Bab 7 Hati yang mulai goyah

1355 Words
Hati Ataya berdenyut nyeri. Tak bisa memberikan keturunan katanya? Wanita itu ingin sekali tertawa, bukan dirinya yang tidak bisa memberikan keturunan di dalam pernikahan toxic ini. Namun menanggapi pernyataan sang suami yang menyakiti hati, hanya akan menggores luka di hatinya semakin dalam. Dalam diamnya, Ataya berusaha mencerna apa yang sedang Adam katakan padanya. Menyekap? Menyiksa? Siapa yang ia sekap? Siapa yang sudah ia aniaya? "Apa kamu terlalu banyak minum, Adam? Pulanglah ke rumah kekasihmu, aku tidak ada waktu untuk mengurus orang yang sedang tidak sehat akal pikirannya. Dan ya, keluar dari ruanganku dengan cara yang benar. Kamu bisa merusak pintu ruang kerjaku, jika kamu melakukan kekerasan seperti yang kamu lakukan tadi." Ataya berbicara dengan nada tenang walau hatinya sangat ingin kemaki pria di hadapannya itu. Wanita itu kembali fokus pada berkasnya. Meski sejatinya, Ataya sama sekali tidak bisa konsentrasi. Bahkan hanya sekedar mengeja tulisan yang tertera pada lebaran tersebut, wanita itu tak mampu melihatnya dengan jelas. Kabut yang menyelimuti kedua bola mata indahnya sudah menumpuk, dan nyaris terjatuh hanya dengan sekali berkedip. "Katakan padaku, kenapa kamu menyekap Dona di gudang dan menganiayanya hingga babak belur." Ulang Adam sedikit melunak, tak peduli Ataya sudah mengusirnya. Tangannya sudah gatal ingin menampar wajah mulus sang istri, namun mengingat banyak cctv yang pasti akan merekam perbuatannya. Adam urung melakukannya, meski hatinya sangat ingin. Ataya sejenak berpikir kemudian mengangkat wajahnya, untuk menatap wajah pria di hadapannya dengan berbagai tanda tanya. "Siapa yang mengatakan aku telah menyekap dan menganiaya kekasih tercintamu, Adam? Jika kamu tak memiliki bukti apapun, sebaiknya kamu selidiki terlebih dahulu kebenarannya. Apa kamu pernah mendengar pepatah yang mengatakan, jika fitnah lebih keji dari pembunuhan?" Adam bergeming dengan raut wajah pias. Kenapa ia tak terpikirkan sampai ke sana. Karena terlalu kalut dengan kondisi Dona, pikirannya menjadi buntu seketika. "Pergilah, aku sedikit sibuk sekarang. Kedatanganmu sudah membuat fokusku terganggu." Usir Ataya dengan nada dingin. Kepalanya berdenyut akibat kedatangan Adam yang tak terduga. "Aku akan mencari tau kebenarannya, dan jika terbukti kamu telah melakukan perbuatan itu. Aku sendiri yang akan memberimu pelajar berharga. Camkan itu baik-baik Ataya!" Kecam Adam menudingkan telunjuknya ke arah sang istri. "Dan jika ternyata bukan aku pelakunya? Apa aku bisa melakukan perhitungan yang sama padamu dan Dona?" Skak! Adam terdiam mematung. Ia terjebak situasi dari ancamannya sendiri. Bagaimana jika benar Ataya bukanlah pelakunya, maka kehidupannya dan Dona akan menjalani hari-hari dalam bayangan mimpi buruk setiap saat. Lalu untuk apa Dona memfitnah istrinya? Kenapa? Adam mulai meragu. Kenapa ia tidak mencari kebenarannya saja dari pada terjebak oleh situasi tak mengenakan ini. Ataya adalah wanita bermartabat yang tak akan mungkin melakukan hal bar-bar seperti yang Dona tuduhkan. "Kita lihat saja nanti. Jika benar kamu adalah pelakunya, ancamanku masih berlaku." Tak ingin berlama-lama terjebak di dalam keadaan yang seperti mencekik kerongkongan sendiri. Adam lebih memilih segera pergi dari rumah sang istri membawa perasaan berkecamuk. Sebelum menutup pintu, suara datar Ataya kembali membuat Adam mati kutu. "Ucapanku pun masih berlaku, aku harap kamu menemukan celah untuk menjadikanku menjadi seorang tersangka. Karena jika kamu kalah, kamu akan menyesali perbuatan tidak menyenangkan yang kamu lakukan padaku hari ini. Tutup pintu ruanganku seperti sebelum kau membukanya," titah Ataya penuh penekanan. Adam merasa udara di sekitarnya mulai menipis. Kenapa ada setitik rasa sakit saat Ataya benar-benar acuh padanya. Perlahan Adam kembali menutup pintu ruang kerja istrinya dengan pikiran berkecamuk. Adam berhenti sejenak untuk menghirup udara sebanyak mungkin, guna mengisi rongga da da nya yang terasa sesak. Kenapa sesakit ini saat Ataya benar-benar mulai abai pada nya, bukankah ini yang ia harapkan? Sekarang hatinya merasa sedikit tak rela. Sudahkah hatinya menyelipkan nama wanita itu tanpa ia sadari? Tak ingin terjebak dalam perasaan konyol, Adam lebih memilih untuk segera pergi dari kediaman sang istri. Sedangkan di dalam ruang kerjanya, Ataya menghela nafas panjang. Dua tahun bukan waktu yang singkat. Jika ada yang bertanya apakah ada perasaan tersimpan untuk suaminya? jawabannya jelas ada. Seatap bersama selama itu, mustahil ia tidak menyimpan harapan pada pernikahannya. Namun harapannya pupus satu tahun yang lalu, saat tanpa sengaja menyaksikan sang suami tengah bercinta dengan sekretarisnya, Dona, di ruang kerja suaminya. Ataya merutuki kebodohannya. Seharusnya ia tidak perlu menguji kesetiaan sang suami. Jelas jika hubungan mereka terjalin berdasarkan asas simbiosis mutualisme. Bukan perasaan yang saling menginginkan. "Sebentar lagi, aku akan mengembalikan situasi ini seperti semula. Semua akan mendapatkan karmanya masing-masing. Sampah akan berada di tempat yang seharusnya, aku berjanji Mom. Akan aku balas kesakitanmu pada ja*l*ang sialan itu," Ataya meremat sebuah foto yang kini tengah ia genggam. Buku jarinya sampai memutih saking geramnya. Pertemuannya dengan Dona hari itu sedikit banyak menguras emosinya. Kemudian bertemu dengan sang mertua, sedikit mengurangi beban hati juga pikirannya. Hidup adalah timbal balik, itulah yang akan ia lakukan pada para pengkhianat tak tau diri itu. ********************** "Bagaimana keadaan Taya, ma?" "Terlihat baik seperti biasanya, menantu kita itu wanita yang tangguh. Jika kita sampai melihatnya rapuh dan menitikkan air mata, artinya Ataya kesayangan kita tidak baik-baik saja." Jawab sang istri dengan nada sendu. "Entah apa yang anak itu pikirkan. Wanita sebaik Ataya sama sekali tak mampu menghapus nama wanita ja*l*ang itu dari hati Adam. Aku malu pada Araya, aku sudah berjanji akan membahagiakan putri kesayangannya. Lihatlah bagaimana putra kita menyakiti Ataya dengan sengaja tanpa perasaan." Anggar tertunduk lesu dengan suara lirih. Araya adalah adik kecilnya saat mereka masih sama-sama tinggal di panti asuhan. Namun Araya lebih beruntung, karena telah di temukan oleh orang tua kandungnya tanpa sengaja dalam sebuah kecelakaan kecil di jalanan ketika pulang sekolah. Rupanya adik kecilnya itu adalah putri seorang pengusaha farmasi terbesar di negara ini. Gadis kecil itu menghilang saat sedang mengikuti sang ibu ke sebuah pusat perbelanjaan ketika berusia dua setengah tahun. Dan selama tiga tahun, Araya tinggal di panti asuhan setelah di temukan oleh seseorang di tepi jalan raya dalam keadaan linglung dan menangis. "Ataya sudah melayangkan gugatan cerai ke pengadilan agama. Asisten keluarga Marchel yang mengurus semua kelengkapan berkasnya. Dan anak tak tau diri itu sudah menetap bersama selingkuhannya sejak foto itu kita kirim ke rumah Ataya. Mama pikir Adam akan ketakutan lalu berusaha berubah, nyatanya mama salah. Entah apa yang telah di suguhkan oleh ja*l*ang itu kepada putra kita, sehingga otaknya menjadi bodoh tak tertolong lagi." Tukas Lestari tersenyum masam. Gurat kekecewaan tergambar jelas di wajahnya yang mulai menampakkan garis-garis halus kerutan tanda penuaan hakiki. "Sekarang mama sudah siap melepaskan Ataya dari pernikahan tak sehat ini. Ataya berhak bahagia, dan kita lihat bagaimana Adam akan hidup dalam penyesalan panjangnya nanti. Membuang berlian demi batu jalanan," pungkas Anggar terlihat pasrah. Keadaan ini semakin akan melukai Ataya lebih dalam, jika mereka terus memohon agar wanita baik hati itu mempertahankan pernikahan yang sudah tak sehat tersebut. ******************** Klek Adam masuk ke dalam apartemen dengan wajah kusut. Ditatapnya meja makan yang masih terhidang makanan utuh di sana. Perutnya mendadak terasa kenyang karena masalah rumit yang tengah dia hadapi. Namun pria itu mengingat putranya yang pasti belum memakan apapun. Pria itu bergegas menuju kamar sang anak, namun Aryan sudah tertidur lelap. Adam duduk di sisi ranjang sang anak dengan tatapan tak terbaca. Lalu pandangannya terusik dengan bungkusan roti di bawah bantal Aryan. Dengan perlahan pria itu menarik bungkusan roti tersebut agar tak membangunkan sang anak. Terlihat sisa sepotong, artinya Aryan hanya memakan roti untuk makan malamnya. Adam menarik nafas dalam-dalam, sesak itulah yang ia rasakan. Dona bahkan tak peduli pada putra mereka. Namun begitu, Adam tetap khawatir akan kondisi Dona. Adam keluar dari kamar sang anak lalu berjalan menuju kamar mereka. Saat masuk Dona terlihat masih tertidur lelap. Rupanya obat yang di berikan oleh dokter tadi memberikan efek tidur yang baik. "Entah siapa yang harus aku percayai. Aku harap kamu tidak membohongiku sayang, aku sangat mempercayaimu karena aku mencintaimu. Aku mohon jangan goyahkan pertahanan hatiku. Jangan biarkan aku menyimpan rasa bersalah pada istriku. Aku tak ingin ada celah di hatiku untuk wanita lain, aku tak ingin goyah..." Lirih Adam mengusap kasar wajahnya. Dia sangat lelah, perutnya perih akibat penyakit lambung yang ia derita. Tak ingin terus terkungkung dalam pikiran yang kacau, Adam memutuskan untuk tidur menyusul sang kekasih ke alam mimpi tanpa sempat mengganti pakaiannya. To be continue Terimakasih bagi yang sudah mampir kemari, jangan lupa untuk berlangganan ya guys. Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose-Ana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD