BLIND-THIRTY EIGHT

1731 Words
“Haahh … udaranya sangat segar. Kau tahu kenapa? Karena petugas kebun menanam banyak tumbuhan di sini. Aku heran kenapa rumah sakit ini malah mirip taman yang sering kau kunjungi saat hari Minggu.” Joo Heon menangkap sedikit raut terkejut di wajah Chang Kyun saat dirinya mengatakan kalimat tersebut. “Maaf, sudah membiarkanmu sendirian di sana. Jika kau ingin marah, tidak apa-apa. Aku menerimanya. Tapi aku mohon jangan diam seperti ini, kasihan Eomma,” lanjutnya dengan wajah tertekuk. Chang Kyun menggelengkan kepalanya dengan cepat hingga rambut yang menutupi sebagian dahinya bergerak ribut. “A-aku tidak marah, aku tidak marah,” gumam bocah itu pada akhirnya. Joo Heon tertegun saat tahu jika Chang Kyun mengeluarkan suaranya. Tak begitu jelas, namun sudah cukup untuk membuat remaja itu tersenyum senang. Dipeluknya sang adik dari belakang kursi roda, dan membisikan sebuah kalimat singkat. “Kau adikku yang terbaik, aku menyayangimu.” Chang Kyun terkekeh saat mendapat pelukan tiba-tiba dari belakang tubuhnya. Hangat, pelukan Joo Heon terasa hangat. Joo Heon memutuskan untuk mengajak Chang Kyun duduk di salah satu bangku yang berada di tempat tersebut. Berdiri sambil mendorong kursi roda itu cukup melelahkan. Lagi pula dengan duduk di bangku, ia jadi lebih nyaman untuk mengajak sang adik mengobrol. “Hyung,” panggil Chang Kyun begitu mereka duduk. “Eoh, ada apa? Kau butuh sesuatu?” “B-boleh aku bertanya?” ucap Chang Kyun takut-takut. Joo Heon terkekeh, merasa jika ekspresi Chang Kyun terlihat lucu, “ tentu saja boleh. Kau tidur cukup lama, ada banyak hal yang sudah terjadi. Apa yang ingin kau tanyakan?” “Bagaimana keadaan Min Hyuk Hyung?” Raut muka Joo Heon mendadak keruh begitu pertanyaan tersebut terlontar. “Apa tidak ada hal yang lebih baik lagi selain menanyakan itu? Lagi pula untuk apa kau menanyakan keadaan orang yang bahkan hampir membuatmu kehilangan nyawa? Tidak sadarkah kau Chang Kyun? Dia itu seorang psikopat gila,” sahut Joo Heon mencoba menahan gejolak di d**a. “Tapi, Hyung. Dia ….” “Dia di penjara, dan baik-baik saja. Kau bisa mengunjunginya jika sudah pulih,” potong Joo Heon cepat sebelum Chang Kyun berucap lebih jauh. “Dan aku mohon berhenti membicarakan dia,” lanjutnya saat Chang Kyun kembali membuka mulutnya. “Apa aku sudah melewatkan sesuatu?” suara seseorang yang tak lain adalah Hyun Woo memotong ketengangan yang nyaris tercipta di antara keduanya. Hyun Woo tiba dengan membawa satu cup kopi di masing-masing tangannya. Dirinya mengambil tempat duduk di samping kiri Chang Kyun, sehingga kini posisi Chang Kyun berada di tengah-tengah antara Hyun Woo dan Joo Heon. “Untukmu,” katanya lantas menyerahkan satu cup kopi pada Joo Heon, tentu saja bocah itu menerimanya dengan senang hati. Tak lama kemudian dua orang yang lebih tua dari Chang Kyun itu menikmati kopi yang berada di tangan masing-masing, seakan melupakan eksistensi dirinya yang berada di antara mereka. “Hyung, lalu mana untukku?” protes Chang Kyun kemudian. Hyun Woo mengernyit. “Apa?” “Kau memberi Joo Heon Hyung kopi, lalu mana kopi untukku?” tanya anak itu dengan sedikit murung. “Bocah! Kau sedang sakit, mana boleh meminum kafein.” Bukan Hyun Woo melainkan Joo Heon lah yang menyahut. “A-aku tidak sakit, Hyung. Tidakkah kau dengar apa yang dokter katakan tadi pagi? Aku sudah sehat, dan dua hari lagi diperbolehkan pulang,” sahut Chang Kyun tak terima. Tak ayal hal itu membuat Hyun Woo terkekeh, apa dia baru melihat Chang Kyun merajuk meminta kopi? Ekspresinya benar-benar terlihat polos dan menggemaskan. Tapi mengapa sebelumnya bocah itu tak mau angkat bicara? “Ini! Aku membelinya khusus untukmu jadi minumlah, rasanya enak,” tutur Hyun Woo kemudian menyodorkan sebotol minuman pada Chang Kyun, tak lupa ia membukakan tutupnya. Seperti tak percaya apa yang diucapkan Hyun Woo, Chang Kyun menerima botol itu lantas mencium aromanya. Itu yogurt. “Hei! Kenapa kau menciumnya?” Joo Heon nampak heran dengan kelakuan Chang Kyun. “Dari mana aku bisa tahu apa minuman ini, jika aku tak mencium aromanya, Hyung?” sahut bocah itu dan membuat yang lebih tua bungkam seketika. Ketiganya terdiam beberapa saat dan sibuk dengan minuman serta pikiran masing-masing. Joo Heon nampak meruntuki ketidakpekaannya dan Hyun Woo yang sesekali menatap dua adiknya secara bergantian dengan ekspresi yang teduh. Pikirannya melayang pada apa yang sudah mereka lalui selama sepuluh tahun terakhir ini. Semenjak Tuan Lee tiada, Hyun Woo lah yang mau tak mau menggantikan perannya sebagai seorang kepala keluarga. Dalam hal ini tentu saja tidak termasuk pemenuhan kebutuhan finansial, karena hal itu tetap menjadi tanggung jawab Nyonya Lee. Menggantikan peran di sini ialah membantu ibunya dalam mengurus rumah tangga seperti mengantar-jemput Joo Heon ke sekolah, memperbaiki kran yang rusak, memperbaiki pagar tanaman, serta banyak lagi hal yang biasa ayahnya lakukan kini dia gantikan. Selama itu pula dirinya berusaha menerima keberadaan Chang Kyun seperti apa yang Tuan Lee sampaikan padanya. Sangat sulit pada awalnya, namun semakin ke sini rasa sayang kepada anak itu tumbuh dengan sendirinya tanpa harus dipaksakan. Namun untuk menunjukkan perhatiannya secara gamblang nampaknya sulit untuk dirinya yang memiliki sifat acuh, hingga dirinya hanya bisa melihat dari jauh anak itu meski nyatanya mereka tingga dalam satu atap yang sama. Mungkin itulah hal terbodoh yang pernah Hyun Woo lakukan, melihat pemberian berharga yang Tuhan berikan terluka tepat di hadapannya namun enggan mengulurkan tangan untuk menyembuhakan. Dan peristiwa yang saat ini terjadi mungkin adalah suatu kesempatan yang Tuhan berikan padanya untuk memperbaiki kebodohannya. “Chang Kyun.” Suara Hyun Woo memecah keheningan di antara mereka. “Ya?” tak hanya Chang Kyun, Joo Heon yang semula diam kini menoleh pada Hyun Woo. “Hyung ingin bertanya dan kau harus menjawabnya secara jujur.” Bocah itu nampak ragu, namun sesaat kemudian menganggukan kepalanya, menyetujui permintaan Hyun Woo. “Apa alasanmu diam selama nyaris dua hari ini?” tanya Hyun Woo, singkat, padat dan jelas serta langsung pada intinya. Joo Heon yang awalnya tak peduli, kini nampak setuju dengan pertanyaan Hyun Woo. Sementara itu, Chang Kyun malah terdiam dengan kepala menunduk seakan takut akan sesuatu. Hal itu tentu membuat Hyun Woo sedikit bingung sekaligus merasa tak enak hati. Apa dia sudah menyakan pertanyaan yang salah? “Jika kau tidak mau menjawab, tak apa jangan dipaksakan,” ucap pria tan itu kemudian. Chang Kyun menggeleng. “Tidak, aku hanya bingung dengan apa yang terjadi padaku sebelumnya, Hyung,” ujar bocah itu kemudian menghela napas. Keduanya, Hyun Woo dan Joo Heon, memilih diam dan menanti apa yang akan bocah itu katakan selanjutnya. Dan bocah itu mulai bercerita. “Entah apa yang terjadi. Aku terbangun di sebuah tempat yang begitu asing bagiku, aku takut dan benar-benar terkejut karena di sana aku bisa melihat. Aku tidak buta, hyung. Aku ingin pulang, tapi sejauh apa pun aku berjalan hanya ada rerumputan hijau di sana. Tak bisa kutemui jalan yang bisa membawaku pada kalian. A-aku benar-benar takut, tak ada siapa pun di sana selain diriku bahkan seekor semut pun tak ada,” papar Chang Kyun dengan suara tertahan, dia berhenti sesaat untuk menghela napas. “Aku berteriak, berlari ke sana-kemari namun hasilnya nihil, aku tak bisa pulang. Entah berapa lama aku berada di sana dan berlari terus-menerus, aku hampir menyerah. Namun aku menemukan sebuah pohon dengan batang besar dan kokoh, serta ranting yang dipenuhi dedaunan lebat. Hanya ada satu pohon di sana, jadi kuputuskan untuk mendekatinya. Dan betapa terkejutnya aku, karena di sana terdapat dua sosok yang sangat kukenal. Eomma dan Appa, mereka di sana,” satu bulir air mata lolos dari mata Chang Kyun saat mengatakan kalimat terakhir namun buru-buru ia menghapusnya. “Aku kira mereka melupakan aku, namun Eomma malah mendatangiku datang dan memelukku erat dan Appa pun sama. Dan sungguh, aku benar-benar bahagia saat itu. Kami duduk di bawah pohon itu dan menghabiskan banyak waktu bersama. Eomma mengusap kepalaku seperti yang sering dia lakukan dul dan rasanya pun masih sangan nyaman. Namun, mereka mengatakan jika aku harus pergi dari sana. Di sana bukan tempatku katanya. Mereka bilang jika ada yang menungguku. Memang siapa yang menungguku? Mereka hanya tersenyum dan menuntunku ke sebuah pintu. Sejak kapan pintu itu ada disitu? Entahlah, karena setelah Eomma membukakan pintu itu aku hanya bisa melihat kegelapan lagi.” Chang Kyun mengakhiri ceritanya dengan air mata yang lagi-lagi membasahi dua pipi yang nampak lebih kurus dari pada sebulan lalu. Hyun Woo dengan sigap memberikan pelukan dan menepuk bahu bocah itu perlahan, nampak mencoba mengalirkan ketenangan. Mungkin kejadian di bawah alam sadar yang Chang Kyun alami itu lah yang membuat bocah itu tidur cukup lama. “Maafkan aku, jika ternyata kalianlah yang menungguku. Maaf sudah membuat kalian khawatir terlalu lama,” ucap bocah itu di sela tangisnya. “Hei, hei. Ini bukan salahmu jadi jangan meminta maaf. Dengan kau mau kembali pada kami, itu sudah cukup. Jadi kumohon, tetaplah bersama kami,” balas Hyun Woo lagi yang dihadiahi anggukan oleh Chang Kyun. “Chang Kyun! Hyung menyayangimu, kami semua menyayangimu.” Joo Heon ikut memeluk bocah itu hingga lagi-lagi mendapatkan protes empunya karena merasa sesak dan terhimpit oleh dua orang berbadan jauh lebih besar darinya. Tak ayal hal itu membuat dua orang yang lebih tua tertawa dan semakin gencar dalam melancarkan aksinya dalam menggoda Chang Kyun. Akhirnya, tawa yang selama ini bersembunyi telah kembali. Matahari yang tertutup mendung kembali bersinar. Masa yang suram bagi Im Chang Kyun telah usai. Bahagia yang selalu menjadi harapan kini telah menyapa. Usianya masih sangat hijau, namun begitu banyak hal tak terduga sudah ia alami. Dan salah satu dari sekian banyak duri kehidupan berhasil dilaluinya. Kejadian demi kejadian di atas dapatlah ia jadikan pedoman dan pelajaran untuk menjalani fase hidup selanjutnya. Setiap manusia terlahir di bumi dengan kisahnya masing-masing. Akan ada masa bahagia yang membuat seakan hidupnya sudah sempurna. Dan akan tiba juga masanya di mana masalah datang silih berganti seakan tiada henti. Dan masa inilah yang akan menjadi saat-saat sulit bagi manusia itu, di mana mereka akan merasa jika dunia ini telah berlaku tak adil padanya dan berpikir dia jadi manusia paling menyedihkan di muka bumi ini, hingga berakhir dengan menyalahkan Tuhan. Lupakah manusia, jika Tuhan tidak akan memberikan kesulitan melebihi batasan umat-Nya? Hanya saja itu tergantung bagaimana manusia menanggapi ujian tersebut, terus melangkah atau lebih suka menyerah. Semua peristiwa yang terjadi, susah dan senang kehidupan adalah anugrah. Tak perlu terlalu berbangga jika sedang bahagia dan jangan terlalu terpuruk saat jatuh, karena roda kehidupan selalu berputar dan apa yang ada di dunia ini hanya bersifat sementara. Jadikan semua itu sebagai pelajaran untuk hidup yang lebih baik. #BLIND#
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD