Kenapa bengong?" tanya Satria seraya menopangkan kedua tangan di d**a.
"Serius?" tanya Dinda seakan tak percaya.
"Kalian tau, saya tak suka mengulang perkataan saya lagi," ketus Satria.
"Ya, Pak!" jawab mereka serempak.
"Let' go!" kata Satria membalikkan badannya dan terkejut saat suara teriakan tertuju padanya.
"Pak Satria," teriak mereka serempak.
Brak!
Semua mata tertuju pada CEO yang terjatuh dan tertindih oleh cleaning servis tepat di atasnya. Ya, siapa lagi kalo bukan Rachel.
Rachel tak berhenti berkedip ketika semua orang menatap dirinya dengan wajah yang terlihat begitu syok.
Tangannya gemetar, ia melepas lap dan alat pembersih kaca itu dari tangannya. Jantungnya berdetak begitu kencang saat ia berada tepat di atas tubuh seseorang.
"Kenapa kalian diam saja! Singkirkan orang yang menindihku ini!" ketus Satria dengan posisi yang tengkurap dan tak tau kalo seorang cleaning servislah yang berada di atasnya.
Sesaat, Rachel mengernyitkan keningnya ketika mendengar suara yang pernah ia dengar sebelumnya.
Dengan cepat, Rachel mencoba untuk bangun sebelum semua orang menariknya dengan paksa. Ia tak tau, jika ia akan terjatuh menimpa rekan kerja mereka. Ia sadar, dengan posisinya bila di bandingkan dengan posisi seperti mereka.
"Ya Tuhan, kenapa mereka menatapku seperti itu?" gumam batin Rachel mencoba untuk tersenyum.
Ia membalikkan badannya dan mengulurkan tangannya untuk orang yang secara tidak langsung menolong dirinya. Jika tidak ada Satria di bawahnya, mungkin ia tak sadarkan diri.
Uluran tangan Rachel tak berarti ketika beberapa staf mendorong tubuhnya dan membangunkan Satria yang sedikit kesakitan.
"Bapak, baik-baik saja?" tanya salah satu staff memapah atasannya tersebut.
Rachel hanya menggigit bibirnya dan berharap jika orang itu baik-baik saja. Lentik indah matanya berputar ingin mengetahui siapa orang yang menolongnya itu?
"Kenapa mereka memanggil dengan Bapak? Apa orang itu sudah berumur? Tapi, postur tubuhnya tadi terasa begitu kuat," gumam batin Rachel seketika menutup mulutnya.
"Are you, Ok?" tanya Dinda yang melihat Rachel agak sedikit syok. Perlahan, Rachel mulai menjauhan tangan dari mulutnya dan mencoba untuk tersenyum manis seraya mengangguk pelan ke arah Dinda.
Tapi senyum itu memudar kembali ketika melihat orang yang menolongnya adalah cowok rese yang ia kenal.
Bibirnya bergetar, kedua matanya hanya tertuju pada Satria yang terlihat begitu marah seraya menopangkan kedua tangan di pinggang. Ia menunduk cepat saat Satria menoleh ke arahnya.
"Ya Tuhan, kenapa aku harus bertemu dengan dia lagi, sih?" tanya batin Rachel tak berhenti meremas kedua tangannya.
"Kalian pergi dulu ke cafe!" perintah Satria seraya menatap cleaning servis itu yang tertunduk di depan sahabatnya.
"Baik, Pak!" jawab mereka serempak dan dengan cepat meninggalkan atasannya itu.
Dengan gayanya yang khas, Satria menghampiri sahabatnya yang terlihat memberi support pada cleaning servis itu.
"Sudah, nggak apa. Kamu nggak perlu takut! Dia baik-baik saja kok!" kata Dinda memegang bahu Rachel.
"Apa Anda baik-baik saja?" tanya Satria yang membuat Rachel mendesah dan tak berani menegakkan kepalanya.
"Aduh, bagaimana jika dia tau? Bisa-bisa, dia akan nagih uang di hadapan semua orang. Nggak kebayang jika itu terjadi," gumam batin Rachel melirik sepasang sepatu yang terlihat.
Satria hanya menatap penasaran dengan wajah cleaning servis itu.
Dinda hanya tersenyum tipis seraya merangkul pundak satria.
"Dia baik-baik saja, mungkin dia masih syok?" kata Dinda dengan senyum manisnya.
"Ya sudah, kita makan sekarang! Dan pastikan, ini semua tak terjadi lagi di kantor kita," pinta Satria mengangkat telepon.
"Beres," kata Dinda menggabungkan jempol dan telunjuknya hingga berbentuk huruf'o'. Rachel melirik tanpa sepengetahuan mereka.
"Lain kali, hati-hati, ya!" Tepukan Dinda membuat Rachel menegakkan kepalanya ketika melihat Satria membelakangi dirinya.
"Iya," lirih Rachel menganggukkan kepala dengan senyum manisnya.
"Bye," kata Dinda pergi seraya melambaikan tangan untuk Rachel. Rachel pun membalas lambaian tersebut.
"Udah cantik, baik hati lagi," gumam batin Rachel melihat Dinda yang menghampiri Satria yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Aku tak menyangka, cowok rese itu memiliki rekan kerja secantik dan sebaik kakak itu. Apa mungkin kakak itu kekasihnya? Ti-dak, mana mungkin kakak cantik itu mau," desah Rachel melangkah pergi dan membenarkan tangga yang mencelakai dirinya.
"Eh, tangga. Kenapa dengan kamu? Kenapa kamu membuat aku sampai terjatuh? Untung saja, aku baik-baik saja. Jika aku kenapa-kenapa, kamu mau membiayai hidupku saat ini?" gerutu Rachel dengan benda mati tersebut seraya menopangkan kedua tangan di d**a.
Hanum hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah lucu dari partner barunya itu.
"Kenapa kamu pakai tangga ini? 'Kan, aku sudah bilang. Ambil yang kanan," gerutu Hanum.
"Ma-af, Kak. Aku pikir sama," jawab Rachel meringis.
"Untung saja, Pak Satria baik-baik saja. Jika terjadi sesuatu padanya, tak hanya surat pemecatan untuk kamu. Tapi, surat penahanan untuk kamu," kata Hanum yang membuat Rachel terkejut, terbelalak kaget dan kurang mencerna dengan perkataan seniornya.
"Maksud Kak Hanum, pak Satria pemilik perusahaan ini?" tanya Rachel mengernyitkan dahi. Kedua matanya tak berhenti mengerjap. Bibirnya pun bergetar dan melipat secara perlahan. "Heem," jawab Hanum sembari menganggukkan kepala.
"Tapi, apa hubungannya dengan saya?" tanya Rachel penasaran. Ia bingung dengan maksud seniornya itu yang secara tidak langsung menyalahkan dirinya.
"Karena, orang yang kamu celakai tadi adalah pak Satria, pemilik perusahaan ini," kata Hanum memperjelas perkataannya dan pergi meninggalkan
Rachel yang terdiam seorang diri.
What? Pemilik perusahaan? Jadi dia ....
Rachel syok, terkejut dan terperangah dengan kenyataan yang terjadi di kehidupannya.
Dia tak habis pikir jika cowok rese itu adalah pemilik perusahaan dimana tempat ia bekerja.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan padanya? Jika dia mengetahui aku bekerja di perusahaannya, pasti dia akan memecatku. Trus, jika aku dipecat, otomatis Intan akan mengusirku," gumam Rachel mondar-mandir kesana kemari seraya berpikir.
"Masa' iya, aku harus minta maaf?" gumam Rachel memanyunkan bibirnya.
****
Sepulang kerja, Rachel memasukkan seragamnya ke dalam loker. Ia memakai jaket dan mengurai rambutnya agar terlihat fresh kembali. Memang sangat jauh berbeda jika penampilannya saat kerja dan di luar kerja.
Banyak orang kantor yang tak menyangka jika Rachel bekerja menjadi seorang cleaning servis. Gayanya yang memukau, parasnya yang cantik membuat para kaum adam tak berhenti menatap keanggunan yang melekat di dirinya.
"Cewek itu bagian apa, ya? Kok, aku nggak pernah liat?" tanya Maura salah satu karyawan bagian pemasaran.
"Apa mungkin, dia saudaranya pak Satria atau mbak Dinda? Liat saja, penampilannya begitu menawan," sahut Nene yang tak berhenti menatap Rachel yang berjalan menghilang di belokkan pintu masuk perusahaannya.
Sedangkan di kantor, Satria mengelus-elus punggungnya yang terasa sedikit sakit.
"Apa ada yang memar? Tapi, waktu itu sangat terasa jika ada benda keras mengenai punggungku. Ah, sudahlah! Yang penting orang itu baik-baik saja," gumam Satria yang sangat peduli dengan karyawannya.
"Tapi, kenapa aku merasa mengenal postur tubuh cleaning servis itu,? Trus, kenapa dia terdiam saat aku bertanya padanya? Apa aku mengenalnya?" katanya berpikir sejenak.