Two Years Later
“Hei, Chang Kyun. Kenapa terburu-buru? Bukankah hari ini ada tugas kelompok di rumah Soon Young, apa kau lupa?” Jin Woo berlari kecil ke arah Chang Kyun yang sudah meninggalkan kelas terlebih dulu. Dia nampak sedikit terburu.
“Eoh! Maaf, aku lupa jika nanti ada tugas kelompok. Tapi Jin Woo, aku akan pergi ke suatu tempat bersama Joo Heon Hyung. Dia sudah ada di depan,” sahut Chang Kyun dengan telunjuk mengarah pada tempat yang dimaksud.
“Tidak apa-apa, kau pergi saja. Tugas kelompok bisa kita undur. Aku juga sedang malas,” celetuk Soon Young yang tiba-tiba muncul dari belakang Jin Woo.
“Yak! Kau! Tugas itu harus dikumpulkan minggu depan, dan kau bisa berkata sesantai itu?” balas Jin Woo tak habis pikir.
“Hey, calm down, calm down. Tidak usah berlebihan, lagi pula kau pikir kita bisa mengerjakan semua tugas itu tanpa si jenius ini? Yang benar saja. Otakmu itu bahkan tak lebih baik dariku,” telak Soon Young yang membuat Jin Woo terdiam.
“Maaf, semuanya,” ucap Chang Kyun menyesal.
“Baiklah, baiklah. Aku tidak akan memaksa, kau pergilah. Joo Heon Sunbae pasti sudah menunggu, aku akan ke rumahmu saja nanti dan setidaknya kita bisa membuat sedikit rancangan untuk besok.”
“Terima kasih. Aku pergi dulu,” Chang Kyun melambaikan tangannya lantas meninggalkan dua kawannya yang masih lempar ejekan.
Soon Young tersenyum prihatin ketika melihat sosok Chang Kyun yang semakin menjauh.
Pemuda itu berucap, "syukurlah, sangat melegakan dia terlihat baik-baik saja."
Jin Woo menyahut, "Kau khawatir jika anak itu akan benar-benar menutup diri setelah Doyoung pergi?"
"Entahlah," acuh Soon Young yang lantas melangkahkan kakinya dengan santai.
#BLIND#
“Halo, Hyung. Maaf aku baru bisa datang, akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Tahun terakhir memang benar-benar melelahkan. Banyak sekali tugas yang Seonsaengnim berikan, dan juga berbagai latihan ujian yang mereka berikan tiap hari membuatku pusing,” ucap bocah itu diiringi dengusan ringan.
Tak ada sahutan dari lawan bicara, namun bocah itu tetap melanjutkan keluhannya. Di sisi lain, terdapat Joo Heon yang mengamati kelakuan adiknya sembari mendengarkan musik melalui ponsel kesayangannya. Ia tak terlalu tertarik dengan apa yang bocah itu lakukan. Lagi pula hal semacam ini sudah sering Changkyun lakukan dan selalu dirinya yang menjadi tukang antar. Huh, enak sekali Hyun Woo yang malah pergi berkencan dengan pacarnya sementara dirinya? Jangankan kencan, pulang lebih dari jam sebelas saja Nyonya Lee masih sering mengomel. Padahal dia sudah bukan bocah ingusan lagi.
“Dua minggu lalu, aku keluar dari klub piano. Aku tahu, Kihyun Hyung akan marah jika tahu aku keluar dari klub kesayangannya. Padahal dia sangat mendukungku untuk jadi pianis. Hehe … mau bagaimana lagi, sepertinya musik bukan bakatku. Setelah kupikir-pikir lagi, sepertinya aku ingin menjadi seperti Appa-ku. Aku ingin jadi ilmuan. Keren, ‘kan? Tentu saja, karena ayahku dulu juga keren.”
Chang Kyun melirik arloji di pergelangan tangan kirinya. Ternyata nyaris dua jam dia berbicara di sana dan diliriknya Joo Heon yang sudah mulai berjalan resah kesana-kemari dengan bibir bergumam tidak jelas, tanda jika batas sabarnya mulai terkikis. Astaga, Hyung yang satu itu.
“Maafkan aku, Hyung. Sepertinya percakapan kita cukup sampai di sini saja. Tak apa-apa, aku akan berkunjung lagi dan kita bisa lanjutkan cerita ini. Aku pergi, sampai jumpa.”
Bocah itu lantas berbalik dan berlari kecil ke arah Joo Heon dengan senyum tanpa dosanya. Hal itu tentu saja langsung ditanggapi Joo Heon dengan omelan-omelannya. Namun tak berlangsung lama karena Joo Heon merangkul bahu sang adik dan mengajaknya kembali. Tentu saja dengan mobil, karena pemuda berlesung pipit itu telah mendapatkan ijin mengemudinya sejak usianya menginjak kepala dua.
"Jangan terlalu sering berkunjung kemari," ujar Joo Heon, namun dengan cara yang bersahabat.
"Memangnya kenapa, Hyung?"
"Kau membuatku cemburu."
Chang Kyun tersenyum lebar mendengar hal itu.
"Kau tersenyum? Kenapa? Kau sedang mengejekku?"
Chang Kyun menggeleng, masih dengan seulas senyum yang tertahan di wajahnya.
Pemuda itu kemudian berucap, "saat lulus SMA nanti, aku akan pergi berkencan."
"Apa?!" pekik Joo Heon yang seketika menghentikan langkahnya. Hal itu pula yang membuat langkah Chang Kyun terhenti.
Joo Heon terlihat tak terima. "K-kenapa kau mengatakan hal itu? Siapa yang mengizinkanmu untuk berkencan? Siapa bilang kau boleh mendekati seorang gadis?"
"Aku sudah dewasa, haruskah aku meminta izin terlebih dulu jika ingin berkencan?"
"Tentu saja!" jawab Joo Heon dengan semangat dan berucap dengan gugup setelahnya, "L-lagi pula, siapa yang mau berkencan dengan kutu buku sepertimu?"
Cukup menyakitkan memang, namun hal itu kini terdengar lucu di telinga Chang Kyun saat ini. Karena u*****n apapun yang keluar dari mulut Joo Heon saat ini bukan keluar untuk menyakiti Chang Kyun. Dan lagi pula Joo Heon juga mengatakannya dengan nada bercanda.
Chang Kyun lantas menyahut dengan penuh percaya diri. "Meskipun kutu buku, aku memiliki otak yang genius dan juga wajah yang tampan. Banyak gadis menyukaiku."
"Apa-apaan ini?" Joo Heon tersenyum tak percaya. "Siapa yang menganggapmu tampan? Memangnya kau yakin jika kau memiliki wajah yang tampan?"
Chang Kyun mengangguk yakin. "Para gadis yang aku lewati selalu berbisik-bisik. Mereka mengatakan kenapa ada orang bisa setampan dia? Omo! Bahkan dia lebih tampan dari pacarku, aku ingin berkencan dengannya jika ada kesempatan ... para gadis mengatakan hal itu."
Joo Heon memandang dengan wajah yang mengernyit. "Begitu rupanya ... aku tidak percaya jika inilah sifatmu yang sesungguhnya."
Chang Kyun tersenyum lebar. "Aku akan berkencan lebih dulu dibandingkan dengan Hyung."
Chang Kyun lantas melangkahkan kakinya dengan ringan meninggalkan Joo Heon yang tersenyum tak percaya sebelum menyusul pemuda itu.
"Ada batu di depanmu," lantang Joo Heon.
"Aku tidak akan tertipu lagi," sahut Chang Kyun. Pasalnya Joo Heon sering mempermainkannya dengan mengatakan bahwa ada batu di depannya. Dan ketika Joo Heon mengatakan hal itu, pemuda itu langsung melompat. Lalu setelahnya tawa pemuda bermata sipit itu terdengar.
"Kali ini aku serius," sahut Joo Heon.
Chang Kyun tetap acuh dan satu detik kemudian pemuda itu terjungkal ketika ucapan Joo Heon kali ini memang benar. Hal itu membuat Joo Heon tertawa puas dan Chang Kyun merasa malu.
"Eih ... kenapa dia tidak percaya padaku?" gumam Joo Heon, menatap prihatin.
"Hyung ... cepatlah kita akan terlambat jika tidak buru-buru." Lantang Chang Kyun, melayangkan protesnya.
"Aku datang ..." sahut Joo Heon yang berlari kecil menghampiri Chang Kyun. Dan setelahnya keributan kecil terdengar di sana.
#BLIND#
Nama : Lee Minhyuk
Tanggal Lahir : 03 November
Tanggal Kematian : 26 Juni
Usia : 19 tahun
#BLIND#
Sebuah kisah yang pada akhirnya menemukan masa terbaik untuk mengakhiri kesedihan. Pada akhirnya Tuhan kembali mengizinkan satu ciptaannya untuk mendapatkan kebahagiaan sebanyak penderitaan yang telah dilalui.
Meninggalkan luka di belakang punggungnya yang mungkin bisa saja kembali merengkuhnya setiap saat, Chang Kyun mulai memberanikan diri untuk bermimpi ketika kasih sayang yang tertunda itu telah ia dapatkan.
Dalam kegelapan itu bukan hanya ada kekosongan. Namun dalam dunianya yang gelap ini, kehangatan merengkuh jiwanya. Membimbingnya keluar dari dinginnya kegelapan.
Tapi, bukankah hidup tidak selalu harus berjalan lurus?
Itulah yang terjadi ketika kisah ini tetap berlanjut.
Pada dasarnya, impian masa remaja adalah pegangan untuk seseorang melihat masa depan dengan cara yang lebih baik. Namun bukan berarti impian saat remaja akan menjadi masa depan itu sendiri. Nasib manusia terus berubah seiring dengan minat mereka yang berubah.
Di masa depan, ketika waktu itu telah kita capai. Kita akan memutuskan, apakah impian saat remaja itu merupakan masa depan atau hanya sebagai pertahanan diri. Kita akan mengetahuinya, ke mana jalan yang kita lewati akan membawa kita.
Kesedihan dan kebahagiaan, kegelisahan dan kedamaian, ketakutan dan keberanian. Manusia selalu berada diantaranya. Kita membuat keputusan, namun pada akhirnya waktu yang akan membuat kita menemukan jawaban yang telah direncakan oleh Tuhan terhadap keputusan kita.
Kisah masih akan berlanjut ketika seseorang memilih untuk tetap berjalan. Begitupun dengan kisah ini.
Im Chang Kyun masih harus menghampiri waktu di mana akan menjawab, apakah impian masa remajanya merupakan masa depan yang akan ia miliki. Atau hanya akan menjadi harapan yang membuatnya bisa bertahan hingga akhir.
Tapi ... bagaimana jika Im Chang Kyun mampu melihat warna lain dari dunia?
Akankah dia akan hidup dengan cara yang sama?
Ataukah semuanya akan menjadi berbeda?
Inilah waktu yang dibutuhkan oleh Im Chang Kyun. Ketika warna lain dari dunia berhasil menyingkirkan kegelapan dari kehidupannya.
Ketika ia melihat warna lain dari dunia. Pemuda itu, memandang dunia dengan cara yang berbeda.
Sangat-sangat berbeda.
Lima tahun, apakah itu waktu yang cukup bagi Im Chang Kyun untuk melihat dunia dengan cara berbeda?
Lima tahun?
Apa yang terjadi pada saat itu?
#BLIND#
PS : ini adalah awal dari cerita lainnya