Bab 2 Membungkam pelakor

1200 Words
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Dona mulai berkicau kembali. Menjawab pertanyaan Ataya dengan nada angkuh yang terasa mencekik leher wanita cantik itu. "Tentu saja aku sangat senang meski harus menjadi yang kedua, namun selalu menjadi priorotas utama. Aku mendapatkan rekeningku selalu terisi lancar tanpa kendala setiap bulan, dengan nominal yang tak main-main. Aku harap Adam masih ingat menyisakanmu sekedar uang saku. Mengingat bagaimana sibuk Adam mengisi deposito untukku, juga membelikanku barang-barang mewah lainnya." Dona kembali berucap dengan nada angkuh di iringi seringai penuh kemenangan, semua terlihat jelas di wajahnya yang tak tau malu itu. Ataya merasakan hatinya mulai sedikit terbakar. Segera wanita mengendalikan dirinya, dengan menyeruput minuman dingin di hadapan yang sejak tadi hanya ia aduk tanpa minat. Dengan gaya elegan, Ataya tetap bersikap tenang seolah hatinya baik-baik saja. Paling tidak ia masih memiliki harga diri yang cukup tinggi, untuk membuat dirinya tak terlihat lemah di hadapan Dona. Pelakor yang merasa dirinya hebat, kini berusaha meruntuhkan pertahanan emosional seorang Ataya Marchel. Setelah terdiam hampir satu menit, Ataya mulai mengatur kata-kata yang akan ia ucapkan pada mantan sahabatnya itu. Tak lupa senyum terbaik Ataya tampilkan agar Dona tak merasa di atas awan. "Apakah kamu mengalami gangguan ingatan, nona Dona Aresa? sehingga kamu bisa begitu mudah melupakan fakta, jika perusahaan di mana kamu bekerja adalah perusahaan milikku?" Ataya tesenyum miring melihat bagaimana Dona terkesiap, saat mendengar kalimat yang baru di ucapkan oleh sang mantan sahabat. Tatapan matanya menatap pias ke arah Ataya. Ataya tersenyum miring penuh kemenangan. "Bahkan jika Adam tidak memberikanku sepeser pun uang, aku tidak akan mengemis apalagi sampai kelaparan. Aku cukup mampu memberikan kehidupan mewah untuk diriku sendiri, bahkan suami serta keluarganya. Ah, aku melupakan satu benalu lagi dalam kehidupanku. Aku bahkan sanggup menyumbang setiap bulan uang perusahaan untuk memenuhi gaya hidupmu yang tidak sesuai kemampuan." Telak! Dona meremat ujung sendoknya menahan rasa malu dan marah yang tertahan, tanpa mampu memberikan balasan. Harga dirinya serasa terjun bebas tak bersisa ke dasar jurang curam. Hancur lebur hingga menjadi butiran debu. "Lihat saja, Ataya. Adam akan menceraikanmu dan menikahiku. Aku jauh lebih unggul darimu. Sekarang aku sedang mengandung anak kedua kami, calon mantan suamimu itu jelas akan lebih memilihku. Dan jangan lupa satu fakta Ataya. Adam adalah kekasihku semenjak kita masih SMA. Seharusnya kamu sadar diri untuk tidak merebutnya dariku. Kamulah pengkhianat yang sesungguhnya di antara kita." Ucap Dona meninggikan intonasi suaranya dengan menekan kata pengkhianat dengan begitu lugas. "Kamulah yang menghancurkan hubungan kami, dengan memanfaatkan keadaan Adam yang sedang terpuruk. Kamu dengan liciknya menjerat mertuamu yang mata duitan itu, dengan kekuasaan yang kamu miliki. Kamu wanita yang sungguh licik, Ataya Marchel! Aku tak menyangka wanita berwajah malaikat yang dulu sering menolongku dari Bullyan di sekolah, mampu menikamku dengan kejam." Pungkas Dona menggebu-gebu. Penuturan panjang Dona membuat Ataya terkekeh hambar. Dapat ia lihat tubuh mantan sahabatnya itu sedikit bergetar. Ia tau betapa marahnya Dona kepadanya. perkataannya menampar telak harga diri wanita itu. Wajah Dona menunjukkan kemarahan yang begitu besar, namun sebisa mungkin Dona bersikap elegan. Ekspresi Dona seakan siap mencabiknya, dengan garpu yang kini tengah di genggam erat oleh wanita itu. "Bukankah kamu sendiri yang mengatakan, jika uang mampu membeli segalanya? Aku belajar darimu Dona sayang, aku hanya sekedar merealisasikan apa yang pernah kamu ucapkan. Ternyata seindah itu rasanya berhasil merampas milik orang lain. Bukankah sensasinya sangat menyenangkan?" Balas Ataya telak memukul kenyataan. Tak lupa senyum seringai puas tercetak jelas di wajah Ataya. "Bukankah kita seri, saling merampas meski dengan tujuan yang berbeda?" pungkas Ataya mengakiri perbincangan panas di antara mereka. Dapat Ataya lihat Dona mengepalkan kedua tangannya di atas permukaan meja. Ataya menatap nanar wajah wanita yang dulu selalu ia bela saat mengalami pembullyan di sekolah. Wanita yang hampir tak bisa mengikuti ujian karena menunggak uang semester. Wanita yang keluarganya hampir tak makan selama dua hari, karena tidak memiliki sepeserpun uang. Ia heran bagaimana bisa ia berkorban begitu banyak untuk wanita ini. Atas nama sebuah persahabatan, ia rela melakukan banyak hal untuk Dona dan keluarganya. Bahkan sampai mengantarkan wanita itu sebagai sekretaris suaminya, dengan harapan kehidupan keluarga Dona bisa sedikit terbantu. Lihatlah bagaimana wanita ini membalasnya? Dengan menabur beling dalam kehidupan rumah tangganya. Sungguh mencengangkan, bukan? Wanita ini bahkan menantangnya dengan berani dan tanpa rasa bersalah sedikit pun, apa lagi rasa malu. Ingin heran, namun jelas ia tengah berhadapan dengan seorang pelakor handal. Jam terbang Dona sudah tak main-main di kelasnya. Seorang pria tanpa sengaja melihat sebuah pemandangan yang hampir saja membuat nafas nya berhenti berhembus. Di restoran yang sama, dua orang wanita yang sangat dia kenali tengah duduk dan terlihat sedang terlibat obrolan serius. Fokusnya mulai terbagi, sementara pertemuannya baru saja di mulai beberapa menit yang lalu. "Tuan Adam? Apa anda mendengar persentaseku?" Tegur rekan bisnis Adam yang merasa di abaikan, saat ia sedang menyampaikan prospek proposalnya. Adam tersentak, lalu menoleh dengan cepat ke arah rekan bisnisnya dengan perasaan tak enak. Keningya tiba-tiba berkeringat dingin. Tangannya mengalami serangan tremor mendadak dan itu sungguh mengganggu. "Ah, maafkan sikap tidak profesionalku tuan Dirga, silah kan lanjut kan. Aku hanya sedikit tidak enak badan. Maaf sekali lagi jika fokusku sedikit terganggu." Terang Adam sedikit gugup. Tangannya meraih tisu untuk menyeka keringat dingin di keningnya. Namun karena telapak tangannya basah, tisu tersebut langsung larut dan hancur. Adam semakin gugup dalam perasaan tak enak kepada rekan bisnisnya. "Jika anda tengah sakit, sebaiknya pertemuan ini kita tunda saja terlebih dahulu tuan Adam. Saya sungguh tidak masalah," balas Dirga terlihat khawatir. Wajah pucat Adam memang terlihat seperti orang yang benar-benar sakit. Dan itu membuatnya sedikit cemas. "Oh, tidak apa-apa. Sungguh, lanjutkan saja. Sekarang sudah lebih baik, mungkin jika kita makan terlebih dahulu akan lebih bagus lagi." Tolak Adam menawarkan solusi lain. Ia berusaha mengalihkan perbincangan mereka. Tidak mungkin ia membatalkan pertemuannya hari hari ini. Dirga adalah pengusaha properti nomor satu di negara ini, dan untuk bertemu dengannya, Adam harus mengantri seperti seorang pengemis. Dan entah angin keberuntungan dari penjuru mana, yang membawa pria terkaya nomor dua di republik ini menawarkan kerja sama dengan perusahaan kecilnya. Dan kini ia hampir saja mengacaukannya karena masalah internal rumah tangga, serta perselingkuhannya. "Itu terdengar seperti sebuah solusi, anda sepertinya mengidap maag. Seharusnya kita memesan makanan terlebih dahulu tadi. Maaf jika membuat anda sampai kesakitan seperti ini tuan Adam." Ujar Dirga merasa bersalah. "nonsense!" potong Adam cepat. "Anda tidak salah tuan Dirga, ini hanya masalah kecil. Aku menderita asam lambung tak biasa dari semenjak remaja. Kebiasaan menunda makan, seperti itu lah." Cerita Adam terkekeh pelan. Dia berusaha mencairkan suasana agar terlihat lebih santai. POV Adam Jantungku serasa berhenti berdetak, saat tanpa sengaja aku melihat pemandangan yang mampu memorakporandakan konsentrasiku. Dua orang wanita yang sangat aku kenali sedang duduk berseberangan di meja yang sama. Tubuhku terasa ringan, aku berpegangan erat di pinggir meja untuk menopang beban tubuhku yang kian berat. Seberat gelayut pikiran yang memaksaku untuk tetap sadar akan situasi. Di mana diriku tengah berada saat ini dan sedang bersama dengan siapa. Aku semakin menegang manakala melihat bagaimana tenangnya Ataya, saat melontarkan kalimat yang aku sendiri tak tau apa. Berbeda dengan Dona yang terlihat begitu gusar, air mukanya terlihat jelas tengah menahan amarah yang besar terhadap istriku. To be continue Apakah kalian menyukainya readers? tunjukan cinta kalian dengan tap simbol untuk berlangganan novel recehan ini. penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose-Ana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD