Cewek bawel itu seorang cleaning servis

1179 Words
Sesaat, kedua matanya mengerling dan terkejut ketika melihat foto cewek yang begitu tak asing baginya, terpampang jelas dengan senyum manis bak seperti model. "Bukankah cewek ini?" tunjuk Satria yang mengingat momen pertemuan mereka. Sejenak, senyum yang tak pernah tertoreh di dirinya, kini sedikit tertoreh saat melihat beberapa foto Rachel yang membuatnya sedikit terpesona. "Jika, diperhatikan cewek ini cantik juga," gumam batin Satria yang selalu melihat foto Rachel selanjutnya. Senyum itu hilang seketika saat menyadari dirinya hanyut dalam perasaan. Ia memilih menjauh dari laptopnya seraya mendengus sebal. "Bicara apa aku ini? Bisa-bisanya, aku bilang cewek bawel dan manja itu cantik," gumam Satria mematikan laptopnya. *** Di satu sisi, Pak Dirga terkejut ketika mendengar kabar kalo putrinya pergi ke kota Bogor. Ia tak menyangka, jika Rachel benar-benar tak memperdulikan perasaan keluarganya. Kabur dari rumah dan tak memberi kabar sama sekali pada keluarganya. "Ke Bogor? Apa dia mencari Darwin? Tapi itu tidak mungkin, sudah hampir tiga tahun mereka tidak berhubungan," gumam pak Dirga seorang diri. Sesaat, mama Gina menghampiri suaminya yang terlihat begitu banyak pikiran. Dengan penuh perhatian, mama Gina menyodorkan secangkir kopi untuk suami tercintanya itu. "Di minum dulu, Pa!" seru mama Gina duduk tepat di sampingnya. "Makasih, Ma!" jawab papa mulai menyeruput kopi yang panasnya sangat pas untuk menghangatkan tubuhnya di pagi hari. "Apa ada kabar dari Rachel, Pa?" tanya mama Gina yang tak berhenti berharap.  "Rachel pergi ke Bogor," jawab papa Dirga yang membuat istrinya sedikit lega mendengar keberadaan putrinya sekarang. "Apa dia punya teman di Bogor?" tanya papa penasaran. "Mama kurang tau, Pa. Apa nggak sebaiknya kita minta tolong dengan calon menantu kita, Pa. Bukankah Satria itu tinggal di Bogor. Dan sangatlah mudah baginya untuk menemukan Rachel," pinta mama Gina senang. Sera dan Nia yang mengetahui keberadaan keponakannya dengan cepat menghampiri kedua kakaknya. "Iya, Kak. Sera setuju, bukankah Satria itu seorang pengusaha terkenal dan sangatlah mudah baginya untuk menemukan Rachel," sahut Sera senang. "Iya, Nia juga setuju!" sela Nia seraya menaikkan alisnya dengan wajah yang sumringah. "Iya, aku akan coba memberi tau pak Dhaniel. Siapa tau dia mau membantu kita," kata Pak Dirga mencoba menghubungi Dhaniel. **** Dengan langkah yang perfect, Satria bergegas untuk pergi meeting di pagi hari. Dengan setelan jas yang berwarna navy dan rambut yang terlihat begitu rapi dengan gaya khasnya, membuat aura ketampanannya kian terpancar. Mama Rita mengejar putranya yang berjalan begitu cepat menuju ke arah mobil. "Sayang, tunggu!" teriak mama menghentikan langkah Satria. Satria membalikkan badannya dan mengernyitkan dahi melihat mamanya menghampiri dirinya dengan nafas terengah-engah. "Ada apa, Ma? Mama tak perlulah, lari-lari seperti ini?" kata Satria memegang bahu mamanya. "Ada hal yang ingin mama bicarakan pada kamu, Sayang!" kata mama dengan senyum manisnya. Satria melirik arah jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Maaf, Ma. Satria ada meeting hari ini. Nanti sepulang kerja, Satria akan mendengarkan semua cerita Mama. See you, Ma!" kata Satria tersenyum meninggalkan mamanya yang hanya terdiam dan tak bisa menghentikan putranya jika sudah berurusan dengan pekerjaan. "Anak itu benar-benar sudah gila dengan pekerjaannya. Padahal, mama 'kan ingin memberitau dia, kalo calon tunangannya juga ada di Bogor," ujar mama Rita mendesah sebal sembari menopangkan kedua tangan di d**a. Di kantor, Rachel menoleh ke sana kemari dan memastikan kalo dirinya dalam posisi aman dan tidak bertemu dengan Satria. "Syukurlah, aman! Tapi, sampai kapan aku harus bekerja menggunakan masker seperti ini? Kenapa Intan memberi saran yang membuat aku sangat benci untuk melakukannya. Dia nggak tau apa, susahnya aku merawat wajahku ini. Jika setiap hari memakai masker, bisa-bisa wajah cantikku ini seperti topeng," gerutu Rachel membuka masker dan mulai mengelap kaca yang ada di lobi depan. Hentakan kaki Satria terdengar begitu pasti dan membuat semua karyawan hormat saat melihatnya. Sesaat, Satria menghentikan langkahnya ketika ada orang yang tidak hormat kepadanya. Dan masih saja mengelap kaca. Lirikan matanya begitu tajam menatap tepat ke arah Rachel. Hanumyang berdiri di samping Rachel, dengan cepat menarik baju Rachel dan mengkode kalo atasannya diam-diam memperhatikannya. Tapi sayang, Rachel tak mengerti maksud dari kode tersebut. Tanpa mengenakan masker, Rachel menoleh ke arah Satria yang menatapnya begitu tajam. Terperangah, terkejut dan bingung harus bagaimana, itulah yang ada di pikiran Rachel saat ini. "Tamat riwayatku!" desah batin Rachel tertunduk dan tak berani menatap Satria yang terlihat begitu benci kepadanya. "Ternyata cewek bawel ini kerja di sini?" gumam batin Satria menatapnya dengan sinis. "Ada apa Sat? Meeting akan segera mulai," pinta Dinda yang datang tiba-tiba menghampiri Satria. "Tak apa!" jawab Satria melangkah pergi. Rachel menghela nafas panjang. Ia melipat bibirnya seraya melirik Hanum yang siap menceramahinya. "Kamu, sih! Seharusnya, kamu meninggalkan pekerjaan kamu dulu dan hormat dulu pada pak boss," gerutu Hanum yang kembali melanjutkan pekerjaannya kembali. "Haruskah kita hormat seperti anak sekolah, Kak?" tanya Rachel yang masih saja menunduk. "Apa susahnya, sih! Berdiri dan tersenyum sedikit di hadapan pak boss? Daripada kita kehilangan pekerjaan kita." "Iya, Kak!" Hanum menghela nafas melihat Rachel yang masih saja menunduk. "Ngapain masih menunduk? Pak boss sudah pergi juga," kata Hanum yang melihat Rachel menghela nafas seraya memegang d**a. Di ruang kerjanya, Satria masih tak percaya jika cewek bawel itu adalah seorang cleaning servis di perusahaannya. Sesaat, ia tersenyum tipis dan berpikir sesuatu untuk membuat perhitungan kepadanya. Rachel melepas maskernya dan membuangnya ke tempat sampah. "Ya Tuhan, capek benar!" gumam Rachel mengipas sebuah potongan kardus tepat ke wajah cantiknya. "Chel, kamu antar kopi ini, ya?" pinta Hanum menyerahkan secangkir kopi dan camilan yang di atas nampan itu pada Rachel.  "Siap!" kata Rachel dengan semangat. "Ingat! Yang sopan, jangan lakukan kesalahan pada orang yang posisinya di atas kita," kata Hanum mengingatkan. "Emangnya kopi ini di antar kemana, Kak?" tanya Rachel penasaran. "Pak boss besar," kata Hanum yang membuat Rachel terbelalak kaget. "Buruan! Kenapa malah bengong?"  "Maksud Kak Hanum, Pak Satria?" tanya Rachel memastikan seraya mengernyitkan dahinya. "Ya, siapa lagi. Buruan! Jika telat sedikit saja, aku tak menjamin kamu bisa bekerja di sini lagi atau tidak," kata Hanum menakut-nakuti. "Emang harus Rachel, ya, Kak?"  "Mintanya begitu. Buruan! Daripada kamu nanti kena semprot," kata Hanum. Dalam hati, Rachel menggerutu tiada henti dan pertanyaan aneh-aneh mulai melintas di pikirannya. "Pasrah saja, deh! Jika dia mau memecatku. Lagian, aku juga tak bisa menutupi keberadaan diriku bekerja di sini," gumam Rachel yang menghela nafas panjang ketika berdiri tepat di depan ruang CEO itu. Tok tok tok Rachel mulai mengetok pintu dan menunggu jawaban yang tak kunjung juga ia dengar. Ia mencoba mengetok sekali lagi. "Masuk!" Jawaban itu terdengar begitu jelas hingga membuat jantung Rachel berdetak begitu kencang. Lentik indah matanya tak berhenti berkedip seperti boneka barbie jika ia dalam keadaan gugup. Ia mulai memberanikan diri untuk memasuki ruang kerja yang terlihat begitu istimewa dibandingkan dengan yang lainnya. "Aduh, kenapa aku gugup seperti ini?" gumam batin Rachel menatap tubuh perfect Satria yang sedang sibuk memeriksa laporan seraya menatap ke arah luar. Postur tubuhnya yang atletis, membuat Rachel sedikit mengingat dengan gaya Darwin yang tubuhnya hampir sama dengan Satria. "Permisi, Pak! Ini kopi pesanan, Bapak." Rachel mulai meletakkan kopi dan camilan itu di meja kerja. Satria membalikkan badannya dan tersenyum sinis menatap Rachel yang tak berani menatap dirinya. "Rachel Anastasya!" kata Satria yang membuat Rachel mendongak dan terkejut saat Satria mengetahui nama lengkapnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD