Mereka sudah selesai dengan acara berbelanjanya dan sekarang sedang berhenti di salah satu kedai makanan dekat pusat perbelanjaan tadi guna mengisi perut, atau lebih tepatnya perut Joo Heon. Huh, Hyun Woo tak habis pikir dengan pemuda berlesung pipi itu. Bagaimana tidak? Tadi saja mereka sudah membeli makan di pusat perbelanjaan, dan sekarang begitu keluar dari tempat tersebut Joo Heon merengek lapar. Heol, apa perutnya terbuat dari karet yang bisa melar?
Hancur. Hyun Woo hanya bisa pasrah jika Nyonya Lee mau menelannya bulat-bulat.
“Hyung, aku ingin beli manisan sebelah sana,” jari Joo Heon menunjuk pada salah satu pedagang di trotoar.
Hal itu membuat Hyun Woo semakin menganga sekaligus kesal. Bolehkah ia mengumpati Joo Heon sekarang? Dia rasa tidak, ada Chang Kyun di sana yang anteng-anteng saja dan mau menuruti ajakan Joo Heon untuk ditarik kesana-kemari. Bocah itu masih diam dan menikmati lolipop pemberian Joo Heon tadi karena anak itu menolak untuk makan dengan alasan sudah kenyang. Kasihan juga dongsaeng manisnya ini, mendapat kasih sayang dari seorang Lee Joo Heon ternyata melelahkan.
“Hyung!”
Suara keras Joo Heon membuat Hyun Woo dan Chang Kyun tersentak, apa lagi bocah itu sedang enak-enaknya memainkan lolipop di mulutnya.
“Ah, kenapa?! Pergi dan belilah sendiri, aku sudah lelah. Biar aku dan Chang Kyun di sini, kau pikir tidak lelah mengikutimu sedari tadi, huh?” ketus Hyun Woo.
“Ya! Siapa juga yang akan mengajakmu? Aku hanya bilang ingin beli, jadi tunggu saja di sini,” balas Joo Heon tak kalah sengit.
Joo Heon segera bangkit dan berlari kecil ka arah pedagang yang dimaksudnya. Meninggalkan Hyun Woo dan Chang Kyun yang terheran-heran dengan sikap Joo Heon.
“Eoh, bagaimana perasaanmu? Ah, aku yakin kau pasti lelah harus mengikuti keinginan Joo Heon ini dan itu. Bocah itu memang seperti itu jika sudah menyangkut tentang makanan,” tutur Hyun Woo sedikit terkekeh.
“Tidak, aku justru merasa sangat senang. Sungguh, hari ini aku sangat bahagia bisa menghabiskan waktu bersama hyungdeul. Jika Eomma ikut pasti akan lebih menyenangkan, ia pasti akan memarahi Joo Heon Hyung karena terlalu banyak membeli makanan,” Chang Kyun tak bisa menahan senyumnya saat membayangkan Joo Heon dimarahi oleh Nyonya Lee.
Melihat Chang Kyun tersenyum membuat Hyun Woo ikut menarik kedua sudut bibirnya untuk membuat kurva. Tangannya terulur untuk mengusap surai legam milik Chang Kyun.
“Aku mengerti, lain kali kita bisa berlibur bersama. Kurasa Eomma akan ada waktu luang bulan depan,” sahut Hyun Woo dengan lembut.
“Eum, aku sangat menantikannya,” balas Chang Kyun diikuti senyum semangatnya.
Ddrrrttt ddrrrttt ddrrrttt
Hyun Woo merogoh saku hoodie yang dikenakakannya. Cuaca memang panas, tapi tidak melunturkan kegemaran namja itu untuk selalu mengenakan hoodie di atas kaos yang menempel di tubuhnya.
“Kau tunggu di sini. Aku akan mengangkat panggilan dari dosenku sebentar. Jangan, kemana-mana, oke?” ujar Hyun Woo kemudian beranjak ke sudut tempat yang lebih jauh dari keramaian kedai. Ucapannya dibalas dengan anggukan patuh oleh Chang Kyun.
Sepeninggal Hyun Woo, Chang Kyun lantas menangkupkan kedua lengannya ke atas meja dan menggunakannya sebagai tumpuan kepala. Sebenarnya ia sudah sangat lelah sekarang. Menghabiskan waktu seharian untuk berbelanja ternyata melelahkan, ditambah dengan Joo Heon yang terus menariknya kesana-kemari dan makan terlalu banyak membuatnya mengantuk.
Ia nyaris saja terlelap jika saja tidak ada sesuatu yang tiba-tiba mengusik kenyamanannya. Sebuah tepukan mendarat di punggungnya.
“Im Chang Kyun?”
“Y-ya? S-siapa?” Chang Kyun langsung menegakkan tubuhnya dan sedikit tergagap begitu namanya dipanggil oleh seseorang yang tak dikenalinya.
“Bisa ikut denganku sebentar?” sahut orang tersebut tak membalas pertanyaan Chang Kyun.
“Maaf, anda siapa? Ada perlu apa dengan saya?” Chang Kyun mulai was-was, aura dari pria tak dikenalnya ini membuatnya takut.
“Cukup ikut aku dan jangan banyak bertanya!” ujar pria tersebut lirih dan penuh penekanan.
“T-tidak, Hyung menyuruhku untuk tetap di sini, dan sebentar lagi dia kembali. Jadi tunggu saja sebentar,” balas Chang Kyun bersikukuh.
Pria itu terkekeh pelan lantas meraih pergelangan tangan Chang Kyun dan mencengkramnya erat.
“Jika kau menolak, kakakmu yang di luar sana akan terluka,” tutur pria tersebut dengan tatapan mengarah pada Joo Heon yang tengah sibuk dengan ponselnya saat menanti manisan pesanannya.
Chang Kyun sendiri tidak tahu pasti siapa yang dimaksud orang tersebut. Namun, tubuhnya langsung menegang mendegar ancaman pria tersebut. Apa dia orang jahat?
“Ikut aku dan jangan sampai menarik perhatian,” bisik pria tersebut lantas mengalungkan lengannya ke bahu Chang Kyun dan menuntunnya meninggalkan kedai yang mulai ramai pengunjung.
#BLIND#
Joo Heon sampai dengan sekantong yang sudah dipastikan adalah manisan keinginannya, namun ia dibuat bingung karena tak mendapati Hyun Woo maupun Chang Kyun di sana.
“Eoh, ke mana perginya mereka?” gumam Joo Heon dengan mata memburu ke segala arah. Tatapannya berhenti pada Hyun Woo yang sedang sibuk bercakap dengan seseorang di sebrang telepon. Jika Hyun Woo ada di sana, lalu mana Chang Kyun?
Joo Heon memutuskan untuk duduk di bangku semula dan menanti Hyun Woo selesai dengan acara berteleponnya. Netra sipit Joo Heon tiba-tiba tertuju pada tongkat Chang Kyun yang tergeletak di atas meja. Sepertinya ada yang janggal. Bocah itu tidak ada di sini tapi tongkatnya tergeletak nyaman di meja.
Hyun Woo mengakhiri panggilannya dan kembali menuju meja semula.
“Mana Chang Kyun?"
"Hyung, di mana Chang Kyun?”
Mereka mengutarakan tanya secara bersamaan. Dua detik setelah itu keduanya saling melemparkan tatapan bingung.
“Joo Heon, di mana Chang Kyun?” Hyun Woo kembali melontarkan kalimat tanyanya.
“Yak! Hyung, jangan bercanda. Aku baru saja selesai membeli pesananku, seharusnya kau yang pantas mendapatkan pertanyaan itu.”
Hyun Woo menggaruk tengkuknya tanda ia sedang gugup.
“A-aku ... tadi aku mengangkat panggilan dari dosenku dan menyuruhnya tetap duduk di sini,” sahut Hyun Woo tergagap.
“Nyatanya Chang Kyun tidak di sini,” sanggah Joo Heon yang sebenarnya mulai khawatir.
Pemuda itu melempar kantong manisan yang sedari tadi digenggamnya ke atas meja. Sungguh, ia memang orang yang sangat mudah gelisah jika dihadapkan pada hal yang tak terduga seperti ini.
“Hyung, bukankah itu lolipop yang kuberikan padanya?” tangan Joo Heon menunjuk pada batang lolipop yang tergeletak di lantai tempat mereka berpijak.
Tak tinggal diam, Hyun Woo mengedarkan pandangannya ke sekeliling kedai yang berukuran cukup besar. Menelisik tiap sudut, dan berharap jika Chang Kyun berada di sana yang nyatanya nihil, tidak ada tanda-tanda keberadaan bocah itu di sana.
Atensi Hyun Woo beralih pada arloji di pergelangan tangannya.
“Aku rasa sekitar lima belas menit aku meninggalkannya sendiri. Ayo, aku harap jika ia pergi mungkin masih belum terlalu jauh,” dengan sigap Hyun Woo segera membayar makanan yang tadi mereka beli.
Saat ini Joo Heon hanya pasrah begitu Hyun Woo menarik lengannya secara tergesa dan membawanya keluar dari kedai.
Mereka menelusuri jalan sekitar kedai tersebut dan berhenti pada seorang wanita yang tengah duduk di bangku halte dengan anak kecil di pangkuannya.
“Permisi,” sapa Hyun Woo seramah mungkin.
Wanita itu menoleh pada kedua namja yang tengah berdiri tegap di hadapannya. Sejenak menatap bingung namun kemudian membalas sapaan Hyun Woo dengan senyuman.
“Ya, ada apa, Nak?”
“Bibi, apakah Bibi melihat seorang anak setinggi ini.” Hyun Woo lantas menaikkan tangan hingga setinggi bahu miliknya. “Dia memakai jaket sepertiku dan mengenakan celana selutut warna putih,” jelasnya sedetail mungkin.
“Dia tidak bisa melihat,” imbuh Joo Heon meski ia sendiri tidak yakin jika wanita di hadapannya ini bisa mengenali kebutaan Chang Kyun karena bocah itu tak membawa tongkatnya.
Wanita tersebut terdiam sejenak. Mencoba mencerna setiap kalimat yang diucapkan oleh dua pemuda di hadapannya sembari mengusap surai putranya. Akan sulit untuk menemukan bahkan sekedar melihat anak dengan ciri-ciri yang Hyun Woo sebutkan mengingat ia belum lama duduk di halte tersebut dan keadaan sekitar yang bisa dibilang ramai dengan manusia berlalu-lalang. Dia juga tidak terlalu memperhatikan keadaan sekitar karena anaknya sedang merengek ingin segera pulang. Tak ada yang bisa menarik atensinya dari sang anak kecuali satu hal.
“Aigoo! Aku ingat,” wanita itu berucap dengan bersemangat setelah mengingat sesuatu.
Hyun Woo maupun Joo Heon lantas menatap wanita tersebut penuh harap. Semoga mereka mendapat informasi tentang Chang Kyun dari wanita tersebut.
“Ya, aku pernah melihat anak dengan ciri-ciri seperti yang kau sebutkan, aku tidak tahu dia buta atau tidak. Dan, dia berjalan ke arah sana,” wanita itu menujuk pada sebuah gang, “dan dia bersama dengan seorang pria, tapi sedikit aneh menurutku karena bocah itu seperti dipaksa untuk ikut pria tersebut karena ia terlihat sedikit berontak ketika pria itu menarik lengannya. Kupikir mereka ayah dan anak,” ujar wanita itu detail.
Keduanya sontak menoleh ke arah tunjuk wanita itu. Saling pandang sejenak, lewat tatapan mata keduanya sama-sama menggambarkan kekhawatiran. Berdasarkan informasi yang baru saja mereka dengar, bisa dipastikan jika itu bukanlah hal yang baik.
“Ah, baiklah. Terima kasih. Kami akan mencari adik kami,” Hyun Woo menarik lengan Joo Heon dan menariknya agar membungkuk hormat pada wanita di hadapannya.
Dengan terburu mereka berlari ke tempat yang ditunjukkan wanita tadi. Tempat itu adalah sebuah gang persimpangan menuju sebuah perumahan penduduk yang tidak begitu besar. Jalan yang cukup untuk dilewati sebuah mobil mungkin.
Tak ada yang mereka temukan di sana. Bahkan jalan itu tampak lenggang, seperti penghuni perumahan tersebut sedang tak berada di rumahnya. Hal ini membuat mereka semakin yakin jika suatu hal yang buruk telah terjadi.
“Ti-tidak … Chang Kyun tidak mungkin hilang, kan, Hyung?” Joo Heon terduduk lemas di tepi trotoar, tangannya meremas kuat surainya yang mulai lepek karena keringat.
Tangan Hyun Woo terangkat untuk mengusap bahu Joo Heon. Berusaha untuk memberi ketenangan pada adiknya meski dirinya sendiri juga dirundung gelisah.
“Chang Kyun tidak hilang, mungkin dia masih ada di sekitar sini. Kita hanya perlu sedikit usaha lagi. Tenangkanlah dirimu, aku akan memberitahu Eomma dahulu,” ujar Hyun Woo walau ia sendiri tak yakin dengan apa yang dia ucapkan.
Joo Heon mendegus, “bagaimana aku bisa tenang jika saat ini Chang Kyun tidak ada bersama kita?! Dia bukan tipe yang suka pergi seenaknya saat sudah mendapat perintah untuk menunggu. Aku yakin seseorang adalah dalang di balik semua ini dan aku yakin siapa yang pertama patut di curigai,” tuturnya penuh emosi.
#BLIND#
“Eungh ….” Lenguhan meluncur begitu saja saat bocah itu tersadar dari tidurnya.
Ia sedikit menggeliat namun tertahan begitu sesuatu menahan tangannya yang hendak bergerak untuk memijit pelipisnya yang sedikit berdenyut.
“Shhhh ….” sakit, seperti ada yang menahannya untum bergerak.
Chang Kyun mencoba untuk duduk dari posisi yang semula terbaring dengan kaki dan tangan yang terikat ke belakang. Masih ada sedikit rasa pusing yang ia dapat saat dirinya berhasil mendudukan diri. Namun hal itu tidak sebanding dengan ketakutan yang menyelimuti dirinya saat ini. Di mana ia terbangun di tempat asing nan sunyi dengan posisi tubuh terikat.
“D-di mana ini?” lirihnya dilingkupi takut.
Tangan di belakang tubuh bergerak mencoba untuk melepas ikatan yang mengekangnya, namun sekuat apa pun ia mencoba sama sekali tak merenggang dan beruntung hoodie yang ia pakai melindungi kulitnya dari gesekan tali yang kasar. Tetapi tidak untuk kedua kaki miliknya, terbukti sekarang sensasi perih telah menjalari pergelangan kaki Chang Kyun yang tak terlindungi oleh sehelai kain pun. Salah Chang Kyun sendiri memang, yang sangat suka mengenakan celana selutut bahkan saat bepergian.
“Bagaimana ini? Kenapa kencang sekali? Tidak bisa lepas,” ucap Chang Kyun dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuknya, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat agar cairan itu meluncur dan mengaliri pipinya.
Ia panik dan takut, tentu saja. Terbangun di tempat asing yang tidak ia ketahui dengan tangan dan kaki terikat. Sunyi dan mencekam bahkan udaranya terasa menyesakkan walau Chang Kyun yakin tempat itu terdapat banyak ruang terbukanya dari pada pintu yang tertutup rapat. Benar-benar menakutkan bagi bocah itu.
Lagi, Chang Kyun menggerakkan tangannya agar tali yang mengekang terlepas atau setidaknya sedikit mengendur. Meskipun tidak melukai, tetapi jika duduk di lantai terus-menerus dengan posisi terikat menbuat tubuhnya kebas.
Tap
Tap
Tap
Bunyi langkah kaki mendekat, dan dapat Chang Kyun pastikan itu mendekat ke arahnya. Anak itu semakin ribut menggerakan tangan dan kakinya, masih berharap agar ikatannya terlepas.
“Sudah bangun rupanya,” ucap orang tersebut dingin yang membuat Chang Kyun menghentikan kegiatannya, bocah itu mendongakkan kepalanya.
“Jika yang kau lakukan bertujuan untuk melepaskan ikatannya, lebih baik kau berhenti nak. Ikatan itu tak akan terlepas semudah itu, apa lagi oleh bocah kecil sepertimu,” lanjut pria tersebut lantas mengusap puncak surai Chang Kyun yang membuat bocah itu sedikit tersentak dan memundurkan tubuhnya.
Pria itu berjongkok dihadapan Chang Kyun.
“Sstt ... jangan takut, aku tidak menyakitimu. Jadi tenanglah dan tunggu waktunya tiba, kau mengerti?” tangan pria itu terulur untuk menghapus air mata yang sudah menganak sungai di pipi Chang Kyun.
Bocah itu menggeleng, “tidak, biarkan aku pulang, Ahjussi … hiks … aku mohon,” ucapnya mengiba.
Chang Kyun tidak bisa menahan air matanya lebih lama lagi. Ia terlalu takut dengan apa yang di hadapinya saat ini. Aura mencekam dari laki-laki di hadapannya ini benar-benar membuat dadanya sesak.
“To-tolong lepaskan aku, aku mohon.” Chang Kyun kembali berujar lirih.
Tak mengindahkan permohonan Chang Kyun, pria tersebut bangkit dan berjalan menjauh. Mengabil benda pipih dari saku celananya, memencet beberapa digit angka tujuan lantas menempelkan benda tersebut ke telinganya. Menunggu sebentar, sebelum akhirnya seseorang yang di sebrang mengangkat panggilannya.
“Halo,” sapanya setelah terhubung.
“…..”
“Eoh, aku mendapatkannya. Aku sudah membawanya ke tempat yang kau maksud.”
“…..”
“Baiklah-baiklah, aku juga belum melakukan apa pun setidaknya sampai saat ini. Datanglah sendiri jika kau ingin melihatnya,” lanjut pria tersebut lantas mengakhiri panggilannya.
Ia mengarahkan pandangannya pada Chang Kyun lantas kembali mendekat.
“Sembari menunggu inti, bagaimana jika kita bermain sebentar, manis,” ucapnya dengan seringai.
#BLIND#
“Kalian! Apa yang kalian lakukan hingga menjaga satu anak saja bisa menghilang!”
“M-maaf, ini salahku ....”
“T-tidak, i-ini semua salahku. Andai aku tidak egois menuruti nafsuku untuk membeli makanan, pasti aku ada di samping Chang Kyun sampai Hyun Woo Hyung selesai menelpon.” Joo Heon memotong ucapan Hyun Woo sebelum pemuda itu berucap lebih jauh lagi. Tak lupa ekspresi penuh penyesalan mengihiasi wajahnya.
Ya, keduanya langsung bertolak ke rumah begitu Hyun Woo menelpon Nyonya Lee. Sebenarnya Joo Heon masih memaksa untuk mencari Chang Kyun dan menemui orang yang ia curigai. Namun, kemarahan Nyonya Lee memaksa mereka untuk segera kembali ke rumah.
Dan di sinilah mereka, duduk berjajar di atas sofa dalam ruang keluarga bersama Nyonya Lee yang berdiri dengan tangan memijit pelipisnya. Bentakan tadi bukanlah kemarahan namun lebih tapatnya kekhawatiran akan hilangnya Chang Kyun. Tak lama kemudian, ia akhirnya juga terduduk dengan air mata yang sudah mengalir.
“Bagaimana? Bangaimana ini?”
Mereka bingung harus mencari Chang Kyun ke mana. Tak ada kejelasan tentang keberadaan Chang Kyun sekarang, sedangkan meminta bantuan polisi pun tak ada gunanya. Mereka tidak akan bertindak jika waktu menghilang belum satu kali dua puluh empat jam. Andai Chang Kyun memegang ponsel, mungkin masih ada kesempatan untuk melacak dengan GPS pada ponsel tersebut, yah, meskipun kemungkinan itu juga kecil karena bisa jadi si penculik sudah membuang ponsel itu di suatu tempat. Oh, tunggu, apa mereka sudah menyimpulkan bahwa itu adalah penculikan?
Joo Heon tiba-tiba berdiri dari duduknya dan menyambar hoodie yang semula bertengger di punggung sofa.
“Kau ingin pergi ke mana?” tanya Nyonya Lee sebelum Joo Heon melangkah.
“Aku harus pergi menemui seseorang, Eomma dan Hyung, kalian berusahalah untuk meminta bantuan atau kenalan kalian untuk mencari Chang Kyun. Semua tak akan berubah jika kalian hanya diam dan meratap,” ujar Joo Heon yang lantas berlalu meninggalkan Nyonya Lee dan Hyun Woo yang ternganga karena ucapannya barusan.
Apa mereka baru saja mendapat nasehat dari seorang bocah?
#BLIND#