Fitri melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa meninggalkan rumah tua itu. Mulut Fitri menganga lebar ketika ia menyadari di mana ia berada saat ini. Semua hal yang Fitri lihat saat ini adalah pepohonan besar yang menjulang dengan saat tinggi, berbaris rapi di pinggir jalan. Fitri baru sadar bahwa ternyata ia disekat di satu-satunya rumah yang ada di kawasan ini, rumah yang di sekitarnya tidak ada pertokoan atau apa pun itu seperti kawasan normal lainnya, yang ada hanya pepohonan yang berjejer rapi di samping kanan, kiri, seberang jalan, bahkan mungkin di belakang rumah itu. Memikirkannya membuat Fitri hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya bingung, tak mengerti mengetahui ada orang yang dengan beraninya membangun rumah di daerah yang lebih cocok disebut hutan itu, meskipun di depan halaman rumah itu terdapat jalan raya yang lebar dengan jalanannya yang masih bagus.
Benar bukan? Untuk apa si pemilik rumah itu membangun rumah di daerah ini? Sungguh berani kah dia tinggal di satu-satunya rumah yang ada di daerah ini? Oh iya, pantas saja rumah itu kosong saat ini, berarti orang itu telah sadar akan kebodohannya selama ini, membangun rumah di kawasan yang sepinya bukan main, yang ujung-ujungnya buang-buang uang saja, bukan? Daripada mubadzir seperti saat ini lebih baik orang itu membangun rumah di kawasan biasa saja.
Sungguh aneh orang zaman sekarang, bertindak semaunya saja tanpa memikirnya bagaimana kedepannya, dengan dalih ingin mendapatkan ketenangan dan kenyamanan hidup, orang itu memutuskan hal semacam ini. Padahal hidup bertetangga bukan hal yang buruk, Fitri saja betah dan nyaman hidup bertetangga selama ini, ya meskipun mulut tetangga kanan kiri ada saja yang membuatnya merasa sakit hati. Oke, sekarang Fitri bisa memaklumi tindakan sang pemilik rumah itu. Holang kaya mah memang beda bukan? Lagipula Fitri juga bisa mengerti bahwa ketenangan dan kenyamanan adalah sesuatu yang penting.
Fitri menghela nafasnya kasar saat sadar akan kebiasaanya jika sedang berjalan seorang diri seperti saat ini, pikirannya suka berkelana, memikirkan banyak hal yang terkadang bukan sesuatu hal yang harus ia pikirkan. Seperti hal tadi misalnya, ketika ia dengan asyiknya memusingkan dirinya sendiri, memikirkan alasan sang pemilik rumah itu terkait keputusannya membangun sebuah rumah di kalangan yang terbilang sangat-sangat sepi itu, seperti yang Fitri selalu bilang sebelum-sebelumnya, daerah itu lebih cocok disebut dengan hutan saking banyaknya pepohonan besar yang menjulang tinggi di sana.
“Ya ampun, di mana ujungnya sih ini? Perasaan yang aku liat dari tadi pohon-pohon besar semua, mana nggak ada angkutan umum atau kendaraan lain lagi yang lewat sini, duh bisa-bisa ketangkep deh kalau aku masih berkeliaran di sekitar sini. Laki-laki kan kalo jalan lebar-lebar ngelangkahnya, aku jalan kaki dua langkah ibarat satu langkahnya mereka, fix ini mah aku harus lari kalau nggak mau ketangkep lagi,” ucap Fitri kesal, mengeluhkan semua hal sulit yang mengganggu pikirannya.
Pasalnya sudah hampir lima belas menit ia berjalan, namun yang ia lihat masih hal yang sama seperti di saat ia mulai melangkahkan kakinya pertama kali di jalanan, di depan halaman luar rumah tua itu. Fitri pun menghentikkan langkah kakinya sejenak, beristirahat seraya menengadahkan kedua tangannya ke atas langit, mengucapkan berbagai doa dan harapan kepada Allah Subhanahu Wata’ala, Sang Maha Pengabul doa. “Ya Allah, berikanlah rasa ngantuk yang teramat bagi kedua pria asing berbadan besar itu, nyenyakkan lah tidur mereka, kalau boleh jangan bangunkan mereka sebelum Fitri berada di tempat aman. Fitri takut banget ya Allah. Berikanlah perlindungan kepada hamba yang lemah ini ya Allah, berikanlah hamba keselamatan. Sesungguhnya hanya kepada-Mu lah hamba berharap dan memohon perlindungan, Aamiin,” ucap Ana yang diakhiri dengan gerakan tangannya, mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajah cantiknya.
Seperti yang ia pikirkan tadi, kemungkinan dua pria asing berbadan besar itu untuk kembali menangkapnya adalah kemungkinan yang cukup besar, mengingat keadaan dirinya yang sedang sangat lemah saat ini, ditambah dengan tenaganya yang sudah mulai habis karena perutnya yang belum diisi sejak kemarin siang, karena kegiatan makan yang Fitri lakukan terakhir kali adalah kemarin pagi, satu jam sebelum ia meninggalkan daerah tercintanya untuk merautau ke ibu kota dengan menggunakan bus antar kota.
Tak ingin menjadi orang yang termasuk kedalam golongan orang-orang yang mudah berputus asa, Fitri berusaha menggerakkan tubuhnya untuk mulai berlari kembali, mencoba untuk lebih menjauh lagi dari daerah itu, mencoba untuk bisa keluar menuju pusat keramaian, menjumpai banyak orang, agar setidaknya ia bisa dengan mudah mendapatkan pertolongan.
Lima belas menit kemudian, waktu yang menjadi saksi bisunya Fitri yang terus berjuang, berlari walau terkadang rasa lelah selalu hadir menghampiri, terus berlari walau rasa haus yang selalu hadir membuatnya serasa dehidrasi, dan terus berlari walau rasa lapar membuat perutnya merasakan perih, membuat tenaganya semakin terkuras habis, dan membuat tubuhnya seakan ingin mengeluh, menyuarakan betapa ia ingin diistirahatkan walau hanya sejenak.
Layaknya sebuah komputer atau laptop, ketika mereka dijalankan terus menerus bahkan mungkin dengan kecepatan turbo, dayanya pun akan semakin menurun dan tak bisa dipungkiri lama kelamaan akan habis juga jika terus-terusan digunakan, bahkan akan mengalami kerusakan jika terlalu lama didiamkan dalam keadaan baterai yang kosong. Begitu pan dengan manusia, ketika mereka selalu beraktivitas entah itu bekerja, berjalan, berlari, dan berbagai aktivitas lainnya secara terus menerus, tanpa henti bahkan mungkin dengan kecepatan yang tidak biasa, tenaganya pun akan semakin menurun dan tak bisa dipungkiri akan habis juga jika beraktivitas secara terus menerus tanpa diselingi dengan istirahat, bahkan akan jatuh sakit jika terlalu memforsir diri, mendiamkan dirinya dalam keadaan tak bertenaga. Layaknya komputer dan laptop yang membutuhkan baterai yang kuat, awet, dan juga selalu terisi penuh agar kegunaanya menjadi maksimal, begitu pun juga dengan manusia yang membutuhkan tenaga yang kuat, stabil, dan juga selalu teratur pengisiannya, agar bisa selalu beraktivitas dengan nyamannya. Istirahat, makan, dan minum adalah beberapa asupan terbaik bagi tubuh kita.
Akhirnya setelah berlari dan berjalan cukup lama, lebih dari tiga puluh menit, Fitri pun kembali melihat keramain, melihat berbagai macam toko berjejer rapi di pinggir jalan, gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, serta banyaknya orang-orang yang berlalu lalang. Akhirnya setelah berjuang susah payah, berjuang dengan sekuat tenaga, ia bisa kembali ke pusat kota.
Setelah dirasa sudah menemukan tempat yang pas dan aman untuknya beristirahat, Fitri pun mulai menghentikkan dirinya dan duduk di halaman toko yang tampak sepi itu. Seakan mengingat sesuatu, ia merogoh saku celananya dan bernafas lega saat berhasil menemukan telepon genggamnya. Untunglah ia tidak memasukkan ponselnya itu ke dalam tas, karena jika iya Fitri tidak akan bisa berkomunikasi dengan orang-orang terdekatnya, mengingat keberadaan tasnya yang masih berada di rumah tua itu karena tak sempat Fitri bawa saat dirinya akan melarikan diri tadi. Tapi Fitri tidak terlalu kecewa saat mengingat itu, karena baginya dia bisa melarikan diri dalam keadaan selamat saja itu sudah lebih dari cukup. Uang dan yang lainnya masih bisa dicari dan diupayakan kembali, bukan? Berbeda dengan kesehatan dan keselamatan yang saking berharganya tak bisa dibeli dengan uang. Keduanya merupakan suatu hal yang kehadirannya sangat berharga bagi semua orang. Terima kasih Tuhan atas banyaknya nikmat yang telah Engkau berikan kepada kami.
Fitri membuka lock screen handphone-nya, melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari orang-orang terdekatnya membuat Fitri seakan ingin berpindah tempat dalam sekejap, agar ia bisa memohon maaf kepada mereka secara langsung karena telah membuat mereka khawatir terhadapnya. Tapi kenyataan yang menyadarkannya membuatnya hanya bisa menangis tersedu, menahan semua gejolak yang bergemuruh, perasaan yang bercampur aduk mengingat semua kejadian buruk yang menimpanya dua hari ini. Apakah keputusannya untuk merantau ke ibu kota, meraih cita-cita yang sedari kecil ia inginkan adalah hal yang salah? Sehingga di saat dirinya baru saja menginjakkan kakinya di tanah rantau ini, masalah sudah hadir menyapanya, menghadang jalan yang ia sangka adalah jalannya untuk dapat menggapai mimpi-mimpinya.
Tak ingin larut dalam kesedihan, juga tak ingin terlalu jauh membuat orang-orang terkasihnya merasa khawatir, Fitri pun mulai mengotak-atik handphone-nya, berniat untuk menelpon sang Ibu.
Dalam deringan pertama panggilan itu sudah terjawab oleh sang Ibu, menunjukkan bahwa orang yang Fitri hubungi saat ini seperti sudah menunggu-nunggu panggilan telepon dari Fitri sejak lama.
“Assalamu’alaikum, Nak, kamu kemana aja dari kemarin? Kenapa baru nelpon Ibu sekarang? Kenapa kamu nggak angkat telpon Ibu dari kemarin? Sudah puluhan bahkan ratusan kali lho Ibu menelpon, tapi nggak kamu angkat-angkat juga. Sebenernya kamu kenapa, Nak? Ada apa? Apa ada hal buruk yang menimpamu saat ini? Cerita, Nak, sama Ibu. Ibu khawatir banget lho, Nak, dari kemarin,” ucap sang Ibu panjang lebar, dengan nada penuh kekhawatiran yang sangat terdengar jelas.
Mendengar celotehan panjang sang Ibu yang sangat khawatir itu membuat Fitri tak enak hati sekarang. “Wa’alaikumussalam, Bu, maaf Fitri sudah membuat Ibu, Bapak, dan Adik-adik merasa khawatir kepada Fitri. Dari kemarin Fitri sibuk untuk menyiapkan semua keperluan casting, dari mulai latihan dan yang lainnya, jadi Fitri tak sempat untuk membuka handphone. Sedari kemarin pun handphone Fitri, Fitri silent, Bu. Jadi nggak tau deh kalau Ibu udah nelpon Fitri berkali-kali dari kemarin. Fitri benar-benar lupa untuk menelpon Ibu saat Fitri sampai di penginapan kemarin, maafin Fitri ya, Bu,” jawab Fitri di telepon, dengan berusaha menahan isakan tangisnya yang sudah ingin keluar bahkan di kata pertamanya ia menjawab telepon. Fitri tak ingin membuat sang Ibu dan orang-orang terkasihnya merasa semakin khawatir kepadanya.
“Syukurlah kalau kamu ternyata nggak apa-apa, Nak. Ibu jadi tenang sekarang. Sebelum Ibu teleponan sama kamu entah kenapa perasaan Ibu merasa tak enak, Ibu takut terjadi hal buruk sama kamu, Nak. Oh ya, bagaimana casting-nya? Lancar kan? Atau sekarang kamu belum mendapat giliran maju?”
Memang benar ikatan antara seorang Ibu dan Anak itu sangat kuat, buktinya saja sang Ibu bisa seperti merasakan apa yang Fitri rasakan saat ini. Memang benar bahwa feeling seorang Ibu kepada anaknya itu sangat kuat dan kebanyakan tak pernah salah, terbukti dari perasaan sang Ibu yang merasa tak enak. Seakan ia tahu apa yang sedang terjadi kepada putrinya.
“Iya, Bu, alhamdulillah Fitri nggak apa-apa. Soal itu mungkin hanya perasaan Ibu saja karena terlalu khawatir sama Fitri. Soal casting aku belum dapat giliran maju, Bu, peserta yang hadir sangan banyak, jadi antriannya sangat panjang,” ucap Fitri berbohong, tak ingin menambah beban pikiran sang Ibu jika menceritakan semua hal yang menimpanya secara jujur. Dalam hati Fitri bermonolog, meminta ampun kepada Allah, juga meminta maaf kepada sang Ibunda karena telah berbohong.
“Oh gitu, Ibu doakan semoga kamu lolos casting ya, Nak. Oh ya, kamu mau tau nggak, Nak? Niat awalnya kalau sampai hari ini Ibu nggak bisa ngehubungi kamu, nggak tau kabar kamu sekarang bagaimana, Ibu mau lapor ke polisi lho, hehe. Ibu sepertinya terlalu sayang sama kamu, Nak, sampai-sampai Ibu jadi lebay begini karena khawatir sama kamu. Padahal Bapak dan kedua Adik kamu udah bilang beberapa kali ke Ibu, seperti yang kamu bilang tadi, mungkin saja kamu lelah, sibuk, atau lupa sehingga tak sempat menelepon Ibu, rasa-rasanya Ibu pingin ketawa ngakak deh inget kelakuan Ibu kemarin, mondar-mandir nggak jelas seperti setrikaan jalan selama berjam-jam. Nggak mau makan padahal Ibu belum makan sejak pagi, lebay banget deh, lucu jadinya. Pasti Bapak dan kedua Adik kamu itu bakal ketawa kencang deh setelah tau kalau ternyata kamu baik-baik saja, sesuai dengan dugaan mereka kemarin.”
Mendengar curahan hati yang cukup panjang dari sang Ibu yang mengaku lebay itu membuat derai air mata mulai meluncur deras di wajah cantik Fitri. Pasalnya apa yang dirasakan sang Ibu itu adalah hal yang sebenarnya terjadi pada Fitri. Membuat Fitri semakin merasa bersalah karena telah membuat banyak orang merasa khawatir terhadapnya, mendengarnya juga membuat Fitri merasa beruntung memiliki Ibu terhebat seperti Imelda yang sangat tulus menyayanginya, yang selalu mengingatnya, dan yang tak kalah pentingnya adalah yang selalu medoakannya tanpa harus Fitri minta. Bahkan saat ini, ketika ia bisa terbebas dari dua pria asing berbadan besar itu, pasti berkat doa sang Ibu yang selalu mengalir untuknya, doa sang Ibu yang langsung dikabulkan Allah Subhanahu Wata’ala.
Semua pengorbanan yang dilakukan oleh sang Ibu untuknya membuatnya percaya akan salah satu kalimat mutiara yang sangat melegenda itu bahwa kasih Ibu sepanjang masa. Fitri pun sangat setuju akan hal itu karena sang Ibu tak kenal lelah selalu memberinya kasih sayang sedari Fitri kecil bahkan hingga ia tumbuh dewasa, seperti saat ini.
“Aamiin, Bu. Hehe, Ibu bisa aja. Fitri juga sayang pake banget sama Ibu. Ibu nggak lebay kok, memang terkesan berlebihan tapi Fitri senang karena itu tandanya Ibu terlalu sayang sama Fitri. Terima kasih ya Bu, udah sayang sama Fitri. Udah mau jadi Ibu yang terbaik buat Fitri, i love you, Ibu.”
“Ah, kamu ini bisa aja, hehe. Sama-sama Sayang, i love you more. Nanti kita teleponan lagi ya, Nak. Ibu ada perlu sebentar, pokoknya hati-hati ya selama di sana. Jaga kesehatan, dan selalu semangat. Assalamu’alaikum.”
“Siap, Bu. Wa’alaikumussalam.”
Keduanya mengakhiri sambungan telepon dengan seulas senyuman manis yang bertengger cantik di bibir merah alami mereka. Perasaan rindu dan khawatir yang selalu hadir menyapa pun kini telah terobati dengan saling bertukar sapa dan cerita, meski tidak dilakukan secara langsung. Keduanya pun sama-sama saling melangitkan doa, memohon yang terbaik untuk mereka, mempercayakan semuanya hanya kepada Allah, sang Maha Pencipta, sang Maha Pengabul Doa.