Tak sampai lima belas menit Fitri dan dua ana kecil itu pun akhirnya sampai di tempat tujuan, daerah pertokoan yang sudah tutup sejak sore hari tadi. Ternyata benar apa yang diceritakan oleh Tio dan Bella tadi, bahwa banyak anak jalanan lain yang juga menghabiskan malam mereka di tempat ini. Terbukti dari beberapa anak jalanan yang sudah menggelar koran atau kardus-kardus bekas di lantai sebagai alas tidur mereka, dan juga mereka-mereka yang kini sedang bersenda gurau dengan teman-temannya di sekitaran sana.
Dari informasi yang Fitri dengar juga dari Tio bahwa anak-anak jalanan yang memilih tidur di tempat ini pun tak berbeda jauh kisahnya dengan Tio. Mereka-mereka anak-anak terlantar karena orang tuanya yang sudah meninggal, ada yang diculik oleh orang tak berprikemanusiaan untuk dijadikan pengemis atau pengamen di jalanan, bahkan ada juga yang sengaja dibuang oleh orang tuanya entah karena apa, dan berbagai kisah pilu lainnya yang tak kalah menguras hati. Kasihan sekali mereka, ya?
Berbekal koran bekas dan kardus bekas yang Tio simpan, Fitri merebahkan tubuhnya di pelataran pertokoan yang sudah tutup itu. Ia tidur diapit oleh Tio dan Bella. Tio yang merebahkan tubuhnya di sebelah kanan Fitri, dan Bella yang merebahkan tubuhnya di sebelah kiri Fitri. Sebelum tidur mereka saling bertukar cerita, saling melempar pertanyaan, ingin mengenal satu sama lain, saling mengakrabkan, berhubung waktu pun belum terlaru larut malam.
“Kak Fitri kenapa ikut tidur dengan kami? Kak Fitri nggak punya rumah juga seperti kami?” tanya Tio penasaran, seraya memiringkan tubuhnya ke arah Fitri.
Fitri menatap lurus ke langit-langit, mengehela nafasnya pelan, kemudian tersenyum miris sebelum mulai bercerita. “ Kak Fitri sebenernya punya rumah, tapi bukan di sini. Di kampung yang sangat jauh lokasinya dari sini. Kemarin adalah kali pertama Kakak menginjakkan kaki di tanah rantau ini. Niat awalnya Kakak mau ikut casting pagi tadi, tapi takdir berkata lain. Kemarin Kakak diajak ngobrol sama dua pria berbadan besar, pas cerita-cerita katanya dia tau tempat penginapan yang Kakak cari. Dan dengan bodohnya Kakak mau-mau aja ikut dengan mereka karena Kakak pikir mereka berdua itu orang baik-baik.”
“ Tapi ternyata dugaan Kakak salah, mereka tidak sebaik yang Kakak pikir. Kakak dibawa ke tempat sepi yang di sekitarnya penuh dengan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi, nggak ada pertokoan, jauh dari perumahan, mobil dan orang-orang yang berlalu lalang pun tidak ada. Bener-bener sepi deh pokoknya. Pada saat itu Kakak udah mulai curiga, Kakak pikir pasti ada yang nggak beres nih. Mana ada penginapan di tempat yang sangat sepi kayak gitu kan?”
Tio dan Bella menganggukkan kepala mereka berkali-kali, sebagai tanda setuju. Fitri pun mulai melanjutkan ceritanya. “Iya, biasanya kan yang namanya tempat penginapan itu di tempat yang ramai, yang mudah dijangkau oleh banyak orang. Banyak kendaraan, tempatnya strategis, banyak pertokoan, lha ini apa? Kebalikannya. Agak mustahil sih kalau bener-bener ada penginapan di tempat kayak gitu. Jarang banget kayaknya.
“Udah tuh Kakak inisiatif buat kabur karena bener-bener Kakak udah curiga banget sama mereka berdua. Tapi ya gitu kekuatan mereka berdua dengan badan mereka yang besar-besar nggak sebanding dengan Kakak yang cuma sendiri dan notabenenya Kakak ini seorang perempuan. Kakak kembali mereka tangkep, bahkan sampe mereka bius karena Kakak terus-terusan brontak. Keesokannya yang merupakan hari ini, pagi-pagi Kakak bangun dengan keadaan yang bikin Kakak geleng-geleng kepala. Kakak ngerasain diculik seperti yang di film-film. Pengin ketawa miris sih waktu itu. Dalam hati Kakak bilang siapa aku? Sampai-sampai diculik kayak gini. Orang kaya bukan, artis terkenal bukan, minta uang tebusan juga uang dari mana Bapak dan Ibu Kakak bukan siapa-siapa. Cuma pedagang di pasar.”
Sesekali Tio dan Bella tertawa kecil mendengar cerita Ftri, padahal ceritanya bukan kisah yang lucu atau membahagiakan, tapi kisah penculikan yang seharusnya bikin sedih. Tapi Ftri yang menceritakannya dengan gaya bicara yang lucu, sesekali diiringi dengan gerakan tangannya yang seolah-olah menggambarkan bagaimana dia memberontak saat itu, membuat kedua anak kecil itu sesekali tertawa.
“Tapi penculik sekarang emang beda Kak, mereka nggak nyari uang tebusan lagi. Ada tuh yang nyulik buat dijual organ dalamnya, ada yang diculik untuk mereka jual ke agen-agen terlarang. Tio lupa apa namanya. Bahkan ada juga yang diculik untuk dijadikan b***k oleh mereka, ada yang disuruh jadi pengemis terus setiap harinya ditagih uang seteron, ada yang disuruh jadi pengamen, macem-macem deh kayak temen-temen Tio yang lain.”
Fitri mengangguk mengerti, ia tak habis pikir ada orang-orang yang tega seperti itu. Mencari banyak uang dengan jalan mendzolimi orang lain. Membuat orang lain menderita, tersakiti, bahkan ada yang harus terpisah dengan orang-orang tersayang mereka. Hanya Allah lah sebaik-baik pembalas.
Fitri membenarkan posisi Bella yang kini sudah memejamkan matanya karena mengantuk, dan hari yang sudah mulai larut malam. Ia mengusap rambut Bella beberapa kali sebelum melanjutkan ceritanya, “Kakak nggak nyangka sih ada yang kayak gitu. Mau dengar kelanjutan cerita Kakak tadi?”
Tio mengangguk penuh antusias, Fitri pun terkekeh melihatnya. “Kakak bangun di rumah tua dengan tubuh Kakak yang sudah diikat kuat-kuat ke kursi tua, kedua tangan yang disatukan, diikat kuat-kuat dengan tali tebal, dan mulut Kakak yang dilakban. Awalnya Kakak ingin menyerah saja, tapi karena Kakak inget orang-orang yang Kakak sayang, Kakak mencoba mencari cara agar bisa kabur. Untunglah Allah memberi Kakak jalan keluar. Kakak liat paku berkarat di ujung meja, dan jendela rumah yang slotnya udah mulai rapuh karena termakan usia. Alhamdulillah dengan perjuangan ekstra Kakak bisa melarikan diri dari mereka, keluar dari rumah tua itu, dan berakhirlah Kakak seperti sekarang ini. Terluntang-lantung di jalanan tanpa tujuan.”
Tio menatap Fitri dengan tatapan prihatinnya. “Sabar ya, Kak. Jalan hidup memang terkadang nggak sesuai dengan yang kita harapkan. Kadang keras, lunak, mengalir dengan lancarnya, terhalang oleh kerikil-kerikil kecil, dan ada juga yang banyak tikungannya. Beda-beda lah pokoknya. Tapi Kakak harus yakin bahwa di balik semua itu pasti akan ada hikmah yang besar untuk kita.”
Fitri tanpa sadar tersenyum lebar mendengar celotehan panjang, dan penuh makna yang dilontarkan anak berusia tujuh tahunan itu. “Sekecil Tio dewasa sekali ya pemikirannya? Hidup di jalanan hanya dengan adik satu-satunya membuat pola pikirnya berubah. Tak seperti dengan anak-anak berusia tujuh tahun yang seusia dengannya, yang mungkin di pikiran mereka hanya ada uang jajan, beli mainan baru, belajar di sekolah, dan bermain-main bersama teman-temannya.”
“Ilmu baru ternyata bukan hanya bisa didapatkan di bangku sekolah saja. Buktinya sekarang ini aku baru saja mendapatkan materi baru tentang kehidupan dari anak laki-laki berusia tujuh tahunan. Terima kasih Tio, tanpa kamu sadari, ucapan kamu tadi membuat aku merasa lebih baik. Ya, kamu benar, Tio. Di balik semua itu pasti akan ada hikmah yang besar untuk kita,” ucap Fitri dalam hati, seraya terus memandangi wajah Tio dengan tatapan hangatnya.
“Kamu benar, Tio. Oh ya, sekarang sudah malam. Saatnya kamu tidur! Tuh lihat adik kamu, Bella, udah melanglang buana di dunia mimpinya, kamu susul gih! Lagipula besok kamu harus mengamen lagi kan? Kamu butuh banyak istirahat, Tio. Tidurlah!” Tio terkekeh sebentar mendengar Fitri menyuruhnya untuk menyusul sang Adik ke dunia mimpi. Ada-ada saja Kak Fitri ini. Dan kemudian Tio pun menganggukkan kepalanya, dan mulai memejamkan matanya dengan Fitri yang mulai mengelus-elus puncak kepala Tio, hingga anak kecil itu pun mulai menghembuskan nafasnya teratur, tanda bahwa ia sudah mulai tertidur dengan nyenyaknya.
Fitri tak bisa tidur. Ia mencoba merubah posisi tidurnya, memejamkan mata, memaksanya untuk segera terpejam, tidur, menyusul Tio dan Bella ke alam mimpi, tapi tetap saja tidak bisa. Fitri menghela nafasnya panjang. Ia kini menatap langit-langit yang indah dengan bintang-bintang yang bersinar terang di setiap penjurunya. Pikirannya kini membayangkan kejadian yang harusnya terjadi pagi tadi.
Seharusnya pagi tadi, tepat pukul delapan pagi, ia harus sudah ada di gedung bintang management itu. Tempat Fitri mengikuti casting. Sebenarnya bisa saja setelah berhasil kabur pagi tadi, ia langsung melangkahkan kakinya ke gedung itu walau mungkin saja sedikit telat, tapi mungkin memang bukan keberuntungan Fitri saat itu, sehingga ia tak bisa mengikuti casting karena berkas-berkas yang harus ia bawa, berikut segala kebutuhan lainnya berada di dalam tas yang ia tinggalkan di rumah tua itu.
“Andai saja..... Astaghfirullah al’adzim, Fitri, Fitri. Kamu nggak boleh berandai-andai! Yang lalu biarlah berlalu, yang terlewati biarlah terlewati. Mungkin memang bukan saatnya kamu ikut casting. Masih banyak kesempatan lain, semangat!” monolog Fitri pada dirinya sendiri, kemudian mulai memejamkan matanya karena rasa kantuk sudah mulai hadir menyapanya. Fitri harap, semoga hari esok lebih baik dari hari-hari sebelumnya, Aamiin.
Pukul lima pagi, usapan lembut di sebelah kanan dan kirinya membuat tidur Fitri yang masih nyenyak itu mulai terusik. Perlahan tapi pasti Fitri mulai membuka matanya, menatap siapa gerangan yang sudah mengusap-usap lengannya lembut tapi mengganggu itu. “Tio? Bella? Ada apa? Kalian berdua sudah bangun? Bukannya ini masih gelap, ya?” tanya Fitri seraya menatap Tio dan Bella bergantian.
“Sudah adzan subuh, Kak. Kakak nggak mau shalat subuh? Lagipula kita harus buru-buru pergi dari tempat ini, sebelum para pemilik toko-toko ini datang dan melihat kita masih tiduran di sini. Bisa-bisa kita dimarahi mereka terus diusir lagi. Anak-anak jalanan lain pun sudah mulai meninggalkan tempat ini, Kak.”
Mendengar itu Fitri pun mulai mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Benar saja, hanya tinggal mereka bertiga dan beberapa anak jalanan lain yang masih berada di pelataran toko-toko itu, karena kebanyakan dari mereka sudah mulai meninggalkan tempat itu dan mulai kembali melanjutkan aktivitas mereka. “Udah adzan subuh ya? ya sudah yuk kita masjid terdekat dulu,” ucap Fitri kemudian mulai melangkahkan kakinya bersama Tio dan Bella, untuk menuju masjid terdekat, menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim yaitu menjalankan ibadah shalat subuh.
Seraya berjalan menuju masjid, Fitri mengajak ngobrol mereka yang masih terlihat sangat mengantuk itu, dengan terus menggandeng tangan Bella yang terkadang berjalan linglung karena matanya yang sesekali terpejam. Masih sangat mengantuk sepertinya.
“Kalau kalian harus segera pergi dari tempat tadi sejak pagi-pagi buta, biasanya kalian pergi ke mana? Kan nggak mungkin ngamen subuh-subuh. Masih gelap dan jalanan pun masih sangat sepi.”
“Biasanya sih kami pergi ke masjid untuk shalat subuh, terus abis itu duduk-duduk di pinggir jalan atau nggak jalan-jalan ke daerah pasar. Siapa tau ada orang yang berbaik hati, yang ngasih kita makanan di sana.”
Fitri menganggukkan kepalanya pelan. Ia paham dengan kondisi mereka. Serba kekurangan, tidak memiliki penghasilan tetap dan banyak, bahkan terkadang mereka tidak memiliki uang sepeser pun, membuat mereka berdua yang masih tergolong anak kecil itu harus rela merendahkan diri mereka, meminta belas kasihan kepada orang lain.
“Ya sudah, sekarang kita ke masjid dulu. Shalat subuh sekalian bersih-bersih di kamar mandi masjid. Baru setelah itu kita cari pedagang gorengan ya? Kebetulan Kakak masih ada uang. Nggak banyak memang, cuma lima ribu rupiah. Tapi lumayan buat beli beberapa gorengan untuk mengganjal perut,” ucap Fitri seraya tersenyum manis menatap keduanya, yang dibalas mereka dengan senyuman yang tak kalah manisnya.
“Yeye, nggak apa-apa, Kak. Masih bisa makan aja udah seneng banget. Alhamdulillah. Terima kasih banyak ya, Kak,” ucap Tio mengakhiri percakapan singkat mereka, karena ketiganya sudah sampai di depan masjid.