BLIND-FORTY TWO

1125 Words
Hankuk University. Hari tersibuk kembali datang, hari Senin yang kembali mengawali hitungan hari dalam waktu satu minggu. Seorang pemuda tampak berlari menuruni anak tangga yang cukup banyak. Tergesa-gesa seakan tak memiliki lagi waktu untuk sekedar berjalan santai seperti orang-orang di sekitarnya. "Minggir! Minggir! Beri aku jalan." Suara lantang terdengar memecah keramaian. "Ya! Ahn Soon Young! Kau ingin mati?!" Pemuda itu, Ahn Soon Young. Menghentikan langkahnya dan memandang ke arah ia datang sebelumnya. Di sana seorang wanita muda berdiri, menatap marah. Soon Young tersenyum lebar dan menjawab dengan suara yang lantang. "Tidak mau. Aku belum menikah, untuk apa aku mati muda?" Soon Young melambaikan tangannya dan kembali melarikan diri, membuat wanita muda yang sebelumnya menegur, menghentakkan kakinya dengan kesal. "Ya! Jika bertemu, aku akan membunuhmu!" Soon Young tertawa tanpa suara. Memelankan langkahnya dan sekilas menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa wanita muda tadi tidak mengejarnya lagi. Namun ketika berbalik, senyum di wajah Soon Young tiba-tiba menghilang saat ia menabrak seseorang. "Mengejutkan saja," gumam Soon Young. Park Jin Woo, pemuda yang hingga kini masih berstatus sebagai teman baik Ahn Soon Young itu mendorong kening rekannya menggunakan jari telunjuk. "Kau masih bermain-main dengan Choi Yuna?" tegur Jin Woo. Soon Young tersenyum. "Apa yang kau bicarakan? Orang lain akan mengira jika aku menjalin hubungan dengan gadis itu saat mendengar ucapanmu." "Aku pikir tidak ada yang salah dengan ucapanku. Kau menyukai Choi Yuna dan Choi Yuna juga menyukaimu. Berhenti bermain-main dan mulailah dengan serius." Soon Young tersenyum tak percaya. "Aku? Menyukai gadis aneh itu? Woah ... kau kejam sekali padaku, Kawan. Setidaknya katakan saja jika Choi Jisoo yang menyukaiku, pasti aku akan membanggakan diriku sendiri." Giliran Jin Woo yang tersenyum tak percaya atas ucapan rekannya yang terlihat terlalu percaya diri. Beginilah keduanya setelah melewati masa remaja mereka. Kisah mereka masih berlanjut hingga detik ini. Namun sayangnya impian mereka sudah tidak sejalan lagi. Ahn Soon Young berhasil menjadikan impian masa kecilnya sebagai kehidupan yang ia jalani saat ini. Soon Young berhasil masuk ke klub sepak bola dan berlaga pada tingkat nasional. Mungkin bisa dibilang jika Soon Young mendapatkan keberuntungan yang telah meninggalkan Joo Heon. Saat evaluasi masuk tim, Soon Young secara kebetulan mendapatkan posisi yang sama dengan Joo Heon dulu. Meski ukuran tubuhnya tidak sebesar Joo Heon, namun Soon Young mendapatkan pengakuan dari pelatih jika dia merupakan seorang penyerang yang patut diperhitungkan. Sementara Park Jin Woo, pemuda ini menyerah sebelum memulai. Setelah lulus SMA, Jin Woo yang merupakan anak tunggal di keluarganya memutuskan untuk mengejar pendidikan dengan serius hingga ia bisa menjadi penerus dari bisnis yang dijalankan oleh keluarganya. Dan karena hal itu juga keduanya mengambil jurusan yang berbeda. Namun hal itu sama sekali tidak berpengaruh terhadap pertemanan mereka. "Kau ada kelas pagi?" Soon Young memulai topik baru pada pertemuan mereka pagi itu. "Tidak, aku datang kemari karena tidak memiliki tempat tujuan," jawab Jin Woo dengan santai. "Dasar." Soon Young sekilas memukul bahu Jin Woo dengan tawa ringan yang keluar dari mulutnya. "Tapi aku tidak melihat mobilmu di tempat parkir," ucap Jin Woo kemudian. "Mobilku masih berada di bengkel. Hari ini beri aku tumpangan sampai bengkel." "Kau tidak ada latihan?" Soon Young menggeleng. "Akhir pekan kemarin aku sudah berlatih mati-matian, aku akan mengambil waktu untuk bernapas sekarang." "Aku sudah menyuruhmu berhenti sejak awal, kenapa kau justru mempersulit hidupmu sendiri?" Jin Woo berucap sambil berlalu. Soon Young menyusul Jin Woo sembari memberikan sanggahannya. "Apa yang kau katakan? Apa maksudmu dengan aku mempersulit hidupku?" "Lupakan." Jin Woo terlihat acuh dan menghentikan langkahnya. "Kau tidak ingin memberi salam pada Joo Heon Sunbae?" Soon Young menatap bingung. "Kenapa aku harus memberi salam padanya? Apakah dia ada di sini?" "Tidak ada," sahut Jin Woo dengan cepat. "Kau berhasil bergabung dengan tim tetap dan akan melangsungkan pertandingan pertamamu. Joo Heon Sunbae adalah seniormu, bukankah memberi salam padanya akan membuat Joo Heon Sunbae merasa bangga padamu?" Soon Young tiba-tiba resah tanpa ada sebab yang bisa dimengerti oleh Jin Woo. "Aku tidak yakin jika itu adalah keputusan yang baik," ucap Soon Young dengan ragu. "Ada apa? Kau bertengkar dengan Joo Heon Sunbae?" "Tidak ... bukan begitu. Mana aku berani bertengkar dengan Joo Heon Hyung." "Lalu apa masalahnya?" Soon Young menjawab dengan ragu, "Joo Heon Hyung keluar dari tim karena kecelakaan. Suasana hatinya pasti buruk setiap kali menonton pertandingan sepak bola. Jika aku datang menemuinya, apakah itu tidak akan membuatnya sedih?" "Apa sekarang kau sedang mengkhawatirkan Joo Heon Sunbae?" "Tentu saja!" jawab Soon Young terlalu semangat. Dia adalah panutanku, tentu saja aku harus mengkhawatirkan bagaimana perasaannya." "Lalu tanyakan saja pada adiknya," sahut Jin Woo yang kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain. Soon Young segera memandang ke arah yang dimaksud oleh Jin Woo. Dan di sanalah keduanya menemukan punggung yang sangat familiar. "Dia juga sudah ada di sini," gumam Soon Young yang kemudian menegur dengan suara yang lantang. "Ya! Im Chang Kyun." Im Chang Kyun, pemuda yang dimaksud tak merespons, Mungkin tak mendengar suara lantang Soon Young barusan. Soon Young kembali menegur, "Profesor Im Chang Kyun, berbaliklah sebentar." Soon Young sekilas memiringkan kepala dan tampak bertanya-tanya. "Apa dia tidak mendengar suaraku?" Jin Woo masih memperhatikan punggung Chang Kyun yang semakin menjauh dengan penuh pertimbangan sebelum melontarkan kalimat untuk menyahuti ucapan Soon Young sebelumnya. "Dia terlihat sangat asing selama satu tahun terakhir." Soon Young segera memandang. "Asing bagaimana? Anak itu tidak berubah sama sekali." Jin Woo balik memandang. "Kau bukanlah orang yang perhatian, itulah sebabnya kau tidak menyadarinya." "Eih ... alasan macam apa itu?" "Selama satu tahun terakhir, waktu yang dihabiskan oleh Chang Kyun bersama kita semakin berkurang. Kita menjadi jarang pergi bersama. Dan asal kau tahu saja, bukankah sikap Chang Kyun semakin dingin pada kita?" Soon Young tertegun dan berlanjut dengan mempertimbangkan ucapan Jin Woo. Jika dipikirkan kembali, satu tahun terakhir Chang Kyun memang terkesan menjauhinya. Dan Soon Young berpikir bahwa perubahan yang terjadi pada sikap Chang Kyun ada kaitannya dengan teman baru yang didapatkan oleh Chang Kyun tahun lalu. "Semua ini pasti gara-gara orang itu," gumam Soon Young, terdengar kesal. "Kau tidak mencoba berbicara dengan Chang Kyun?" Soon Young menatap kesal, namun kekesalannya kali ini tidak ditujukan pada Jin Woo. Masih dengan nada kesal Soon Young berkata, "bicara tentang apa?" "Tentang apa lagi? Tentu saja tentang teman barunya. Aku masih tidak habis pikir bahwa Chang Kyun akan berteman dengan orang seperti dia," sahut Jin Woo. "Tidak tahu!" Kekesalan Soon Young semakin besar dan kali ini ditujukan kepada Jin Woo. "Kau tanyakan saja sendiri padanya. Membicarakan kunyuk itu hanya membuat tekanan darahku naik. Kau urus saja sendiri." Soon Young lantas meninggalkan Jin Woo yang tampak bertanya-tanya di mana letak kesalahannya sehingga ia pantas untuk menerima kekesalan dari seorang Ahn Soon Young. "Apa yang harus aku urus? Aku tidak ada hubungannya dengan ini. Ya! Ahn Soon Young, tunggu sebentar ...." Dengan berat hati Jin Woo menyusul Soon Young yang telah mengacuhkannya. #BLIND#
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD