BLIND-FOURTEEN

1511 Words
Pagi yang cerah untuk memulai hari. Chang Kyun melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah dengan bersemangat. Tampaknya perhatian Hyun Woo semalam masih membawa efek bahagia pada pemuda itu hingga pagi ini. Hei! Ini aroma Doyoung! “Doyoung!” panggil Chang Kyun pada sesosok pemuda yang baru saja melintas di sampingnya. Tidak ada respon. Chang Kyun terdiam. Apa dia salah tebak? Tidak, ia sudah hafal sekali dengan aroma tubuh kawannya itu. Atau lebih tepatnya, Chang Kyun hafal dengan setiap aroma tubuh orang yang dikenalnya. Chang Kyun mempercepat langkahnya untuk menyusul Doyoung yang sepertinya sudah memasuki kelas. “Doyoung. Aku tadi memanggilmu, apa kau tidak dengar?” tanya Chang Kyun seusai mendudukkan diri di bangkunya. Masih tak ada jawaban. Ada apa ini? Apa yang salah dengan sahabatnya? Tidak biasanya Doyoung diam seperti ini. Bahkan terkadang Doyoung yang akan menyapanya lebih dulu setiap pagi. “Jang Doyoung. Kau baik-baik saja?” tanya Chang Kyun kemudian menyentuh bahu Doyoung pelan. Dengan sedikit kasar Doyoung menepis tangan Chang Kyun dari pundaknya yang tentu saja membuat Chang Kyun terkejut. “Kenapa? Kau kenapa? Apa yang terjadi padamu? Apa aku sudah berbuat kesalahan padamu?” “Ya,” sahut Doyoung dingin tanpa menoleh. Chang Kyun terkesiap dengan jawaban dari mulut kawannya. “Ya? Tapi apa salahku?” Doyoung tak menjawab. Hal itu membuat Chang Kyun makin tak mengerti. Chang Kyun ingin menanyakan lebih lanjut alasan Doyoung mendiamkannya. Tapi niat itu ia urungkan ketika bel tanda dimulainya pembelajaran berbunyi dan Kim Seonsaengnim memasuki kelas untuk mengajar. #BLIND# Jam istirahat. Chang Kyun berada di kantin sendirian. Ya, sendiri. Sebab Doyoung sudah pergi entah ke mana setelah bel tanda istirahat berdering. Dengan sedikit kesulitan yang harus dihadapi, Chang Kyun akhirnya bisa membawa nampan berisi jatah makan siang di kantin hingga selamat sampai ke sebuah meja kosong. Bagaimana tidak? Biasanya ada Doyoung yang selalu membantunya mengabilkan jatah makan siang tersebut untuknya. Kau mungkin mengatai bahwa Chang Kyun manja. Tapi bukan itu kenyataannya. Bagi seorang tunanetra sepertinya, ia akan mengandalkan indra penciuman dan pendengarannya untuk dijadikan pengganti fungsi mata. Dan untuk Chang Kyun, yang bisa dikatakan memiliki ketajaman pendengaran sedikit lebih tinggi dibandingkan orang normal, ia akan kehilangan fokus jika berada di tempat seramai ini. Chang Kyun melahap makanannya tanpa selera. Pikirannya sedari tadi melayang-layang memikirkan perubahan sikap sahabatnya yang menurutnya aneh. Apa ia sudah membuat sahabatnya itu tersinggung? Apa Doyoung marah padanya? Tapi apa kesalahannya? Ia tak merasa berbuat salah kemarin. Bahkan kemarin mereka masih saling bergurau. Brakk “Hei, Buta!” Seseorang tiba-tiba menggebrak lapisan meja di hadapan Chang Kyun hingga menarik paksa Chang Kyun untuk kembali ke dunia nyatanya. “Ah ... ya?” sahut Chang Kyun kelabakan. “Ck! Apa yang kau lakukan di sini, hah?” tanya pemuda di hadapan Chang Kyun yang tak lain adalah Soon Young dan tentu saja diikuti Jin Woo di sampingnya. “Aku? Tentu saja makan. Apa lagi?” sahut Chang Kyun sambil mengangkat sumpit di tangannya. Soon Young tertawa. “Hei! Lihatlah orang buta ini, sangat menyebalkan.” Chang Kyun mengerutkan keningnya. Dia kenapa lagi? Pikirnya. “Kenapa? Apa aku berbuat salah?” tanya Chang Kyun kemudian. Brakk Kali ini Soon Young meletakkan nampan makan siangnya dengan kasar di atas meja. Jangan ditanya, hal itu jelas menarik atensi dari para penghuni kantin tersebut tak terkecuali Joo Heon yang ternyata juga berada di sana. “Hei! Hei! Joo Heon, apa kau tidak melihat itu? Chang Kyun sedang dalam masalah,” ujar Hyung Won setengah berbisik. Joo Heon hanya melirik malas ke arah sahabatnya kemudian melanjutkan kegiatan makannya tanpa ada niat untuk menyahut. Hyung Won memukul pelan kepala Joo Heon dengan sendok yang dipegangnya. “Yak! Apa yang kau lakukan?!” Joo Heon hampir tersedak karenanya. “Kau bodoh atau apa hah?! Adikmu sedang di-bully dan kau hanya diam saja? Aishh ... benar-benar, aku tidak percaya akan melihat hal semacam ini.” Hyung Won menggaruk kepalanya frustasi. “Masa bodoh dengan dia! Apa peduliku. Jika kau ingin membantunya, pergi sana dan jangan harap aku akan berbicara denganmu lagi,” sahut Joo Heon mengancam. “Apa?! Kau mengancamku?” pekik Hyung Won tak terima. “Kenapa? Apa salahku, huh?” Mereka saling menatap tak terima. Itu berlanjut hingga beberapa detik kedepan sampai pada akhirnya Hyung Won memilih mengalah dan melanjutkan makannya. Begitulah mereka jika sedang bertengkar. “Yak! Menyingkirlah dari sini, Sialan!” bentak Soon Young “Tapi kenapa?” Soon Young tersenyum miring. “Karena ini tempat kami.” “That’s right,” Jin Woo buka suara. Chang Kyun menghela napas. Tidak ada gunanya berdebat dengan seorang Ahn Soon Young. Ia berdiri sambil menenteng nampan makan siangnya. “Baiklah. Maaf, aku tidak tahu jika di sini adalah bangku kalian. Silakan duduk, aku akan mencari tempat lain,” ujar Chang Kyun yang kemudian beranjak. Bukan Soon Young jika tak membuat Chang Kyun sengsara. Dengan sengaja Soon Young menjulurkan kakinya ke depan sehingga membuat Chang Kyun kehilangan keseimbangannya kemudian terjatuh begitu saja. Tentu saja sekarang nampan berisi makanan tersebut tumpah isinya dan tidak sedikit dari kuah makanan tersebut mengotori seragam Chang Kyun. “Ya Tuhan! Kasian dia,” pekik salah seorang siswi. “Dia sudah buta tapi masih diperlakukan seperti itu,” ujar yang lainnya bersimpati. “Ck! Bukankah semua siswa d*********s di sekolah kita selalu bernasib begitu? Jadi biarkan saja,” timpal salah seorang lainnya. “Itu benar, dia harus menerimanya. Jika tidak mau, maka lebih baik pergi saja dari sini,” imbuh kawannya. Bisik-bisik mulai memenuhi kantin saat Chang Kyun terjatuh. Jangankan menolong, mereka justru mentertawakannya seakan hal itu adalah hiburan di sela makan siangnya dan sayang untuk dilewatkan. “Ouh ... maaf. Kakiku tadi keram jadi aku julurkan,” ujar Soon Young dengan tampang tanpa dosanya. “Hahaha ... pantas saja kau terjatuh. Kau pasti tidak melihat kaki Soon Young, kan, Tuan Im?” ucap Jin Woo di sela tawanya. Chang Kyun hanya bisa menghela napas menanggapi perlakuan dari teman kelasnya ini. Pemuda itu kemudian berdiri setelah susah payah mengabil nampan yang terjatuh sedikit jauh darinya. Tanpa mau memperpanjang urusan dengan dua iblis sialan itu, Chang Kyun segera bangkit dan mengembalikan nampan pada tempatnya kemudian berlalu meninggalkan kantin. Tak apa bajunya kotor dan menjadi bahan tertawaan, tapi hatinya sakit ketika mereka menyinggung soal kekurangannya. Memang apa salahnya menjadi buta? Apakah mereka tidak sadar jika setiap manusia itu pasti memiliki kekurangan? Manusia tidak ada yang sempurna kan? “Hei ... kau Chang Kyun, kan?” tanya seseorang tepat setelah Chang Kyun keluar dari kantin. “Ya?” “Masih ingat aku, kan? Aku Lee Min Hyuk,” ujar pemuda itu terdengar semangat. Chang Kyun tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Min Hyuk dan malah berjalan secepat mungkin pergi dari kantin meski pada akhirnya ia harus terjatuh karena menabrak seseorang di hadapannya. “Maaf,” ucap Chang Kyun pelan. “Hei, Chang Kyun! Apa yang terjadi padamu?” Kihyun segera membantu Chang Kyun untuk berdiri. Chang Kyun hanya diam dan menundukkan kepalanya. “Aigoo ... kenapa bajumu kotor sekali? Siapa yang melakukan ini padamu?” mata Kihyun membulat sempurna ketika melihat kondisi baju Chang Kyun yang sudah bercampur warna dengan kuah. “Ah ... ini bukan apa-apa, Hyung,” sahut Chang Kyun, mencoba untuk tersenyum. “Hei, Im Changkyun, kenapa tidak menjawab pertanyaanku?” Min Hyuk sudah berdiri di belakang Chang Kyun, ia tak terima jika diabaikan. Tanpa berkata lagi, Kihyun segera menarik lengan Chang Kyun dan membawanya ke suatu tempat. Sedangkan Min Hyuk hanya mengekor di belakang mereka tanpa tahu apa yang terjadi. Kihyun mengeluarkan seragam yang sama persis seperti yang dikenakannya dan menyerahkan pada Chang Kyun. “Pakailah,” kata Kihyun kemudian meletakkan baju tersebut ke telapak tangan Chang Kyun. Chang Kyun menerima pemberian tersebut dan merabanya sesaat. “Hyung, bukankah ini milikmu? Jika kau memberikannya padaku, lalu apa yang akan kau pakai?” Entah sejak kapan tangan Min Hyuk sudah berkalung di leher Chang Kyun. “Aishh ... kau ini. Pakai saja, tidak usah pikirkan Kihyun. Dia punya puluhan lebih seragam seperti ini,” ujar Min Hyuk kemudian mengacak puncak surai Chang Kyun dengan gemas. “Puluhan?” Chang Kyun membuka mulutnya tanda takjub. Asal kau tahu saja, harga seragam sekolahnya bisa dibilang cukup mahal. Changkyun sendiri hanya memiliki 3 stel di rumah. Kihyun terkekeh pelan melihat ekspresi takjub Chang Kyun. Ia imut, pikirnya. “Lupakan saja. Sekarang pergilah ke kamar mandi dan ganti bajumu. Ayo aku antar,” tawar Kihyun tapi ditolak oleh Chang Kyun. “Terima kasih, Hyung. Tapi kalian tidak perlu repot-repot mengantarku. Aku bisa melakukannya sendiri, lebih baik kalian lanjutkan kegiatan makan kalian saja,” tolak Chang Kyun secara halus. “Apa kau yakin?” Min Hyuk yang awalnya diam akhirnya buka suara. Chang Kyun menarik kedua sudut bibirnya, mengulas senyum di wajahnya. “Aku bukan anak kecil, Hyung,” sahut Chang Kyun, kemudian berlalu sebelum Min Hyuk berceloteh lagi. Mereka hanya bersungut menanggapi respon Chang Kyun. Kihyun mematung sesaat memandang tubuh Chang Kyun yang sudah menghilang di balik pintu. Huh, Anak ini memang tak suka merepotkan orang lain. “Ayo. Aku sudah lapar,” ajak Min Hyuk yang berhasil mengalihkan perhatian Kihyun. “Eoh.” #BLIND#
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD