“Hari sudah larut, bagaimana jika kalian aku antar sampai rumah? Lagi pula kalian pulang terlambat juga karena diriku,” tanya Min Hyuk dengan mata menatap arloji di pergelangan tangannya. Dia termasuk orang yang sangat disiplin waktu, jika kau ingin tahu.
Oh, ya. Sebenarnya penampilan Kihyun sudah selesai sekitar satu setengah jam yang lalu dan mereka juga sudah berbincang-bincang dengan Kihyun usai penampilannya. Dan beruntungnya Joo Heon yang sebenarnya tidak punya tiket untuk menyaksikan permainan piano tersebut akhirnya bisa ikut duduk di dalam setelah Min Hyuk bersusah payah membujuk penjaga agar membiarkannya masuk dengan alasan menjaga sang adik. Bukan, bukan karena tiket yang tidak mampu dibeli. Tapi memang tiket untuk menonton penampilan para pianist itu memang sudah dijual sebulan sebelum pertunjukan dimulai.
Mereka menghabiskan waktu satu setengah jam setelahnya untuk mengikuti Min Hyuk yang ingin makan nasi goreng kimchi dan es krim, sekalian makan malam katanya. Dan sekarang sudah pukul 21.45 KST, dan bus sudah jarang melintas. Itu berarti dua bocah ini otomatis menjadi tanggung jawab Minhyuk sebagai yang tertua di antara mereka.
“Tidak terima kasih, Sunbae. Aku akan pulang bersama Chang Kyun,” tolak Joo Heon yang lagi-lagi membuat Min Hyuk memutar bola matanya malas, sedangkan Chang Kyun hanya diam memainkan ujung tali hoodie Joo Heon yang melekat di tubuhnya.
“Hei, Bung. Bukan apa-apa. Aku hanya tidak ingin kalian pada akhirnya pulang berjalan kaki karena bus sudah tak lewat. Aku tak masalah jika itu kau tapi apa kau tidak kasihan pada Chang Kyun? Lihatlah, matanya memerah, dia sudak mengantuk. Apa kau tega membuat adikmu berjalan dengan kantuknya? Cih! Yang benar saja.”
Mendengar omelan panjang dari Min Hyuk, sontak Joo Heon mengalihkan tatapannya pada bocah di sampingnya. Meskipun kesal dengan ocehan Sunbae-nya, tapi sepertinya dia tak bisa menolak tawaran itu setelah mendapati Chang Kyun yang tengah menguap dan menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Bahkan anak itu terlihat tak peduli dengan perdebatan mereka.
Menimang sebentar tawaran Min Hyuk sebelum akhirnya mengangguk.
“Baiklah, kali ini saja aku menerima tawaranmu,” sahut Joo Heon malas.
“Sepakat! Sopirku akan tiba lima menit lagi, akan aku antar sampai rumah kalian,” balas Min Hyuk dengan senyum lebarnya.
Dan benar saja, lima menit kemudian mobil sedan berwarna silver menepi di sisi jalan di mana mereka berdiri. Mobil milik keluarga Min Hyuk beserta sopirnya.
“Ayo, masuklah dan Joo Heon tunjukkan padaku alamat rumah kalian,” perintah Min Hyuk lantas mendahului untuk masuk ke dalam mobil tersebut dan mendudukan diri di samping sopirnya.
Keduanya menuruti perintah Min Hyuk tanpa diulang. Joo Heon sedikit memberi bantuan pada Chang Kyun yang terlihat kesulitan untuk naik. Jika dipikir-pikir, Chang Kyun belum pernah berangkat maupun pulang sekolah dengan mobil pribadi karena Joo Heon selalu menolak tegas karena tak mau semobil dengan bocah itu, hingga pada akhirnya bocah itu hanya akan naik bus dan mendapat luka lecet di lututnya karena terjatuh kala turun dari bus. Kasihan juga, pikir Joo Heon.
“Eoh .…” lagi-lagi Joo Heon tersentak dari lamunannya saat merasa sesuatu yang berat menimpa bahu kanannya.
Chang Kyun, bocah itu entah sejak kapan sudah terlelap dengan kepala terjatuh di bahunya. Nafasnya teratur dan terlihat nyenyak yang membuat tangan Joo Heon tanpa sadar bergerak untuk mengusap puncak kepala bocah itu dan tentu saja menambah nyenyak tidur Chang Kyun.
“Kau terlihat begitu menyayanginya,” tutur Min Hyuk yang sedari tadi melihat hal tersebut melalui spion dalam mobil tersebut.
Joo Heon menarik bibirnya, tersenyum sekilas.
“Begitulah, aku menyayanginya. Agak terlambat mungkin untuk menyadarinya, tetapi itu tidak mengurangi sayangku pada bocah ini,” sahut Joo Heon masih megusap surai Chang Kyun.
“Ahh, manis sekali,” gumam Min Hyuk yang masih dapat ditangkap oleh pendengaran Joo Heon.
“Terima kasih,” balas Joo Heon tulus.
#BLIND#
Butuh waktu sekitar empat puluh menit agar sampai ke kediaman keluarga Lee. Selama perjalanan Min Hyuk membahas berbagai topik untuk mengusir rasa bosan di antara mereka. Yah, hitung-hitung sebagai proses pengakraban dengan Joo Heon, mengingat ia memang tak begitu dekat dengan Hoobae tim futsal tersebut.
“Aku rasa sampai di depan gang itu saja, Sunbae,” ucap Joo Heon dengan jari menunjuk pada jalan di depan kendaraan yang mereka naiki.
Mengikuti arah tunjuk Joo Heon, Min Hyuk mengernyit.
“Kenapa? Kenapa tidak langsung di depan rumahmu saja?” tanya Min Hyuk heran.
“Itu juga sudah di depan rumahku,” balas Joo Heon sedikit terkekeh. Dasar, ternyata Min Hyuk dipermainkan.
“Chang Kyun, bangulah. Kita sudah sampai,” tegur Joo Heon sedikit mengguncangkan tubuh yang sedari tadi menyandar padanya.
Tidak sulit untuk membangunkan Chang Kyun, karena sesaat setelah Joo Heon menguncang tubuhnya, anak itu membuka mata dan menggeliat sesaat sebelum akhirnya mengikuti tarikan Joo Heon.
“Terima kasih Sunbae, mungkin aku bisa mentraktirmu kopi untuk membalas kebaikanmu ini,” ujar Joo Heon yang lantas membungkuk hormat.
“Santai saja, itu hanya hal kecil. Eh, tapi aku tidak menolak jika kau serius mentraktirku kopi,” balas Min Hyuk sedikit terkekeh.
“Min Hyuk Hyung, terima kasih.” Chang Kyun masih setengah sadar saat mengucapkannya, bahkan bocah itu membungkuk ke arah yang salah dan membuat Joo Heon menggeleng heran, sedangkan Min Hyuk malah mengusap surai Chang Kyun gemas.
“Baiklah, baiklah. Kalau begitu aku pulang dulu, selamat malam,” tutur Min Hyuk lantas berbalik dan memasuki mobilnya.
Tak lama kemudian mobil tersebut melaju meninggalkan dua insan yang sebenarnya sudah dilanda kantuk berat.
“Ayo,” Joo Heon menarik lengan Chang Kyun dan mengajak bocah itu memasuki halaman rumah. Tenang, mereka tidak akan terkena omelan Nyonya Lee karena pulang larut karena Joo Heon sudah memberi kabar dahulu kepada sang Eomma tentang acaranya tadi.
#BLIND#
Pagi yang cukup rusuh di kediaman Lee. Awal musim panas yang cukup cerah sepertinya mempengaruhi pergerakan di rumah tersebut. Joo Heon terus mondar-mandir sembari mengibas-ngibaskan kaos putih tipis yang menempel di tubuhnya.
“Astagaaaa … panas sekali,” keluhnya sebari megusap peluh di dahi.
Di sisi lain terdapat Chang Kyun yang tengah duduk bersila di atas karpet beludru dalam ruang keluarga tersebut. Anak itu sedang fokus membaca buku braille di tangannya dengan bibir bergumam melafalkan apa yang sedang di bacanya. Posisi yang jauh lebih anteng dibandingkan Joo Heon yang terus bergerak tak tentu arah seperti layang-layang terputus dari talinya.
Tak hanya mereka berdua saja yang barada di ruang keluarga tersebut, ada Hyun Woo juga Nyonya Lee, keduanya nampak bersantai dengan komik di tangan Hyun Woo dan tayangan drama di layar televisi bagi Nyonya Lee.
Ya, hanya Joo Heon seorang yang nampak berlebihan dalam menyambut datangnya musim panas.
“Hei, apa pendingin ruangannya tidak berfungsi? Eomma, sepertinya kita harus memanggil seseorang untuk memperbaiki AC-nya,” gerutunya setelah meneguk segelas air dingin.
Tak ada sahutan dari penghuni rumah tersebut. Hyun Woo hanya mengangkat bahunya acuh, Nyonya Lee menggeleng kepala namun matanya masih fokus pada televisi sedangkan Chang Kyun terbatuk kecil karena tenggorokannya terasa kering.
Joo Heon mendengus kesal ketika tahu tidak ada seorang pun yang menanggapi ucapannya. Ohh, sungguh ia tidak sedang main-main, udaranya memang sangat panas bung!
“Eomma!”
Nyonya Lee nyaris tersendak ludahnya sendiri karena teriakan Joo Heon.
“Astaga! Kenapa? Ada apa? Kenapa berteriak seperti itu, Nak? Aigoo, kau mau membuat ibumu terkena serangan jantung dadakan, eoh?” tanya Nyonya Lee sambil menatap heran Joo Heon, heran karena hanya dia satu-satunya orang di rumah ini yang mengeluhkan hawa panas di rumah ini.
“Panas ....” rengek Joo Heon lagi, lantas menjatuhkan diri di samping Chang Kyun dan membuat bocah itu sedikit tersentak.
Joo Heon tak peduli dengan keterkejutan Chang Kyun. Pemuda itu terus mengibaskan kaos yang dikenakannya, berharap agar suhu berubah menjadi sejuk.
“Ya, ya, ya. Hentikan itu, Lee Joo Heon! Kau membuatku pusing hanya dengan melihatmu berjalan kesana-kemari,” ujar Hyun Woo kesal, ia sudah tak bisa menahan kekesalannya lagi saat kaki Joo Heon nyaris menumpahkan air jus miliknya di atas meja.
“Tubuhmu saja yang penuh lemak, jadi akan berkeringat jika panas. Lagi pula, bukankah itu baik? Kalorimu bisa sedikit terbakar.”
“Chang Kyun! Mau pergi ke suatu tempat?” tidak menanggapi kekesalan Hyun Woo, Joo Heon malah menempelkan kepalanya ke atas meja dan menatap Chang Kyun yang sudah kembali fokus pada bukunya.
Merasa terpanggil, Chang Kyun menoleh ke sumber suara.
“Ya? Pergi suatu tempat?” balas Chang Kyun dengan pertanyaan.
Mendengar ajakan Joo Heon, Nyonya Lee maupun Hyun Woo pun ikut menoleh pada pemuda berlesung pipi tersebut.
“Aigoo, apa kau lupa jika lusa kita akan berangkat kemah? Dan tahukah, jika kita bahkan belum mempersiapkan apa pun?”
Chang Kyun sedikit mengernyit, namun beberapa saat bocah itu menepuk dahinya sendiri.
“Benar, kenapa aku sampai lupa?” Chang Kyun menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
“Memang apa saja yang dibutuhkan ketika berkemah? Sebenarnya ini pengalaman pertamaku ikut perkemahan, di sekolah sebelumnya -SMP- tidak pernah mengadakan kegiatan seperti itu ketika musim panas, dan jujur itu membuatku gugup sekaligus senang,” papar Chang Kyun kemudian.
Hening.
Baik Nyonya Lee maupun kedua putranya seketika tercengang dengan penuturan polos yang keluar dari mulut Chang Kyun. Hati ketiganya tiba-tiba merasa tercubit mendengar untaian kalimat tersebut. Huh, sungguh mereka merasa bersalah saat ini.
Bagaimana tidak?
Padahal setiap liburan musim panas, Nyonya Lee akan mengajak putranya -minus Chang Kyun untuk berkemah. Yah, walau sekedar memasang tenda di halaman belakang rumah Halmeoni Joo Heon. Namun itu selalu mereka lakukan hampir setiap tahun. Chang Kyun? Tentu saja anak itu akan tinggal di rumah besar itu sendiri dan diberi penjelasan Nyonya Lee letak makanan jika ia ingin makan. Dan sekarang mereka terkejut mendengar penuturan Chang Kyun.
“Hyung, bagaimana? Kenapa diam? Apa kau berubah fikiran?” tanya Chang Kyun begitu suasana di sekitarnya mendadak sepi.
Joo Heon langsung menegakkan duduknya dan menggeleng keras.
“Tidak, tidak. Tentu saja jadi, ayo bersiap,” ujar Joo Heon yang lantas menarik lengan Chang Kyun dan mengajaknya ke kamar, wajahnya kini berubah sumringah.
“Hyun Woo,” panggil Nyonya Lee begitu Joo Heon dan Chang Kyun menghilang menaiki tangga.
Hyun Woo menoleh, “Ya?”
“Bisa kau awasi adik-adikmu? Eomma tidak yakin jika hanya melepaskan mereka berdua sendiri untuk berbelanja ,” titah Nyonya Lee yang membuat Hyun Woo mengernyit.
“Kenapa? Kenapa harus aku awasi? Sudah ada Joo Heon, tidak perlu khawatir,” balas Hyun Woo malas, ia benar-benar tak mau beralih dari komiknya saat ini.
Nyonya Lee berdecak kesal lalu memukul kepala Hyun Woo pelan.
“Kau ini! Apa kau tahu, apa yang akan terjadi jika membiarkan Joo Heon berbelanja sendiri?”
Terdiam, Hyun Woo mencoba untuk mencerna apa yang sang Eomma katakan. Tak lama kemudian ia mengangguk paham lantas beranjak menuju kamarnya dan mengambil kunci mobil.
Bukan perlengkapan berkemah yang akan Joo Heon beli, melainkan macam-macam jenis makanan ringan dan sejenisnya. Dan itu merugikan bagi Nyonya Lee.
#BLIND#
Hyun Woo menghela napas lelah. Dua jam sudah mereka berkeliling pusat perbelanjaan tersebut, namun yang didapat hanya sekantong penuh yang berisi makanan. Mana perlengkapan kemahnya?
Dan saat ini Joo Heon sedang menikmati satu cup es krim bersama Chang Kyun di sampingnya yang juga melakukan hal yang sama. Lagi-lagi Hyun Woo hanya bisa mendesah kesal menyaksikan hal itu. Yakinlah, ibunya nanti akan menghujatnya habis-habisan. Yah, tahu sendiri lah wanita memang terkadang suka sensi jika itu menyangkut uang.
“Joo Heon, apa ini yang kau sebut dengan membeli perlengkapan kemah? Kau bahkan tidak membeli satu pasak pun,” kata Hyun Woo frustasi.
Joo Heon menggeleng santai.
“Lagi pula kita sudah punya semuanya di rumah, kan? Dari pasak, tali, bahkan tenda sudah ada di rumah. Jadi apa lagi yang harus dibeli jika bukan makanan?” sahut Joo Heon santai lantas menyuapi sesendok es krim miliknya pada Chang Kyun.
“Cobalah, rasa strawberry tidak seburuk yang kau bayangkan.”
Chang Kyun membuka mulutnya saat sendok milik Joo Heon menempel di bibir tipisnya. Rasa manis khas strawberry langsung memenuhi indra pengecapnya begitu benda lumer itu masuk. Rasanya memang tidak seburuk yang ia pikir.
“Eum ... lumayan,” gumam Chang Kyun menilai rasa es krim milik Joo Heon.
“Hei anak-anak! Sebaiknya kita pulang saja.”
Hyun Woo memasang wajah bodoh ketika dirinya tak mendapat respons dari dua Dongsaeng-nya. Keduanya masih sibuk adiknya es krim masing-masing dan terkadang Joo Heon yang meminta untuk saling bertukar rasa es krim.
“Lee Joo Heon,” panggil Hyun Woo yang dibalas dengan dengusan kesal dari sang adik.
“Ayolah, Hyung. Anggap saja ini sebagai hadiah karena aku sudah memenangkan pertandingan dua bulan lalu. Toh, uang yang kau keluarkan tak sampai sampai satu juta won. Jangan pelit,” sungut Joo Heon kesal.
Oke, Hyun Woo hanya bisa pasrah akan keadaan.
#BLIND#