Bab 6 Kemarahan Adam

1751 Words
Sudah hampir satu jam Ataya pingsan, dokter mengatakan jika Ataya mengalami syok dan depresi. Mental gadis itu mengalami guncangan hebat dengan kenyataan yang baru saja dia ketahui. "Euunghhh..." Lenguhan kecil Ataya membuat senyum Lestari melebar. "Kamu sudah bangun nak, mau minum?" Tawar Lestari penuh perhatian. Lalu membantu Ataya untuk bersandar di punggung ranjang. Setelah terdiam beberapa menit, akhirnya Ataya angkat suara. "Aku akan menikah dengan anak tante, namun aku punya syarat untuk itu." Putus Ataya akhirnya, senyum Lestari mengembang sempurna. "Katakanlah nak, tante akan mencoba untuk memenuhinya." Balas Lestari tersenyum senang. "Hanya dua tahun pernikahan, setelah aku menemukan parasit itu, dan membalaskan dendamku. Aku akan mengurus perceraian dengan atau tanpa persetujuan anak tante. Tapi jika aku lihat, Adam adalah tipe pria pecinta yang tak memakai akal dan logika. Putra bodoh tante itu pasti akan sulit berpaling dari kekasih kesayangannya itu. Aku yakin Adam pasti akan dengan mudah melepaskan ikatan pernikahan kami tanpa berpikir panjang." Tukas Ataya datar menyuarakan rencananya. "Baiklah, tidak masalah. Yang penting sekarang kau harus membantu Tante untuk menjauhkan Adam dari wanita ja*l*ang itu. Dengan berita pernikahan kalian, wanita itu pasti akan berpikir ulang untuk mendekati Adam dengan membawa anak ha ramnya itu. Terlebih jika bisa, buatlah Adam berpaling dan jatuh cinta padamu. Tidak masalah jika kelak kamu tetap menginginkan perceraian. Karena jika Adam masih terus memikirkan wanita itu, rencana kita ini akan terasa percuma." Ucap Lestari mencoba bernegosiasi. Wanita itu menatap Ataya penuh harapan tinggi. Lestari sangat berharap, Jika dua tahun pernikahan itu akan menumbuhkan benih-benih cinta diantara keduanya. Meski rencana yang dia sepakati adalah untuk sekedar menjauh Adam dari pengaruh buruk Dona. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, dia sangat berharap Ataya akan tetap menjadi menantunya sampai kapanpun. Walau itu terdengar egois namun apa salahnya jika dia berharap. Ada satu rahasia tentang putranya yang tidak putranya itu ketahui. Dan itu sebabnya dia begitu gencar mendesak Ataya untuk menikah dengan Adam. Lestari tau Dona ingin kembali dan memanfaatkan rasa cinta putranya. Terlebih wanita itu sedang hamil tua tanpa seorang pria yang bertanggung jawab atas kehamilannya. Dona jelas akan memanfaatkan putranya yang bodoh untuk menjadi ayah dari anak yang entah benih milik pria mana. Oh, tentu saja Lestari tidak bisa membiarkanya begitu saja. "Kita lihat saja setelah pernikahan itu benar-benar terjadi. Bisa atau tidaknya aku membuat Adam mencintaiku, itu bukan prioritas utama untukku. Bolehkah aku meminta waktu untuk sendiri? Aku tau tante tidak akan mengatakan bagaimana tante bisa memiliki video itu. Jadi tolong, biarkan anak yatim piatu malang ini merenungi takdirnya," pinta Ataya terdengar begitu lirih di telinga Lestari. Hatinya berdenyut perih. Seperti mengulang masa lalu, begitulah yang dia rasakan sekarang. "Baiklah, tante akan pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik nak," pesan Lestari sebelum ia meninggalkan kediaman mewah sahabatnya. Banyak hal bergelayut dalam benaknya, da da nya serasa di timpa batu besar. Sesak, itulah yang Lestari rasakan saat ini. Flashback end "Seharusnya anak itu di berikan pelajaran yang bisa membuka lebar kedua matanya. Andai saja aku punya kuasa untuk mencuci isi kepalanya, akan aku lakukan dengan cara apa saja." Lestari tak henti-hentinya berdumel kesal terhadap putranya sendiri. Ia masih menyimpan kemarahan pada Adam atas apa yang di lakukan oleh putranya itu. "Aku sudah meminta paman Niko untuk menelusuri jejak penyelewengan anggaran perusahaan, putra mama tak akan aku masukkan ke penjara. Hanya saja...." Ataya menatap sang mertua dengan tatapan tak terbaca. "Lakukan apa saja yang ingin kamu lakukan terhadap anak itu, nak. Mama dan papa tak akan membelanya," tandas Lestari lugas. Ataya tersenyum simpul, ia tau kedua mertuanya adalah orang-orang yang bijak. "Adam hanya akan aku copot dari jabatannya saat ini. Kembali menjadi Adam Salim tanpa gelar CEO AM Group lagi. Tapi mama jangan khawatir. Aku tahu jika Adam diam-diam membangun perusahaan garmen di belakangku. Jadi Adam tak akan benar-benar menjadi seorang pengangguran ketika kami resmi bercerai nanti. Aku sudah meminta pada beberapa pemegang saham perusahaan keluargaku untuk menanamkan saham mereka di perusahaan Adam. Aku harap Adam bisa semakin berkembang dan menjadi pribadi yang lebih baik. Mengingat putra mama itu akan memiliki dua orang anak tak lama lagi." Ataya mengakhiri kalimatnya dengan kekehan kecil yang menggambarkan kebijaksanaan hakiki. Tak ada getaran kesedihan dari nada suaranya. Begitu tenang dan sangat rapi wanita itu menyembunyikan luka tak berdarah yang mengoyak batinnya. Lestari menatap perih wajah cantik sang menantu yang sebentar lagi terpaksa harus ia lepaskan karena ulah sang anak. Tak ada lagi perbincangan. Lestari kehilangan kata-kata meski untuk sekedar mengucapkan kalimat perpisahan. Ia tak siap untuk kehilangan Ataya, bukan perkara harta benda namun cintanya kepada wanita itu telah melekat kuat di dinding kalbunya. Sedangkan Ataya hanya mengaduk makanannya tanpa minat. Wanita itu pasti sedang memikirkan banyak hal berat yang bertumpuk dalam hatinya. ************************* Adam menghempaskan tubuhnya di sofa, tubuh dan pikirannya sama lelahnya. Sembari menunggu Dona pulang, pria itu berinisiatif untuk memasak makanan kesukaan sang kekasih. Putranya masih di penitipan anak, Dona berjanji akan menjemput Aryan setelah wanita itu menyelesaikan urusannya yang entah apa. Sebelum menuju kamar, Adam melirik benda bulat penunjuk waktu di pergelangan tangannya. Menunjukkan pukul 17:10 sore, dan kekasihnya masih belum kembali. Terlebih penitipan tutup pukul lima sore. Adam mulai terlihat gelisah. Pria itu berinisiatif untuk menghubungi pihak day care untuk menanyakan apakah putranya sudah di jemput atau belum. "Selamat sore tuan Adam, ada yang bisa kami bantu?" Suara lembut seorang wanita terdengar menyapa ramah panggilan Adam. "Ah ya, maaf. Apakah putraku sudah di jemput?" Tanya Adam tak kalah ramah. "Belum tuan, Aryan masih bermain di taman sekolah di temani oleh suster Amel. Jika anda tidak sempat menjemputnya, kami akan akan mengantarkan Aryan pulang. Mengingat ini sudah lewat dari waktu penitipan," jawab si wanita memberikan solusi. Mereka memang di bayar mahal namun sangat tak relevan bila mereka harus bekerja melebihi jam kerja yang seharusnya. Setelah berpikir sejenak akhirnya Adam setuju dengan ide pegawai day care tersebut. Masalah putranya sudah teratasi, hanya tinggal menunggu kabar dari sang kekasih yang membuatnya sedikit resah. Tak ingin berpikir macam-macam, Adam bergegas menuju kamar untuk mandi lalu kemudian memasak makan malam untuk mereka bertiga. Sudah sejak dua minggu, pasca kejadian foto dirinya dan Dona terkuak. Adam lebih memilih menetap di apartemen Dona, yang ia beli setahun yang lalu. Toh istrinya sudah mengetahui perselingkuhannya, jadi dia tidak perlu lagi bersikap pura-pura peduli. Selesai membereskan dapur, Adam kembali melirik jam tangannya. Pria itu mulai gusar, Dona masih belum kembali. Sementara waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam, ponsel wanita itu pun tak bisa di hubungi. Sedangkan putranya sedang menonton televisi tanpa sekalipun menanyakan keberadaan sang ibu. Aryan memang tak begitu dekat dengan Dona. Bisa di katakan anak itu sengaja menjaga jaraknya dengan sang ibu. Itu terlihat jelas ketika mereka sedang berkumpul bersama. Aryan akan memilih untuk pamit belajar di dalam kamarnya. Padahal usianya baru tiga setengah tahun, namun karena sejak usia satu tahun sudah di asuh di penitipan anak. Membuat Aryan tumbuh lebih cepat secara psikologis dari anak-anak sebayanya. Anak itu suka sekali menggambar. Memiliki kulit tubuh yang putih pucat, tak membuat Adam berpikiran negatif terhadap perbedaan diantara mereka. Ia menganggap setia anak memiliki kelebihan masing-masing. Tak melulu harus menyerupai kedua orang tuanya. Adam duduk di samping Aryan yang masih fokus memperhatikan layar datar di hadapannya, tanpa sedikitpun menoleh kepada ayahnya. Adam menatap sisi wajah putranya yang lebih lonjong dan memiliki garis wajah yang jauh berbeda darinya, namun dengan cepat pria itu menggeleng. Mengusir segala pikiran buruk yang mulai menghantuinya. Adam akhirnya memutuskan untuk ikut menyaksikan tontonan sang anak daripada pikirannya berkelana tak tentu arah. Terbersit ide untuk pulang ke rumahnya, ia ingin menanyakan apa telah sang istri katakan pada kekasihnya seminggu yang lalu sehingga membuat Dona menjadi berubah drastis belakangan ini. Namun ia masih waras untuk tidak melakukannya. Klek Pintu apartemen terbuka dari luar, siapa lagi yang tau password apartemen tersebut jika bukan Dona. Adam sudah siap dengan kalimat interogasinya, namun urung dia keluarkan saat melihat penampilan Dona yang seperti orang habis di rampok. "Hei, apa yang terjadi padamu sayang..?" Tanya Adam cemas dan panik lalu menuntun Dona menuju sofa. Wanita itu sedang mengandung anaknya ia khawatir terjadi sesuatu terhadap sang calon anak. "Siapa yang melakukan ini padamu? Katakan, Dona!" Ulang Adam meninggikan suaranya karena Dona tak kunjung menjawab pertanyaannya . Wajah Dona mengalami luka lebam dan ada bekas cakaran. Mungkinkah Ataya yang telah melakukannya? Tapi itu terasa sangat mustahil. Ataya bukan wanita bar-bar yang melakukan hal kekanakan seperti ini. "Istrimu yang melakukannya, apa kamu puas..!" Teriak Dona di susul isak tangis yang begitu menyedihkan. "Istri tercintamu itu menyekapku sejak tadi siang di sebuah gudang. Lihatlah apa yang wanita gila itu lakukan kepadaku. Ataya menganiayaku, Adam.....dia... memukulku... bertubi-tubi..." Dona kembali tergugu di da da bidang kekasihnya. Mengadukan semua hal yang telah ia alami sepanjang hari ini. Adam mengepalkan satu tangannya sekuat mungkin, sementara satu lagi untuk mengelus punggung sang kekasih yang masih menangis keras di da da nya. "Aku akan memberi pelajaran kepada wanita itu, akan aku balas perbuatan berkali-kali lipat. Tunggulah di apartemen, aku akan pergi sebentar. Ayo, aku antar ke kamar." Adam menggendong tubuh lemah kekasihnya, namun sebelum itu dia memanggil seorang dokter kenalannya. Tidak mungkin dia memanggil dokter keluarga Marchel untuk memeriksa kekasih gelapnya. Sedangkan Aryan hanya terdiam. Anak itu menatap kepergian kedua orang tuanya dengan tatapan datar. Anak sekecil itu, sudah harus menyaksikan hal yang tak seharusnya ia lihat dan dengar. Namun tampaknya Aryan cukup memahami situasi. Terbukti dari sikap diamnya, ketika kedua orang tuanya mulai terlihat adu intonasi suara. ******************* Ataya tampak asyik membaca sebuah berkas pasien yang sengaja ia bawa pulang. Pasien tersebut begitu istimewa baginya. Sehingga ia rela meluangkan banyak waktunya, hanya untuk melakukan banyak riset demi kesembuhan sang pasien tersebut. Walau tidak ada yang tau, jika hatinya berkali-kali terluka oleh orang tersebut. "Atayaaa...! Kelaur kamu wanita ja*l*ang..!" Ataya mengernyit heran mendengar suara teriakan suaminya yang begitu nyaring. Nada Adam terdengar seperti orang yang tengah memendam kemarahan besar padanya. Tak ingin meladeni suami yang mulai menggila, Ataya lebih memilih melanjutkan kegiatannya. Brakk Ataya terlonjak kaget, tatapan mata tajamnya menatap Adam tak berkedip. Begitu pula Adam, pria itu datang dengan setumpuk kemarahan yang siap dia lampiaskan pada istrinya. "Apa begini perlakuan seorang wanita terhormat yang katanya terpelajar? Menyekap dan menganiaya wanita yang jelas-jelas sudah di ketahui tengah mengandung. Jika kamu marah atas perselingkuhanku, harusnya kamu lampiaskan padaku! Jangan pada Dona! Dona sedang mengandung anakku yang tidak bisa kamu berikan selama ini! Tidak adakah setitik nuranimu tersimpan untuk tidak menyiksanya dengan begitu brutal, hah!!" Deg! To be continue Panas gak tuh hati Ataya di katakan secara tidak langsung mandul oleh suaminya? Kita lihat bagaimana reaksi wanita cantik itu menghadapi kemarahan Adam yang membabi buta. Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose-Ana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD