“Kenapa kau ini selalu berpikir buruk tentang Clara? Ia sudah rela melepasku untukmu, tetapi kamu masih saja membencinya!” Tegur Tabah dengan nada suara tajam. Desi terdiam, ia menundukkan kepalanya. Ada rasa bersalah di hatinya, karena sudah banyak mengusik kebahagiaan Clara. Namun, ia ingin bersikap egois dengan menjadikan Tabah sebagai miliknya seorang. Tabah meletakkan ponselnya di atas meja, lalu ia menggenggam jemari Desi dengan lembut. “Aku sudah meminta ijin kepada dokter yang merawat mu, kalau kamu minta dirawat di rumah saja.” Tabah menatap Desi, dengan rasa sayang yang sekarang berbeda. Desi menatap Tabah dengan sedih, ia merasa ada yang berubah dari cara Tabah menatapnya. “Kenapa aku tidak melihat binar cinta di matamu lagi? Apakah karena aku sudah tidak cantik lagi dan ti

