Meski kaki terus melangkah..
Hati tetap tak berubah..
***
Tepat 10 menit sebelum bel masuk, kami sampai di sekolah. Gue masih berdiri dengan banyak pikiran saat Kak Ari telah turun dari motor dan siap berjalan.
"Ayo, Nan?" ajaknya.
Gue jadi mati kata dan cuma bisa mengikuti langkahnya. Prediksi gue salah, padahal sudah gue siapkan jawaban seandainya dia tanya 'kenapa'.
"Tau gak apa yang lebih menusuk dari cinta ditolak?"
Tiba-tiba saja perjalanan hening itu menjadi kaku, pertanyaan Kak Ari membuat gue berpikir keras. Apa itu pertanyaan serius atau bukan. Dua kali gue dibuat mati kata olehnya.
"Eee...,"
"Omelan Bu Efril!" serunya, membuyarkan pikiran gue yang memikirkan hal serius.
"Sini, Nan!"
"Eh!"
Spontan dan cepat, dia menarik tangan gue dan berbelok ke deretan kelas 10, menghindari Bu Efril yang sedang berbicara degan segelintir murid kelas 12. Sepertinya dia punya 'hutang' pada Bu Efril.
Perlahan namun niat, gue menarik tangan dari genggamannya. Kini kami harus berjalan agak jauh untuk sampai di kelas masing-masing.
"Ada masalah sama Bu Efril?" gue bertanya, sekalian mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa beku.
"Tangan gue dingin ya?"
Sekarang rasanya malah tambah beku akibat ucapannya yang melenceng jauh dari pertanyaan gue.
"Nggak, kok..., cuma ... "
"Gak enak?" celetuknya.
Gue mendecak lantas mendorong bahunya. "Apaan dah!"
Dia tertawa sambil terus bertanya, "Iya, kan, gak enak? Ya, Nan? Gak enak, kan! Pasti jawabnya gak enak. Iya, kan?"
"Sst, didengerin orang," kata gue sambil menaruh telunjuk di depan bibir.
"Biarin." Dia menarik tangan gue untuk menyingkirkan telunjuk dari mulut. "Salah mereka ngedengerin."
"Salah kita ngomongnya di sini," gue membalas ucapannya dengan nada serupa.
"Nggak. Pokoknya salah mereka," balasnya yang tetap bersikeras nyalahin orang-orang.
"Malah nyalahin orang," kata gue dengan nada turun dan mungkin raut cemberut.
"Kasihan kalo nyalahin setan mulu," katanya beberapa saat kemudian, membuat gue tergelitik.
"Nah, gitu kan enak, ketawa." Dia tertawa.
Kami sampai di kelas gue duluan. Dia masih berdiri di depan pintu, tak ada tanda-tanda ingin pergi. Malah membuat gue bingung dengan tatapan itu.
"Yoiichinchiyo...?"
Gue mencoba mengucapkan kata yang biasanya dia ucapkan sebelum pergi. Dia tertawa dan tersenyum geli, seperti ada yang salah dalam ucapan gue.
"Yoiichinichiwo," ucapnya kembali dengan kepalan jari tangan terangkat. Gue tersenyum sambil men-tos-kan kepalan pada tangannya.
Kami hampir terbiasa dengan hal ini, dan sepertinya akan terjadi setiap kali kami bertemu atau berpisah. Kak Ari yang mengajarkannya. Dalam bahasa jepang, itu artinya: semoga harimu menyenangkan.
"Daahh...." Dia melambaikan tangan sebelum beranjak ke kelasnya. Gue membalasnya serupa. Dan menurut opini, gue menilainya seperti orang yang... ceplas-ceplos tapi romantis.
Lalu langkah gue terhenti melihat Glen yang sedang berdiri dengan tangan kanan tertumpu di meja. Ada Firda yang juga sedang duduk di sana. Mereka berdua menatap gue penuh selidik.
"Ada yang salah?" gue bertanya dengan raut ngeri.
"Banyak. Kan, Fir?" ucap Glen menekan. Firda cuma bergumam dalam keraguan.
"Pertama, lo gak pernah cerita. Kedua, juga gak pernah cerita. Ketiga, tetep gak pernah cerita." Ucapan Glen itu terdengar seperti protes.
"Ya, kan, Fir!" katanya lagi dengan penekanan.
"Eee...." Hanya itu yang keluar dari mulut Firda.
"Apaan, sih..., orang cuma ngobrol," jawab gue sambil melangkah maju. "Minggir!" gue mengusir Glen yang menghalangi tempat duduk.
"Yaelah...." Dia menggerutu. "Ooke, fine." Glen keluar kelas setelah mengucapkannya. Dan gue melihat keseriusan di wajahnya.
Untuk beberapa kali, terasa sesuatu menghalangi jalan napas, menyesakkan rongga d**a. Gue mengembus napas sesal. Firda pun hanya bisa speechless di tempat duduknya. Dia menggeser sebungkus permen di atas meja, memberikannya ke gue.
Terdapat tulisan "Semangat ?" di balik bungkus permen itu.
"Thanks." Gue melempar senyum padanya.
Firda mengusap pundak gue. Dia gak marah meskipun gue gak pernah menceritakan sesuatu yang seharusnya dia ketahui. Sahabat sejati harusnya memang begitu, kan.
Waktu istirahat, setelah makan sendirian di kantin, gue berjalan sendirian di koridor. Bu Efril baru saja memasang pengumuman di mading, beberapa murid berdesakkan di sana. Gue yang penasaran mendekat ke sana dan mendengar tentang infonya. Ternyata tentang rencana study tour. Rasa penasaran yang tadi timbul pun kini hilang tak berbekas.
Gue melanjutkan langkah. Sepertinya study tour kali ini gak bisa ikut. Selain rasa mabuk perjalanan, biayanya juga terlalu banyak. Lagipun, ayah belum memberi kabar kepulangannya.
"Nandira," panggil seseorang.
Tadinya gue mau pura-pura b***k dan terus berjalan. Namun pria yang gue juluki si maju terus pantang mundur itu terus saja memanggil.
"Nandira!"
"Woy, Nandira!"
Arrghh! Andai saja gue berani ngejitak kepalanya dan nge-lakban mulutnya. Terpaksa gue menghentikan langkah lagi. Dia berlari kecil ke arah gue.
"Apaan?" kata gue gak ikhlas.
"Sorry, gak ngerepotin, kan? Pasti nggak lah ya."
Sekarang gue juluki dia si tukang ngomong sendiri jawab sendiri. Gue memalingkan mata sambil mengembus bosan. Dia tertawa kecil sambil memberikan bingkisan.
"Titip buat Firda, makanan khas dari Belanda."
Gue belum menerima paper bag yang berisi makanan khas itu. "Firda lagi puasa," kata gue.
Marcel menepuk kepalanya. "Oh, iya, gue lupa kalo ini hari kamis."
Sedetik kemudian. "Tapi gapapa, bisa buat buka puasa, kok. Soalnya rasanya manis dan gurih." Dia menyodorkannya.
"Titip, ya," ucapnya sambil mengukir senyum. Senyum yang membuat wajahnya itu memancarkan aura ketamvanan.
Pantas saja banyak yang tergila-gila padanya. Dengan senyum itu, dia menjajah setiap hati wanita. Bahkan Bu Ceri pun terhipnotis olehnya. Memang dasar penjajah.
Gue menerimanya. "Iya, iya," jawab gue sambil melanjutkan langkah yang sempat terjajah.
"Thanks!" teriaknya.
"Yaa," jawab gue tanpa menoleh.
Gue baru tahu belakangan ini kalau ibunya Marcel berdarah Belanda. Pantas saja mukanya agak beda dari yang lain. Dulu waktu kecil, gue benci banget sama orang Belanda. Selain penjajah, yang gue tahu mereka itu jahat. Namun sekarang zaman telah berubah.
Paper bag itu kini mendarat di alamat yang tepat dan sampai dengan selamat, tanpa cacat dan gratis ongkir. Firda yang sedang mencatat belum menggubrisnya. Gue mendudukkan b****g di kursi.
"Makanan khas Belanda dari Marcel." Ucapan gue itu berhasil membuatnya berhenti mencatat dan melihat paper bag.
"Makanan apa, Nan?" tanya Firda.
"Gak tau. Katanya rasanya manis dan gurih, cocok buat buka puasa."
"Repot-repot, makasih, ya," ucapnya.
"Makasihnya sama Your Honey Marcel," kata gue meledek Firda yang tengah mengecek isinya dan menyimpannya.
"Iih, Nandira...!"
Gue tertawa. Kini, wajah Firda jadi merah padam. Gue berpikir, apalagi kalau Marcel ngasih langsung, bakal jadi kepiting rebus mungkin.
***
Jumat sore itu gue disuruh emak beli gorengan, padahal mager banget mau keluar. Emak sudah nanyain terus dari tadi, entah kesambet apa dia hari ini, biasanya juga goreng sendiri. Daripada gue jadi anak durhaka terus dikutuk jadi emas, mending buru-buru ngeluarin motor dan tancap gas.
"Bang, gorengan sepuluh ribu campur," kata gue sambil ngasih uangnya. "Eh, jangan pake pare ya, Bang."
"Ini bukan somay, Neng."
Gue speechless.
Iya juga, ya.
Tanpa sadar gue memukul kepala sambil bilang, "Bego." Nih muka pasti sudah kayak bantal kasur.
Gak sampai 5 menit, gorengan sudah masuk semua ke dalam wadah. Gue menerimanya sambil bilang makasih dan bergegas balik ke kasur. Namun seorang pria yang sedang membagikan makanan di sebrang sana membuat gue mengurungkan niat.
Gue memarkirkan motor di pinggir situ dan menghampirinya. Dia masih sibuk dengan kegiatannya. Hingga akhirnya dia menoleh dan menyadari keberadaan gue.
"Eh, Nandira."
Gue tertegun melihat apa yang dilakukannya. Gak pernah terbayang dipikiran gue kalau seorang penjajah memiliki hati yang lembut. Berkali-kali gue mengucek mata dan melihatnya, memastikan kalau yang gue lihat ini benar.
Selama ini yang gue tahu si Marcel ini cuma suka nyuruh, maksa, dan pelit. Pelit sama gue maksudnya. Mau bukti? Buktinya dia gak pernah ngasih apa-apa padahal gue sering banget dijadiin kurir. Yah, meski gue juga gak berharap sebenarnya. Hal itu hanya opini semata karena perilakunya yang tampak.
"Gue, gue gak salah liat, kan?" kata gue dengan nada mengejek.
Dia tertawa. "Ngelunjak lo," katanya geli.
Gue yang gak menyangka pun ikut tertawa. "Ya abisnya gimana gitu, ya. Gue aja yang sering jadi kurir gak pernah digaji."
Dia terbahak, puas sekali. "Gila, gila. Yaudah sini bantuin gue."
"Males," tolak gue, berniat bercanda.
"Ntar gue gaji, tenang aja. Mau apa lo nya?" katanya yang jelas-jelas mengejek.
Gue cuma tertawa.
"Ntar, ya, tanggung satu lagi."
Gue mengangguk. Dia berjalan ke arah bapak-bapak yang sedang mendorong gerobak. Dia memberikan bingkisan itu padanya. Gue benar-benar dibuat kagum ketika dia membantu bapak itu mendorong gerobak menyeberangi jalan.
Marcel menutup bagasi belakang mobilnya yang sudah kosong. Dia mengisyaratkan dengan tangan agar gue menunggu, sementara dia menyebrang lagi untuk membeli minuman.
Gue duduk di lingkaran semen yang terdapat tumbuhan di dalamnya. Selang beberapa menit, dia kembali dengan minuman keju dan memberikan satu buat gue.
Gue mengambilnya. "Jadi ini gaji gue?" kata gue sambil menancapkan sedotan di atasnya.
Dia tersedak dan hampir menyemburkan minuman di mulutnya. Lalu tertawa. "Kurang? Besok gue beliin nasi padang!" katanya sambil terbatuk dan tertawa.
Perut gue tergelitik melihat mukanya yang memerah, pasti hidungnya pedas karena tersedak. Tapi masih sempat-sempatnya tertawa.
"Btw, dalam rangka apa lo bagi-bagi bingkisan?"
"Jumat berkah," jawabnya.
Seketika raut gue yang tadinya cemerlang berubah jadi bingung tujuh keliling. Gue menggaruk kepala sambil bergumam sendiri. Bukannya dia non muslim? Setahu gue, sih, gitu.
"Eee..., oh, iya, hehe...." Sekarang gue tambah bingung mau ngomong apa.
Dia menoleh ke gue sebentar dan meluruskan kembali pandangannya. Tiba-tiba saja suasananya jadi beku, kayak otak gue yang lagi mikir dan mengingat-ingat kalau Marcel itu non-muslim.
"Kenapa ya harus ada perbedaan kalau sama-sama mengajarkan kebaikan...?"
Otak gue yang lagi beku malah jadi tambah beku memikirkan pertanyaan Marcel.
Rileks Nandira, ini bukan saat yang tepat untuk menjadi bodoh.
Gue mengembus napas. "Mungkin karena kepentingan?"
"Kepentingan?" Dia menatap gue dengan raut berpikir.
"Eee..., kepentingan yang membuat perbedaan, kan. Kalau gak ada kepentingan, pasti gak ada perbedaan."
Gue cuma memakai teori ilmu sosial. Pada dasarnya, kepentinganlah yang membuat kita berbeda-beda.
Marcel terdiam cukup lama, seperti memikirkan ucapan itu dengan baik. Gue menyedot minuman itu untuk mendinginkan otak yang pada dasarnya memang sudah dingin dan beku.
Semoga aja gue gak salah ngomong.
"Jadi kepentingan lo apa?" tanyanya tiba-tiba.
"Kepentingan gue..., surga?" Gue menggunakan nada interogasi.
"Sama dong berarti kepentingan kita, terus kenapa masih beda?"
Gue jadi mati kata. Entah mengarah ke mana percakapan ini. Namun yang pasti, Marcel terdengar serius.
"Emangnya surga beda-beda ya...?" ucapnya. Tak tahu sebuah pertanyaan atau bukan.
"Katanya Tuhan itu Esa, tapi, kok..., ada banyak?"
Dia menatap ke arah gue dengan raut bimbang dan sangat butuh jawaban. Entah sudah berapa lama dia memikirkan hal itu. Sekarang masalahnya, gue juga minus tentang agama, dan gak tahu harus jawab apa.
"Eee...."
Marcel mengalihkan pandangannya sambil mengembus napas lelah. "Sorry kalo gue bikin bingung, soalnya gue juga bingung."
Gue paham dengan raut itu, raut yang menunjukkan jika hati telah jatuh sedalam-dalamnya. Firda benar-benar telah membuatnya jatuh bahkan sampai ke dasar yang paling dalam. Membuat gue berpikir tentang cinta yang berkuasa di atas segalanya. Namun di sisi lain, terekam sebuah pertanyaan, benarkah itu cinta... atau hanya nafsu semata.
Gue lihat Marcel meregangkan otot-otot tubuhnya. Dia bertumpu pada lengan yang menopang di semen, sambil melihat awan yang mulai menjingga.
"Menurut lo Firda gak mau sama gue karena agama atau karena gue jelek?"
Shit! Pikir gue. Setelah hanyut terbawa perasaan kini dia bertanya dengan antusias. Dan geramnya gue mendengar kata terakhirnya. Kalau dia jelek, mana mungkin jadi idola!
"Ya?" tanyanya lagi. Padahal sudah jelas-jelas gue memasang tampang cengo.
"Lo jelek!" kata gue geram.
Gantian dia yang memasang tampang cengo.
"Jangankan lo. Harris J sekali pun gak akan diterima sama Firda kalau dia ngajak pacaran."
"Harris J itu siapa?" tanyanya serius.
Tubuh gue seketika lemas tak bertenaga untuk baku hantam.
"Dah lah gue mau balik. Gorengan emak gue dingin gara-gara lo," kata gue sambil beranjak bangun. Sedangkan dia masih duduk di sana dengan raut mencari jawaban.
Gue sudah di motor dan siap berjalan. Dia berkata, "Hati-hati."
Gua mengacung jempol, pertanda meng-oke-kan ucapannya. Dan obrolan singkat yang agak panjang itu berakhir, entah akan berlanjut atau tidak.
Semoga cintanya membawa pada kebaikan....
***
Sesampainya gue di rumah, emak sudah menunggu di depan pintu, berdiri dengan tangan berkacak pinggang dan wajah sebal. Gue merasakan aroma-aroma lumut mengelilingi emak, sudah dipastikan kalau dia bosan menunggu.
Gue nyengir sambil memberikan bungkus gorengan padanya. Dengan geram dia mengambilnya dan langsung masuk ke dalam tanpa ceramah tujuh musim, membuat gue mengembus napas lega.
Lalu gue melihat sepatu yang agak asing di lantai ketika ingin melepas sandal. Buru-buru gue masuk dan mendapatkan sosok lelaki yang sangat jarang terlihat di rumah.
"Ayah!" gue berseru riang sambil berlari dan memeluknya yang sedang mengecek kabel TV.
Dia terkejut dan terkekeh sambil memeluk dan mengelus rambut kusut gue karena bawa motor gak pakai helm.
"Lama banget beli gorengannya? Belinya di monas ya?" guraunya.
Gue cuma nyengir. "Katanya Ayah gak cuti?" protes gue.
"Bohong. Kan, biar surprise," katanya dengan wajah tampan itu. Secara, ayah gue memang tamvan.
Ayah tertawa melihat bibir lima senti gue. Memang, awalnya gue sebal ketika emak bilang ayah belum kasih kabar kepulangannya. Juga saat gue tanya, dia hanya bilang 'belum tahu, nih'. Terkadang ayah gue memang suka rese, tak tahu betapa rindunya kami menunggu kepulangannya.
Ayah gue bukan seorang TNI, masinis, ataupun nahkoda. Juga bukan orang yang memiliki penghasilan tetap. Gue selalu berharap yang terbaik untuknya, kesehatan, kekuatan, keselamatan, dan kasih sayang. Ayah adalah seorang pekerja keras yang memiliki cita-cita membahagiakan keluarga. Dialah seorang kontraktor yang memiliki segala kerinduan ketika kembali. Kesetiaan dan cinta tertanam di hatinya.
__________________
Bagaimana part kali ini :)