Cinta tak hanya soal harapan mendapat yang tampan dan mapan, tapi juga tentang iman dan tujuan mencapai surga Sang Rahman.
***
Semenjak hari itu, gue merasakan nikmat hidup di bawah jagaan-Nya. Setiap langkah, tak ada kesulitan yang berarti. Gue membuat ayah tersenyum haru mendengar dan melihat keputusan ini. Dan gue merasakan kasih sayangnya yang semakin erat, merangkul bagai tak ingin lepas.
"Masyaallah...." Suara Firda itu membuat wajah ini memerah di pagi buta.
Gue mengambil duduk di sebelahnya setelah menerima perhatian yang tak biasa. Oke, itu wajar. Seseorang selalu tak terbiasa dengan hal baru yang tiba-tiba, begitupun gue. Namun dalam hati, selalu terbesit doa agar senantiasa istiqomah di jalan-Nya.
"Alhamdulillah...," gue berucap lirih karena sampai di tempat duduk dengan selamat. Setelah melewati lautan manusia di depan, gue bisa mengembus napas lega.
"Kamu tetep cantik, kok," kata Firda.
"Jangan muji terus nanti gue terbang," gue berkata dengan gigi tetap rapat. Sambil menahan malu, gue menyibukkan diri dengan mengeluarkan buku dari tas.
"Gak papa dong terbang, ntar aku ikut megangin kaki kamu." Dia tertawa.
Lalu tawanya itu berhenti ketika Kak Ari datang ke kelas kami dan berdiri di depan meja kami.
Sumpah, gue malu dengan tatapannya yang seperti tak percaya itu. Dia bergumam saat gue mengalihkan pandangan ke meja.
"Gue cuma mastiin kalo lo udah di kelas," katanya dengan pandangan yang tak lekas beralih.
Sambil menahan malu dan mengontrol perasaan, gue berkata, "Makasih."
"Sama-sama," katanya, dan masih berdiri di situ.
Sebelum berangkat tadi, gue mengabarinya agar tak perlu menjemput ke rumah. Hari ini gue diantar ayah, naik motor, dan itu sesuatu yang jarang banget didapat.
Sekitar 15 detik, hanya ada tatapan dan sirat mata. Gue melihat bola matanya yang tak bergerak, juga mulutnya yang tak berucap. Hingga terdengar kata yang sebelumnya tak pernah keluar dari bibirnya.
"Cantik."
Gue memalingkan wajah darinya saat kata itu terucap. Tak sadarkah dia, dari tadi gue menahan blushing. Sampai sekarang pun belum juga melangkahkan kaki untuk pergi.
"Yoiichinichiwo," ucapnya dengan raga yang kokoh itu.
(Semoga Harimu Menyenangkan)
"Hai, arigato. Anata mo." Kata itu sudah gue siapkan dari semalam. Setidaknya jawaban itu akan membuatnya senang.
(Iya, makasih. Kamu juga.)
Dia tersenyum bahagia, dan itu senyuman yang sebelumnya tak pernah terlihat.
"Suki," ucapnya dengan senyum yang masih bertahan di wajahnya. Namun saat itu gue belum tahu artinya apa.
Dia melangkah pergi setelah gue mengangguk. Di saat yang bersamaan, terlihat Glen yang baru saja melangkah masuk.
"Ekhem!" Firda berdeham setelah cukup lama terdiam membisu di pojokan itu. Dia tersadar jika dehamannya itu keluar di waktu yang tidak tepat karena Glen berhenti sejenak di depan kami. Namun hanya ada tatapan dalam keheningan.
Glen melanjutkan langkahnya tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Membuat gue berpikir tentang ucapan kemarin, mungkin terlalu berlebihan.
"Ada masalah yang aku gak tau?" tanya Firda pelan.
Dia menyadari raut wajah yang berubah drastis. Cukup lama gue membuatnya menunggu, dan dia tetap tak akan dapat jawaban.
"Suki?"
Firda mengernyitkan dahi bingung.
"Suki artinya apa?"
"Itu masalah kamu?" tanya Firda tak yakin.
Gue sengaja mengalihkan pertanyaannya. Selain ingin melupakan semua yang terjadi, gue juga ingin perasaan ini segera hilang. Menceritakan padanya hanya akan membuat gue mengingatnya, dan itu tak akan terjadi lagi.
Tangan gue sibuk mengutik HP, mencari tahu arti dari ucapan Kak Ari. Firda yang kepo pun ikut melihat ke layar ponsel. Kami memfokuskan mata untuk membaca artikel yang tertera di sana.
Ungkapan cinta spesial dalam bahasa Jepang "Aku Cinta Kamu" adalah "Aishiteru". Namun, bagi orang jepang, kata cinta memiliki makna yang sangat mendalam. Mereka sangat tertutup dengan perasaan mereka. Mereka lebih suka menggunakan kata "Suki", dalam bahasa Indonesia artinya suka atau sayang.
Deg.
Firda mengalihkan pandangannya saat gue menatapnya cemas. Dia bersenandung dalam kepura-puraannya, seolah tak mengerti apa yang terjadi.
"Gue harus gimana, Fir?"
Dia mengembuskan napasnya, lalu menepuk bahu kiri gue. "Itu hak kamu untuk memilih, Nan. Tapi, dalam menjalankan hak, kamu gak boleh lupa sama kewajiban."
Lagi-lagi, ucapannya itu membuat gue merenung, memikirkannya.
"Pacaran itu gak ada istilahnya dalam islam, kecuali udah sah."
"Pacaran sebelum sah gak akan menjamin seseorang bakal nikah nantinya."
"Tapi kalo pacaran setelah nikah, tentu akan menjamin rezeki nantinya."
Gue menaruh seragam baru berlengan panjang ke dalam loker. Seseorang memberitahu gue untuk menemui Bu Efril di ruang tata usaha. Dia memberikan seragam yang sudah gue pesan seminggu yang lalu.
"Semoga istiqomah dengan hijabnya, ya, Nak."
Ucapan Bu Efril membuat gue meng-amin-kannya. Dengan senyum lembut, dia menepuk dan mengelus bahu gue.
***
Waktu istirahat, kami berjalan berdua menuju kantin. Beberapa anak yang gue kenal memandang dengan raut kaget mungkin tak percaya. Firda yang berjalan di sisi gue berbisik karena ikut merasakan tatapan dan perhatian itu.
"Rasanya kayak anak baru ya," bisiknya.
Gue mencoba untuk tetap memandang ke depan, mengabaikan wajah-wajah kaget itu. Tentu hal ini wajar terjadi, sekolah model ini memiliki mayoritas murid gaul, hits, dan kekinian. Tak banyak siswi yang mengenakan hijab sekalipun mereka islam. Malah sangat banyak siswi dengan model baju pendek skeng kanan kiri dengan rok ketat meski panjang, dan menggantung.
"Oh, My God!"
Kami terpaksa menghentikan langkah karena satu geng berhenti di depan kami saat berpapasan. Siapa lagi kalau bukan Dea dkk.
"Ya ampun, Nandira, seneng deh ngeliatnya. Ya, kan, Gengs?" kata Dea. Nadanya tak terdengar seperti kebaikan. Inilah satu-satunya hal yang menjengkelkan.
Mereka mengangguk, berdeham, mengiyakan ucapan Dea.
"Tambah cantik, Nan. Apalagi kalo pake cadar!" celetuk Lili.
Dea dan Mega yang berada di antara Lili menyikut pinggulnya, membuat Lili mengaduh sakit dan kaget. "Aw!"
"Iya! Pake sarung tangan sekalian!" tambah Dinda yang tak ada bedanya. Membuatnya mendapat lirikan tajam dari mereka.
"Jangan terlalu frontal!" tegas Mega dalam bisikannya.
"Makasih," gue berucap tanpa perubahan raut senang atau pun sedih.
"Doain supaya kita orang cepet nyusul ya," ucap Amanda di samping gue, nadanya terdengar sama saja. Mereka hanya menjadikan ini sebagai lelucon.
"Doain juga supaya mulut Lili gak gampang nyeletuk." Mereka tertawa dengan ucapan Dinda itu. Padahal dia juga sama nyeletuknya.
"Kok gue, sih!" protes Lili yang hanya mengikuti alur.
"Lagian lo bikin kesel," kata Mega.
Gue menahan segala unek-unek dalam hati, meredam segala dendam, hingga tak akan ada lagi. Kami melanjutkan langkah setelah gue berucap dengan sindiran pada mereka.
"Aamiin, dan semoga lekas diterima di sisi-Nya."
"Amiin!" kata mereka serempak dengan antusias.
Firda menutup mulutnya, menahan tawa mendengar respon mereka yang tak paham dengan kalimat sindiran itu.
"Gue gak salah, kan?" gue bertanya dengan yakin.
Firda melepas tawanya ketika kami ingin duduk di kantin. "Nggak, kok, kamu hebat."
Gue tertawa juga, mengikuti irama tawanya yang kini berhenti karena seseorang duduk di kursi hadapan kami. Marcel membuat Firda seketika terdiam membisu dengan kepala tertunduk. Setiap kali bertemu dengannya selalu seperti itu.
Marcel menatap gue bosan dengan kehadiran dirinya sendiri. Gue bersenandung mengalihkan pandangan seolah tak melihat raut protesnya. Tak ada cara yang bisa dilakukan untuk membuat Firda terbiasa dengan kehadirannya. Gue pun gak bisa merayunya untuk menerima Marcel yang tak henti-hentinya meminta.
Marcel mengembuskan napasnya. "Fir," panggilnya. Namun tak ada jawaban dari sang pemilik nama.
"Ngomong aja dia denger kok," gue mewakili untuk berkata.
"Firda," panggil Marcel lagi, masih tak ada jawaban.
Marcel menarik napas panjang. Lalu memanggilnya lagi, "Assyifa Firdausi Nur Hidayah binti Ali Imran Al-Gazhali," panggilnya dengan nama yang super duper lengkap hingga tak ada lagi orang yang dimaksud, selain wanita di hadapannya.
Namun Firda tetap menyimpan suaranya, tak menyahut, malah kepalanya semakin menunduk.
Gue menutup mulut, menahan tawa melihat Marcel yang menatap pasrah. Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Mau pesen apa, Fir?" gue bertanya dengan hati-hati.
Firda hanya menggeleng. Membuat Marcel mengerti maksudnya.
"Iya, Fir, iya, gue pergi, gue pergi," ucap Marcel dengan penekanan di setiap katanya. "Kasih dia makan," suruhnya sebelum melangkah pergi dari meja kami.
Lucunya melihat tingkah gemas si Marcel. Meski begitu, dia tetap mencoba dan mencoba. Tak peduli seberapa banyak 'kacang' yang dia dapat.
Gue tertawa kecil. "Pesen bakso aja ya, Fir?" tanya gue lagi.
"Aku mau mie aja, deh, Nan," pintanya.
Gue menatapnya penuh humor. "Oke, mie aja, rasa kacang?"
Gurauan itu membuatnya memasang bibir lima senti. Gue tertawa lepas dan memesan makanan kami.
"Bu, bakso satu, mie ayam satu."
***
Pelajaran terakhir, kami disuruh mencari referensi bacaan di perpustakaan. Tugasnya kelompok dan cukup menyulitkan jika dikerjakan sendiri. Dari dulu pelajaran sejarah memang tak ada habisnya, presentasi dan presentasi.
Namun dibalik sesuatu yang sulit tentu mengandung pelajaran. Jika kita buta tentang sejarah, terutama tentang penjajahan di masa lampau, dan kita tidak belajar tentang itu, bisa saja penjajahan kembali terjadi. Itulah penting bagi kita untuk mengetahui seluk beluk yang terjadi di masa lampau, supaya kita dapat belajar dan tak mengulangi kesalahan yang sama.
Buku yang terletak di rak itu ternyata bukan cuma menarik perhatian gue, tapi juga menarik perhatian Glen yang ingin mengambil buku itu juga. Masing-masing tangan kami tertahan pada sisi buku. Kami sempat beradu pandang dan bicara dalam pikiran masing-masing. Hingga akhirnya merelakan satu sama lain.
"Lo duluan," ucap kami bersamaan.
Lalu jantung ini berdetak kencang. Terpikir suatu kenyataan bahwa kami masih memiliki kepedulian yang sama.
Glen mengembuskan napas pendek. "Lo aja," katanya sambil mendorong buku itu.
"Makasih...." Kaki gue melangkah pergi setelah mengambil buku itu.
Sesuatu yang menyebalkan atau menyenangkan seperti dulu tak akan terjadi lagi. Gue telah berusaha meninggalkan perasaan itu. Perasaan yang menimbulkan dusta setiap berkata padanya, juga membohongi diri untuk bergerak sebaliknya. Sudah cukup segala kebohongan itu. Sekarang waktunya untuk berbenah. Membenahi hati yang salah berlabuh.
Bukan dia tempat untuk berharap, bukan dia tempat untuk meminta bantuan, juga bukan dia tempat untuk menaruh hati. Dia hanya raga dan ruh yang bergerak atas perintah Ilahi. Kepada pemiliknya lah harusnya kita berharap.
Jika usaha dan doa tak juga berhasil padanya. Itu pertanda bahwa dia bukan orang yang tepat. Tak perlu memaksakan hati untuk hal yang tak diridhoi-Nya. Dunia bukan tempat untuk mendapatkan apa yang kita mau, melainkan tempat untuk menerima hukuman atas kesalahan. Bersyukurlah dengan hukuman itu, setidaknya dapat meringankan beban di akhirat.
Namun, jika usaha dan doa berhasil terwujud. Percayalah, akan ada saat-saat bahagia di dunia. Saat itu, dunia terasa seperti pinggiran surga yang damai. Lalu kita berharap menjadi pasangan yang dirindukan-Nya. Berjalan di dunia dengan hati-hati hingga saat itu tiba, dan kita sampai di surga-Nya.
________________
Keep istiqomah buat temen-temen yang sedang dalam proses hijrah :)