Lanjutan POV Adam
Aku tau watak keras Dona yang keras kepala. Wanita itu tak suka di gurui atau di kalahkan oleh argumen siapa pun. Dona wanita tangguh itu adalah cinta pertamaku. Kami berpacaran saat kelas dua SMA. Namun saat kuliah, Dona memilih untuk rehat dan bekerja di sebuah pusat perbelanjaan di kota ini. Wanita cantik itu masih sangat aku sayangi, namun takdir memisahkan kami dengan cara yang sulit untuk aku tolak.
Aku sendiri anak pertama dari pasangan Lestari Murti dan Anggar Salim. Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa, sedangkan ayahku seorang pegawai negeri sipil di sebuah sekolah mengah atas negeri. Ayahku menjabat sebagai seorang kepala sekolah, namun kini sudah pensiun. Aku punya seorang adik perempuan yang rentang usianya selisih 10 tahun dariku. Dan kini masih duduk di bangku sekolah menengah atas di kota ini juga.
Aku berkuliah karena beasiswa prestasi, dan itu hal membanggakan untukku juga keluarga sederhanaku. Hubunganku dengan Dona perlahan merenggang karena kesibukan masing-masing. Lost kontak membuat hubungan kami berakhir tanpa penjelasan.
Aku menikahi Ataya karena terdesak oleh keadaan. Ayahku menderita gagal jantung dan butuh banyak uang untuk biaya operasi dan sebagainya. Belum lagi adikku yang kala itu masih kelas 2 sekolah menengah pertama.
Pertemuanku dengan Ataya bukanlah sesuatu yang di sengaja. Aku bahkan tak tau jika Ataya adalah anak pemilik rumah sakit di mana ayahku di rawat.
Setahuku Ataya adalah gadis yang sombong dan tak suka banyak bicara. wanita itu hanya memiliki seorang teman yaitu Dona kekasihku. Sifat Ataya yang tak terlalu ramah, membuatku enggan meski sekedar bertegur sapa dengannya saat kami masih sekolah.
Saat aku sedang sangat putus asa dengan keadaan ayahku. Ataya datang menawarkan setumpuk harapan. Aku sedikit terkejut, harga diriku seakan terbeli oleh kalimat wanita itu. Namun aku tak punya pilihan lain. Nyawa ayahku tergantung pada keputusanku kala itu. Akhirnya aku setuju untuk menikah dengan Ataya, walau hatiku sama sekali tak mencintainya. Di hatiku masih bertakhta indah nama Dona bahkan hingga 2 tahun pernikahanku dengan Ataya.
Hingga suatu hari, tiba-tiba Ataya datang ke kantor dan membawa Dona ke hadapanku. Hati ku masih bergetar hangat saat melihat wanita yang sangat aku cintai itu. Aku merindukannya, ternyata kebersamaanku selama dua tahun ini dengan Ataya tak berarti apa-apa. Hatiku masih tetap tertuju pada cinta pertamaku.
Ataya mengatakan akan memperkerjakan Dona sebagai sekretarisku. Sungguh aku ingin melompat saking bahagianya. Namun aku sengaja memasang sikap acuh di hadapan istriku, seolah aku tak memperdulikan kehadiran Dona yang secara tak langsung di sodorkan sendiri oleh istriku yang berhati bak seorang malaikat.
Dona rupanya berkuliah di Bandung selama ini. Dia berkuliah setelah satu tahun bekerja. Hingga tak sengaja bertemu dengan istriku di sebuah pusat perbelanjaan. Ataya yang baik hati menawarkan pekerjaan bergengsi itu padanya, yaitu sebagai sekretarisku. Tentu saja Dona menerimanya dengan senang hati.
Ternyata selama pernikahanku, Dona terus memantau berita tentangku dan Ataya dari internet. Itulah kenapa Dona tak terkejut saat bertemu denganku kembali, yang sudah berubah status menjadi suami sahabatnya sendiri.
Hari-hari berikutnya, hubungan kami bukan lagi hanya sekedar hubungan antara bos dan bawahan. Kami sepakat menjalin kembali hubungan yang sempat putus beberapa tahun lalu. Hidupku berubah saat itu juga, setiap hari aku selalu punya segudang alasan untuk melakukan lembur bersama sekretaris kesayanganku. Ataya tak pernah rewel menanyakan banyak hal, perihal keterlambatanku pulang ke rumah hingga tengah malam. Atau bersama siapa aku menghabiskan waktu seharian.
Tentu saja, karena istriku juga bekerja. Selain itu, Ataya juga seorang direktur di rumah sakit milik keluarganya. Ataya adalah anak tunggal, jadi saat kedua orang tuanya tiada, Ataya lah pewaris mutlak keluarga Marchel. Perusahaan yang aku pimpin pun, adalah milik keluarganya. Namun aku tak perlu khawatir, diam-diam aku sudah membangun perusahaanku sendiri tanpa sepengetahuan Ataya. Tentu saja dari uang perusahaan yang aku selip sedikit demi sedikit dalam anggaran pengeluaran perusahaan.
Kini setahun sudah hubunganku dengan Dona berjalan, cintaku padanya semakin bertambah. Meski begitu, hubunganku dengan isriku tetap berjalan damai seolah kami adalah pasangan yang berbahagia. Di setiap momen, kami selalu terlihat mesra. Walau aku tau, itu menyakiti hati kekasih gelapku. Namun perusahaanku masih belum cukup kuat untuk berdiri sendiri. Aku masih harus ekstra dalam melobi para investor, agar mau menginvestasikan uang mereka pada perusahaan yang aku bangun.
Perusahaan yang aku bangun adalah perusahaan manufaktur di bidang tekstil dan garmen. Tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Selain itu, perusahaan di bidang ini membutuhkan banyak sekali tenaga kerja. Itulah kenapa aku masih mempertahankan Ataya di sisiku. Aku masih membutuhkan aliran dana dari perusahaan istriku itu. Terbersit rasa bersalah di hatiku. Ataya adalah wanita baik hati. Kehidupan keluargaku berubah drastis setelah aku menikah dengannya.
Namun sayang, cinta di hatiku tak kunjung bersemi untuk istriku itu. Apa lagi kini Dona kembali hadir dalam hidupku, dengan membawa seorang putra yang tampan berusia tiga tahun saat ini. Putra yang ia kandung dan lahirkan seorang diri.
Hubungan kami memang sejauh itu sejak mulai memasuki akhir tahun ajaran sekolah. Namun aku tak menyangka percintaan terakhir kami, membuahkan seorang putra yang tampan.
Dan saat tau aku menikah dengan Ataya, Dona memilih untuk pergi dan menetap di kota Bandung bersama putraku.
Kehadiran Dona membuat gejolak masa remajaku seperti hidup kembali. Aku harus memberikan banyak alasan soal hubungan ranjang yang selama setahun ini mulai jarang kami lakukan. Dan sekali lagi, Ataya menerimanya tanpa banyak bertanya dan menuntut.
Hasratku pada Ataya memudar setelah aku di suguhkan oleh lembah kenikmatan kekasih gelapku.
Hingga seminggu yang lalu, Ataya memberikan kotak kado berukuran sedang padaku, saat aku baru saja tiba dari perjalanan liburan bersama Dona dan putra kami. Aku tersenyum lebar kala itu, aku pikir hadiah-hadiah mahal seperti sebelumnya. Biasanya aku akan menjualnya lalu uangnya aku berikan pada Dona. Jadi aku tidak harus selalu memangkas dana perusahaan untuk wanita kesayanganku itu.
Bisa di katakan aku adalah pria breng sek. Tapi inilah aku. Hati tak dapat di paksakan, bukan? Kebahagiaanku adalah Dona, pohon uangku adalah Ataya. Kedua wanita itu mempunyai peranan masing-masing di dalam hidupku. Tentu saja peran Dona yang paling dominan, karena aku mencintai wanita itu.
Kembali pada kotak kado, aku membukanya dengan perasaan senang. Sudah aku bayangkan hadiah di dalam nya, pasti harganya tidaklah main-main. Namun aku sedikit tercengang, saat melihat sebuah amplop coklat di dalamnya. Keningku mengkerut dalam.
Ku tatap wajah teduh namun memiliki garis tegas istriku yang tampak tersenyum simpul. Pikiranku mulai berkecamuk. Tidak mungkin jika Ataya tengah memberikan kejutan tentang kabar kehamilannya. Walau dulu aku sangat menginginkan Ataya mengandung anakku. Dengan begitu aku bisa memanfaatkan anakku untuk mengambil alih semua aset istriku kelak.
Namun kehadiran Dona merubah rencanaku. Aku berpikir cukup perusahaan yang aku bangun dan sudah berjalan selama satu tahun ini. Aku ingin hidup tenang bersama Dona tanpa gangguan dari Ataya kelak. Aku tak mau Ataya memanfaatkan anak kami, sebagai alasan untuk merecoki kehidupan tenangku bersama Dona.
Senyum Ataya mengisyaratkan aku untuk segera membuka amplop coklat tersebut. Tanganku sedikit berkeringat. Aku takut apa yang aku pikirkan benar-benar terjadi. Setelah ujung amplop aku gunting. Aku kembali di buat kebingungan.
Dapat aku lihat jika itu adalah beberapa lembar foto meski belum aku keluarkan. Dengan sedikit keheranan, aku merogoh foto-foto tersebut. Saat aku melihat lembar pertama, mataku melotot sempurna. Nafasku tercekat, aku tatap kembali netra istriku yang tak menunjukkan ekspresi apapun. Aku semakin cemas, belum lagi ibuku tiba-tiba datang di saat yang tak tepat. Apa lagi jika bukan untuk meminta uang pada istriku.
Karena setahuku Ataya selalu memberikan jatah uang bulanan kepada ibuku dalam bentuk uang tunai. Meski tak tau berapa jumlahnya, tapi aku yakin bukanlah nominal yang kecil.
"Apa-apaan ini, Ataya!" Kutinggikan suaraku untuk menyanggah agar terlihat aku seperti seorang korban fitnah keji. Istriku masih belum bereaksi. Kembali aku fokuskan netraku pada lembaran foto di tanganku dengan perasaan tak karuan. Aku lebih suka jika Ataya berteriak dan memakiku dengan kata-kata kasar. Aku akan punya alasan untuk berdalih lebih dalam.
Aku buka lembar demi lembar foto yang tengah aku pegang. Tanganku bergetar hebat, deru nafasku mulai tak teratur. Aku letakkan kembali foto-foto laknat itu ke atas meja. Aku coba mengatur helaan nafasku yang terasa penuh sesak di kerongkongan. Aku menilik sekali lagi raut wajah Ataya yang masih bergeming.
Sikap diam wanita itu membuat pikiranku semakin kacau. Tubuhku seperti di tikam dari berbagai arah, namun aku tak berdaya untuk membentengi diriku dari serangan dadakan tersebut.
To be continue
Jangan jadi pembaca gelap ya gengs, tap simbol untuk memasukkan novel ini ke rak buku kalian.
penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose-Ana.