Senin pagi, saat matahari masih menyembunyikan cahayanya, dan tetes embun mendominasi belahan bumi. Saat itu harusnya gue sedang mencuci piring. Namun suara Ayah yang terdengar sampai dapur memanggil gue untuk melihat siapa yang sedang ngobrol dengannya.
Dengan masih memakai celemek dan tangan berbusa bekas nyuci piring, gue berjalan ke depan. Namun kaki berhenti sebelum sampai ke sana. Suara yang kini terdengar sangat jelas membuat gue curiga dan bersembunyi di balik dinding. Dengan heran, mata gue melihat jam yang masih menunjuk pukul 06.20 WIB.
Jam di rumah Kak Ari mati kali ya, jam segini sudah sampai rumah gue.
Dia sedang ngobrol dengan Ayah.
"Hei!" seruan emak itu membuat gue tersentak dan menegakan tubuh.
Gue menunjukan cengiran saat emak melihat ke depan, lalu dia menatap dengan raut selidik.
"Hayo nguping," katanya.
"Nggak," dusta gue. "Cuma ngeliat siapa yang dateng." Sambil melangkah kembali ke dapur.
"Heleh...," cibirnya.
Gue melanjutkan cucian piring yang hampir selesai, dan sosok Kak Ari memenuhi pikiran pagi itu. Belakangan ini dia sering banget antar jemput gue. Kami jadi sedekat urat dan nadi.
Tak jarang dia datang ke mari malam-malam hanya untuk mengantar makanan. Entah itu martabak, atau beberapa donat kesukaan gue. Dia datang dengan sendirinya, tanpa notice dan tanpa aba-aba. Lalu pulang setelah mengatakan "Yoiichinichiwo"
Gue jadi takut kalau nantinya malah menyia-nyiakannya. Karena bagaimanapun juga, Glen gak bisa hilang dalam ingatan. Tidak tahu apa yang membuatnya begitu menarik perasaan gue. Sejauh ini cuma dia yang mampu mengajarkan arti kehidupan.
Foto lama yang terpajang di meja belajar membuat gue bernostalgia tentang hangatnya masa kecil. Kak Gilang yang membuatkan bingkai kecil pada foto itu, dia juga yang mengambil gambarnya dan memberikannya.
Foto yang menampilkan wajah Nandira kecil menangis karena diusili.
"Glen!" teriakan Kak Gilang itu membuat tangisan gue yang tadinya keras menjadi terisak.
Glen melihat gue sebal sambil membela diri, "Dia aja yang cengeng, orang aku cuma bantuin gambar ikan."
"Dia gambarnya asal-asalan, masa ikan punya kaki. Gambaran aku jadi jelek." Nandira kecil ikutan membela diri sambil menghapus sisa air mata di pipinya.
Gue ingat waktu itu kami masih kelas 1 SD, dan sedang menggambar di rumahnya. Saat sedang asik-asiknya menggambar, dia ngibulin gue. Dia nyuruh ngambil spidol warna di rak samping TV. Ketika kembali dengan spidol itu, terlihat sesuatu yang aneh pada gambaran gue. Dia menggambar ikan berkaki pada karya yang hampir selesai.
Saat itulah gue menangis. Dia tak henti-hentinya bilang kalau gambar itu bagus, padahal sebelumnya dia tertawa mengejek gambarannya. Sampai akhirnya Kak Gilang datang dan memarahi bocah nakal itu.
"Sini, kakak bantuin gambar ulang," ucap Kak Gilang, membuat tangis gue berhenti.
"Huu, Nandira cengeng!" cibirnya.
Gue diam saja ketika Kak Gilang menegurnya.
"Glen."
Lalu dia malah tambah menjadi-jadi. "Nandira cengeng, Nandira cengeng, Nandira cengeng," katanya sambil mengayunkan nada.
"Biarin aja, gak usah didengerin, emang nakal Glen itu," kata Kak Gilang ketika gue menatapnya sendu dengan bibir yang hendak menangis lagi.
"Dasar cengeng." Lalu Glen menarik rambut gue gemas karena kami tak meladeninya.
Saat itu, Nandira kecil yang masih polos pun menangis lagi.
"Glen!" seru Kak Gilang ketika bocah itu berlari masuk ke dalam.
Kak Gilang yang tadinya duduk di lantai sambil membantu gue menggambar pun bangkit untuk memanggil bocah kecil yang nakal itu.
"Minta maaf," suruh Kak Gilang pada Glen yang kini berdiri di samping gue.
Glen diam saja dengan raut cemberut, lalu dia bilang, "Gak mau, orang aku gak sengaja," ucapnya. Padahal sudah jelas-jelas dia sengaja menariknya.
"Nanti Nandira pulang, loh," kata Kak Gilang.
"Yaudah pulang aja sana," jawabnya.
"Yaudah, Nan, biarin aja dia gak punya temen. Yuk, kakak anter pulang,"
Padahal waktu itu Glen yang manggil gue dan ngajak main di rumahnya. Memang Glen nakal banget waktu kecil. Selain usil, dia juga suka narikin rambut anak orang.
Gue tersenyum geli mengingat pristiwa itu. Usia yang masih sangat belia sehingga tak ada asmara, dan gue rindu masa itu.
Setelah memasukkan buku ke tas sekolah, gue melangkah keluar dan berpamitan dengan emak dan ayah. Lalu berangkat bersama Kak Ari yang sudah menunggu dari tadi.
Gue melihat mobil Glen yang barusan lewat ketika ayah masih belum puas ngobrol dengan Kak Ari. Mereka membicarakan tentang politik yang tak ada habisnya. Mulai dari mengkritik kinerja pemerintah yang tak beres hingga sulitnya lapangan pekerjaan.
Kami berangkat pukul tujuh lewat dikit, dan sampai di sekolah ketika bel upacara berbunyi. Kami buru-buru berjalan ke kelas masing-masing. Kak Ari minta maaf karena keterlambatan ini, dan gue gak keberatan memaafkannya. Dia pergi setelah mengucapkan kalimat biasanya.
Gue terdiam sejenak di depan situ, lalu segera menaruh tas dan menuju lapangan upacara. Ketika berjalan di koridor, panggilan seseorang menghentikan langkah cepat gue.
"Kinan!"
Gue menunggu Glen turun dari tangga itu dan menghampiri. Seperti biasa saat upacara bendera, Glen gak akan ikut baris kecuali terpaksa.
"Gak usah baris, temenin gue," pintanya selangkah di depan gue.
Gue mengembus napas berat. "Sorry, gue gak bisa." Lalu melanjutkan langkah.
"Nan!" Panggilannya kali ini tak mampu menghentikan langkah gue yang terburu-buru.
"Nandira!" Namun yang ini, dia berhasil membuat gue berhenti.
"Sahabat lo lagi butuh bantuan sekarang. Itu pun kalo lo masih anggap sahabat."
Terlalu banyak rasa yang dirasakan ketika mendengar ucapannya. Gue memutar tubuh dan berseru padanya.
"Sahabat gak akan nyuruh sahabatnya buat ngelanggar peraturan sekolah!"
Sejenak pria itu terpaku di tempatnya. Lalu berjalan mendekat dan membalas ucapan itu, serupa.
"Sahabat juga gak akan menjauh dari sahabatnya tanpa alasan!"
"Itu karena lo gak tau apa yang gue rasain!"
"Gimana gue mau tau kalo lo gak pernah cerita apapun ke gue!"
"Sahabat harusnya ngerti apa yang sahabatnya rasain!!"
"Dan sahabat harusnya berbagi apa yang dia rasain! Bukannya ngejauh dan nolak buat ketemu!!"
"Oke kita bukan sahabat!!!"
Kami terus berseru satu sama lain, membela diri masing-masing atas apa yang terjadi. Hingga berhenti saat kalimat terakhir keluar dari mulut gue.
"Sekarang gue ngerti apa yang lo mau," ucap Glen datar.
Gue cuma diam dengan napas naik turun dan raut sendu, sambil menahan rasa yang berkecamuk dalam d**a.
"Oke, gue pamit. Makasih bantuannya selama ini. Kinan yang gue kenal 10 tahun lalu udah hilang, pergi termakan waktu yang terus berubah."
Sekuatnya gue menahan tubuh yang bergetar karena menahan air mata. Dia melangkah pergi menaiki tangga setelah tak ada lagi kata yang terucap antara kami. Saat itu pula air mata yang tertahan pecah, membasahi pipi, mengiringi perjalanan sepanjang koridor.
Dan upacara hari itu terasa panjang sekali, seperti telah melewati satu musim namun tak kunjung selesai. Pandangan mata pun telah berkunang-kunang dan hanya ada warna kuning dan efek blur. Kemudian tak ada rasa dalam tubuh, juga tak ada penyangga. Terjun bebas begitu saja seakan memiliki sayap, nyatanya tak punya, dan pada akhirnya jatuh ketika kesadaran meninggalkan tubuh.
***
Nandira kecil sedang menangis waktu itu. Kali ini bukan karena Glen, tapi karena dipukul teman sekelas yang lain.
"Woi!" Glen merebut spidol papan tulis itu dari Fajar, dan memukul anak itu balik dengan spidol.
"Salah dia gak mau minjemin spidolnya!" bela anak itu.
"Beraninya sama cewek, cemen betul!" seru Glen.
"Ayo berantem aja kita!" tantang Fajar kemudian.
"Ayo!!"
Lalu tangis Nandira kecil semakin keras saat mendengar Fajar menangis karena di sepak Glen. Anak-anak yang lain hanya diam dan beberapa mengadu ke guru. Hingga akhirnya guru datang dan mendamaikan suasana.
Saat istirahat, Glen diam saja di tempat duduknya karena dikatain nakal oleh anak-anak lainnya. Nandira kecil menaruh sebungkus cokolatos di meja Glen dan mendorongnya mendekat pada anak laki itu. Dengan antusias, Glen mengambil cokolatosnya dan tersenyum riang pada pemberinya. Saat itu, Nandira selalu menjadi temannya ketika yang lain takut bermain dengannya.
Ada pula saat mereka sudah bisa mengendarai sepeda roda dua. Saat itu Nandira jatuh karena menabrak pasir bangunan di depan rumah orang. Glen memutar balik sepedanya dan menghampiri Nandira yang menahan sakit pada luka di lututnya.
Dia mengobati luka Nandira dengan air di mulutnya. Lalu dengan iseng menyoletkan telunjuk bekas ludahnya ke pipi Nandira.
"Iiiihh!" protes Nandira sambil menggosok-gosok pipinya, sedangkan Glen menertawakannya.
Sungguh masa-masa indah yang harus diceritakan.
Pada kejadian lain, ketika usia mereka menginjak 10 tahun, sesuatu yang menyebalkan kembali terjadi. Nandira yang sedang duduk manis di bangkunya mendapat tepukan di punggungnya.
"Apa?" sahut Nandira pada Glen yang menunjukkan cengir kuda.
"Gak papa."
Nandira kembali menghadap depan, lalu seorang teman memanggilnya, memaksanya datang memenuhi panggilan itu. Saat itu pula Glen dan teman lelakinya tertawa puas karena berhasil menempelkan tulisan di punggung Nandira. Nandira menyadari hal itu ketika seorang teman memberitahunya.
Pada kesempatan lain, Nandira membalas keusilan Glen dengan menaruh permen karet di kursinya. Membuat Glen tak dapat bangun dari tempatnya sepanjang hari. Lalu Glen membalas dengan menaruh permen karet di rambut Nandira. Saat itu permainan selesai sebab terjadi perselisihan antara orang tua mereka.
Hingga mereka beranjak remaja. Terlalu banyak kisah yang terjadi dan tak bisa dimungkiri. Glen pernah menggotong Nandira yang pingsan saat upacara bendera kelas 8 SMP. Selain itu, mereka juga pernah dihukum bareng kerena datang terlambat, sampai membuat teman-teman yang lain menjuluki mereka kembar, mirip, atau pasangan serasi.
Kemudian sampai pada hari di mana perasaan itu tumbuh dan berakar. Membuat semua yang terjadi begitu hangat hilang termakan waktu. Glen benar, Nandira sudah berubah. Nandira sudah tidak menganggapnya sahabat. Perasaan itu menghancurkan segalanya.
***
"Nandira...."
Seseorang yang belakangan ini begitu dekat muncul pertama kali saat gue membuka mata. Bukan Glen, juga bukan Firda. Air mata lolos dari sudut mata, mengingat apa yang terjadi sebelum ini.
"Nan...?"
Gue memutar tubur dan membelakanginya, menyimpan air mata dari padangannya.
"Sorry, Kak..., gue lagi pengen sendiri...."
Hanya itu, kata yang bisa terucap. Sedih rasanya sadar dalam keadaan ini. Tak sanggup hati untuk berpaling secepat ini. Terbayang dahulu siapa yang berada di samping gue ketika membuka mata setelah pingsan saat upacara. Sekarang semuanya tak lagi sama.
"Oke..., gws...." Kak Ari meninggalkan UKS setelah berkata lirih.
Tak lama dari kepergiannya, sentuhan tangan Firda membuat gue langsung berbalik dan memeluknya, menumpahkan segala kesedihan yang gue buat sendiri.
"Ingatlah ketika Zulaikha mengejar cinta Yusuf. Yusuf menjauh darinya. Namun, ketika Zulaikha mengejar cinta Allah. Allah datangkan Yusuf untuknya...."
Dan tangis itu semakin menjadi saat Firda berucap sendu.
"Sudah waktunya bagimu, Nan...."
"Allah sayang kamu. Dia memberimu tangis untuk menyadarkan bahwa hanya Dia tempatmu berharap...."
"Sudah cukup..., berhenti mencintai mahkluk di atas cinta pada Rabb-Mu...."
"I will always with you...."
Saat itu tak ada kata yang mampu gue ucap. Hanya angan yang berkelana dalam kenangan dan menghadirkan tangis. Semuanya teringat jelas dalam satu waktu. Sosoknya yang hampir menjadi bagian hidup. Mengajarkan raga yang cengeng ini untuk tegar.
Jelas teringat bagaimana Glen, si bocah nakal itu, mengajarkan gue untuk tidak cengeng.
"Jangan nangis aja, loh. Kasih tau gue kenapa!" seru Glen saat kami masih menjadi murid baru di SMP.
Dari dulu gue memang tipe orang yang sulit bergaul. Makanya sampai sekarang gue gak pernah punya geng.
Glen masih setia berdiri di situ, mendengar isak tangis gue di atas meja. Sesekali dia menggoyangkan kepala gue agar bangkit dari situ, tapi tak juga ingin bangkit.
"Dikatain?" tebak Glen di telinga gue.
Meski itu benar, gue tak mengiyakannya. Masih tetap pada posisi terisak.
"Aji ngatain lo lagi?" tebaknya lagi.
Dulu kami punya teman cowok, mulutnya lemes, gak bisa diem, sukanya ngatain nama orang tua. Kalau kita balas ngatain, dia malah makin jadi. Mulutnya itu ancaman bagi orang-orang lemah seperti gue, dulu.
Setelah itu, gue dengar suara gebrakan meja. "Woi banci! Beraninya sama cewek!" hardik Glen.
"Urusan lo apa!" balasnya serupa sambil memukul meja.
"Sekali lagi lo ngatain Nandira, gue pecahin pala lo!"
Meski gue tahu Glen tak serius, tetap saja merinding mendengar suaranya waktu itu. Dan bodohnya si Aji malah menantang.
"Nih, coba!" tantangnya sambil memasang wajah.
Saat itulah tonjokan Glen mendarat di wajahnya, menyebabkan perkelahian antara mereka. Gue yang dari tadi menyembunyikan wajah di atas meja pun mengangkatnya dan menyaksikan perkelahian itu. Beberapa dari mereka mencoba melerai, tapi gagal. Gue gak berani mendekat ke sana. Dengan sisa tangis itu, gue cuma bisa duduk dan menatap sendu.
Setelah itu, gue menyesal telah membuatnya berkelahi. Mereka berdua dihukum, membagikan permen ke seluruh murid di sekolah dengan tulisan Saya Janji Tidak Akan Berantem Lagi menggantung di leher mereka.
"Maaf...," kata gue saat dia memberikan permen itu.
Dia tersenyum. "Asal jangan cengeng lagi," ucapnya.
Gue mengangguk dan mendengarkan ucapannya. Setelah hari itu, gue berusaha berubah. Menjadi pribadi yang tegar dan berani. Dia juga mengajarkan, tentang pentingnya menjadi pribadi yang terbuka.
"Diem aja, gabung sana." Glen nyuruh gue gabung dengan rombongan cewek yang sedang ngobrol.
"Nggak, ah..., gak dapet kesempatan ngomong,"
Dia tertawa. "Dasar Kinan, nolep!" hardiknya.
"Kinan?" gue protes. Itu pertama kali dia mengganti nama panggilan gue.
"Cocok buat si nolep dari goa hantu," katanya sambil narik ujung rambut gue.
"Aw!"
"Yuk gue temenin," ajaknya.
"Ke?"
"Jajan, lah."
Dengan antusias gue siap melangkah.
"Tapi jajanin," sambung Glen. Membuat langkah gue terputus.
Dia tertawa lagi. "Becanda." Sambil merangkul leher gue, kami berjalan.
Selama ini, waktu gue banyak dihabiskan bersamanya. Dia seperti seorang kakak bagi gue. Pelindung saat ayah gak ada. Setiap tempat baru, gue berkunjung bersamanya. Dia mengenalkan hal-hal baru yang sebelumnya gue gak tahu. Dia juga memperingati tentang bahayanya club malam dan begal. Gue banyak belajar dengannya tentang kehidupan anak remaja.
Sekarang saatnya untuk mandiri, mengaplikasikan sendiri pelajaran-pelajaran itu. Melangkah dan membela diri sendiri. Melawan rasa takut tentang keraguan.
Firda benar. Sudah saatnya untuk memperbaiki diri. Sudah saatnya untuk kembali ke jalan-Nya. Hati yang patah ini akan segera pulih dan menjadi kokoh. Bersedih terus-menerus tak ada gunanya. Diri yang telah ditetapkan ini adalah milik kita, pinjaman dari Sang Maha Kuasa untuk dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Sekarang tak ada alasan untuk menunda lagi. Kedekatan itu sudah selesai. Bagaimana nantinya, biarlah takdir yang menentukan. Tugas gue sekarang adalah belajar untuk menjadi muslimah yang baik.
Hijab sudah terpasang sempurna menutupi rambut hingga ke d**a. Harusnya dari dulu gue begini. Namun tak ada salahnya untuk memulainya sekarang ... dan selamanya.
_____________
Bagaimana perasaan kalian :')