Harapan Yang Sia-Sia

1509 Words
"Lepas! Tolong lepaskan saya!!!" Kanaya mencoba berontak saat ia diseret paksa oleh seorang Bodyguard melewati lorong temaram di bangunan Club itu. "Diam!" sentak Rado yang berjalan di depannya. "Bang! Kenapa Abang tega banget! Abang jual saya sama Bos Abang tadi? Apa Abang sudah gila?!" Kanaya masih meracau dan mencoba melakukan perlawanan, tapi tubuhnya terlalu lemah untuk melawan arus, dia tetap terseret sampai tiba di depan sebuah pintu di ujung lorong. "Diam dan ikuti saja alurnya, Kanaya! Ingat! Ini Jakarta! Selain di tempat ini, dimana lagi kamu bisa mendapat pekerjaan, huh?" kata Rado tanpa merasa berdosa sedikit pun. Kanaya menatap Rado dengan nanar, dengan sorot mata memohon. Kanaya berharap kalau Rado memiliki nurani untuk kemudian melepaskannya dari jebakan ini. "Bang ...." lirih Kanaya, dan kelopak matanya sudah tak mampu menahan buliran air mata lagi, akhirnya setitik demi setitik air mata tumpah mengaliri pipinya yang manis. "Jangan tatap saya seperti itu!" kata Rado tanpa memiliki nurani secuil pun. Lalu kemudian Rado membuka pintu tersebut, Ckttt .... Sekumpulan perempuan berpakaian seksi ada di dalam ruangan itu. Mereka sontak memperhatikan Kanaya yang datang dengan paksaan dan air mata. Di ruangan itu juga berjejer dipan-dipan dan lemari kayu kecil di sampingnya, mungkin saja ruangan itu adalah semacam mess bagi para night club ladies yang bekerja di Club malam itu. "Perhatian! Kalian kedatangan rekan baru! Tolong bimbing dia dengan baik ya!" seru Rado di ambang pintu kepada para perempuan itu. Tak ada yang benar-benar menyahut, mereka malah melempar pandangan sinis terhadap Kanaya. Kanaya semakin risih dan takut saja. Barangkali mereka merasa kalau Kanaya akan menjadi saingan mereka. "Tunggu disini, Kanaya! Bos sedang memilihkan beberapa seragam kerja untukmu! Jangan menangis! Jangan tunjukan muka risau seperti itu!" kata Rado lalu menarik tangan Kanaya dan mengambil alih Kanaya dari bodyguard itu. "Tolong kasihani saya, Bang ... beri saya kesempatan ... bebaskan saya ...." Kanaya masih mencoba memohon. "No, Kanaya! Sekali kamu sudah bergabung dengan club ini, dan Bos Tora telah memilihmu untuk menjadi barang baru yang akan disediakan untuk tamu-tamu Vvip di club ini, kamu tak memiliki hak untuk menolak! Harusnya kamu syukuri hal itu!" tukas Rado dengan tanpa belas kasihan sedikit pun pada Kanaya. Padahal Kanaya sudah menganggap kalau pertemuannya dengan Rado beberapa jam lalu adalah anugrah, tapi ternyata malah menjadi awal dari bencana yang akan ia jelang di jam-jam berikutnya. "Hey, Amaya!" panggil Rado pada salah satu perempuan di ruangan itu. "Ya, kenapa???" Seorang perempuan cantik dengan dress ketat warna kuning menyahut. "Dandani dia! Beri dia riasan wajah yang menor!" pinta Rado lalu mendorong tubuh Kanaya mendekat ke arah Amaya yang kemudian mengamati Kanaya dari atas sampai bawah. "Oke," jawab Amaya dengan malas kemudian. "Ingat, Kanaya! Ini Jakarta! Jangan pernah berpikir untuk kabur! Karena di luar sana, belum tentu kamu akan dapat tempat bernaung gratis seperti ini!" kata Rado dengan nada agak mengecam, setelah itu dia beranjak meninggalkan Kanaya bersama perempuan yang berjumlah sekitar 5 orang yang masih menatapnya dengan tatapan super sinis. "Barang baru, gengs!" kata Amaya pada teman-temannya, setelah Rado