Dua minggu sejak di mana Adam mendatangi kediaman sang istri, pria itu tak pernah lagi terlihat. Bahkan untuk urusan pekerjaan, Adam sering tidak ada di tempat tanpa alasan yang tidak jelas. Seorang kepercayaannya yang selama ini bertugas untuk memantau aktivitas sang suami. Selalu melaporkan apa saja yang di lakukan oleh pria itu, hingga memantau hubungan Dona dan suaminya selama menjadi sekretaris selang waktu satu tahun ini.
Ataya bukan wanita bodoh, namun diamnya ternyata membuat Adam merasa besar kepala. Berpikir jika sang istri selalu mempercayai alasan lemburnya, adalah sebuah kebodohan hakiki.
"Apa paman sudah mengurus semuanya?"
"Sudah nona, sesuai perintah yang anda berikan." Jawab Niko singkat.
"Bagaimana reaksinya saat menerima surat cinta dariku? apa pria itu langsung bersujud syukur dengan burai air mata penuh kebahagiaan?" Niko terdiam, ia tak tau harus menjelaskan situasi yang terjadi saat Adam menerima surat putusan perceraian dari tangannya.
"Katakan, paman. Aku penasaran bagaimana reaksi pria bodoh itu saat membuka lembar demi lembar berkas perceraian kami. Aku yakin Adam pasti langsung memeluk erat kekasih gelapnya dengan perasaan penuh keharuan." Niko masih bergeming. Netranya menatap nanar ke arah nona mudanya dengan tatapan tak dapat di jelaskan. Hatinya perih mendengar kalimat lirih penuh nada ketegaran dari sang nona kesayangannya itu.
"Tuan Adam hanya mengucapkan terimakasih karena sudah melepaskannya tanpa tuntutan apapun, nona. Setelahnya hanya ada keheningan, saat tuan Adam mulai menandatangani setiap lembar berkas perceraian yang saya berikan." Untuk pertama kalinya, selama masa pengabdiannya, Niko mengatur sebuah kalimat penuh kebohongan kepada sang nona muda. Lebih baik dari pada harus melihat nonanya kembali terluka untuk kesekian kalinya.
Ada segumpal awan mendung menghiasi manik bening Ataya. Senyum miris terlihat jelas di bibirnya. Ternyata semudah itu Adam menghempasnya bagai sampah. Apa yang ia harapkan dari pria breng sek itu? Ataya merasa bodoh telah memupuk sedikit harapan pada Adam yang jelas-jelas seorang baji ngan.
"Terimakasih paman, sudah membantuku mengurus semuanya. Apakah pria itu sudah bersiap angkat kaki dari perusahaanku?" Ataya mengajukan pertanyaan lain untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Pandangan matanya menatap kosong ke arah jendela kaca besar di hadapannya. Bangunan rumah sakit setinggi 12 lantai tersebut, menjadi saksi bisu separuh hidupnya.
"Sudah nona, bahkan tuan Adam sudah akan bersiap pergi saat aku tiba di sana." Terang Niko kembali berbohong dengan nada tanpa keraguan. Masalah Adam akan ia serahkan kepada orang kepercayaannya. Pergi secara suka rela, atau pergi dalam keadaan terluka. Pria breng sek itu hanya punya dua pilihan, dan ia yakin Adam lebih memilih pilihan yang pertama.
Senyum kecut sang nona, mengiris hati Niko semakin dalam. Puluhan tahun mengabdi pada keluarga Marchel, tentu ia tau banyak lika-liku perjalanan keluarga itu. Termasuk juga perselingkuhan tuan besarnya, dengan seorang wanita muda yang tak lain adalah sahabat putri tuannya sendiri. Namun nyonya Araya yang baik hati, selalu berusaha mempertahankan pernikahan tak sehat itu sedemikian rupa. Sehingga kejadian naas itu merenggut nyawa sang nyonya tepat di hadapannya tanpa bisa ia cegah.
Niko menyimpan rasa bersalah di hatinya, seperti segumpal daging yang terus berkembang biak di sana. Rasanya sangat tidak nyaman dan itu menyakitinya seperti sebuah hukuman.
"Baiklah paman, sekarang paman bisa pergi. Siang ini aku ada sedikit pekerjaan, tolong bantu aku dalam menangani peralihan kepemimpinan perusahaan. Aku berencana ke luar kota untuk beberapa hari, atau mungkin untuk waktu yang tak tentu pasti. Mungkin ponselku akan sedikit sulit untuk di hubungi. Jangan mencemaskanku, aku tidak pergi seorang diri. Bukankah paman selalu mengirimkan banyak ninja untuk menjagaku dari kejauhan?" Seloroh Ataya tertawa kecil.
Niko tersenyum samar lalu mengangguk pelan, membenarkan ucapan sang nona. Ia mengirim beberapa orang dengan keahlian khusus untuk menjaga nona mudanya dengan jurus ninja. Agar nonanya tak mengetahui, namun dia lupa jika Ataya kecilnya telah tumbuh dewasa dan semakin cerdas.
Setelah Niko keluar dari ruangannya, Ataya memejamkan kedua matanya. Berusaha mengalihkan pikirannya dari segala konflik yang ada. Seharusnya ia lega, karena sebentar lagi ia akan mengirim wanita iblis itu ke jalur cepat menuju pintu karma. Namun hatinya malah merasakan sebuah kekosongan. Apakah luka itu sudah terlalu dalam untuk bisa ia obati?
Ataya POV
Aku merasakan kegetiran, saat aku tau reaksi biasa mantan suamiku saat menerima surat putusan perceraian dari pengadilan. Apa yang aku harapkan? Pria itu akan merasakan iba dan memilih mempertahankan pernikahan kami? Meminta maaf dan berlutut menyembahku penuh puja? Ya Tuhan! terlalu lama terkurung dalam kegelapan tanpa cahaya bersama pria breng sek itu, membuat otak cerdasku mendadak lemot tak berdaya.
Aku merasa sangat konyol, seharusnya aku senang. Terlepas dari jerat pria tak berperasaan seperti Adam.
Keputusan sidang perceraianku memang terbilang cepat, melalui bantuan paman Niko semuanya teratasi dengan mudah dan kilat. Entah bagaimana cara kerja pria 45 tahun itu, bisa membuat segalanya semudah membeli permen coklat di minimarket.
Kini aku punya alasan untuk pergi, alasan yang selama ini aku pendam demi mempertahankan pernikahanku yang sedari awal sudah cacat. Harusnya aku sadar diri, Adam berkali-kali salah menyebut nama saat kami tengah memadu kasih. Namun egoku menjadi tak berarti, saat aku di perlakukan manis keesokan harinya. Anggap saja aku wanita leman dan bodoh, namun jika keadaan di balik. Aku yakin, wanita yang berada di posisiku pun pasti akan merasakan hal yang aku rasakan. Di depan di perlakukan semanis madu, di belakang di tikam dengan sembilu. Begitulah Adam memperlakukanku.
Aku hanya wanita biasa, naluriku bekerja sesuai dengan situasi yang ada. Kini aku benar-benar mengerti, jika perasaan tidak bisa di paksakan. Aku menyerah, semoga pilihan mantan suamiku tidak akan pernah ia sesali di kemudian hari. Karena aku tak yakin, mampu menerima sampah yang sudah aku sepah.
*****************
POV author
Di sinilah Ataya berada, duduk di ruang tunggu sebuah bandara. Kepergiannya kali ini adalah untuk memulihkan hatinya yang telah terluka parah. Anggap saja dirinya bodoh, karena telah menaruh harapan pada pria yang sama sekali tak pernah menoleh kepadanya sedikitpun.
"Nona, tiket anda...semua sudah saya persiapkan. Di sana akan ada orang yang menjemput anda dan mengurus segalanya. Saya akan menyusul jika semua urusan di sini sudah selesai," ujar Niko dengan nada yang berat. Pria itu menunduk sopan setelah memberikan tiket penerbangan Ataya yang sudah dirinya urus kelengkapannya termasuk check-in.
"Terimakasih banyak paman. Jangan terlalu memporsirkan tenaga, kerjakan saja sesuai job desknya masing-masing. Sisanya biarkan saja dulu. Nikmati beberapa waktu untuk bersantai sebelum menyusulku, aku akan mengurus segala keperluanku di sana. Lagi pula ada bibi Sora, aku akan sangat terbantu oleh wanita cerewet itu." Tutur Ataya terkekeh di akhir kalimatnya.
Sora adalah asisten rumah tangga yang bekerja di villa mewah milik keluarga Ataya. Wanita paruh baya itu sudah mengabdi selama 33 tahun di keluarga Hamzah. Hamzah adalah nama keluarga pihak ibunda Ataya. Pria keturunan pribumi yang menikah dengan seorang wanita berkebangsaan Spanyol.
Itulah kenapa paras Ataya begitu sempurna. Mengikuti gen bule dari sang nenek, memiliki kulit putih mulus asia, wajah cantik khas wanita eropa, menjadi nilai tambah yang semakin menyempurnakan rupa paripurna Ataya.
"Nona tidak perlu memikirkan saya, fokus saja pada kehidupan baru yang nona jalani ke depannya nanti. Maaf tidak bisa mengantar anda pergi, semoga perjalanan nona lancar dan selamat sampai tujuan." Balas Niko tersenyum tulus. Senyum pertama yang Ataya lihat, karena biasanya orang kepercayaan keluarganya itu selalu menampilkan wajah datar dan serius.
"Sepertinya penebanganku akan segera take off, aku harus masuk." Ujar Ataya mengalihkan topik. Hatinya mendadak mellow. Niko hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia tau seberapa besar luka menganga di hati sang nona muda.
Niko menatap dalam punggung ramping yang tengah memikul banyak beban tersebut, dengan pikiran berkecamuk. Tuan besarnya telah melakukan banyak kesalahan, yang tanpa di sadari, Ataya lah yang terpaksa harus memperbaiki segala masalah masa lalu kedua orang tuanya. Wanita muda itu pantas untuk bahagia, setelah terlalu banyak mengalah pada keadaan.
"Semoga kehidupan baru akan membawa anda pada puncak kebahagiaan yang tak terbatas, nona." Terucap doa tulus dari bibir tebal Niko untuk nona mudanya. Pria itu berbalik menuju mobil untuk kembali ke perusahaan. Banyak kecurangan yang telah di lakukan oleh mantan suami sang nona, namun wanita baik hati itu mencegahnya untuk melakukan serangan balik. Bahkan tak mengijinkan dirinya untuk melibatkan pihak berwajib.
Entah apa yang tengah di rencanakan oleh Ataya. Namun Niko percaya, semua keputusan nonanya tak pernah salah. Terbukti wanita muda itu mampu memulihkan keadaan perusahaan yang kacau balau, akibat ulah sang ayah. Dalam diamnya, otak cerdas Ataya selalu bekerja tepat sasaran.
To be continue
Kira-kira si Adam bakal menyesal gak ya, membuang permata demi batu bata? Jangan lupa berlangganan ya, agar tidak ketinggalan update terbaru dari author.
Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose-Ana