Part 16

1971 Words
Fitri yang sedang memejamkan matanya beberapa detik langsung membuka matanya perlahan. Dari suaranya saja Fitri sudah hafal betul siapa orang ini, mengingat sudah lumayan seringnya Fitri berinteraksi dengan seseorang ini. Tak ingin terlihat panik dan ketakutan, Fitri pun berusaha menenangkan dirinya, menanggapi ucapan tersebut dengan senyuman lebar, sarat akan banyak makna. Kemudian berkata, “Hehe, hai Abang-abang ganteng dan gagah. Tumben ada di sini, nggak nyari mangsa di terminal?” Kedua pria itu tersenyum lebar mendengarnya. “mmm, iya, ya. Aku juga nggak nyangka kita bisa ketemu kalian lagi, tapi kok bisa gitu, ya? Jodoh? Ah, sepertinya nggak mungkin deh. Aku kasih tau sesuatu ya, Abang kalau mimpi jangan tinggi-tinggi, Bang, nanti kalau jatuh sakit lho,”lanjutnya. Kedua pria berbadan besar itu menggertakkan gigi mereka marah. Ya, dua orang yang mengganggu ketenangan Fitri saat ini adalah dua pria asing kemarin. Satu pria berbadan besar dengan rambut panjangnya yang dikuncir kuda, dan satu lagi pria berbadan besar dengan tato berukuran sedang di salah satu lengannya. Siapa lagi yang sejak kemarin selalu mengganggu Fitri, mencari gara-gara dengan Fitri, selain mereka berdua? “Ehh , berani juga ya, lo, sama kita. Terserah gue lah mau mimpiin siapa. Lo nggak berhak buat marah-marah sama gue, dan lo juga nggak berhak untuk merintah-merintah gue!” Salah satu di antara dua pria asing berbadan besar itu pun mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Fitri berdiri saat ini. Jarak yang awalnya hanya sekitar tiga meter di antara mereka, kini telah berganti menjadi kian dekat. Tak ingin kembali tertangkap dan disekap di rumah tua itu oleh mereka berdua, sebelum langkah mereka yang sedari tadi terus maju ke arahnya, sampai kini hanya beberapa langkah saja jarak di antara ketiganya, Fitri memaksakan dirinya untuk berfikir keras dalam keadaan darurat yang terkadang membuatnya lamban dalam berfikir. Memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa kembali lepas dari dua pria asing di hadapannya saat ini. “Eh, ada pak Polisi. Selamat sore, Pak,” ucap Fitri ramah dan terdengar sangat lembut, seraya menganggukkan kepalanya sopan ke arah belakang dua pria asing itu berdiri, seakan-akan Pak Polisi yang ia sapa memang berada di hadapannya, di belakang dua pria asing itu berdiri saat ini. Mendengar kalimat sapaan yang terdengar sangat sopan dan ramah, dua pria asing itu mematung di tempatnya. Mereka berdua merasa syok luar biasa mengetahui ada Polisi di belakang mereka. Bagaimana bisa? Dan di saat dua pria asing itu bersiap-siap untuk menoleh ke belakang ingin memastikan, Fitri pun mengambil ancang-ancang untuk berlari kencang meninggalkan mereka, sekencang dan semampu yang ia bisa. Tanpa sadar, mereka menghitung mundur dari angka tiga secara bersamaan. “Satu, dua, tiga,” ucap kedua pria asing itu pelan, kemudian mulai berbalik ke belakang, dan ucap Fitri di dalam hatinya, kemudian mulai berlari sekencang yang ia bisa meninggalkan dua pria asing yang tampak melongo melihat ke arah belakang. “Lho, mana Pak Polisinya? Tadi gadis kampung itu menyapa siapa? Orang di belakang kita nggak ada tuh yang pake seragam polisi, yang ada malah petugas berseragam orange,” ucap pria bertato itu dengan nada heran, dan