pergi, mereka semua berjalan mendekat dan membuat sebuah lingkaran untuk mengelilingi Kanaya yang semakin kikuk saja. "Seka air matamu, p*****r! Air matamu itu tak akan membuat Bos Tora berbelas kasihan! Tampaknya kamu akan jadi barang premium di Club ini!" kata salah satu yang memakai tank top merah dan hotpant yang amat sangat minim itu, panggil saja dia Deasy. Dia bahkan menyambut Kanaya dengan sebutan 'p*****r'. Mendengar hal itu, hati Kanaya amat sangat perih. "Tahan dulu, gengs! Jangan Bully dia dulu! Dia masih baru! Bisa-bisa dia makin stress terus bunuh diri di kamar mandi! Kalau dia mati, nanti pasti kita juga yang akan disalahkan!" kata Amaya. Kanaya semakin bergidik. Sambutan Amaya dan kawan-kawannya menambah intensitas tekanan untuk Kanaya. Harapan yang ia boyong dari Batam sana malah berakhir mengenaskan di Club malam itu bersama dengan orang-orang jahat yang sama sekali tak memiliki secuil pun empati bagi Kanaya. Kanaya pikir, lari dari kampung halaman yang selalu menganggap dia rendah dan hina akan menghapuskan stigma-nya sebagai anak mantan seorang p*****r, tapi ternyata kini keadaannya malah semakin parah saja. Bahkan Kanaya sedang ada di fase menuju pekerjaan mendiang ibunya di masa lalu. Ini terasa seperti sebuah deja vu dan Kanaya sama sekali tak menduga ini akan terjadi. 'Ya Tuhan ... kenapa ini semua terjadi padaku? Apakah ini sebuah kutukan? Apakah aku memang ditakdirkan untuk berakhir seperti Ibu?' batin Kanaya, dia protes dan menganggap kalau nasib buruknya ini adalah kutukan. Setelah detik dimana Rado memasukannya ke dalam ruang mess itu, rasa-rasanya Kanaya sudah tak memiliki harapan untuk kabur, apa lagi Club itu dijaga ketat oleh para Bodyguard di setiap lantai. "Oh iya, siapa namamu, b***h?" tanya Amaya masih dengan sarkasme yang lekat. "Kanaya, Mbak ...." jawab Kanaya dengan pelan tanpa berani mengangkat wajahnya. "Mbak?? Siapa yang kamu panggil mbak? Panggil aku 'Queen'!!" semprot Amaya. "Oh, maaf ... queen ...." Kanaya meralat panggilannya. "Bagus! Dan jujur saja, Kanaya! Aku benar-benar gak suka melihat drama-mu dengan Bang Rado tadi! Jangan bilang kalau kamu datang karena terpaksa! Karena kalau itu benar, maka penyesalanmu akan menjadi sangat sia-sia disini!" kata Amaya lalu berjalan mengitari Kanaya. Amaya benar-benar mengamati Kanaya dengan seksama. Bagian wajah, rambut, lekuk tubuh hingga ke bagian belakang Kanaya. Mungkin saja dia sedang menilik perkiraan harga Kanaya jika dilihat dari penampilan fisiknya. "Heum, lumayan! Kamu bisa jadi salah satu best seller di Club ini, b***h!" kata Amaya, terdengar seperti sebuah pujian tapi sungguh, itu adalah kata-kata yang semakin menekan hati dan mental Kanaya. "Mungkin dia akan dijual perdana pada taipan-taipan tua yang kaya raya yang mau mengeluarkan uang ratusan juta dalam semalam!" kata Deasy kemudian. "Bisa saja! Tapi sepertinya gak akan cukup menarik perhatian Bos Max! Dia masih terlalu selektif! Dia tetap gak akan tertarik untuk memakai jasa p*****r seperti kita!" tukas Amaya. "Aaah, dia ... p*****r beruntung mana yang mampu menarik perhatiannya???" "Mimpi! Dia punya pacar yang sempurna! Gila saja kalau sampai tertarik dengan perempuan jalang seperti kita!" "Bahkan kalau dia mau, aku akan menawarkan diri ini dengan gratis! Cuma-Cuma!" "Aku juga mau! Uuuh, membayangkan pria sempurna itu menjamah setiap jengkal tubuh ini, belum apa-apa aku pasti sudah tremor duluan, ha ha ha!" Kanaya diam saja. Apa pula yang mereka bahas? Tapi Kanaya mendengar nama 'Max' disebut lagi. Tadi Tora dan Rado juga menyebut nama 'Max Jerome', apakah itu Max yang sama? Terdengar seperti lelaki kaya raya yang tak pernah memakai jasa p*****r sama sekali, tapi dia dikenal sebagai tamu Vvip di Club ini. Aaah, Kanaya tak ingin memikirkan apa pun lagi selain nasib tragisnya ini. Kanaya juga berharap kalau pria bernama 'Max Jerome' itu juga akan menolak tubuhnya, dengan begitu, Kanaya bisa aman malam ini. Tok tok tok, tak lama ada yang mengetuk pintu lalu pintunya terbuka sendiri sebelum ada persetujuan dari para perempuan jalang itu. "Hey, kamu! Ambil ini!" kata seseorang lalu memanggil Kanaya dan menyodorkan sebuah paperbag cukup besar. Kanaya melangkah melewati pagar lingkaran yang dibuat oleh para seniornya itu. Kanaya berharap kalau itu adalah pakaian yang bisa membungkus tubuhnya dengan baik. Bukan pakaian minim seperti yang para rekan-rekan barunya pakai saat ini. Dan saat Kanaya mengintip isi paperbag itu, rasanya harapan sederhana Kanaya sangat lah sia-sia. Sepertinya isinya adalah beberapa potong minidress dan juga celana-celana pendek ketat seperti yang para perempuan itu pakai. Kanaya bisa apa? Kanaya benar-benar tak bisa berbuat apa-apa. Sepertinya ini akan menjadi malam kehancurannya. 'Tuhan ... berikan aku satu kesempatan lagi ... berikan aku kesempatan untuk menjaga kehormatan ini! Beri aku kesempatan untuk menjaga satu-satunya harta berharga yang aku punya saat ini ... haruskah aku kehilangan keperawanan yang aku jaga baik-baik di tempat ini? Haruskah???' batin Kanaya dengan penuh harap. Apakah masa depan Kanaya akan hancur di Club malam itu? Malam ini? *** "Halo, Bos! Apa kabar, Bos? Sudah lama tak jumpa, pasti Bos lagi sibuk ya akhir-akhir ini!" Tora sedang berbincang via telepon dengan seseorang. Entah siapa itu, yang pasti, Tora yang terkenal bengis dan kejam tampak begitu pleasure dengan perbincangan itu. "Saya punya barang baru! Ini benar-benar baru! Saya menyimpannya khusus untukmu, Bos! Ha ha ha!" lanjutnya, sepertinya dia sedang menawarkan Kanaya pada salah satu pelanggan setianya. "Oh, Bos sedang ada di luar kota??? Heum, begitu ya? Tapi saya akan tetap menyimpannya sampai bos siap, ha ha ha!" Setelah perbincangan itu selesai, Tora kembali memajang wajah dingin dan menyingkirkan tawa puasnya tadi. "Sial! Bos Max lagi di luar kota!" gerutu Tora kemudian, di dalam ruangannya itu hanya ada Rado saja. "Oh, pasti dia sedang sibuk mengurusi bisnis keluarganya, Bos." Rado menukas. "Ya! Tapi aku masih sangat penasaran! Aku penasaran karena dia sama sekali tak pernah memakai jasa para p*****r di club ini! Makanya aku ingin menawarkan Kanaya pada Bos Max!" "Saya pikir kali ini dia akan tertarik! Dan andai saja dia mencoba sekali saja, pasti dia akan ketagihan! Dilihat dari luar saja, dia tampak begitu legit kan, Bos?!" "Heum ... semoga saja! Kita bisa memeras Bos Max kalau benar dia suka dengan barang baru kita ini!" Itu lah rencananya. Kanaya rencananya akan dijual perdana dan exclusiv pada seseorang bernama Max Jerome, tapi beruntungnya malam ini dia sedang ada di luar kota dengan begitu Kanaya bisa sedikit bernafas lega untuk malam ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD