentu saja aku tak langsung pulang. Tenang saja ini kan masih jam 22.50 KST, jadi masih ada waktu sekitar satu jam sepuluh menit sebelum Eomma menyuruh maid untuk mengunci seluruh pintu masuk rumah dan membiarkanku tidur di luar. Tega memang.
Aku putuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Yah ... walau pun aku tak tau ingin ke mana, yang jelas aku hanya mengikuti langkah kakiku saja. Jika aku rasa sudah cukup puas, maka aku akan pulang. Tidak jelas memang, tapi siapa tahu aku menemukan hal yang menarik.
Dan benar saja, saat aku sedang melewati sebuah gang yang memang menjadi tongkrongan para preman dan brandal jalanan. Aku melihat sebuah pemandangan yang sayang untuk dilewatkan. Ya, para berandal itu sedang melancarkan aksinya.
Wow, lihatlah mereka sedang memeras anak sekolah rupanya. Dari seragamnya bisa aku tebak dia salah satu siswa di sekolahku, seorang pemuda bertubuh kecil.
Cih!
Itulah nasib orang lemah. Selalu ditindas, diperas dan dianiaya. Dan aku benci orang lemah. Itulah kenapa aku selalu menganggu si buta Im Chang Kyun. Orang cacat dan lemah sepertinya tak pantas bersekolah di sekolah elit, hanya memperburuk citra sekolah saja.
Aku benci Im Chang Kyun!
Atensiku beralih pada pemandangan tak jauh dari tempatku berdiri.
Hei! Apa yang preman itu lakukan?
Tunggu! Me-mereka melecehkan pemuda mungil itu!
Tidak! Tidak! Tidak!
Bukan ini yang aku inginkan!
Aku hanya suka melihat orang lemah ditindas, bukan dilecehkan!
“Bocah buta sialan! Kau harusnya merasa beruntung bisa bermain bersamaku. Tidak semua jalang bisa menyentuhku!”
Apa dia bilang? Buta?
Seingatku di SMA Monggi, siswa d*********s buta hanya ada tiga orang. Satu seorang perempuan kelas dua, dan dua orang lainnya adalah laki-laki. Yaitu Im Chang Kyun dan Jung Jae Hyun, siswa tingkat akhir.
Dia pemuda bertubuh mungil dan dia bisa dipastikan bukan Jae Hyun Sunbae, karena dia pendek. Jadi dia ….
Im Chang Kyun!
Ya! Benar, dia Im Chang Kyun.
Sial! Mereka melecehkan bocah itu.
Apa yang harus aku lakukan?
Aku benci Im Chang Kyun, tapi aku lebih benci pelecehan.
Kenapa?
Kakak perempuankj jadi gila karena pelecehan seksual dan tahun ini dia meninggal bunuh diri akibat depresi.
Aku raih ponsel disaku celanaku dan aku menghubungi polisi terdekat.
Dan setelah itu dengan segala kebodohan yang ada, aku datang menyelamatkan bocah buta itu.
Percayalah, ini adalah hal terbodoh yang pernah aku lakukan selama hidupku. Menyelamatkan orang yang selama ini ingin aku lenyapkan.
Itulah yang sebenarnya terjadi. Asal kalian tahu saja, aku malas jika berurusan dengan orang yang bahkan tidak dekat denganku.
Tapi melihat kondisinya sekarang, sisi kemanusiaanku muncul begitu saja.
[Soonyoung POV end]
“Eoh? Apa sudah sampai?” Soon Young hampir menabrak punggung Changkiyun jika saja ia tak menghentikan lamunannya.
Chang Kyun hanya menganggukan kepalanya dan terdiam di depan pintu, nampak ragu untuk memencet bel.
“Biar aku saja,” ujar Soon Young mengambil alih untuk memencet bel.
Cukup lama menanti sampai pintu terbuka dan menampakkan seorang pemuda dengan wajah mengantuknya.
“Siapa? Kenapa bertamu selarut ini?” tanya pemuda itu dengan mata setengah tertutup.
Soon Young mematung. Terlalu banyak kejutan dalam semalam.
“Hyung-nim?”
Joo Heon mengucek matanya. Memastikan bahwa suara yang ia dengar sama dengan orang yang diduganya.
“Ahn Soon Young?”
Soon Young membuka mulutnya beberapa saat sebelum akhirnya berhasil menguasai diri. Yah, mereka sama-sama terkejut.
“Kenapa kau bisa sampai di sini? Dan … oh ... Chang Kyun?” Joo Heon semakin terkejut saat mendapati Chang Kyun berdiri di belakang Hoobae-nya hanya menundukkan kepala.
Joo Heon memandang penampilan Chang Kyun dari atas hingga bawah, berantakan dan kotor. Dan ke mana jas almamater sekolahnya? Ia melayangkan tatapan bertanya pada Soon Young.
“Sebaiknya Hyung suruh dia membersihkan dirinya dulu dan biarkan aku yang menjelaskannya,” sahut Soon Young menanggapi tatapan dari Joo Heon yang terkesan mengintimidasinya.
“Baiklah, masuklah,” ucap Joo Heon melebarkan pintu yang awalnya hanya terbuka setengahnya.
“Dan kau, pergi ke kamarmu kemudian bersihkan dirimu,” perintahnya pada Chang Kyun yang hanya dijawab dengan anggukkan oleh pemuda itu itu.
Aneh, pikir Joo Heon.
#BLIND#
Joo Heon hanya bisa geleng kepala mendengar penjelasan dari Soon Young. Ia masih tak percaya dengan semua penuturan yang keluar dari mulut juniornya ini. Apa ia tak salah dengar? Pelecehan katanya? Dan itu terjadi pada ‘adiknya’?
Sungguh, bagaimana mungkin?
“Kau tidak sedang berbohong, 'kan?” Joo Heon menatap Soon Young tak percaya.
Soon Young memutar bola matanya malas.
“Apa aku pernah berbohong padamu, Hyung? Lagi pula sudah berapa tahun kau mengenalku, Hyung? Dan sejauh kau mengenalku, apa aku pernah mengatakan kebohongan padamu ... Hyung?”
Joo Heon dibuat bungkam dengan pernyataan dari juniornya yang memang sudah akrab dengannya hampir empat tahun itu. Ya, Soon Young adalah juniornya sejak ia duduk di bangku SMP.
“Dan sekarang aku butuh penjelasan darimu, Hyung,” pemuda itu menatap Joo Heon dengan raut wajah seriusnya.
“Apa? Penjelasan apa?”
Soon Young sungguh jengah dengan sikap Joo Heon yang menyebalkan ini.
“Kenapa Chang Kyun tinggal di sini? Setahuku kau anak bungsu Tuan Lee, kan?” tanya Soon Young yang berhasil membuat Joo Heon bungkam.
Joo Heon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia memang belum pernah bercerita pada Soon Young tentang Chang Kyun. Lagi pula ia juga tak menyangka bahwa Soon Young akan satu kelas dengan Chang Kyun.
“Hyung! Kenapa diam?” suara Soon Young mengiterupsi kebisuan Joo Heon.
“Eoh … itu … dia ... dia ... adikku,” ucap Joo Heon dengan penuh keraguan yang membuat Soon Young membulatkan mata sipitnya.
“Apa?! Adik?!” pekik Soon Young dengan suara yang naik satu oktaf.
“Pssttt … kau bisa membangunkannya bodoh!”
Soonyoung refleks menutup mulutnya.
“Maaf.”
“Tapi mengapa kau tidak pernah menceritakan padaku jika kau punya adik, Hyung?”
“Dan mengapa nama marganya berbeda? Sampai aku tak menyangka jika dia adikmu.”