tatapan bingungnya mencari keberadaan Pak Polisi yang Fitri sapa tadi. “Iya, nggak ada Pak Polisi tuh, wah jangan-jangan---” Pria dengan rambut panjangnya yang dikuncir kuda membalikkan tubuhnya kembali, memastikan dugaan yang bercokol di benaknya ini benar atau salah. Dan ternyata, “tuh kan, bener feeling gue tadi. Pasti ada yang nggak beres nih, dan ternyata iya, gadis kampung itu mengerjai kita, Bro, dia bohong tadi sama kita. Dasar gadis kampung jadi-jadian!” “what? Gadis kampungan itu tadi bohong sama kita? Ngerjain kita? Bener, bener. Pokoknya awas aja lu kalo ketemu gue nanti, gue hukum lo abis-abis-an,” ucap pria bertato itu seraya mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencari keberadaan Fitri. Fitri terus berlari dengan sangat kencangnya meninggalkan tempat itu, dengan kantong plastik hitam yang masih setia ia genggam erat, hingga perasaan yakin kalau jaraknya kini dengan dua pria asing itu sudah cukup jauh, barulah Fitri menurunkan ritme berlarinya seraya mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, mencari tempat istirahat yang nyaman. Langit yang semakin menggelap, dan suara murottal yang mengalun dengan sangat merdu dan indahnya, membawa Fitri yang masih terluntang lantung di jalan, tanpa arah dan tujuan, melangkahkan kakinya ke sebuah mesjid yang berdiri dengan sangat megahnya di pinggir jalan. Membuat siapa saja yang melihatnya terpesona dan tergugah untuk merasakan betapa nikmatnya melaksanakan shalat berjama’ah di dalam mesjid itu. Tepat setelah Fitri menginjakkan kakinya di teras mesjid, suara adzan maghrib mengalun dengan sangat indahnya, menggetarkan hati siapa saja yang mendengarnya, memberikan efek baik berupa ketenangan, menghilangkan segala kerasahan hati, dan mengingatkan para umat muslim untuk menunaikan kewajibannya yaitu melaksanakan ibadah shalat maghrib. Tak ingin ketinggalan shalat berjama’ah, setelah menyimak dan menjawab panggilan adzan, Fitri pun bergegas melangkahkan kakinya menuju tempat wudhu yang telah disediakan, kemudian mulai memasuki mesjid untuk melaksanakan ibadah shalat maghrib secara berjama’ah. Fitri terlarut dalam shalatnya, bahkan ia sampai meneskan air matanya kala imam mesjid melantunkan surah Ar-Rahman sebagai surat tambahannya. Surat Ar-Rahman yang menjelaskan tentang Maha Pengasihnya Allah itu membuat Fitri seakan ditampar saat itu juga. Mengingatkannya bahwa semua masalah dan cobaan yang hadir dalam hidupnya hanya hal kecil yang tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kasih sayang yang telah Allah berikan untuknya. Allah, Dialah yang menciptakan manusia, menciptakan alam semesta, mengatur matahari dan bulan beredar menurut perhitungan, menyediakan semua kebutuhan manusia dimulai dari air yang melimpah sebagai sumber kehidupan, tanah yang subur untuk menumbuhkan berbagai macam kebutuhan manusia yang juga merupakan sumber kehidupan, karena hampir semua makanan yang kita makan berasal dari tanah. Memberikan oksigen secara gratis, kesehatan, keselamatan, dan beragam nikmat lainnya yang tak akan mungkin bisa disebutkan satu per satu saking banyaknya. Nikmat yang tak ternilai dan tak terhitung jumlahnya. Satu kalimat pertanyaan dalam surat Ar-Rahman yang diulang-ulang sebanyak tiga puluh satu kali yang berbunyi “Maka nikmat tuhan-MU yang mana lagi yang kamu dustakan?” membuat Fitri sadar bahwa ia tak seharusnya terus mengeluh atas semua masalah dan cobaan yang datang menghampirinya, karena itu semua hanya segelintar dari banyaknya nikmat yang Allah hadirkan untuknya. Fitri pun sadar bahwa tugasnya saat ini hanya menjalani skenario takdir-Nya dengan terus melibatkan Allah sebagai Sang Pemberi Petunjuk Terbaik, juga percaya bahwa takdir yang telah digariskan merupakan takdir yang terbaik untuknya. “Ya Allah, terima kasih atas semua nikmat yang telah Engkau berikan kepada hamba. Nikmat yang begitu besar dan banyak yang tak mungkin bisa hamba balas. Hamba percaya sekarang bahwa cobaan dan masalah yang silih berganti hadir di kehidupan hamba ini pasti ada sisi baiknya bagi hamba, membuat hamba semakin dewasa dan semakin bijak dalam bertindak. Hamba akan menjalani dan menikmatinya dengan penuh rasa syukur dan sabar. Hanya satu pinta hamba ya Allah, kuatkan dan mampukan hamba untuk menghadapi semuanya, karena hamba percaya Engkau tidak akan menguji hamba-Mu melebihi batas kemampuannya, Aamiin, aamiin, yaa rabbal ‘alamin,” doa Fitri setelah ia menunaikan kewajibannya, melaksanakan shalat maghrib. Fitri keluar dari pintu keluar masuk mesjid dengan perasaan dan pikiran yang lebih baik dari sebelumnya. Ia melangkahkan kakinya kembali di pinggir jalan, mencari tempat yang aman dan nyaman untuknya beristirahat, memulihkan tubuh dan mengisi kembali tenaganya untuk esok hari yang Fitri harap lebih baik dari hari ini. Di pinggir trotoar Fitri melihat dua anak kecil yang sepertinya merupakan Kakak dan Adik, dengan sang Adik yang sedang menangis tersedu-sedu, dan sang Kakak yang terus berusaha menenangkan sang Adik. Merasa kasihan Fitri pun menghampiri mereka. “Halo, adik kamu kenapa menangis?” tanya Fitri pada seorang anak laki-laki yang berusia sekitar tujuh tahun. “Adik saya menangis karena kelaparan, Kak. Sejak pagi kita hanya makan satu roti berdua karena hasil mengamen yang tidak seberapa. Saat ini saya bisa menahan rasa lapar saya, karena saya mengerti dan paham dengan kondisi kita saat ini. Tapi tidak dengan Adik saya, Kak. Dia masih kecil dan saya pun tak tega menyuruhnya untuk terus menahan rasa laparnya hingga uang kita cukup untuk membeli makanan. Saya tidak berharap lebih saat ini, yang penting Adik saya bisa makan, saya sudah sangat bahagia walau saya sendiri kelaparan. Tapi sayangnya uang saya masih belum cukup, baru terkumpul empat ribu rupiah.” Fitri menatap keduanya sendu. Saat pandangannya beralih menatap kantong plastik berwarna hitam yang sedari siang ia genggam erat, senyumnya kini mengembang lebar. “Oh iya, kebetulan Kakak punya makanan nih, sepertinya cukup untuk kita makan bertiga. Yuk kita cari tempat kosong untuk makan, kebetulan Kakak juga sudah lapar,” ucap Fitri riang yang disambut tatapan berbinar dari Kakak Adik di depannya ini, kemudian mereka berjalan ke tempat kosong untuk menikmati makanan yang Fitri bawa. Saat Fitri membuka bungkusan nasi yang berukuran jumbo itu, isi yang ada di dalamnya membuat mereka bertiga takjub. Nasi dengan porsi besar, beberapa iris daging rendang, dan beberapa potong ayam goreng. Ketiganya mulai melahap dengan mata yang berbinar-binar. Menu makanan itu sangat mewah bagi mereka bertiga, menu langka yang entah kapan terakhir kali mereka coba. Dalam hati Fitri berkata. “Maka nikmat tuhan-MU yang mana lagi yang kamu dustakan?” Fitri mengatakannya dalam hati seraya tersenyum penuh haru. Tuhan begitu baik padanya. Siang tadi ia hanya bisa membayangkan dirinya memakan menu makanan lezat itu dan kini Allah kabulkan secara instan, tak butuh lebih dari dua puluh empat jam keinginan yang tak ia ucapkan itu pun terwujudkan. Sebaik itu Allah padanya sampai-sampai keinginan yang hanya melintas saja di benaknya itu pun Allah kabulkan. Memang benar kata para Ustadz-Ustadzah yang sering mengisi kajian mingguan di mesjid dekat rumah Fitri bahwa mengucap syukur tak ada kata cukup. Sebanyak apa pun ucapan syukur yang kita lantunkan tetap tak sebanding dengan triliunan bahkan lebih nikmat yang kita dapatkan dari Sang Pencipta. Dalam sekejap mata isi bungkusan nasi yang menggunung itu pun habis tak tersisa. Kedua anak kecil itu pun menatap Fitri dengan tatapan bahagianya. “Kak, makasih banyak ya, Kak, atas makanannya. Kami berdua bukan hanya bisa makan tadi, tapi kami berdua juga bisa merasakan makanan terenak dan termewah yang awalnya hanya angan-angan saja bagi kami.” Ucap anak laki-laki itu seraya tersenyum manis ke arah Fitri. “Sama-sama. Nama Kakak Fitri, nama kalian siapa?” “Aku Tio, Kak.” “Aku Bella,” ucap anak kecil berusia sekitar lima tahunan itu, seraya menatap Fitri malu-malu. Fitri mengusap puncak kepala Bella, “Nama yang cantik seperti orangnya,” puji Fitri yang semakin membuat Bella menunduk malu. “Oh ya, rumah kalian di mana? Sudah malam, yuk Kakak antar pulang.” Dua anak itu menggelengkan kepala mereka kompak. Fitri mengeryitkan keningnya. Ia heran. “ada apa?” “Kita nggak punya rumah, Kak. Ibu kami sudah lama meninggal dan Bapak kami entah ada di mana. Sejak kecil kami belum pernah bertemu Bapak. Setelah Ibu meninggal kami terpaksa hidup di jalanan karena kami tidak punya uang untuk membayar kontrakan rumah.” Fitri menatap mereka sedih sekaligus bangga. Sedih karena sekecil mereka sudah mengalami hal sepahit ini, dan bangga karena mereka mampu menjalaninya dengan tetap tersenyum manis, tanpa ada kata mengeluh. Lagi-lagi Fitri seakan mendapatkan teguran lewat cerita mereka. Masalah dan cobaan yang ia alami tak ada apa-apanya dibanding masalah dan cobaan hidup yang mereka alami. Fitri merasa malu terhadap mereka. Baru seperti ini saja dirinya sudah banyak mengeluh, apalagi jika Fitri berada di posisi mereka? “Ya sudah, kalau gitu kita cari tempat yang nyaman untuk tidur yuk? Kalian biasanya di mana kalau tidur?” “Kakak mau ikut kami?” Fitri menganggukkan kepalanya pelan seraya tersenyum manis sebagai jawaban ‘iya’. “Yey, yuk Kak, ikut kami! Kita biasanya tidur di san. Daerah pertokoan yang sudah tutup, bersama anak-anak jalanan lainnya,” ucap Bella riang, kemudian berdiri dan menggandeng tangan Tio di sebelah kirinya, dan menggandeng tangan Fitri di sebelah kanannya. Ketiganya mulai melangkahkan kaki mereka meninggalkan tempat yang lumayan ramai itu, menuju daerah pertokoan yang sudah tutup, di mana Tio dan Bella juga anak-anak jalanan lainnya melewati malam yang panjang itu di sana, mengistirahatkan tubuh mereka untuk kembali berjuang esok hari, demi sesuap nasi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD