Bab 5 Menguak fakta masa lalu(on flashback)

1287 Words
Satu minggu setelah pertemuan Ataya dengan selingkuh suaminya, kini wanita itu mulai bangkit kembali dari rasa sakit yang sempat membuatnya sedikit terpuruk. Dan di sebuah restoran mewah, dua wanita beda generasi tengah duduk berhadapan dengan meja sebagai pembatas. Sejak baru tiba di sana, hanya beberapa kalimat yang mereka ucapkan untuk menanyakan kabar masing-masing lalu kembali terdiam. Tenggelam oleh pikiran masing-masing. "Apa laki-laki breng sek itu sudah memberikan bukti yang kamu minta?" Senyum penuh kemenangan terbit sempurna di bibir Ataya. Wanita itu menggeleng pelan sambil menyeruput kopi s**u hangat kesukaan. "Belum. Aku juga tidak mendesaknya, tidak untuk saat ini. Aku masih terlalu sibuk memulihkan kondisi keuangan perusahaan yang di tilap oleh Adam. Dan ya, jangan lupa jika laki-laki breng sek itu adalah putra mama sendiri." Ucap Ataya tertawa pelan melihat wajah pias sang mertua. "Cih! Jika aku bisa menukarnya dengan sepasang anak kambing. Aku akan dengan senang hati melakukannya," balas Lestari geram. Wanita kesal bukan main dengan sikap semena-mena sang anak pada menantu kesayangannya. flashback "Kenapa harus aku Tante? Adam memiliki banyak teman wanita, lagi pula aku tidak mencintai putramu itu. Ini pernikahan, bukan sebuah permainan tarik ulur layangan. Yang jika putus dapat di sambung kembali dengan mudah. Aku tak ingin mempermainkan sebuah pernikahan. Maaf, aku menolak permintaan tante dengan segala rasa hormatku," tolak Ataya tegas. Dokter cantik itu sangat terkejut dengan kedatangan Lestari ke mansionnya. Wanita paruh baya itu datang dengan menawarkan sebuah ikatan pernikahan. Tentu saja Ataya menolaknya dengan tegas. Adam yang ia ketahui adalah kekasih sahabatnya, itu yang dia ketahui sebelum mereka lulus dan berpisah beberapa tahun ini. "Tante mohon, Ataya. Demi jalinan persahabatan keluarga tante dan mendiang kedua orang tuamu di masa lalu." Lestari terus membujuk dengan sedikit paksaan yang di iringi deraian air mata. "Jika hanya demi sebuah persahabatan, aku tidak bisa tante. Aku bahkan tidak terlalu mengenal Adam dengan baik. Kami tidak sedekat itu untuk menjalin sebuah hubungan, apalagi tiba-tiba menikah." Lestari menatap sendu pada gadis muda yang wajahnya begitu menduplikasi wajah cantik sang sahabat. "Apa kamu lupa, jika dulu tantelah yang mendonorkan ginjal tante untuk mommymu, Ataya?" Akhirnya, kalimat pamungkas Lestari bagai mata kunci, yang membuka kenangan lama. Tentu saja Ataya mengingatnya dengan jelas. Saat itu dirinya sudah berusia 16 tahun. "Jadi , maksud tante aku telah terikat hutang nyawa pada tante, begitu?" Ataya mulai terpancing namun berusaha untuk tetap tenang seperti biasanya. "Tidak. Jika saja kamu tak menolak untuk menikah dengan putraku." Sahut Lestari tersenyum miring. Ia berhasil menekan Ataya. "Berapa harga yang tante inginkan, untuk ginjal yang sudah tante berikan kepada ibuku? Aku akan melunasi hutang nyawa yang telah tante pinjamkan untuk mommyku di masa lalu. Tapi tidak untuk menikahi pria yang tidak aku cintai," pungkas Ataya tetap pada pendiriannya. Lestari sedikit terkejut dengan kalimat menohok dari mulut Ataya. Dia tak menyangka jika gadis itu akan membahas soal harga untuk satu ginjalnya. Tidak, bukan itu yang ia inginkan. Sungguh bukan! Lestari tertawa hambar, ada kegetiran dalam tawanya namun sulit untuk di jelaskan. Setelah tawanya mereda, Lestari menyeka sudut matanya yang sedikit berair. "Harganya sangat mahal, Ataya. Tante tidak yakin kamu akan sanggup untuk membayarnya. Kekayaan keluarga Marchel tidak akan mampu untuk memenuhi semua syaratku. Untuk itu, kenapa dulu ginjalku, aku berikan dengan suka rela tanpa meminta imbalan apapun." Papar Ataya tersenyum simpul penuh makna. "Dan tante baru menyadari sekarang, jika mendapatkan sebuah imbalan adalah hal yang sebanding, benar bukan? Sayangnya, aku tetap tidak bisa. Bahkan jika seluruh aset keluarga Marchel tante minta, maka aku akan memberikannya dengan penuh kerelaan hati." Kalimat tantangan yang terucap seringan kapas dari mulut Ataya membuat Lestari mende*sah putus asa. Dia lupa, Ataya adalan keturunan seorang Marchel. Berwatak keras dan sanggup menantang maut jika di perlukan. Wanita muda itu memiliki kepribadian yang teguh dan tak tergoyahkan. Ataya terlalu cerdas untuk dia akali dengan alasan basi. Gadis itu bahkan rela kehilangan harta bendanya demi mempertahankan pendiriannya. Tangan Lestari terlihat turun dan merogoh sesuatu dari dalam tas murahannya. Keluarganya hanya keluarga sederhana. Suaminya hanya seorang ASN PNS dengan gaji standar sesuai golongan akhir. Sementara dia memiliki dua orang anak yang butuh banyak biaya. Kesehatan suaminya sedikit menurun belakangan ini dan terancam pensiun dini. Apa lagi saat menyaksikan di depan mata kepalanya sendiri, bagaimana sang sahabat meregang nyawa dengan cara tak bisa di terima. 3 tahun pasca kepergian kedua sahabatnya, keadaan suaminya tidak pernah benar-benar baik-baik saja. Tangan Lestari terulur sambil menggenggam sesuatu yang belum Ataya ketahui. "Tante harap dengan ini kamu mau mempertimbangkan permintaan kecil tante ini, nak. Seharusnya tidak perlu sampai seperti ini. Nyatanya gen Marchel terlalu kuat mendominasi ego mu." Ucap Lestari dengan nada lemah. Ataya mengerut saat melihat sebuah flashdisk berwarna merah dengan tulisan kecil di atasnya. Seperti sederet angka yang menjelaskan tentang sebuah peristiwa di masa lalu. Di lihat dari tahun yang sudah terlewati dari tahun sekarang. "Apa ini? Apa semacam surat pernyataan dalam bentuk video yang menguatkan penyerahan aset-aset keluarga Marchel kepada tante?" Todong Ataya memicingkan matanya. Lestari kembali tertawa, tawa yang memiliki banyak makna. "Kamu bisa melihatnya sendiri, Taya. Tante akan menunggu dengan sabar hingga kamu menontonnya sampai tuntas. Meski tante tak yakin, kamu sanggup untuk melihatnya hingga durasi terakhir. Tante akan terus di sini, mungkin saja kamu butuh sedikit penjelasan lebih dari apa yang akan kamu saksikan nanti." Tutur Lestari tetap tenang. Wanita itu menatap nanar gadis yang sangat dia kasihi itu. Ataya sudah seperti seorang putri baginya. Dengan enggan Ataya menyambungkan flashdisk tersebut ke laptopnya. Tangannya terus menggulirkan kursor hingga terbukalah sebuah video yang di beri judul nama folder "jangan di buka". Ataya tersenyum lucu saat membacanya meski hanya dalam hati. Jika tidak boleh di buka, lalu kenapa sekarang dia di suruh untuk menontonnya? Ada-ada saja Ataya membatin. Dengan sekali klik, video mulai berputar. Rekaman yang terlihat di rekam tanpa sepengetahuan orang yang tengah di rekam. Karena video itu beberapa kali menggelap, bergeser dan bergoyang tak tentu arah. Seperti sedang di sembunyikan dari pandangan seseorang. Menit kedua, iris mata Ataya mulai melebar. Dua orang yang terekam atau sengaja di rekam di dalam video tersebut. Adalah dua orang yang sangat dia kenali. Tangannya bergetar, nafasnya memburu menahan sebuah gejolak. Ada kemarahan besar yang tengah dia tahan agar tak meledak saat itu juga. Gadis yang tengah di rangkul dan merangkul mesra itu adalah sahabatnya. Dan pria tampan itu adalah ayah kandungnya. Keduanya tengah melakukan check in di sebuah meja resepsionis hotel ternama di kota di mana keluarganya berdomisili. Ataya mengepalkan kedua tangannya sekuat mungkin. Hingga tak lama terdengar suara 'krak' dari mouse yang sedang ia genggam. Lestari tersentak lalu menoleh ke arah tangan kanan Ataya. Darah segar mengalir deras dari sana, Lestari langsung panik dan ketakutan. "Ataya, nak! Tanganmu terluka.. lepaskan, kamu bisa melukai tanganmu lebih dalam." Pinta Lestari berusaha melepaskan genggaman tangan Ataya dari mouse yang masih berada dalam genggaman tangan gadis itu. Namun kekuatan amarah yang tengah menyelimuti hati Ataya begitu kuat. Hingga membuat genggaman tangan wanita itu semakin erat. Lestari berteriak histeris memanggil para pelayan, hingga beberapa pelayan datang dengan tergesa-gesa. "Tolong bantu aku melepaskan genggaman tangan nona muda kalian..." Titah Lestari dengan tubuh bergetar hebat. Wanita itu benar-benar di landa ketakutan besar saat ini. Ataya sejak kecil pobhia terhadap darah. Hanya dengan melihat setetes darah saja, Ataya akan langsung kehilangan kesadaran diri. Ataya seperti orang tak sadar, matanya berair dengan tatapan kosong. Sesaat setelah berhasil melepaskan tangan Ataya. Tubuh gadis itu ambruk hingga membentur meja kaca tanpa sempat di tahan oleh para pelayan. Rupanya Ataya syok berat dengan apa yang baru saja ia lihat. Ayah yang selalu dia banggakan tega mengkhianati ibunya. Dan gadis yang sering dia bawa menginap di rumahnya, yang di perlakukan dengan baik oleh ibunya. Tega menusuknya dari belakang tanpa perasaan. To be continue Yuhuuu... jangan lupa tap favorit untuk berlangganan novel keceh ini ya guys he-he-he... Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose-Ana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD