BLIND-FIFTEEN

3510 Words
Kriiiinggg .... Waktu menunjukkan pukul 22.00 KST. Bel tanda usai pelajaran tambahan berbunyi dengan nyaring. Seisi kelas menarik nafas lega, tentu saja mereka senang karena setelah ini bisa pulang dan berkunjung ke alam mimpi masing-masing. Tapi tidak dengan Chang Kyun yang memasukkan peralatan tulisnya dengan hati gelisah. Bagaimana tidak? Bahkan sampai sekarang Doyoung masih tak mau bicara dengannya walau hanya sekedar menyapa. Lihatlah sekarang, Doyoung berlalu begitu saja keluar dari kelas tepat setelah bel berdering. “Doyoung!” panggil Chang Kyun yang nampaknya tak direspon oleh si pemilik nama. Chang Kyun bergegas menyusul Doyoung yang sepertinya sudah berjalan jauh dari kelas yang entah kapan sudah mulai sepi. “Jang Doyoung! Tunggu!” Chang Kyun berjalan dengan terburu-buru, mencoba menyusul kawannya. Pemuda itu agaknya kesulitan untuk bisa menemukan posisi Doyoung. Sial memang, karena yang dilihatnya hanya kegelapan. Sementara Doyoung, pemuda itu memang sengaja menulikan telinganya dan mengabaikan panggilan dari kawan kesayangannya itu. Dapat! Ya, Chang Kyun berhasil meraih lengan Doyoung dan menahan langkah dari pemuda yang sedikit lebih tinggi darinya itu. “Doyoung! Aku mohon, jangan mengacuhkan aku seperti ini ... hhhh ...hhh .…” ujar Chang Kyun dengan nafas tersengal. “Katakan apa salahku?! Aku akan menerimanya dan akan memperbaikinya. Tapi aku mohon jangan mengacuhkan aku seperti ini .…uhhukk ....” Chang Kyun masih berusaha mengatur nafasnya yang kacau. Sementara di sisi lain, Doyoung hanya memandang Chang Kyun dengan tatapan tanpa ekspresinya. “Kau memang berbuat kesalahan .…” Doyoung menggantungkan kalimatnya. Chang Kyun menundukkan kepalanya dan tanpa sadar genggamannya pada tangan Doyoung terlepas. Chang Kyun mendadak menjadi tidak bertenaga. “Apa salahku?” Doyoung mendorong bahu kiri Chang Kyun dengan jari telunjuk kanannya. “Kau ... kau ... kenapa kau tidak mengatakan padaku dari dulu jika Joo Heon Sunbae adalah Hyung-mu, huh?! Kenapa?!” teriak Doyoung di akhir kalimatnya. Chang Kyun bungkam. Pemuda itu sekarang paham dengan alasan Doyoung yang mendiamkannya. Tapi ia tak tahu bagaimana menjelaskannya pada Doyoung. “Ayolah, Im Chang Kyun! Aku ini teman dekatmu, aku selalu membantumu saat yang lain berusaha menyakitimu, aku juga tetap mau berteman denganmu meskipun tidak sedikit orang meremehkanmu .…” Doyoung diam sejenak, memberi jeda pada kalimatnya. Pemuda itu menatap Chang Kyun yang dengan jelas menampakkan ekspresi terkejut sekaligus bingung. “Dan bodohnya, tanpa aku sadari ternyata aku sebenarnya juga ikut andil dalam menyakitimu! Hampir setiap hari aku bertemu Joo Heon Sunbae, bahkan sangat akrab dengannya. Dan hampir setiap saat itu pula kau berada di sampingku, menyaksikan kedekatanku dengan Joo Heon Sunbae yang bahkan tega membuat adiknya sendiri menangis!” lanjut Doyoung panjang lebar dan jangan lupakan nada bicaranya yang meninggi. Chang Kyun menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan berat. Pemuda itu tersenyum. “Joo Heon Hyung membenciku, dan dia tidak mau seluruh anak sekolah tahu jika aku adalah adiknya. Lagi pula siapa juga yang mau mempunyai adik cacat sepertiku? Tidak ada, kan?” balas Chang Kyun. Astaga! Apa ini?! Doyoung benar-benar tak menyangkan dengan jawaban yang diutarakan oleh pemuda di hadapannya ini. Bisa-bisanya ia tersenyum sedangkan ia berada di pihak yang tersakiti. Dia terlalu polos dan naif memang. “Kenapa?! Kenapa kau malah tersenyum?!” tanya Doyoung heran. Chang Kyun masih tersenyum, kemudian menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa, aku memang pantas mendapatkannya.” Oh God! Bolehkah Jang Doyoung ini berkata kasar di hadapan sahabatnya ini? Doyoung meraup wajahnya kasar dan mencoba untuk menyabarkan hatinya. “Aishh! Sudahlah, lupakan saja.” Doyoung berbalik, kemudian melangkah pergi. Chang Kyun yang menyadari kepergian Doyoung pun ikut melangkah. “Doyoung! Tunggu, apa kau masih marah padaku, eoh?” tanya Chang Kyun sembari setengah berlari. “Hmm ....” sahut Doyoung tanpa menoleh ke belakang. “Sungguh? Kau tidak serius, kan?” “Hmmm.” Brukkk “Akh ....” Doyoung yang semula menatap lurus ke jalan yang ia tuju, kini refleks menoleh ke belakang dan mendapati Chang Kyun tersungkur dengan tidak elitnya karena menginjak tali sepatunya sendiri. “Aishhh, benar-benar!” Doyoung mengacak rambutnya kasar, sebenarnya ia tadi sudah melihat jika tali sepatu milik Chang Kyun terlepas tapi ia lupa memberitahu pemuda itu. Doyoung membantu Chang Kyun berdiri kemudian mengikatkan tali sepatu pemuda itu. “Hehe ... terima kasih, Doyoung,” ucap Chang Kyun menampakkan cengirannya. “Ayo, aku antar sampai halte.” Chang Kyun hanya patuh mendengar ajakan Doyoung dan mengekor di belakang. Dalam hati ia merasa bersyukur memiliki sahabat seperti Doyoung. [Changkyun POV] Jujur, aku sedikit terkejut saat Doyoung tahu jika Joo Heon Hyung adalah kakakku. Tapi setelah aku fikir-fikir kembali, bukankah cepat atau lambat semua akan terungkap? Hanya tinggal tunggu tanggal mainnya saja. Dia tidak marah padaku saja, aku sudah merasa sangat beruntung. Baiklah, mungkin besok dia akan mengintrogasiku dengan bermacam pertanyaan. Ayolah, seperti kau tak kenal dengan Doyoung saja. Dia takkan diam sebelum rasa ingin tahunya terpuaskan. Dan kali ini akulah yang jadi sasarannya. “Chang Kyun. Sopirku sudah datang. Bagaimana jika kau ikut denganku saja? Aku antar sampai rumahmu.” Ah ... ternyata kita sudah sampai di halte dan sopir yang biasa mengantar-jemput Doyoung juga sudah tiba. Doyoung memang punya sopir pribadi, jadi dia tak pernah naik bus sepertiku. “Tidak. Tidak usah, aku naik bus seperti biasa saja,” sahutku, aku tak mau merepotkannya. “Kau yakin? Bukankah ini sudah larut, apa bus masih lewat?” Dia terdengar tak yakin meninggalkan aku sendiri. “Kemungkinan masih. Aku akan menunggu dulu. Lagi pula rumahku tidak terlalu jauh dari sini, jadi aku bisa jalan kaki nanti,” tolakku sehalus mungkin dan aku dengar dengusan kesal dari Doyoung. “Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu aku pulang dulu, sampai besok Chang Kyun! Selamat malam.” Ujarnya kemudian menepuk bahuku. “Sampai jumpa besok, hati-hati di jalan,” aku tersenyum saat mendengar laju mobil Doyoung yang sudah mulai menjauh. Hahaha … aku tahu temanku itu pasti sedikit jengkel karena penolakanku. Tapi mau bagaimana lagi, bahkan rumah kami berlawanan arah. Dan di sinilah aku, duduk sendirian di bangku halte sambil menanti kedatangan bus yang akan mengantarku sampai rumah. Aku suka suasana hening seperti ini. [Changkyun POV End] Tanpa disadari waktu sudah hampir tengah malam. Itu berarti Chanigkyun sudah duduk di halte hampir satu jam lamanya. Namun belum ada tanda-tanda kehadiran bus akan tiba dan mengantarnya hingga rumah. Sepertinya hari ini ia harus berjalan kaki lagi(?) Tentu saja, kemarin ia berjalan bersama dengan Kihyun. Dengan sedikit ragu, Chang Kyun memutuskan berdiri dan mengeluarkan tongkatnya. Kemudian berjalan perlahan menyusuri malam dengan membawa suhu dingin yang cukup menusuk kulit, apalagi Chang Kyun hanya menggunakan setelan seragam dan jas saja tanpa dilapisi dengan jaket atau semacamnya. Tuk Tuk Tuk Tuk Bunyi ketukan tongkatnya menggema karena suasana yang sudah sepi. Huft ... sebenarnya Chang Kyun tidak memiliki cukup keberanian untuk berjalan sendirian di tengah malam begini. Teman-temannya bilang banyak preman, penjahat, rampok dan sejenisnya berkeliaran di tengah malam begini. Ayolah, jangankan bocah enam belas tahun sepertinya. Orang dewasa pun akan ketakutan jika bertemu berandal seperti itu. Jarak dari sekolah ke rumahnya hanya sekitar 2.5 Km, tapi mungkin akan terlihat dua kali lipat lebih lama jika kau berjalan seorang diri. Dan tibalah Chang Kyun di sebuah gang sempit yang mana di ujungnya adalah jalan yang mengarah ke rumahnya. Ia sengaja memotong jalan agar lebih cepat sampai. Nyatanya itu adalah keputusan yang salah. Baru dua puluh langkah Chang Kyun memasuki gang yang gelap itu. Hahaha … lucu memang, bagi seorang Im Chang Kyun. Entah itu gelap maupun terang, kan sama saja. Tuk Tuk Tuk …… Chang Kyun menghentikan langkahnya saat mendegar bunyi aneh. Seperti kaleng? Ah ... bukan! Itu langkah kaki. Ya! Langkah kaki. Dan itu tidak hanya satu. Tapi … tapi lebih. Tiga orang mungkin. Chang Kyun tentu menyadari kehadiran mereka. Ia segera membalikkan badan dan beranjak meninggalkan gang tersebut. Tapi sial. Pergelangan tangan kanannya sudah dicekal oleh salah satu di antara mereka. “Halo, adik kecil,” sapa seseorang yang mencekal tangan Chang Kyun. Itu akan terdengar menyeramkan jika kau sudah berada di posisi Chang Kyun. “To-tolong, l-lepaskan ....” ujar Chang Kyun memohon sambil menepis genggaman dari tangannya. “Apa? Coba kau katakan sekali lagi. Aku tidak dengar,” ujar pria itu kemudian mengeratkan genggamannya. “Paman ... tolong lepaskan aku,” pinta Chang Kyun pada tiga orang pria dewasa di hadapannya. Ya, dari suaranya mereka adalah sekumpulan pria usia awal tiga puluhan. “Bwahahahahaha ….” Tawa ketiganya meledak saat Chang Kyun usai berucap dan itu sukses membuat Chang Kyun tersentak dengan tawa keras itu. “Hei, Nak. Apa kau punya sesuatu untuk kami?” “Ya, uang atau semisalnya?” imbuh yang lain. Chang Kyun menggeleng. “Maaf, Paman. Aku tidak membawa uang,” sahut Chang Kyun kemudian. Memang benar. Chang Kyun tidak pernah membawa uang selama pergi ke sekolah. Bukan berarti Nyonya Lee tak memberinya saku. Tidak, ia tidak sejahat itu. Nyonya Lee selalu memberinya uang, sama seperti Joo Heon. Tapi bedanya Chang Kyun lebih memilih menyimpannya di rumah dan mengumpulkannya di laci. Ia ingin membeli sesuatu untuk hadiah di ulang tahun Joo Heon nantinya. Di dompetnya hanya berisi kartu pelajar dan kartu yang mempermudahnya untuk membayar ongkos bus. Dan lagi pula ia benar-benar payah dalam hal mengenali uang. “Bohong! Lihatlah, kau bahkan bersekolah di sekolah elit.” Seseorang yang tadi hanya diam, angkat bicara sambil menarik kasar jas sekolah milik Chang Kyun. “Su-sungguh, Paman! Aku tidak bohong,” kilah Chang Kyun sambil mencoba melepaskan cengkraman di jasnya. Plakk!! “Cih! Dasar bocah sombong." Pria itu mendaratkan satu tamparan ke salah satu pipi Chang Kyun dan meninggalkan bekas merah di pipi pemuda mungil itu. Tak cukup sampai di situ, pria itu juga membanting tubuh Chang Kyun ke tanah dengan cukup keras hingga menimbulkan bunyi yang memilukan. “Ughhh .…” rintih Chang Kyun tepat saat tubuhnya menimpa tanah. Tongkat yang tadi dipegangnya terlempar entah kemana. Chang Kyun sendiri berusaha bangkit dan meraih sembarang arah mencari letak tongkatnya. Ayolah, Eomma-nya pasti marah jika ia menghilangkannya lagi. Nampaknya mereka baru sadar jika Chang Kyun adalah seorang tunanetra. Terbukti dengan ekspresi terkejut di wajah mereka saat melihat Chang Kyun berusaha menemukan tongkatnya. Tapi yang namanya orang jahat tak mungkin jadi baik dalam sekejap, kan? Bukannya membiarkan Chang Kyun lepas, salah satu dari mereka malah meraih dagu Changkiyun. “Hmmm … baiklah, Nak. Jika kau tidak mau memberi kami uang ....” Orang itu menggantungkan kalimatnya kemudian mengelus pipi Chang Kyun. Chang Kyun hanya bisa menahan nafas dan menunggu kelanjutan dari ucapan berandal di hadapannya. Sungguh, ia benar-benar berharap ada seseorang yang sudi menolongnya kali ini. “Maka … beri kami tubuhmu ….” bisik pria itu tepat di telinga Chang Kyun. Deg! ‘Tuhan! Jika kau masih mengasihaniku barang sedikit saja. Maka tolong aku!’ #BLIND# Chang Kyun mencoba melepaskan cengkraman pria yang dipanggilnya Ahjusshi itu. Mereka itu gila! Pikir Chang Kyun. Tubuh mereka bilang? Oh … Chang Kyun tak sepenuhnya paham maksud dari perkataan Ahjusshi itu. Tapi segera mengerti saat tangan Ahjusshi itu mencoba membuka seragam sekolah yang dikenakannya. “Jangan! Paman, apa yang kau lakukan?!” Chang Kyun mengeratkan genggaman pada jas sekolahnya. “Ayolah adik kecil ... kami tidak akan menyakitimu." Pria itu malah semakin gencar untuk melepas baju Chang Kyun. “Tidak mau! Aku ingin pulang!” sahut Chang Kyun, kemudian menepis tangan pria itu sedikit lebih kencang. Dan itu berhasil, pria di hadapannya terduduk karena semula ia hanya berjongkok dan kehilangan keseimbangannya. Kesempatan yang tak boleh disia-siakan oleh Chang Kyun tentunya. Pemuda kecil itu kemudian mencoba untuk berlari menjauh tanpa tongkat yang raib entah ke mana. “Sial! Hei bocah, mau lari kemana, hah?!” “Kalian! Jangan biarkan dia pergi, atau akan aku potong leher kalian!” ancam pria itu pada dua pria lainnya. “Baik, Bos!” sahut mereka kompak dan kemudian mengejar Chang Kyun yang belum jauh dari posisi mereka berdiri. Oh ... jadi kalian tentu tahu jika mereka adalah para bawahan dan dia bosnya. Pantas saja ia bertindak di akhir dan membiarkan kedua anak buahnya beraksi lebih dulu. Dua pria yang diperintah tadi segera berlari mengejar Chang Kyun yang nampak kesulitan menemukan arah, tentu saja hal itu mempermudah mereka untuk kembali menangkap Chang Kyun dan membawa pemuda itu ke hadapan orang yang mereka sebut Bos tadi. “Aku mohon! Paman, lepaskan aku. Biarkan aku pulang .…” Chang Kyun meronta dalam cengkraman dua pria yang bertubuh jauh lebih besar darinya. “Hahaha … apa katamu? Pulang? Yang benar saja, Bos kami sedang ingin bermain denganmu, Nak.” “Ya ... siapa tahu setelah ini bos kami akan berbaik hati membiarkanmu pulang,” imbuh yang lain sambil terus menyeret tubuh Chang Kyun hingga kembali ke hadapan pria yang disebutnya bos tadi. Bruugh ... Dengan kasar kedua pria itu melempar tubuh Chang Kyun di hadapan Bos mereka. “Sakit ….” rintih Chang Kyun sembari memegangi bahunya yang sudah dua kali dibanting dengan tanpa perasaan. Tak berselang lama seseorang sudah menarik kerah Chang Kyun hingga membuat tubuh pemuda itu mau tak mau berdiri dengan terpaksa. “Ayolah, Nak. Biarkan Ahjusshi ini sedikit bersenang-senang denganmu,” ujar pria itu kemudian menghirup area ceruk leher Chang Kyun dan membuat bocah itu merinding. “Jangan … aku mohon, Paman ….” cicit Chang Kyun kemudian menangkupkan kedua tangannya di depan d**a. “Oh … kau manis sekali ... aromamu sungguh membuatku tidak tahan.” Dengan kurang ajarnya, pria itu menarik jas Chang Kyun hingga tiga kancing yang semula bertaut rapi kini putus dan membuat pria itu dengan mudah melepas jas itu dan membuangnya ke sembarang arah. “Paman!!!” pekik Chang Kyun saat mendapati jasnya sudah tidak lagi menempel di tubuhnya. Hei! Ingatlah jika itu bukan seragam miliknya. Bagaimana jika Kihyun marah padanya? Pria itu sama sekali tak menggubris pekikan dari bocah di hadapannya dan malah mendorong tubuh mungil itu hingga membentur tembok. “Argh!!” Rasa sakit menjalar dari punggung hingga ke seluruh tubuh. Air mata tak lagi bisa Chang Kyun tahan kala tangan pria itu mulai menggerayangi tubuh kecilnya. Dua pria yang menjadi bawahannya tadi hanya tertawa senang kala melihat tingkah bosnya yang merupakan hiburan tersendiri bagi mereka. Hendak melarikan diri tapi ia tak bisa karena tubuhnya terkunci di antara lengan berisi milik pria dewasa itu. Hanya satu lengan tapi Chang Kyun tak cukup kuat untuk melepaskan dirinya. “Paman! Lepaskan aku … aku mohon … hiks …” Chang Kyun memggeliat kala tangan itu memelintir nimplenya. “Tidak sebelum aku mencicipi bibir merahmu itu,” tanpa ba-bi-bu pria itu langsung menempelkan bibirnya ke bibir Chang Kyun. Namun niatnya terhalang karena Chang Kyun yang dengan sengaja mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan menggelengkan kepalanya. “Yak! Berhentilah menolak dan turuti aku dan semua akan selesai dengan cepat!” bentak pria tersebut kemudian menjambak kasar rambut Chang Kyun hingga wajah itu menghadapnya. “Tidak mau! Kau gila, Paman!” balas Chang Kyun dengan air mata yang tak henti mengalir. “Ya, aku gila saat melihatmu,” sahutnya masih berisaha mencium bibir tipis Chang Kyun. “Hiks … Paman … a-aku juga pria sepertimu ... k-kenapa kau melakukannya padaku?!” Pria itu tersenyum miring. “Karena kau cantik,” bisiknya kemudian menyesap ceruk leher Chang Kyun dengan beringas. “Arghhh … lepas! Paman … hiks ... aku mohon ....” Tentu saja si Ahjusshi tak menggubris ratapan Chang Kyun dan terus mengecup bagian leher Chang Kyun yang terbuka. Di saat pria itu sedang menikmati kegiatannya, tiba-tiba Chang Kyun menendang kemaluan pria tersebut hingga membuat si pemilik meringis kesakitan karena masa depannya berdenyut nyeri. Tidak cukup sampai di situ saja, Chang Kyun juga mendorong tubuh pria itu hingga tersungkur mencium tanah. Chang Kyun berusaha menjauh dari pria tersebut namun gagal karena kaki kirinya sudah dicekal oleh pria itu dan membuat tubuh Chang Kyun kembali terhempas ke tanah. “Cukup main-mainnya bocah! Aku muak! Ayo segera akhiri ini dan aku akan melepaskanmu!” “Tidak mau!” bantah Chang Kyun masih berusaha lepas dari cengkraman. Bugh! Bugh! Bugh! Bugh! Dengan tanpa ampun, pukulan, ahh, lebih tepatnya tendangan mendarat keperut Chang Kyun yang sudah setengah terbuka karena dua kancing bagian bawahnya sudah terlepas. “Bocah buta sialan! Kau harusnya merasa beruntung bisa bermain bersamaku. Tidak semua jalang bisa menyentuhku!” ujar pria itu sarkas setelah puas menendang ulu hati Chang Kyun. “Hiksss … a-aku bukan jalang, Paman!” Sungguh ucapan itu sangat membuat hati seorang Im Chang Kyun terluka. Ia … ia bukan seorang jalang! Ia adalah pria normal, bukan pecinta sesama jenis seperti tokoh dalam cerita yang sering dibaca oleh Nayeon teman kelasnya yang merupakan pecinta kisah sesama jenis. Chang Kyun yakin dirinya normal meskipun ia tidak tahu apa itu cinta tapi setidaknya ia sudah punya keinginan punya istri sebaik Eomma kandungnya. “Sial kau! Mati saja jika tidak mau bermain deganku!” Ditariknya kerah seragam Chang Kyun dengan paksa sehingga membuat bocah itu berdiri dengan terpaksa lagi. Tak cukup sampai di situ, pria itu kemudian mencekik leher Chang Kyun hingga membuat bocah berbadan kecil itu kesulitan bernafas. Tepat sebelum pria itu mendaratkan pukulannya, sebuah kaleng soda telak menghantam tengkoraknya. “Ahh … sialan! Siapa yang melakukannya hah?!” umpat pria itu geram, kemudian menatap dua anak buahnya yang juga celingukan mencari si pelaku. Ia melempar tubuh Chang Kyun begitu saja dan tentu membuat tubuh mungil itu kembali menghantam tanah dengan keras. Pria itu sesekali terbatuk dengan mata tertutup. “Aku.” Tiga orang tersebut memincingkan penglihatannya mencoba menemukan posisi pemilik suara. Tak berselang lama muncul sesosok maksudku seorang namja dengan hoodie hitam menutupi tubuh dan kepalanya. Ia muncul dari balik tumpukan tong tak terpakai di sudut lorong. “Aku yang melakukannya. Kenapa? Kau tidak suka?” tanya pemuda itu dengan nada menantang. “Bocah sialan! Mau menantang , eoh?!” “Beraninya kau bicara tidak sopan dengan orang yang lebih tua darimu!” “Apa kau tidak pernah diajari oleh orang tuamu hah?!” Ketiganya langsung memberondong pemuda tersebut dengan berbagai macam ungkapan. Sementara yang menjadi pusat kekesalan malah berdecih dan tersenyum mengejek. “Hahahaha … maaf, orang tuaku tidak pernah mengajariku agar sopan pada orang yang bahkan tidak pantas dihormati,” sahut pemuda itu, kemudian angannya bergerak membuka tudung hoodienya kemudian menyisir rambutnya dengan jari tangan. “Huuhh … Sudahlah. Lebih baik kalian pergi dari sini dan lepaskan anak itu,” ujarnya santai dan membuat ketiga pria itu semakin naik pitam. “Kenapa? Kenapa aku harus melepaskannya untukmu? Apa kau juga ingin mecicipinya, Nak?” terlihat senyum meremehkan dari pria yang berposisi sebagai Bos tersebut. "Ouh, hanya mendengarnya saja aku merasa jijik." Pemuda itu bergidik ngeri dengan cara yang berlebihan dan lantas mencibir, "kalian bahkan lebih rendah dibandingkan dengan binatang." "Bocah, sialan!" Dengan kasar pria itu menarik tubuh Chang Kyun hingga berdiri di sampingnya, dengan kurang ajar pria tersebut menempelkan bibirnya di atas bibir Chang Kyun yang sialnya tidak terkatup rapat seperti tadi. “Mmmmpphhh!” Chang Kyun berontak, air matanya sudah tak bisa dibendung lagi. “Yak! Pak tua sialan! Lepaskan dia!” dengan geram pemuda itu melangkah menghampiri pria yang malah asik melumat bibir tipis Chang Kyun. Dan .... Bugh! Pemuda itu melayangkan satu pukulan yang telak menghantam wajah pria b******k di hadapannya. Pria itu terjatuh begitu juga dengan Chang Kyun yang memang sudah menipis kesadarannya. “Baiklah. Aku akan memberi kalian dua pilihan,” pemuda itu terdiam sesaat kemudian mengalihkan pandangannya pada Chang Kyun yang meringkuk di tanah dengan tubuh bergetar. Pasti anak itu menangis. “Apa? Apa yang kau tawarkan, hah?” tanya si pemimpin. Pemuda itu menyeringai licik. ‘Dasar pak tua bodoh, tertarik dengan tawaranku, eoh?’ Pemuda itu memperlihatkan arloji di tangannya. “Kalian ingin tetap di sini dan menikmati tubuhnya, atau pergi karena jika hitunganku tidak salah maka dalam tiga puluh detik polisi akan datang ke sini,” ujar pemuda itu sesantai mungkin. Nyantanya tiga pria dewasa tersebut terdiam saling pandang. “Kau kira kami sebodoh itu? Percaya pada omongan bocah ingusan sepertimu?” sanggah satu di antaranya. Pemuda itu tersenyum miring. “Terserah jika tidak mau percaya.” Benar saja, pada hitungan ke tiga puluh, suara sirine mobil polisi berbunyi memekakan telinga. Bahkan ketiga pria tersebut tidak sempat melarikan diri karena terkejut dengan ucapan bocah yang bukan hanya gertakan semata. Akhirnya mereka hanya bisa pasrah ketika beberapa polisi meringkus mereka dengan tuduhan kekerasan dan pelecehan seksual pada anak di bawah umur. “Kalian lihat itu? Aku tidak pernah main-main dengan kata-kataku,” ledek pemuda itu pada ketiga pria yang sudah terborgol tangannya. “Hiks ….” Atensi pemuda itu kini beralih pada seseorang yang terduduk dengan posisi memeluk lutut dan wajah disembunyikan di balik lengannya. “Kau baik-baik saja?” tanya pemuda itu khawatir lalu menepuk bahu Chang Kyun pelan. Chang Kyun tersentak begitu ada sebuah tangan menyentuh bahunya. Buru-buru ia menepis tangan tersebut kemudian menggeser tubuhnya menjauh. “Pe-pergi! J-jangan sentuh aku! Kalian jahat! Hiks …” usir Chang Kyun sambil dan semakin erat memeluk kedua lututnya. “Hei ... jangan takut, a-aku .. temanmu(?)” ‘Oh ... lihatlah, kau bahkan ragu mengucapkannya,' runtuk pemud itu dalam hati. Tapi itu cukup untuk membuat Chang Kyun berhenti menangis kemudian memgangkat kepalanya. Bukan karena apa, hanya saja ia sangat hafal degan suara itu. “Ahn Soon Young?” #BLIND#
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD