Terik matahari semakin menyilaukan mata, sejuknya udara pagi yang menenangkan jiwa telah berganti dengan sinar mentari yang sangat menyilaukan ketika hari kini sudah memasuki waktu siang. Jalanan yang sudah padat dan ramai dengan orang yang berlalu lalang pun kini bertambah padat dan ramai, mengingat jam makan siang baru saja dimulai.
Fitri yang sedari pagi terluntang lantung di jalanan, menghela nafasnya kasar. Pasalnya perut yang sedari kemarin siang belum terisi, tak henti-hentinya mengeluarkan suara. Ya, suara perut keroncongan tentunya , bukan suara merdu orang yang sedang menyanyi. Tak hanya itu, rasa perih pun sudah ia rasakan sejak pagi, meminta sang pemilik badan agar segera mengisinya.
Lelah berjalan kaki tanpa tujuan yang jelas membuat Fitri semakin merasa lelah, tenaganya pun kian menit sudah mulai melemah. Tak ingin jatuh pingsan di pinggir jalan, Fitri pun mulai melangkahkan kakinya mencari warung makanan murah terdekat, atau yang lebih dikenal dengan sebutan warteg itu.
Saat sampai di depan warung makan itu, Fitri mengeluarkan selembar uang lima ribu rupiah dari saku celananya. Selembar uang satu-satunya yang ia miliki saat ini, karena dompetnya masih berada di dalam tas, dan ia tinggalkan tas itu di rumah tua, saking terburu-burunya ia melarikan diri. “Yah, aku cuma punya uang lima ribu rupiah lagi, di Jakarta dapet makan apa ya pakai uang segini?” tanya Fitri pada dirinya sendiri, seraya mencuri-curi pandang ke arah dalam warteg, dari tempatnya yang berdiri di halaman depan warung makan murah itu.
Sebuah fakta menarik yang membuat para perantau terkadang merasa rindu dengan kampung halaman adalah tentang makanan. Kebutuhan pokok yang selalu dibutuhkan setiap harinya minimal satu kali dalam sehari, sebagai penambah tenaga, karena tubuh yang tanpa asupan makanan akan merasa lemah, mudah lelah, dan tak bertenaga.
Selain masakan kampung memiliki rasa yang khas, soal harga juga jelas berbeda. Ketika di kampung halaman, para perantau tak perlu pusing memikirkan makanan mereka, karena semuanya sudah disediakan oleh sang Ibu, atau pun sang istri. Mereka hanya perlu mencari nafkah saja. Jika harus membeli makanan yang sudah jadi pun, harga makanan-makanan di kampung tergolong relatif murah dibandingkan di daerah rantauan.
Dan di sini, tempat rantauan mereka, para perantau selain disibukkan dengan kegiatan mereka mencari nafkah, mereka pun juga harus memikirkan soal makanan mereka seorang diri, kecuali bagi mereka-mereka yang merantau dengan memboyong keluarganya juga. Dan jika tak bisa menyiapkan makanannya sendiri, para perantau harus mengeluarkan uangnya paling sedikit dua puluh sampai tiga puluh ribu rupiah untuk dua kali makan. Biaya yang cukup mahal jika dibandingkan dengan biaya makan mereka di kampung halaman yang dengan uang segitu dapat membeli beberapa porsi makanan.
Fakta itu tak mematahkan mereka untuk terus bertahan di daerah perantauan, karena mereka tak punya pilihan lain selain bertahan. Mereka pun paham bahwa setiap orang mempunyai pilihan, dan setiap pilihan memiliki resiko. Jika mereka memilih untuk merantau ke suatu kota atau daerah, mereka harus siap dengan segala konsekuensinya. Seperti harus siap berjauhan dengan keluarga, karakter penduduk asli tempat mereka merantau yang mungkin saja sangan bertolak belakang dengan sang perantau, perbedaan bahasa, logat, kebiasaan, bahkan rasa makanan juga perbedaan harga bahan pokoknya. Semua itu harus siap mereka hadapi ketika memilih untuk merantau.
Rasa perih di perut yang semakin menjadi-jadi membuat Fitri tak punya pilihan lain selain melangkahkan kakinya, memasuki warung makan itu lebih dalam.
“Mau makan dengan lauk apa, Kak? Di sini ada rendang, ayam goreng, semur daging, ikan mujair goreng, ikan bandeng, dan masih banyak lagi. Selain itu di sini juga menyediakan beragam minuman, Kak, ada air putih, teh tawar dan teh manis, dan es jeruk. Kakak mau pesan apa, jadinya?” tanya sang pelayan warung makan, ketika Fitri mendekat ke arahnya.
Mendengar semua jenis lauk yang disebutkan sang pelayan warung makan itu, membuat Fitri meringis tanpa sadar. Harganya pasti sangat mahal, bukan? Uang lima ribu rupiah yang Fitri genggam erat sedari tadi jelas tak akan cukup untuk mencicipi satu di antara beragam menu enak yang disebutkan Mbak pelayan tadi, “Mmm, Mbak. Di sini ada lauk yang murah nggak ya? selain yang Mbak sebutkan tadi,” cicit Fitri dengan suara pelannya, membuat si Mbak pelayan warung makan itu menatap aneh kepadanya.
“Ohh, tentu ada, Kak. Ada tempe goreng, tahu goreng, telur balado, tempe oreg, dan masih banyak lagi. Kakak bisa melihat-lihat pilihan menu lainnya di dalam etalase itu,” ucap sang pelayan warung makan itu seraya menunjukkan tangannya dengan sopan ke arah di mana etalase yang menampilkan banyak makanan itu berada.
“Saya pesan nasi, tempe oreg, sama tahu gorengnya satu ya, Mbak,” ucap Fitri seraya tersenyum manis menatap Mbak pelayan warung makan itu. “oke, baik. Minumnya mau apa, Kak?”
Fitri kembali menampilkan senyuman manisnya, “Mmm, air putih gratis kan, Mbak?” Mbak pelayan warung makan itu kembali menatap Fitri aneh, kemudian menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. “oke, kalau gitu saya pesan air putih saja, Mbak.” Mendengar ucapan Fitri yang memilih air putih untuk menjadi pilihan minumnya, Mbak pelayan warung itu hanya menganggukkan kepalanya, kemudian berlalu untuk menyiapkan pesanan yang Fitri pesan.
Pesanan yang Fitri pesan datang tak lama setelah Fitri mendudukkan dirinya di sebuah bangku panjang yang telah disediakan. Tanpa ba bi bu Fitri langsung mengucapkan doa makan, kemudian melahap makanannya dengan rakus, seolah-olah dia akan mendapatkan hukuman jika tak menghabiskan makanannya dengan cepat. Lauk yang terbilang sangat sederhana itu pun bukan masalah besar bagi Fitri, karena baginya dia bisa makan saja hari ini sudah lebih dari cukup, ia sudah sangat bersyukur.
Tak sampai lima menit, makanan yang berada di atas piring Fitri sudah habis tak tersisa, bahkan piring tempat makan Fitri pun tampak bersih walau belum dicuci, saking menikmatinya Fitri memakan menu sederhana itu. Bagi Fitri rasa tahu goreng itu seperti ayam goreng, ketika ia melahapnya seraya melihat ayam goreng yang terpampang nyata di dalam etalase kaca itu. Baginya rasa tempe oreg seperti daging rendang, ketika ia melahapnya seraya memandangi sepiring daging rendang yang juga terpampang nyata di dalam etalase kaca itu. Dan baginya air putih seakan es teh manis yang sangat menyegarkan, ketika ia meminumnya seraya memperhatikan para pelayan di depannya menyiapkan es teh manis untuk para pelanggan lainnya. Sesederhana itu Fitri menikmati makanannya, tanpa harus mengeluarkan banyak uang.
“Tak apa untuk saat ini halu dulu, tapi nanti ketika kehidupanku sudah berubah, ketika tak harus pusing-pusing lagi memikirkan uang, karena uangku sudah banyak, semua rasa itu bukan hanya bayangan lagi, tapi rasa yang sesungguhnya. Rasa ayam goreng karena yang dimakan adalah ayam goreng, rasa daging rendang karena yang dimakan adalah daging rendang, dan rasa es teh manis karena yang diminum memang es teh manis. Tunggu saja tanggal mainnya,” ucap Fitri mantap dalam hati, seraya terus memandangi semua menu enak di dalam etalase kaca, tak jauh dari tempatnya duduk.
Merasa terganggu karena terus-terusan dipandangi oleh Mbak-Mbak pelayan itu karena makanan yang dipesan sudah habis tapi tak kunjung membayar dan pergi, Fitri pun bangkit berdiri, kemudian melangkahkan kakinya menuju sang penjual untuk membayar makanannya. “Saya mau membayar makanan yang saya makan tadi, Bu,” ucap Fitri ramah.
Wanita paruh baya dengan gaya pakaiannya yang sangat sederhana itu menganggukkan kepalanya pelan seraya tersenyum manis menatap Fitri. “Kamu pesan apa saja, Nak?” tanyanya.
“Nasi, tahu goreng satu, tempe oreg, sama minumnya air putih,” Fitri menyebutkan lauk yang ia pesan dengan perasaan berdebar, takut-takut uang yang sekarang digenggamnya tak cukup untuk membayar makanan yang ia makan.
“Totalnya jadi delapan ribu, Nak”
Deg,
Fitri mematung untuk beberapa detik. Uangnya kurang, ia harus bagaimana sekarang?
Fitri menyodorkan selembar uang lima ribu rupiah itu ke hadapan Ibu penjual itu. “Maaf Bu, tapi saya hanya punya uang segini, kalau boleh sisanya saya bayar nanti ya, Bu, saya janji saya akan bayar secepatnya ketika saya sudah mendapatkan pekerjaan nanti,” ucap Fitri seraya menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan memohonnya.
Wanita paruh baya itu pun kembali tersenyum manis mendengar ucapan Fitri. Kasihan sekali gadis ini, pikirnya dalam hati. “Kalau gitu tidak apa-apa, uang ini untuk kamu simpan saja, makanan yang kamu makan tadi saya gratiskan, anggap saja itu jamuan dari Ibu untuk tamu spesial hari ini. Nama kamu siapa, Nak?”
Mendengarnya membuat Fitr kini tersenyum lebar, “Ibu serius? Ngak apa-apa saya digratiskan?” Ibu itu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. “makasih banyak ya, Bu, nama saya Fitri.”
“Nama saya juga Fitri lho, hehe, kok bisa samaan gitu ya? Saya sebenernya penasaran sama kamu, pingin ngobrol-ngobrol banyak, tapi saya ada keperluan setelah ini. Semoga kapan-kapan kita bisa ketemu lagi ya, Fitri,” ucapnya lembut kemudian memanggil salah satu pelayannya untuk membungkuskan makanan untuk Fitri. Melihat itu Fitri diam saja, karena ia kira itu untuk pesanan orang lain, atau mungkin untuk Ibu itu bawa pulang karena katanya beliau ada keperluan. Tapi tak lama setelah makanan-makanan enak itu sudah terbungkus rapi, wanita paruh baya itu menyodorkan bungkusan itu untuk Fitri, “ini untuk kamu, diterima ya, lumayan untuk makan malam nanti, saya permisi dulu ya sudah dijemput sama anak Ibu di depan, “ ucapnya kemudian pamit seraya mengelus lengan Fitri. “makasih banyak ya, Bu.” Ucap Fitri tulus, sebelum Ibu pemilik warung itu berjalan lebih jauh dari jangkauan Fitri dan meninggalkannya.
Fitri kini berjalan seorang diri di pinggir jalan tanpa tau arah tujuannya, pikirannya melanglang buana entah ke mana, memikirkan nasibnya saat ini yang entah kenapa bisa menjadi seperti ini. Berawal dari niat baiknya ingin mengejar cita-cita kenapa malah berakhir seperti ini?
“Oke, Fitri, ini bukan akhir, ini masih awal! Jalan kamu masih panjang! Semua hal buruk yang terjadi sejak kemarin adalah sebuah ujian. Bukan kah jika kita ingin naik kelas kita harus berhasil dulu melewati semua ujiannya? Begitu pula dengan semua impian yang ingin kamu raih, kamu akan mendapatkannya jika kamu telah berhasil melewati semua ujian kamu untuk meraih mimpi besarmu itu.”
“Anggap saja setiap ujian atau masalah yang datang hanyalah kerikil kecil yang mengganggu jalanmu menggapai mimpi. Jika kamu ingin tetap berjalan menggapai impianmu, tentu kamu harus membuang semua kerikil yang menghalangi jalanmu, bukan? Ayo tetap semangat! Kamu pasti bisa dan mampu, Fitri. Ketika kamu sudah mulai lelah, ingatlah mereka! Ingatlah orang-orang yang selalu menyayangimu, dan juga selalu mendukungmu. Jangan biarkan mereka kecewa karena kamu memilih menyerah. Ayo bangkit,” ucap Fitri dalam hati, menyemangati dirinya sendiri.
Fitri terus melangkahkan kakinya ke depan, sambil sesekali menatap kosong ke satu arah, memejamkan matanya bebepa detik, menikmati semilir angin yang menyejukkan, menghirup udara sore yang sudah bercampur dengan berbagai asap kendaraan itu, hingga sebuah suara berat menghentikkan langkahnya yang ingin menjauh, membuat Fitri yang sedang memejamkan matanya beberapa detik kini mulai membuka mataanya secara perlahan.
“Hai, gadis cantik, nggak nyangka ya kita bisa bertemu lagi. Memang sepertinya kita ditakdirkan untuk berjodoh,” lho kok, bisa?
Siapakah dia?