Klek
Adam masuk ke dalam apartemen dengan langkah gontai, penampilannya pun acak-acakan. Dona yang baru saja akan melemparkan kemarahan, namun wanita urung melakukannya.
"Ada apa denganmu, kenapa kamu tidak mengangkat panggilanku tadi? Apa sesibuk itu bekerja di dua perusahaan sekaligus!" Ketus Dona tak tau waktu dan situasi. Adam melirik sekilas ke arah kekasihnya kemudian membuang pandangan lelah ke arah televisi.
Tak terlihat Aryan di sana, putranya pasti sedang mengurung diri di dalam kamar seperti biasanya. Anak itu tak terlalu suka bila menghabiskan waktu bersama ibunya. Entahlah, Adam pun tak mengerti. Sejak satu tahun kembali berhubungan dengan Dona, tak pernah terlihat Aryan bersikap manja pada ibunya layaknya seorang anak balita pada umumnya. Anak itu sedikit berbeda. Hanya berbicara seperlunya dan lebih memilih menyibukkan diri dengan buku gambar dan mainan lainnya.
"Hei! Aku sedang bertanya!" Seru Dona masih belum sadar jika ia akan memancing singa yang sedang kelaparan.
Tak terima di bentak, Adam pun balas membentak. "Bisa tidak jangan berteriak padaku! Aku bahkan baru sampai, seharusnya kamu melayaniku dengan benar! Aku ini lelah Dona, mengertilah..." Tandas Adam melemah di akhir kalimatnya. Terdengar begitu putus asa dan menyedihkan.
Dona tercengang, ini kali pertamanya Adam membentaknya. Dan terlihat sangat menakutkan di mata Dona.
"Ma_maaf sayang. Aku hanya mencemaskanmu seharian ini tanpa kabar. Kamu tau aku sedang hamil, wanita hamil itu sensitif. Aku sangat merindukanmu hari ini, aku bahkan belum makan seharian karena sangat ingin makan bersamamu..." Dona terisak begitu pilu, wanita itu terduduk di ujung sofa sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
Adam menghela nafas panjang, ia lelah. Dona malah menambah rasa lelah dan membuat moodnya semakin memburuk. Namun wanita itu terlihat begitu rapuh disaat bersamaan. Hatinya lemah jika melihat wanita yang di cintainya itu menangis.
"Maafkan aku sayang, kemarilah dan peluk aku. Aku juga merindukanmu..." Adam merentangkan satu tangannya ke arah Dona. Dona pun tersenyum lalu beranjak dan duduk di atas pangkuan sang kekasih.
"Maafkan aku juga, aku sangat sensitif belakangan ini...maaf jika aku menyebalkan.." ujar Dona merapikan rambut Adam yang terlihat berantakan. Ia terpaksa mengesampingkan keinginannya untuk meminta sejumlah uang kepada Adam. Situasi pria itu tidak dalam waktu yang tepat untuknya bermanja-manja soal finansial.
"Tidak apa-apa, harusnya aku mengerti. Jika wanita hamil pasti sedikit moody. Bagaimana kabar baby, apa dia menginginkan sesuatu hari ini?" Adam mengelus perut Dona yang sedikit membuncit.
"Dia ingin di jenguk oleh daddynya..." Ucap Dona berbisik sensual di telinga Adam. Semenjak tau dirinya hamil, Adam tidak lagi menyentuhnya. Dengan alasan takut akan melukai calon anak mereka. Untuk itu Dona sering melakukannya dengan pria manapun yang bisa memuaskan hasratnya.
"Katakan jika daddy nya tak ingin membuatnya terguncang dan terluka. Kita akan melakukannya kurang dari sebulan lagi. Tunggu genap tiga bulan, aku baru berani menyentuhmu sayang. Bersabarlah. Bukankan aku masih bisa memuaskanmu dengan cara lain?" Bujuk Adam lembut, dan itu membuat Dona jengah. Namun sebisa mungkin dirinya memperlihatkan wajah merona dihadapan kekasihnya itu.
"Kalau begitu aku mau sekarang, semenjak mengandung, hasratku naik menjadi berkali-kali lipat lebih tinggi." Lirih Dona tanpa rasa malu.
Adam tersenyum senang, paling tidak dengan pelepasan, bisa sedikit mengurangi stressnya. Adam menggendong Dona menuju kamar mereka. Sepanjang menuju kamar, Dona membuka kancing kemeja kekasihnya dengan tergesa.
Hempasan ringan tubuh Dona di atas ranjang, membuat wanita itu dengan sigap melepaskan apa pun yang menempel pada tubuhnya. Begitu pun Adam, kedua sama-sama polos seperti bayi tak berdosa. Adegan raba-meraba mulai terjadi, Adam memejamkan kedua matanya dengan sempurna saat Dona mulai bermain dengan juniornya di bawah sana. Hingga beberapa menit kemudian, erangan panjang Adam terdengar memenuhi kamar tersebut.
Kini giliran Adam yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan batin kekasih binalnya. Bermain di area lembab tersebut dengan begitu bersemangat, terbersit rasa ingin menggagahi sang kekasih hampir menguasai pikirannya. Namun teringat jika kandungan wanita itu sedikit lemah, Adam urung dan kembali menahan diri. Setelah Dona mencapai puncaknya, kedua tertidur dalam posisi berpelukan.
Sejenak Adam melupakan masalah yang baru saja menimpanya.
Pagi datang, kedua insan bertabur sisa peluh dan cairan dosa tersebut terbangun sedikit kesiangan.
"Kamu tidak ke kantor hari ini sayang?" tanya Dona dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Tidak. Aku bosnya, lagi pula itu perusahaan ku. Aku bisa sedikit bersantai. Bebanku sudah berkurang, perusahaan AM Group sudah kembali pada pemiliknya." Cerita Adam membuat Dona terkejut. Artinya aliran dana ke rekeningnya akan berkurang dari biasanya.
"Kenapa secepat itu kamu menyerahkan perusahaan itu sayang? Apa kamu tak memikirkan anak kita, bagaimana nasibnya nanti jika hanya mengandalkan perusahaan kecilmu itu. Untuk memenuhi kebutuhanku saja belum tentu cukup, dan pasti tak akan sama besarnya seperti kemarin." Omel Dona terlihat kesal.
Adam sedikit mendorong tubuh kekasihnya, ia tersinggung dengan ucapan Dona yang terkesan meremehkan kemampuan finansialnya.
"Aku masih mampu untuk memenuhi kebutuhanmu berikut anak kita kelak. Jadi jangan pernah sesekali meremehkan perusahaanku Dona!" Seru Adam tersulut emosi. "Lagi pula sudah banyak uang yang aku endapkan di rekeningmu, jika saja perusahaanku mengalami masalah kita bisa memakai uang itu untuk menalangnya. Itu lebih dari cukup untuk kita menganggur selama 5 tahun," beber Adam panjang lebar.
Dona meneguk ludahnya susah payah. Uang mana lagi yang masih tersimpan di rekeningnya. Semua sudah habis untuk ia gunakan membayar beberapa pria untuk menyirami lahan basahnya. Juga untuk dana tutup mulut pria yang kini tengah merecoki ketenangan hidupnya.
"Kenapa kamu diam? Jangan bilang uang itu sudah tidak ada lagi.." tebak Adam terlihat mulai was-was.
"Aku pikir kamu memberikannya khusus untuk aku gunakan memenuhi segala kebutuhaku. Jadi aku menggunakannya untuk bersenang-senang bersama teman-teman ku, berbelanja dan ke salon kecantikan untuk merawat diriku." Ujar Dona tanpa dosa.
Adam mengusap wajahnya kasar. 2 triliun lebih, dan semuanya habis hanya dalam waktu beberapa bulan. Apa saja yang wanita itu beli, ia tak melihat sesuatu yang begitu berharga selain tas, sepatu dan pakaian Dona yang memang bermerek.
Namun ia juga memberikan uang lain untuk kebutuhan wanita itu, ia ingat Dona selalu menerornya jika ingin membeli barang-barang mahal. Lalu kemana uang-uang itu pergi?
"Astaga! Dona!" Lirih Adam tak percaya. Pria itu terlihat frustasi. "2 triliun lebih dan kamu habiskan begitu saja! Apa otakmu sudah tidak waras? Aku memberimu uang lain khusus untuk berbelanja, bukan? Lalu kemana semua uang itu Dona! Katakan!!" Emosi Adam mulai tak terkendali. Keuangan perusahaannya masih belum begitu stabil, kini uang hasil jerih payahnya menilap dana perusahaan Ataya juga raib tak berarti.
"Kenapa kamu marah? Wajar'kan aku menggunakan uang kekasihku sendiri? kenapa kamu jadi perhitungkan denganku sekarang, hah!!" Dona pun tak mau kalah. Emosinya meluap-luap seolah Adam lah yang menghabiskan uangnya.
Tak ingin melanjutkan keributan, Adam memilih menyegarkan diri dengan berendam. Otaknya memanas, semakin ke sini hubungannya semakin terasa tak sehat. Dona banyak berubah, wanita itu hanya akan berbicara tentang uang dan uang tanpa peduli pada keadaannya sama sekali.
To be continue
Karma mulai mengetuk pintu rumah Adam, baru ketukannya saja rasanya sudah mencekam. Bagaimana bila karma itu mulai perlahan memasuki rumah pria itu, mungkin kah nasib Adam akan langsung hancur berantakan.
Tetap simak terus jangan lupa tap cinta untuk terus berlangganan update terbaru.
Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose-Ana.