Sayang, tadi waktu perjalanan ke sini. Mama lihat Rachel," tutur mama yang membuat satria mengernyit mendengar nama yang sangat asing baginya.
"Rachel? Siapa Rachel?"Sayang, tadi waktu perjalanan ke sini. Mama lihat Rachel," tutur mama yang membuat satria mengernyit mendengar nama yang sangat asing baginya.
"Rachel? Siapa Rachel?" tanya Satria penasaran.
Drt ... Drt ...
Satria mengangkat telepon dari klien dan meninggalkan mereka.
Mama Rita mennghela nafas panjang, ia tak menyangka jika putranya benar-benar sibuk dengan pekerjaannya.
"Ini sudah malam, tapi dia tetap saja mengurus pekerjaannya," keluh mama Rita yang seakan tak ada waktu untuk berbicara dengan putranya.
"Ma, alangkah baiknya kalo mama jangan bahas tentang Rachel. Hari ini, dia terlihat lelah dengan pekerjaannya. Jika perkataan mama ada yang tak cocok dengannya, pasti dia akan marah," pinta pak Dhaniel memberi saran.
"Tapi, Pa ...," kata mama yang tak sabar ingin memberitahu tentang Rachel pada putranya.
"Besok saja, ya? Cari waktu yang tepat!" kata pak Dhaniel seraya mengusap bahu istrinya.
Satria kembali menghampiri kedua orangtuanya yang masih menunggu dirinya.
"Mungkin satu bulanbke depan, Papa dan mama akan tinggal di apartemen. Jika kamu ingin bertemu dengan kami, kamu bisa langsung ke apartemen," kata papa.
"Apa ada pekerjaan di Bogor?"
"Oma menyuruh papa untuk mengurus resort baru milik kakak kamu," jawab papa dengan senyum manisnya.
"Iya, kamu tau sendiri 'kan! Kakak kamu, sangat sibuk dengan dunia perfilmannya. Mama seperti tak punya anak saja. Punya dua anak tapi sama-sama sibuk dengan pekerjaannya. Dan tak ada waktu sedikitpun untuk mama," gerutu mama dengan wajah yang cemberut.
"Bukankah itu keinginan Mama. Supaya kami berdua bisa menjadi orang yang sukses?" Pertanyaan Satria membuat mamanya tak bisa membantah.
"Iya, Mama, nih. Lagian, Mama juga selalu bersama papa 'kan?" tanya papa.
"Iya, tapi mama kesepian, Pa. Punya satu cucu saja, nggak pernah bertemu," gerutu mama mendesah.
"Mereka juga di Bogor. Katanya ada pemotretan di daerah sini," kata Satria membuat kedua orangtuanya terperangah.
"Bawa Olivia juga?" tanya mama penasaran dan mendesah ketika Satria menganggukkan kepala.
"Ini, yang mama tak suka sama kakak kamu. Jika ada pemotretan, seharusnya dia titipkan Olivia sama mama. Olivia 'kan masih kecil. Nggak baik, jika di bawa saat bekerja seperti itu. Pokoknya, jika kamu menikah dengan Rachel dan mempunyai anak nanti, mama nggak ngijinin istri dan anak kamu seperti kakak kamu," kata mama yang terlihat begitu marah.
"Rachel? Siapa Rachel? Kenapa Satria harus menikah dan mempunyai anak dengan Rachel?" tanya Satria bingung akan ucapan yang terlontar dari mulut mamanya.
Sesaat, Satria mengernyitkan dahinya dan menunggu jawaban dari mamanya.
"Ya, siapa lagi kalo gadis pilihan Oma kamu yang kabur itu," sahut papa.
Satria hanya mendesah dan tersenyum tipis akan keinginan mamanya untuk menjodohkan kembali dengan orang yang tidak menyetujui perjodohan itu.
"Satria heran sama mama dan papa. Kenapa kalian tidak membatalkan perjodohan ini saja? Secara tidak langsung, gadis itu menolak mentah-mentah Satria, Ma. Kita mempunyai segalanya tapi kenapa kita seperti orang yang mengemis cinta dari keluarga itu?" Satria yang terlihat begitu marah jika mengingat calon tunangannya yang kabur di hari pertunangannya.
"Sayang, dia tidak kabur! Dia cuma butuh waktu untuk berpikir. Mereka meminta waktu dua bulan untuk membujuk putrinya untuk meneruskan perjodohan ini," kata mama membelai pundak putranya yang bidang itu.
"Dua bulan? Jadi kita harus menunggu? Keluarga Angkasa menunggu orang yang tak pasti itu?" ketus Satria.
"Untuk saat ini, itu yang harus kita lakukan, Sat. Oma, juga sudah bilang jika dalam waktu dua bulan dia tidak mau dengan perjodohan ini. Oma akan pulang dari Hongkong untuk menyelesaikan semua ini," tutur papa sedikit meredam amarah putranya.
"Iya, Sayang. Lagian, Rachel sangat cantik dan mama yakin jika kamu melihatnya pasti kamu akan jatuh cinta pada pandangan pertama," sela mama mengelus d**a putranya yang tertutup dengan jas berwarna hitam.
Satria hanya mendesah sebal ketika mendengar pujian yang terlontar dari mulut mamanya pada calon tunangannya itu. Bagi dirinya, secara tidak langsung calon tunangannya itu sudah melukai hatinya.
"Meskipun dia wanita tercantik di dunia ini, tetap saja dia sudah membuat hatiku sakit akan tingkahnya yang kabur di acara pertunangan kemarin. Aku janji, jika pernikahan itu terjadi. Aku akan membuatnya menderita," gumam batin Satria dengan sinisnya.
****
Kedua mata Intan terbelalak kaget ketika melihat ada beberapa camilan dan makanan yang tergeletak di atas meja. Senyum manis kembali tertoreh ketika Rachel mengambil dua piring untuk dirinya.
"Kenapa bengong? Ayo duduk!" kata Rachel yang bersiap membuka bungkus makanan yang ia letakkan di atas piring.
"Chel, katanya kamu nggak punya uang? Kenapa kamu malah membeli makanan sebanyak ini? Apa kamu bertemu dengan keluarga kamu di sini?" tanya Intan menggigit sendok dan tak sabar ingin makan.
"Udah, yang penting sekarang kita isi perut kita dulu. Nanti aku ceritain," kata Rachel yang mulai menyantap makanan dengan lahapnya. Begitupun dengan Intan.
Sesaat, Intan memperhatikan tangan mulus sahabatnya yang sedikit ada perubahan.
Tangan kirinya tak berhenti menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia berpikir, terdiam dan mengingat apa yang terjadi pada tangan kanan Rachel? Hingga ia berpikir sangat lama untuk menebaknya.
Rachel yang mengetahui Intan diam-diam memperhatikannya, dengan cepat ia mencolek tangan yang ukurannya lebih besar darinya itu.
"Kenapa? Apa kamu masih kurang?" tanya Rachel mengejutkan Intan.
"Ehm, ti-dak. Ini saja, aku belum habis." Intan meringis.
Sesudah makan, Intan mencoba bertanya tentang keanehan yang terjadi di tangan sahabatnya itu.
"Chel, sebenarnya apa yang kurang, ya? Di tangan kamu ini? Aku merasa ada yang sedikit aneh? Tapi, apa?" gumam Intan membelai dan memperhatikan tangan mulus Rachel yang tidak ada nodanya sama sekali.
Rachel hanya tersenyum tipis dan membelai tangan gemuk Intan yang membuatnya merasa sedikit risi akan belaiannya.
"Jam tangan," jawab Rachel yang membuat sahabatnya menepuk jidat dengan jawaban yang seharusnya ia tebak dengan mudahnya.
"Ya Tuhan, kenapa aku sampai berpikirnya lama sekali. Padahal gampang banget untuk di tebak. Trus, mana jam tangan kamu itu? Bukankah kamu tak pernah melepasnya?" tanya Intan penasaran.
"Aku jual," jawab Rachel datar dan mengejutkan sahabatnya itu.
"What? Kenapa kamu jual? Bukankah itu jam tangan kesayangan kamu?"
"Nggak apa? Lagian, kalo aku gajian nanti juga bisa membeli yang baru. Dan sudah seharusnya aku menjual jam tangan itu," kata Rachel memaksa untuk tersenyum.
Intan memaksa untuk tersenyum dan tak mau bertanya lebih dalam lagi tentang jam tangan itu. Karena ia tau, jam tangan itu adalah kado istimewa dari sang mantan terindah sahabatnya itu.
"Oiya, untuk bulan ini. Aku sudah membayarnya, jadi kamu nggak usah bingung lagi memikirkan uang untuk membayar kontrakan," kata Rachel yang lagi-lagi membuat sahabatnya terkejut dan terharu akan kebaikannya.
"Makasih, ya, Chel. Dari dulu kamu selalu peduli padaku," kata Intan memeluk sahabatnya dengan erat.
"Iya, Tan. Seharusnya aku yang berterimakasih padamu, karena kamu sudah mengijinkan aku untuk tinggal di sini. Kalo tidak ada kamu, mungkin aku sudah menjadi gelandangan."
Di ruang kerjanya, Satria terdiam seraya memikirkan calon tunangannya itu.
"Rachel? Rachel siapa? Seperti apa orangnya?" kata Satria yang mencoba mencari di sosmed. Kedua matanya mengerling ketika melihat beberapa nama yang sama berurutan di layar laptopnya.
"s**l, kenapa banyak banget nama Rachel? Argh, sudahlah! Ngapain juga aku ingin tau tentang tuh cewek," gerutu Satria melirik nama yang membuatnya sedikit tertarik.
"Rachel Anastasya?" ucap Satria memicingkan matanya dan menekan nama tersebut.
Sesaat, kedua matanya mengerling dan terkejut ketika melihat foto cewek yang begitu tak asing baginya, terpampang jelas dengan senyum manis bak seperti model.
"Bukankah cewek ini?" tunjuk Satria yang mengingat momen pertemuan mereka.