“Dan ... ah ... kau pasti sudah tahu kalau aku sering mengganggunya di sekolah, kan? Dan kenapa kau hanya diam saja, Hyung? Jelaskan semuanya padaku.”
Soon Young semakin tak mengerti dengan alur cerita yang terjadi. Sebenarnya ia merasa tak enak hati jika korban bully-nya adalah adik dari senior panutannya.
“Aku tahu, aku mengerti. Tunggu sebentar, aku akan menjelaskannya satu persatu,” Joo Heon mengisyaratkan juniornya agar berhenti menghujaninya dengan bermacam pertanyaan. Kepalanya tiba-tiba pusing.
Ia menarik nafas dengan rakus dan menghembuskannya dengan kasar juga.
“Dia adalah adikku, tapi bukan saudara kandungku. Ia hanya anak angkat yang di adopsi Appa entah dari mana dan soal marga, Eomma tidak mengizinkan ia berganti marga Lee,” jelas Joo Heon singkat yang disambut dengan anggukan dari si junior.
“Lalu?”
“Lalu apa?”
“Aku tidak pernah melihat interaksi kalian di sekolah, kenapa?”
Joo Heon nampak befikir, mencoba menemukan jawaban yang tepat untuk disampaikan pada Soon Young.
“Ah … sudah hampir tengah malam. Pulanglah, ibumu pasti akan marah jika kau pulang lewat tengah malam, kan?”
Joo Heon mencoba mengalihkan pembicaraan dan nampaknya berhasil. Terlihat Soon Young langsung melihat ke arah arlojinya dan disusul dengan tepukan di dahinya sendiri.
“Benar sekali. Aku harus segera pulang seakarang, Hyung!” ujar Soon Young yang kemudian beranjak dari duduknya.
Joo Heon hanya menyeringai kecil, puas dengan apa yang dilakukannya. Ia ikut beranjak dan mengantar Soon Young sampai ke depan pintu.
“Baiklah, Hyung. Aku pulang dulu. Selamat malam,” ujar Soon Young sebelum melesat.
“Sampaikan salamku untuk bibi Ahn.”
“Baik!” sahut Soon Young berteriak.
Joo Heon hanya bisa geleng kepala melihat tingkah Hoobae-nya kemudian kembali memasuki rumahnya.
Rumah memang sedang dalam keadaan sepi. Hanya ada dirinya yang menghuni rumah besar itu, tentu saja sebelum Chang Kyun pulang. Eomma sedang mengurusi bisnisnya di luar kota dan Hyun Woo tidur di kampus karena tugas yang menumpuk.
Joo Heon berdiri di hadapan pintu kamarnya, berniat untuk melanjutkan tidurnya yang terpotong.
Diliriknya pintu yang bersebelahan dengan kamarnya itu.
Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? Apa sebaiknya aku melihat keadaannya dulu?
Pertanyaan itu terus berputar di kepala Joo Heon.
Pemuda itu menimang antara masuk atau tidak. Namun tubuhnya tak sejalan dengan hatinya. Belum selesai ia memutuskan antara masuk atau tidak, kakinya sudah melangkah begitu saja dan tanpa sadar tubuhnya sudah berada di dalam kamar yang bahkan tidak pernah dijamahnya selama hampir sepuluh tahun ini.
Hah? Kosong?
Ya, kamar itu kosong. Jooheon tak mendapati keberadaan Changkyun saat memasuki kamar tersebut.
Terdengar bunyi kran air yang menyala dari arah kamar mandi. Apa bocah itu sedang mandi? Hei, tapi ini sudah hampir satu jam sejak dia memerintahkannya untuk membersihkan diri.
Perasaan was-was menghinggapi hati Joo Heon, membuat pemuda itu bergegas berjalan mendekati pintu kamar mandi dan membukanya. Mata sipitnya membulat sempurna.
“Sial! Im Chang Kyun, apa yang sedang kau lakukan?”
#BLIND#