Bunyi deringan handphone terdengar mengalun dengan sangat kencangnya di ruangan berukuran sedang itu. Panggilan yang tak kunjung diangkat tak membuat sang penelpon jera, tapi justru terus memborbardir panggilannya, membuat dua pria berbadan besar yang sedang tertidur dengan sangat nyenyaknya pun merasa terganggu.
Panggilan telepon yang tak kunjung berhenti itu membuat salah satu di antara dua pria berbadan besar itu mau tak mau membuka matanya dengan malas, mengangkat panggilan telpon itu tanpa melihat nama sang penelepon. “Halo, ganggu banget sih lo nelepon-nelepon gue pagi-pagi buta kayak gini? Kalo nggak langsung gue angkat itu tandanya gue lagi sibuk, jadi jangan diteror kayak tadi dong. Ganggu banget tau nggak? Untung lho lagi nggak ada di depan mata gue sekarang. Kalo ada, udah gue gibeng lu,” ucap salah satu pria berbadan besar itu dengan nada sebal dan marahnya, dengan matanya yang masih terpejam.
“Oh, berani ya lo marah-marahin gue? Pagi-pagi buta apanya? Ayam jago aja udah berkokok dari delapan jam yang lalu. Sekarang udah siang tau! Lo nggak bisa bedain mana pagi, mana siang, dan mana malam,ya? Dan ooh, sekarang lo udah mulai berani ya sama gue? Jadi panggilan gue yang menurut lo udah seperti teror itu sangat mengganggu kegiatan lho, ya? Dan ya, selamat lo orang pertama yang dengan beraninya mengancam akan menggibeng gue kalo gue ada di hadapan lo saat ini. Apa perlu gue sengaja dateng ke tempat lo, agar lo bisa dengan puasnya menghajar gue? Kalo lo beneran sibuk bagaimana kalo gue pecat lo aja sekarang, hah?” ucap seseorang di sebrang sana yang terdengar sangat marah itu, bahkan diakhiri dengan teriakan membentaknya, saking marahnya mendengar ucapan yang dilontarkan salah satu dari pria berbadan besar itu.
Mendengar nada marah dan teriakan membentaknya, membuat pria berbadan besar yang tadi menjawab panggilan itu dengan mata terpejam, kini membuka matanya secara paksa, kemudian membulatkan kedua matanya kaget, setelah mengetahui siapa orang di sebrang sana, yang mengganggu tidur nyenyaknya dengan cara menerornya melalui panggilan telpon itu. “Bbb--bos?” ucapnya terbata dengan wajahnya yang mulai terlihat pucat pasi.
“Jadi lo serius ingin gue pecat?” tanya seseorang di sebrang telepon sana.
“Tentu tidak, Bos. Tadi saya kira panggilan salah sambung makanya saya berbicara seperti itu. Ada perlu apa ya, Bos? Pagi-pagi seperti saat ini Bos sudah menelpon saya?” ucap pria berbadan besar itu dengan mengganti gaya bahasanya yang semula menggunakan bahasa gaul seperti lo dan gue, kini beralih menggunakan bahasa formalnya saat ia tahu bahwa sang penelepon adalah bosnya yang sangat menjengkelkan itu.
“Bagaimana gadis kampungan itu sekarang? Aman kan? Jangan lupa beri dia makanan dan minuman yang dapat membuatnya kembali pulih dan sehat. Karena walau bagaimana pun juga, dia itu adalah mesin penghasil uang kita. Kamu mengerti?”
“Tenang saja, Bos, tentu dia dalam keadaan aman saat ini. Karena... astaga---“ Pria asing berbadan besar dengan rambut panjannya yang dikuncir kuda membulatkan matanya sempurna saat gadis kampung yang cantik natural itu sudah tak ada di depan matanya lagi, bahkan satu hal yang sangat membuatnya terkejut adalah kondisinya saat ini. Sejak kapan kedua kakinya terikat seperti saat ini, layaknya seorang tawanan? Dan kemana kah gadis kampung itu pergi? “Sial, bisa berabe ujung-ujungnya kalau si Bos sampe tau gadis kampung itu berhasil kabur. Alamat bisa dipecat nih gue,” rutuk pria berbadan besar itu dalam hati.
“Ada apa? Kenapa lo kayak yang terkejut gitu? Ada masalah? Gadis kampung itu aman-aman aja kan saat ini?” tanya orang di seberang telepon, yang sangat kentara nada keingintahuannya.
“Ah, nggak, Bos. Bukan apa-apa kok, Bos, tadi ada hal aneh saja yang mengganggu ketenangan hidup saya, makanya saya reflek teriak,” jawabnya yakin, berharap sang Bosnya itu tidak akan menanyainya lebih jauh.
“Hal aneh seperti apa yang lo maksud bisa mengganggu ketenangan hidup lo?” Pria berbadan besar itu menahan nafasnya karena gugup. “mm, biasa Bos, si Jono suka kentut sembarangan, hehe.”
“Ohh, gue kira ada apa. Pokoknya pastikan gadis kampung itu tidak kabur! Lo kasih dia makanan dan minuman, lo jagain dia, ntar gue ke sana kalo udah ada client baru.”
“Siap laksanakan, Bos. Saya pastikan semuanya akan berjalan lancar, aman, dan terkendali seperti yang Bos harapkan.”
“Bagus kalau gitu. Semoga lo bisa pegang omongan lo saat ini. Gue sibuk, nanti gue telepon lo lagi ya, bye,” ucap seseorang di seberang telepon itu, kemudian langsung mengakhiri panggilannya tanpa menunggu jawaban dari orang yang diteleponnya tadi. Bos mah bebas bukan mau ngapain aja? Asal matiin telepon juga nggak akan nimbulin banyak masalah. Lah gue? Yang cuma remahan rengginang ini bisa apa? Yang ada kalo gue yang asal matiin tadi bisa kena banyak masalah. Nasib, nasib. Dumelnya dalam hati, meratapi nasibnya yang sungguh tragis itu.
Bagaimana dia tidak mengatakan seperti itu jika kesalahan kecil saja yang ia buat, ia akan mendapatkan ancaman yang tidak-tidak. Apalagi kesalahan besar? Dipecat bukan hal sulit sepertinya. Itulah salah satu alasan kenapa yang namanya Bos, pemimpin, dan istilah lainnya, sangat ditakuti oleh para bawahan atau anggotanya. Salah sedikit pecat!
Tak ingin merasakan pusing seorang diri, pria berbadan besar dengan rambut panjangnya yang dikuncir kuda itu membangunkan temannya. “Woy, bangun! Si gadis kampungan itu kabur. Ayo kita cari dia sebelum si Bos tau dan ngamuk-ngamuk,” ucapnya yang hanya dibalas dengan deheman saja.
“Oke, kalau lo ingin main-main dulu sama gue,” ucapnya pelan kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga temannya yang sangat kebo itu, sangat sulit untuk bangun dari tidurnya.
“Maling, maling, tolong ada maling,” teriaknya di telinga temannya yang kebo itu.
Mendengar teriakan kencang itu, membuat pria berbadan besar dengan tato berukuran sedangnya yang berada di lengan, bangun seketika. Kaget bukan kepalang. “Maling? Mana malingnya kasih tau gue, biar gue kasih pelajaran tuh maling,” ucapnya dengan wajah serius, dan nada bicaranya yang sangat menggebu-gebu itu.
“Mana ada maling kalau orang yang biasanya maling dari tadi tidur mulu di depan gue.” Pria bertato itu menatap tajam dan marah. “jadi lo ngerjain gue nih ceritanya? Haha, lucu sekali,” ucapnya diakhiri dengan tawa sumbangnya yang dibuat-buat.
“Udah deh, nggak usah drama! Ada hal yang lebih penting yang harus kita pikirin saat ini.” Pria bertato itu menatap penuh penasaran kepada si pria berkuncir kuda. “apa?”
“Si gadis kampungan itu berhasil melarikan diri. Sebaiknya kita harus segera menemukannya kembali, sebelum si Bos tau soal ini. Lo tau? Kita berdua bisa-bisa dimarahi abis-abisan, bahkan mungkin langsung dipecat oleh si Bos.”
Mendengar kenyataan pahit itu, si pria bertato itu menggertakkan giginya kuat-kuat. “Tuh kan, gua bilang juga apa dia bukan gadis kampung biasa. Dia gadis kampung jadi-jadian. Gue nggak mau dipecat! Tanggungan gue banyak di kampung. Kita harus secepatnya menemukan gadis itu, atau jika tidak mungkin kita harus segera mendapatkan penggantinya,” ucapnya kemudiam bergegas berdiri dan mulai berjalan dan “brukkk” Si pria bertato itu jatuh dengan tali tebal berwarna putih yang masih mengikat kedua kakinya menjadi satu.
“Ha ha ha, makanya kalo mau jalan tuh liat-liat sekitar dulu. Jangan asal jalan aja. Nggak jalan, nggak makan. Buru-buru banget lu, kayak yang lagi dikejar-kejar siapa aja.” Pria bertato itu menatapnya tajam.
“Oh, jadi ini semua kerjaan lo? Tega lo ya sama gue, bukannya langsung semangat buat nyari gadis kampungan itu malah ngerjain gue sekarang. Bukannya bantuin gue bangun malah bahagia bener ketawa ngakak kayak gitu ngeliat gue jatuh dan kesakitan kayak gini,” ucapnya marah seraya menatap tajam ke arah pria yang rambutnya dikuncir kuda itu.
“Sorry, Bro, sorry. Lo sih semangat boleh-boleh aja, tapi perhatiin sekitar dulu kali. Kaki diiket tali gitu masa nggak keliatan? Jatoh kan lo sekarang, ha ha. Oh ya, bukan gue ya yang ngerjain lo. Kurang kerjaan banget gue ngiketin kaki lo. Buang-buang waktu, mending tidur.” Pria dengan rambut panjang yang dikuncir kuda menunjuk kakinya juga. “nih liat! Kaki gue juga diiket, ya kali gue juga ngiketin kaki gue sendiri. Kurang kerjaan amat.”
Pria bertato itu kini menatap temannya dengan pandangan horor. “Kalo bukan lo, bukan gue juga, terus siapa dong? Hantu gitu? Emang ada hantu ya di sini? Eh iya, ini rumah tua ya, jarang ditempatin. Duh, jadi merinding gue, bulu kuduk gue pada berdiri lagi.”
Mendengar ocehan ngawur temannya itu, si pria yang rambut panjangnya dikuncir kuda terlihat sangat gemas kemudian mengambil sesuatu seperti balok yang sangat kecil, kemudian melemparkannya ke arah temannya yang sedang merinding ketakutan itu. “Hantu gundulmu! Mana ada hantu di siang bolong begini, ya siapa lagi yang berkemungkinan besar buat ngerjain kita kayak gini kalo bukan si gadis kampungan itu? Lagian lu preman masa takut sama hantu sih, nggak malu apa sama badan besar dan tato lo itu? Dasar cemen!”
Mendapat ejekan penuh penghinaan, si pria bertato itu hanya mendengus sebal menanggapinya, karena tak bisa dipungkiri ia memang sangat takut kepada hantu. Preman juga manusia, kan? Manusia biasa yang juga punya kekurangan. Kalau preman takut sama hantu memangnya kenapa? “Eh, tapi keren juga ya tu gadis kampung. Walau badannya lemah karena nggak makan sejak kemarin, dia masih bisa aja buat kabur. Padahal kemarin gue iket kenceng lho, kok bisa lepas gitu ya? Kabur lewat mana tu gadis kampung? Perasaan semua pintu dan jendela udah kita kunci pake gembok,” ucapnya ketika rasa penasaran bercokol di hatinya.
“Udah ah, nggak peduli gue tu gadis kampung gimana bisa kabur, yang gue peduliin sekarang adalah nasib gue. Gue nggak mau dipecat gara-gara nggak becus jagain gadis kampungan itu. Sekarang pilihan kita cuma dua, nyari gadis kampungan itu sampe ketemu atau kita cari target lain aja. Yang penting pas nanti si Bos dateng ke sini buat ngecek, udah ada gadis cantik di sini,” ucapnya final, seraya mulai melepas ikatan tali yang cukup kuat itu mengikat kakinya.
Mengetahui fakta kalau ternyata hari sudah mulai siang, kedua pria berbadan besar dengan karaker khasnya masing-masing itu tak ingin kembali mengulur-ulur waktu. Lebih cepat mereka bergegas mencari, lebih cepat juga mereka merasakan ketenangan. Keduanya pun mulai melangkahkan kakinya bergegas meninggalkan rumah tua itu, menuju pusat keramaian kembali.
Tak ingin mengambil pusing, yang mereka pikirkan saat ini adalah mereka berdua harus segera sampai di sana. Jika keberuntungan menghampiri mereka, si gadis kampungan yang berhasil kabur itu akan secepatnya mereka dapatkan kembali. Dan jika tidak, itu tandanya mereka harus dengan segera mencari dan mendapatkan target baru, sebelum mereka berdua mendapatkan hukuman dari sang Bosnya yang kejam dan tak berprikemanusiaan itu.