Tapi, kenapa aku merasa mengenal postur tubuh cleaning servis itu.Trus, kenapa dia terdiam saat aku bertanya padanya? Apa aku mengenalnya?" katanya berpikir sejenak.
Iapun melangkah pergi meninggalkan ruang kerjanya. Tanpa senyum, pandangan yang lurus membuat Satria tak merespon Dinda yang bertanya kepadanya.
"Mau kemana? Tumben, dia pergi tak memberitahuku dulu? Apa mungkin, dia akan pulang? Tapi, jika dia pulang sekarang bukan Satria namanya. Dia 'kan, selalu pulang kerja di saat semua staf kantor pulang," gumam Dinda berpikir sejenak dan merapikan kembali laporan yang tertumpuk di meja kerjanya.
Satria menuju ruang cctv yang letaknya dekat dengan receptionist. Ia berniat untuk melihat siapa cleaning servis yang menimpanya itu. Pikirannya selalu ada tanda tanya tentang cleaning servis itu.
Ceklek!
Suara pintu ruang cctv membuat dua karyawan yang bertugas di sana terkejut ketika atasannya berdiri dengan wajah yang jutek ke arah mereka. Dengan cepat, mereka meletakkan tas ransel dan mengurungkan niat untuk pulang lebih awal.
"Sore, Pak!" sapa mereka serempak dengan sigap.
Tanpa menjawab, Satria menghampiri mereka dan duduk tepat di salah satu kerja mereka.
"Saya, mau melihat kejadian tadi siang. Tepat di lobi depan," perintah Satria seraya menyilangkan kedua kakinya dengan kedua tangan menopang di d**a.
"Ba-ik, Pak," jawab Agus, salah satu karyawan yang mulai duduk di samping Satria dan mulai mengoperasikan komputer untuk melakukan pencarian.
Reza, salah satu karyawan yang berdiri di belakang Satria hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya sembari melirik atasannya yang terkenal akan judesnya jika mengetahui kesalahan yang dilakukan oleh karyawannya.
"Semoga saja, pak Satria tidak mencari kejadian di saat aku tertidur tadi. Jika pak Satria tau, habis aku!" gumam batin Reza menggigit bibirnya seraya menopangkan satu tangannya tepat di dagu.
Satria mengernyit. Kedua matanya tak berhenti menatap ke arah layar monitor yang sama sekali tak memperlihatkan apa-apa.
Tanpa sepengetahuan Satria, Reza menghela nafas panjang.
"Apa cctv di sana rusak?" tanya Satria mendesah dan tidak berhasil melihat wajah cleaning servis yang membuat ia penasaran.
"Maafkan kami, Pak. Kami akan memperbaiki cctv yang rusak," ucap Agus.
"Itu sudah tanggung jawab kalian! Dan saya tak mau ada cctv yang tak berguna seperti ini ada di kantot!" ketus Satria pergi meninggalkan mereka.
Sesaat, mereka saling tatap satu sama lain dan menghela nafas panjang secara bersamaan.
"Untung saja, Pak Satria tak curiga. Jika beliau tau, kamu tidur di saat jam kerja. Bisa-bisa, tak hanya kamu yang di out dari kantor ini, tapi aku juga yang kena imbasnya kata Agus menggerutu.
"Iya, maaf."
***
Dengan sangat terpaksa, Rachel harus menjual jam tangan kesayangannya itu dengan harga yang tak sesuai dengan keinginannya.
Kecewa dan pasrah, itulah yang menyelimuti pikirannya saat ini. Dengan langkah yang pasti, Rachel mulai duduk di halte bus.
Angin sore berhembus kencang hingga membuat rambut panjang pirang Rachel sedikit menutupi wajah cantiknya.
"Ya, nggak apa ,deh! Rugi sedikit. Yang penting, aku masih megang uang untuk satu bulan ke depan." Rachel mulai tersenyum seraya menyapu rambutnya.
"Ya Tuhan, ternyata begini rasanya serba kekurangan. Benar-benar butuh perjuangan keras," gumam Rachel. Meskipun, serba kekurangan tapi aku sangat senang, akhirnya aku bisa menjadi seorang yang mandiri," kata Rachel bersiap untuk menaiki bus yang menuju arah pulang ke kontrakan.
Dari arah berlawanan, Rita yang tak lain adalah mamanya Satria, terkejut dan terperangah ketika melihat calon menantunya ada di Bogor.
"Pa, bukankah itu Rachel!" tunjuk mama Rita seraya mengoyak-ngoyak tubuh suaminya.
"Mana?" tanya papa Dhaniel yang tak melihat orang yang dimaksud istrinya tersebut.
"Kayaknya, dia sudah naik bus itu, deh! Bagaimana kalo kita putar balik, kejar bus itu, Pa. Mama, yakin itu pasti Rachel, calon menantu kita," desak mama Rita yang begitu yakin.
"Ma, mana mungkin calon menantu kita naik bus seperti itu? Dan tak mungkin juga jika dia pergi ke Bogor?" gerutu papa seraya mengernyitkan dahinya.
"Iya, juga, sih! Buat apa dia ke Bogor dan tak mungkin juga dia naik bus umum. Ah, mungkin karena aku selalu memikirkan dia. Jadi seolah-olah, aku selalu melihat wajahnya. Aduh, Rachel kenapa kamu harus pergi segala, sih! Andai saja, kemarin kita sudah bertemu. Mama pasti sudah mengajak kamu jalan-jalan, shoping, pokoknya mama akan selalu memanjakanmu," gumam batin mama seraya tersenyum senang sembari memejamkan matanya mengingat betapa cantik dan anggun foto Rachel.
Pak Dhaniel yang mengetahui tingkah laku istrinya, hanya bisa menggelengkan kepala.Terlalu baper jadi orang.
"Nggak usah berkhayal tingkat tinggi, Ma." Papa Dhaniel yang membuat lamunan mama Rita buyar begitu saja.
"Maksud Papa?" tanya mama Rita penasaran.
"Jika dalam dua bulan, tak ada kabar dari gadis itu. Dengan terpaksa, papa akan mencarikan gadis yang lebih berkelas di bandingkan dengan si Rachel itu."
"Tapi, Pa. Papa, nggak bisa menggantikan posisinya dengan gadis lain. Bagaimana kalo Oma tau?" bantah mama Rita.
"Ya, mau gimana lagi. Yang dijodohkan saja malah kabur. Oma pasti mengerti dengan keputusan Papa," kata papa Dhaniel yakin.
"Ih, Papa. Padahal, sejak melihat foto Rachel. Mama sudah merasa klop banget," gumam batin mama Rita seraya memayunkan bibirnya.
Sesampai di rumah, mama Rita mencari putranya yang tak ada di rumah.
"Kok sepi? Apa dia belum pulang?" tanya mama Rita menghampiri suaminya yang sibuk dengan urusan pekerjaan.
"Pa, Satria kok nggak ada? Ini 'kan, sudah malam. Masa' dia belum pulang juga?" gumam mama Rita.
"Kayak nggak tau, Satria saja. Menurut dia, pekerjaan adalah hal yang selalu di nomor satukan sama anak kamu itu. Dan tak heran jika dia bisa memegang beberapa perusahaan seorang diri," puji papa Dhaniel yang terlihat begitu bangga dengan putranya tersebut.
"Mama jadi takut, deh, Pa! Bagaimana kalo dia mempunyai istri nanti, apa dia akan lebih memprioritaskan pekerjaannya daripada istrinya?" sindir mama yang membuat papa Dhaniel tersenyum tipis sembari menggaruk-garuk kepalanya.
"Udahlah, Ma. Kenapa Mama menatap sinis papa seperti itu," kata papa mengernyitkan dahinya dan merangkul pundak istrinya.
"Mama nggak mau saja, Satria seperti Papa. Lebih mementingkan pekerjaan daripada istrinya sendiri," kata mama memanyunkan bibirnya.
Hampir lima menit Satria berdiri di pintu seraya melihat drama apalagi yang dilakukan oleh kedua orangtuanya saat ini.
Ia mulai berjalan menghampiri mereka yang masih berbeda pendapat satu sama lain.
"Kapan datang?" tanya Satria tiba-tiba dan mengejutkan mereka.
"Sayang, kamu sudah pulang!" kata mama beralih duduk di samping Satria. Raut wajah yang tadinya terlihat begitu masam kini seketika berubah dengan senyum manis.
"Iya."
Satria mulai duduk di depan mereka berdua.
"Apa yang mengharuskan kalian untuk datang ke Bogor? tanya Satria penasaran. Kedua matanya menatap kedua orang tuanya yang menatap satu sama lain.
"Sayang, tadi waktu perjalanan ke sini. Mama lihat Rachel," tutur mama yang membuat satria mengernyit mendengar nama yang sangat asing baginya.
"Rachel? Siapa Rachel?"