Kisah Sanggara - 37

1050 Words
Edward sudah melihat jika luna sudah tertidur dengan pulas , Ia mengamati dengan saksama wajah ayu yang saat ini tergores dengan beberapa luka yang memang begitu menyakitkan bagi seorang wanita. Tangan nya meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas dan ia pun segera menghubungi seseorang yang mungkin sudah menjadi orang kepercayaan Edward sendiri. “ cari orang yang namanya dion , aku kirim fotonya. “ Perintah Edward yang sesudahnya langsung mematikan sambungan telponnya , Bagaimana bisa dengan tubuh yang begitu mungil ini luna bertahan dengan semua siksaan yang dion berikan kepadanya , Lalu mengapa dion sangat membenci luna , walaupun ia hanyalah anak angkat dari kedua orang tuanya tapi mereka sama sekali tak keberatan untuk merawat luna. Apakah dion merasa jika ia sangat di  asingkan setelah adanya luna di dallam keluarganya. Ataukah memang ada alasan lain yang membuat dion menaruh rasa dendam kepadda luna , Edward tak hentinya terus memandangi wajah luna ketika tertidur yang ternyata lebih terlihat begitu cantik di bandingkan saat ia sedang beraktifitas. Luna terlihat begitu kesempitan saat ini , Sebab ia kini sedang tertidur di atas sofa yang berada di ruang tengah apartemen itu , Edward mencoba untuk membawanya ke dalam kamar. Saat ketika Edward ingin menggendong nya dengan ala bridal , Tatapan Edward tertuju pada satu titik yang dimana menunjukkan jika luna itu benar-benar sudah mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Perlahan tangan Edward terarah untuk membuka satu kancing baju yang luna gunakan agar ia lebih bisa leluasa melihat luka yang sudah mengganggu penglihatan nya. Namun ternyata satu kancing saja kurang , dan Edward mencoba membuka satu kancing lagi. Setelahnya Edward menyampingkan baju luna pada bagian kiri luna , Edward sangat tak habis pikir dengan perlakuan keji yang seperti apa yang sudah luna dapatkan hingga menimbulkan luka yang bisa di bilang jiika luka ini baru saja terbentuk. Luka yang seperti bekas cambukkan benda yang lumayan tebal. Mungkin karena luka itulah luna selalu terlihat miring ketika ia seddang tertidur , ia menahan luka yang selama ini masih melekat pada punggungnya. Setelah melihat luka itu , Edwrad segera memulangkan kembali dua kancing yang sudah ia lepaskan dari tempatnya tadi , mungkin Edward memang sudah begitu lancang tapi itu semua karena rasa penasaran dari Edward. Dan semoga saja luna tak marah sama sekali atas perlakuan Edward ini. Edward segera mengbopong luna dan membawa nya masuk ke dalam kamarnya , dan setelah ia meletakkan tubuh luna di atas tempat tidurnya , Suara ponsel nya pun berbunyi hingga membuat Edward segera untuk menerima panggilan itu. “ ya? “ – “ aku segera kesana. “ Ujarnya dan kemudian meninggalkan luna yang sedang terlelap dengan begitu tenang nya , Edward melangkah kan kakinya dengan langkah yang sangat lebar dan terlihat ia Nampak seperti orang yang sangat ingin memakan orang. Sorot matanyan yang begitu tajam dan juga rahang nya yang mulai mengeras. Seperti menandakan jika sang empunya sedang merasa begitu jengkel dengan sesuatu hal yang juga sedang ia tunggu-tunggu. Setelah memasuki mobilnya Edward segera menuju tempat dimana seseorang yang sudah menghubunginya tadi.   ✧ ✧ ✧   “ berani sekali kau menangkap ku , siapa kau? “ “ jelas aku berani , Sebab kau sudah melakukan sesuatu yang sangat membuat jiwa garang ku memberontak untuk segera keluar. “ Desis Edward sambil menekankan tangan nya pada kedua pipi dion , Ya memang benar adanya jika Edward menyuruh beberapa orang bodyguard nya untuk menangkap dion yang sudah berani menganiaya luna. Walaupun luna tidak sama sekali meminta Edward untuk membantunya , Tapi Edward merasa jika ia sangat pantas melakukan ini kepada dion atas semua yang sudah dion lakukan kepada luna. “ apa maksud mu dan siapa kamu. Aku sama sekali tak mengenal mu , bagaimana bisa aku mempunyai urusan dengan mu. “ Gertak dion dengan suara yang sudah meninggi. “ apa salah luna kepada mu? “ Bukannya menjawab , Edward malah berbalik menanyai dio. Dan sontak dion malah tertawa saat mendengar nama luna di sebut oleh Edward. “ memang apa yang di berikan wanita itu kepadamu? Tubuhnya? Sampai-sampai kau melakukan hal seperti ini kepada orang yang tak pernah kau kenal. Apa yang dia adukan. “ Pungkas dion di balik kekehannya. Edward sendiri sama sekali tak mengerti mengapa sikap dion malah seperti orang yang sedang melihat lelucon hingga membuat nya tertawa bangga. “ apa kau laki-laki bodoh sampai mau berurusan dengan wanita hina itu. “ Umpat dion lagi. Dan tak tinggal diam , Edward segera menghantamkan pukulan nya pada pipi dion hingga membuat dirinya tersungkur jatuh bersamaan dengan kursi yang sedang di dudukinya. Dion memandang Edward tajam dan saat ini pun Edward hanya tertawa melihat reaksi dion. “ apapun yang aku mau bisa aku lakukan sekarang , Bahkan untuk membunuh mu pun aku sangat mudah tanpa harus berurusan kepada pihak berwajib. Dion , doin… Kamu hanya seorang pengangguran yang selalu menjadi benalu untuk keluarga mu , Apalagi dengan luna. Kau hanya iri sebab luna selalu mendapatkan prestasi yang sangat amat bisa di banggakan ketimbang dirimu ini. Bahkan kedua orang tua mu pun sama sekali tak pernah mau menganggap kamu. “ Ujar Edward yang sontak membuat dion semkin meradang , Ia seperti di ingatkan kembali dengan luka yang sudah sangat ia kubur dalam-dalam dari kehidupannya. Bayangan kelam yang dimana ayah dan ibunya hanya memberikan kasih sayangnya kepada luna saja dan selalu beranggapan jika luna adalah anak pembawa rejeki. Dan seakan mengacuhkan dion setelah kedatangan luna di dalam keluarganya. Edward hanya menyunggingkan senyuman sinis nya saja , Rasa puas pun Edward dapatkan setelah mendapati reaksi dion yang sudah sangat sulit di ungkapkan. Edward berjalan kearah dion , Dan kembali menekan kedua pipi dion dengan satu tangan nya. “ kau akan tetap menjadi tawanan ku , sampai kau sendiri sudah jera dengan kehidupan mu sendiri. “ “ siapa kau dan apa salahku? “ “ aku malaikat penolong untuk luna dan aku malaikat penyabut nyawa untuk mu. “ Gertak Edward dan seketika melangkah kan kakinya untuk segera meninggalkan dion yang masih terlihat tak percaya dengan apa yang sudah di katakan oleh Edward. Tak pernah terbesit di dalam pikirannya jika ada seseorang yang akan membela luna. Bahkan sampai melakukan hal yang sangat membuat dion tak bisa bergeming sama sekali dengan apa yang telah menimpanya kali ini. “ jaga dia. “ Perintah Edward kepada dua orang bodyguard yang sudah berjaga di depan pintu ruangan itu. Mereka pun hanya mengangguk sembari melihat kepergian Edward.     _             Bersambung         _
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD