"Menyedihkan ... ini benar-benar menyedihkan."
Kalimat itu keluar dari mulut Opsir Lee yang kini duduk di ruang keluarga dan tengah menyaksikan pertandingan sepak bola tingkat nasional. Komentar yang baru saja ia berikan bukanlah ungkapan atas kekalahan yang dialami oleh tim yang ia dukung, melainkan sebaliknya. Komentar itu Joo Heon tujukan sebagai ungkapan atas kemenangan sementara yang didapatkan oleh tim yang ia dukung.
"Sangat menyedihkan, sepertinya aku butuh tissue. Menyebalkan!" Joo Heon tiba-tiba berteriak pada kalimat terakhir sembari melempar camilan di tangannya ke arah televisi.
Jika Ahn Soon Young bertanya apakah baik-baik saja jika ia memberitahu Joo Heon bahwa ia berhasil masuk ke dalam tim tetap, maka jawabannya adalah tidak. Tidak sama-sekali. Meski Opsir Lee mengatakan bahwa dia telah merelakan impiannya untuk menjadi pemain sepak bola, pada kenyataannya mulut itu tak bisa berhenti mengoceh setiap menyaksikan pertandingan sepak bola. Perasaan sedih, kecewa, kesal dan marah. Orang satu rumah sudah terbiasa dengan rutinitas Opsir Lee jika sudah duduk di ruang tamu dengan televisi yang menyala.
Satu cangkir kopi panas kemudian datang ke meja di hadapan Joo Heon. Tatapan sinis Joo Heon bergerak ke samping dan menemukan sosok sang ibu. Menatap penuh selidik sebelum batinnya tersentak oleh teguran sang ibu.
"Kenapa kau menatap ibu seperti itu?"
Joo Heon sempat terkejut dan segera menggeleng. Tak sadar dengan bagaimana cara ia memandang ibunya sebelumnya.
"Tidak, memangnya bagaimana caraku memandang Eomma?"
"Kau memandang ibu seperti ibu adalah seorang penjahat."
Joo Heon tersenyum lebar. "Kapan aku melakukannya? Pasti hanya perasaan Eomma saja."
"Kau ini." Yoona mengusak gemas surai hitam putranya. Meski putranya telah menjadi seorang polisi, namun wanita itu tetap melihat Joo Heon sebagai putra kecilnya yang manja.
"Tapi kenapa Eomma yang membawakannya untukku? Di mana Chang Kyun?" Joo Heon sempat memandang sekeliling, memastikan apakah Chang Kyun berada di sana atau tidak.
"Chang Kyun belum pulang. Dia mengatakan pada ibu bahwa dia mendapatkan tugas dan harus pergi ke perpustakaan."
"Eih ... rajin sekali anak itu," cibir Joo Heon. "Dia sudah pintar sejak lahir, harusnya dia berhenti belajar sekarang."
Yoona tertawa ringan mendengar ucapan putranya. "Kau ini ada-ada saja. Bagaimana seseorang akan meraih kesuksesan jika mereka berhenti belajar?"
"Dia harus belajar dariku. Aku tidak begitu serius dalam belajar tapi lulus ujian masuk kepolisian dalam sekali percobaan."
Yoona tersenyum lebar. "Lihatlah betapa sombongnya Opsir Lee kita. Ya sudah, ibu akan pergi ke kamar. Jangan tidur malam-malam."
Joo Heon mengangguk, mengantarkan kepergian sang ibu dengan senyuman lebar yang membuat mata sipitnya semakin menyipit hingga menyerupai dua garis yang terlihat cukup manis. Namun garis senyum di wajahnya tiba-tiba menghilang begitu sang ibu menghilang dari pandangannya. Opsir Lee sungguh munafik.
Joo Heon yang sebelumnya duduk bersila menurunkan satu kakinya dan melonggokkan kepalanya untuk melihat minuman apa yang dibawakan oleh sang ibu. Namun saat melihat minuman apa itu, Joo Heon kembali menaikkan kakinya ke sofa dan kehilangan minatnya.
Pemuda itu menggerutu, "Sejak kapan aku minum kopi seperti itu? Aku terlalu muda untuk memiliki selera pria tua."
Memandang sekeliling, Joo Heon merasa ada yang kurang. Siapa lagi jika bukan Im Chang Kyun. Biasanya tanpa diminta pun Chang Kyun akan membuatkannya coklat panas ketika udara sedang dingin dan membuatkan kopi dingin saat udara panas. Tapi sangat disayangkan bahwa akhir-akhir ini Chang Kyun kerap pulang malam. Joo Heon tak menuntut karena dia juga pernah melakukan hal yang sama. Pulang larut karena sibuk belajar.
"Jam berapa sekarang? Kenapa dia belum pulang juga? Kapan dia akan datang? Dia tidak akan tersesat, kan? Eih ... mana mungkin. Sudah bertahun-tahun rumah ini ada di sini tanpa digeser satu inci pun, bagaimana mungkin dia bisa tersesat sekarang?" Joo Heon kembali berceloteh sembari meraih remot televisi.
Dengan mulut yang terus menggerutu seperti lebah, Joo Heon memindah chanel hingga beberapa kali dan berhenti pada tayangan drama.
Joo Heon menaruh remot televisi dan bergumam, "Belum berakhir? Aku sengaja tidak melihat chanel ini agar tidak melihat drama ini lagi. Kenapa akhir-akhir ini televisi Korea Selatan diisi dengan drama perselingkuhan?"
Joo Heon kembali memakan camilannya. Dan komentarnya barusan hanya untuk mengisi jeda iklan. Karena pada akhirnya Joo Heon tetap menonton drama itu. Opsir Lee benar-benar munafik.
"Omo!" Joo Heon turut terkejut ketika melihat sebuah adegan yang mengejutkan. Tampaknya Opsir Lee mulai turut mendalami drama yang ia lihat.
"Tidak ... bukan dia yang jahat. Jika kau membunuhnya, dramanya akan selesai." Joo Heon kembali berkomentar. "Kembarannya sudah mati di musim pertama, akan sangat tidak masuk akal jika kembarannya muncul lagi di musim ke tiga."
"Aku pulang ...."
Perhatian Joo heon teralihkan oleh suara yang baru saja memasuki ruangan. "Oh! Hyung, baru pulang?"
Hyun Woo mengangguk dan menghampiri Joo Heon. "Kau belum tidur?"
"Hyung mengatakan akan pulang sore." Joo Heon sedikit bergeser untuk memberikan sedikit tempat di sampingnya pada Hyun Woo.
"Ada beberapa urusan mendesak." Hyun Woo memandang sekitar. "Sepi sekali, apa semua sudah tidur?"
"Eomma ada di kamar, sedangkan Chang Kyun belum pulang."
Hyun Woo menemukan secangkir kopi di atas meja. Tanpa meminta izin dari sang pemilik, Hyun Woo langsung mengambil kopi itu.
"Apa yang sedang kau lihat?"
"Apartement." Joo Heon mengatakan judul dari drama yang ia lihat saat ini dengan pandangan yang kembali fokus pada layar televisi.
Menaruh cangkir kopi, Hyun Woo turut menjatuhkan perhatiannya pada layar televisi. "Bukankah sudah berakhir?"
"Yang ini musim ke tiga."
Hyun Woo menatap tak percaya sebelum akhirnya tersenyum. "Tumben sekali?"
Joo Heon terlihat acuh. "Aku menunggu musim ke dua dari Vagabond sampai Lee Seunggi menjadi predator dan belum mendapatkan kabar. Tapi yang ini sudah sampai di musim ke tiga hanya selama aku tinggal ke kamar mandi."
Hyun Woo tertawa mendengar perkataan sinis Joo Heon. Apakah Opsir Lee berada di dalam kamar mandi hingga berbulan-bulan? Itu adalah sebuah misteri.
"Kau bisa melihat yang lain." Hyun Woo turut mengambil camilan di tagan Joo Heon. "Sepertinya drama Apartement ini cocok denganmu."
Joo Heon menyunggingkan senyumnya, memberikan tatapan sinis kepada sang kakak.
Hyun Woo kembali menemukan sesuatu yang menarik di atas meja. Hyun Woo kemudian mengambil buku catatan milik Opsir Lee.
"Berapa poin yang kau dapat hari ini?"
Joo Heon memandang apa yang diambil oleh Hyun Woo. Tampak terkejut, Joo Heon segera merampas buku catatan miliknya dari Hyun Woo. Bertindak seakan-akan buku itu menyimpan semua aib kehidupannya setelah menjadi seorang polisi.
"Tidak banyak. Hyung jangan sembarang membuka buku ini." Joo Heon sekilas mengangkat buku catatan di tangannya sebelum mengembalikannya ke atas meja.
Hyun Woo tersenyum lebar. "Kenapa? Aku melihatmu tumbuh dewasa dan mengetahui semua aibmu. Kau menyimpan sesuatu di buku itu."
Joo Heon turut tersenyum lebar, namun terkesan dibuat-buat. "Aku semakin dewasa dan Hyung semakin tua. Akan lebih baik jika kita tidak saling membicarakan aib masing-masing atau kita hanya akan mempermalukan diri sendiri jika orang luar mendengarnya."
Hyun Woo tiba-tiba mengusak surai hitam Joo Heon. "Kau ini! Aku akan naik, matikan televisinya sebelum tidur."
Joo Heon mengangguk dan Hyun Woo beranjak dari duduknya. Bergegas menuju lantai atas.
"Jangan lupa mimpikan aku, Hyung."
Hyun Woo menoleh ketika menyusuri anak tangga dan sejenak menghentikan langkahnya, merasa ada hal yang tertinggal.
"Kau akan menunggu Chang Kyun?" tegur Hyun Woo.
"Joo Heon mengangguk."
"Hubungi dia jika tidak pulang-pulang."
Joo Heon menggunakan tangannya sebagai isyarat bahwa dia menerima saran dari si kakak dengan baik. Dan setelahnya Joo Heon kembali menunggu seorang diri.
"Kapan dia akan menghubungi aku? Harga diriku terlalu besar untuk menghubungi lebih dulu ...."
#BLIND#
Dini hari tiba, waktunya kota besar itu untuk sejenak tertidur. Namun sayangnya aktivitas tak bisa benar-benar menghilang dari sebuah kota besar yang sangat maju. Satu berhenti, namun yang lain akan segera memulai.
Di salah satu sudut kota Seoul. Pembatas jalan mulai terpasang. Keberadaan gedung-gedung pencakar langit di sepanjang jalan bukanlah hambatan bagi mereka yang ingin menjadi penguasa jalanan tengah malam Seoul kala itu.
Para anak muda berkumpul, tak peduli meski di dalam gedung-gedung dengan lampu yang sudah padam itu terdapat beberapa orang yang mengintai aktivitas yang mereka lakukan.
Satu persatu mobil mewah berdatangan, berjajar di tengah jalan dan mengundang sorakan dari para anak muda yang berkerumun di pinggir jalan, baik laki-laki maupun perempuan ketika satu persatu dari sang pemilik mobil menampakkan diri mereka di depan publik.
Kim Hanbin keluar dari mobil mewahnya yang berada dalam urutan ke dua dalam barisan.
"Yo, Kim Han Bin." Seorang pemuda bertampang bandit namun terlihat manis ketika tersenyum menghampiri Han Bin. Keduanya sejenak saling menjabat tangan dan mempertemukan bahu satu sama lain.
"Lama tidak melihatmu di sini."
Han Bin tersenyum lebar. "Aku hanya sedikit sibuk akhir-akhir ini. Kau baru saja memotong rambutmu, Hyung?"
"Oh!" Pemuda itu refleks menyentuh kepalanya. "Aku memotongnya minggu lalu."
"Kau terlihat keren dengan itu."
"Benarkah?" Pemuda itu tersenyum lebar, menandakan bahwa hatinya sangat senang mendengar pujian dari Han Bin.
"Siapa saja yang datang malam ini?" Han Bin mengarahkan pandangannya pada para pemilik mobil yang berjajar dengan mobilnya. Dan para pemuda dengan penampilan yang mahal itu tampak bercengkrama dengan rekan masing-masing.
Pemuda yang berbicara dengan Han Bin merangkul bahu Han Bin dan membuat jarak yang sempat tercipta lantas menghilang. Pemuda itu kemudian memperkenalkan satu persatu dari tamu yang dimaksud oleh Han Bin, namun dengan suara yang sengaja dipelankan.
"Kau lihat dia." Pemuda itu menunjuk salah satu pemuda yang duduk di bagian depan badan mobil. "Kim Dong Hyuk, dia berhasil membawa dua juta Won minggu lalu. Kau harus berhati-hati dengannya, minggu lalu dia merusak pembatas jalan."
Dahi Han Bin mengernyit. "Minggu lalu? jadi dia yang sudah menyebabkan keributan itu?"
"Benar sekali, kau jangan dekat-dekat dengannya. Dan orang yang di sana itu." Pemuda itu menunjuk tamu lainnya. "Choi Jongho, dia terlahir dari keluarga Chaebol. Dia berganti mobil lagi."
Han Bin segera memandang pemuda itu. "Hyung."
Pemuda itu langsung balik memandang. "Ada apa?"
Han Bin menepuk bagian depan badan mobilnya sebagai isyarat pada pemuda yang diajaknya bicara.
Pemuda itu memandang mobil merah yang tampak asing. Sempat terdiam, pemuda itu lantas menunjukkan reaksi terkejut.
"Apa ini? Ini mobilmu? Kau mengganti mobilmu?" Pemuda itu melepaskan Han Bin dan menaruh perhatiannya pada mobil baru Han Bin.
Han Bin berkata, "aku tidak tahu siapa yang lebih kaya antara aku dengan Choi Jongho itu. Tapi kakakku bisa memberikan apapun padaku jika aku meminta."
Pemuda itu tersenyum tak percaya dan kembali ke hadapan Han Bin. "Kau memang tahu mana barang yang berkualitas. Kau akan mengemudi?"
"Tidak."
Sebelah alis pemuda itu terangkat, membimbing pandangannya untuk menemukan seseorang yang sejak awal duduk di bangku kemudi mobil Han Bin. Pemuda itu kembali memandang Han Bin dengan tatapan tak percaya.
"Kau membawa sopirmu lagi?"
Han Bin tertawa ringan. "Apa yang Hyung katakan? Teman, dia adalah temanku. Tega sekali Hyung mengatakan hal seperti itu tentang dia."
Pemuda itu tersenyum tak percaya. "Semua orang di sini sudah tahu bahwa bocah itu adalah pesuruhmu."
"Pikirkan sesuka hati kalian. Naikkan saja taruhan malam ini, dia akan mengambil semuanya untukku."
"Bagaimana dengan mobilmu?" Sebelah alis pemuda itu terangkat, menginginkan sesuatu yang lebih gila dari pada puluhan lembar kertas keberuntungan.
Han Bin langsung menendang pemuda itu, namun sayangnya pemuda itu lebih dulu menghindar dengan tawa ringan yang keluar dari mulutnya.
"Jangan sembarangan, aku baru mendapatkannya pagi tadi," kesal Han Bin.
"Lima juta Won, bagaimana?" ucap pemuda itu yang kini membuat jarak di antara mereka.
"Sepuluh juta, apakah mereka sudah jatuh miskin sekarang?" Han Bin menawar.
"Polisi sudah membaca pergerakan kita, beberapa orang lebih memilih menghabiskan uang mereka di klub malam. Lima juta Won untuk satu putaran, bagaimana?"
"Lakukan saja," sahut Han Bin dengan malas.
Pemuda itu kembali menampakkan senyum manisnya dan meninggalkan Han Bin. Pemuda itu kemudian menghampiri kerumunan dan satu persatu dari mereka memberikan uang kepada pemuda itu.
Pemuda itu, Bobby Kim, seorang bandar dalam setiap pertemuan. Dan saat ini Han Bin datang ke sana untuk mengkuti balapan liar yang sempat disinggung oleh Joo Heon pagi tadi.
Seperti biasa, Bobby mengumpulkan uang taruhan yang nantinya akan dibawa pulang oleh sang pemenang pada pertemuan kali itu. Dan jumlah yang dikumpulkan tergantung pada siapa saja yang bertanding saat itu. Di sinilah para anak orang kaya menghamburkan uang mereka. Bahkan nyawa mereka pun tak ada harganya ketika harga diri di pertaruhkan di sana.
Sudut bibir Han Bin tersungging ketika ia memperhatikan Bobby yang tengah mengumpulkan uang taruhan. Pandangan pemuda itu kemudian mengarah pada sosok yang berdiam diri di dalam mobilnya.
Han Bin sedikit membungkukkan badannya untuk menyapa seseorang yang akan mengambil lima juta Won untuknya malam ini. Tersenyum, Han Bin melambaikan tangannya tanpa peduli apakah perlakuan baiknya itu diterima dengan baik pula oleh seseorang yang ia perkenalkan sebagai seorang teman di hadapan Bobby namun justru dikenal sebagai pesuruhnya di lingkungannya saat ini.
#BLIND#